
Pagi hari yang cerah secerah hati Yuda. Dengan semangat baru, dia memulai aktivitas baru. Dari bangun tidur, dia berusaha untuk membunuh kejenuhannya dengan sedikit berjalan-jalan menggunakan tongkat. Meskipun operasinya berhasil, namun keadaannya tidak bisa sama seperti dulu. Karena tubuh Yuda sebagian ditopang oleh benda elektrik. Dia berjalan-jalan disekitar rumah saja.
"Selamat pagi, Yuda?" sapa seseorang dari arah belakang. Yuda sedikit menolehkan kepalanya, ternyata yang memanggil adalah Catherine.
"Pagi, Dok!" jawabnya.
"Bukankah sudah aku bilang, jangan panggil aku Dokter! Panggil namaku saja!" pintanya.
"Oh, ya, saya lupa, maaf!" ujarnya.
"It's oke," jawabnya.
"Kamu sedang lari pagi?" tanya Yuda kepada Catherine.
"Iya, mumpung masih ada waktu! Sebelum ke klinik," jawab Catherine. Meskipun sudah saling mengenal, ternyata mereka berdua masih memiliki rasa canggung. Bahkan Yuda yang terkenal playboy dan pandai merayu wanita, di depan Catherine seperti kerupuk yang tersiram air.
"Eh, Catherine," ucap Astrid, tiba-tiba keluar dari arah pintu rumahnya.
"Selamat pagi, Tan!" jawabnya.
"Mau lari pagi?" tanya Astrid.
"Iya, Tan," jawabnya.
"Laura mana? Nggak diajak?" tanya Astrid lagi.
"Nggak, Tan! Di rumah ada baby sister yang menjaganya," ujarnya.
"Oh,"
"Mari mampir dulu? Kita minum coklat panas dulu?" tawar Astrid kepada Catherine.
"Ayolah! Sebagai ucapan terima kasih, mau ya menikmati coklat panas dirumah kami?" ajak Astrid, agak memaksa sih, namun niatnya memang Astrid ingin mendekatkan Catherine dengan putranya. Akhirnya Catherine pun menerima ajakan Tante Astrid.
__ADS_1
Astrid menyuguhkan coklat panas dengan sepiring cemilan khas Indonesia, kue lapis legit dan brownies. Yang suaminya bawa khusus dari Indonesia, dua hari yang lalu, saat suaminya mengunjungi mereka ke sini.
"Silahkan dicicipi! Ini makanan khas Indonesia!" ucap Astrid.
"Papanya Yuda yang membawanya khusus dari Indonesia," ucapnya lagi.
"Ah, Terima kasih banyak, Tan! Saya jadi merepotkan," ujarnya merasa tidak enak hati.
"Apanya yang merepotkan? Kita kan bertetangga,"jawab Astrid. Kemudian Astrid masuk ke dalam, untuk mengambil sesuatu.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia keluar kembali dengan membawa paper bag besar.
"Catherine, ini oleh-oleh untuk Laura!" ucapnya sambil menyerahkan paper bag tersebut.
"Jadi merepotkan, Tan!" ucap Catherine, tidak enak hati.
"Apanya yang merepotkan! Ini tidak seberapa dengan usaha Nak Catherine dalam memberikan semangat dan motivasi kepada Yuda!" jawabnya.
"Iya, iya!" senang Astrid. Kemudian Astrid meninggalkan Catherine dan Yuda untuk mengobrol. Lumayan lama Catherine bertandang ke rumah. Kemudian dia berpamitan, karena ada jam praktek siang ini di kliniknya.
Setelah kepergian Catherine, Yuda merasa bahagia. Seperti ada dorongan dan semangat untuk menjalani hidup kembali. Sedari tadi, Astrid melihat putranya senyum-senyum sendiri. Namun Astrid tidak menegurnya, ia membiarkannya begitu saja.
Indonesia
Setelah sarapan pagi, suami istri ini seperti biasa melakukan aktivitasnya sehari-hari. Alan akan berangkat ke kantor dan istrinya pergi ke kampus. Alan mencium puncak kepala istrinya, dan memberikan wejangan-wejangan kepada sang istri agar lebih berhati-hati menjaga buah hatinya di dalam kandungan. Karena kandungan Zee akan memasuki usia empat bulan.
"Iya, suamiku, Sayang! Mamih akan menjaganya dengan sangat baik! Dengan segala jiwa dan raga Mamih," ucapnya dengan tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Zee pun keluar dari mobil suaminya, melambaikan tangannya. Setelah mobil suaminya tidak nampak di depan mata, ia pun berjalan masuk ke kelasnya.
Hari ini dia duduk sendiri, karena Echa hari ini izin tidak masuk kuliah. Dia pulang ke Bandung, tempat tinggal orang tuanya. Jam pelajaran mata kuliah Pak Regar, membuatnya sangat jenuh dan bosan. Rasanya ingin sekali, cepat-cepat selesai dan segera pulang ke rumah. Selama 3 jam, Zee mengikuti mata kuliah Pak Regar. Akhirnya selesai juga, dia langsung menata buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas.
Dia berlari kecil, menunggu di gerbang kampus. Menunggu kedatangan suaminya untuk menjemput dirinya. Ternyata sedari tadi banyak notifikasi masuk ke ponselnya. Zee sengaja menyetel tanda getar saja, karena dia tidak mau aktivitas belajarnya terganggu. Ternyata, hari ini suaminya tidak bisa menjemputnya. Karena ada meeting mendadak di Perusahaannya.
Zee pun pulang dengan taksi, sebelumnya dia mampir ke Supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok dan bahan-bahan untuk memasak.
__ADS_1
Taksi berhenti di salah satu Supermarket, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Zee mengambil Trolly dan berbelanja banyak hari ini. Dia merasa kesusahan untuk membawanya, dia pun meminta Pak Sopir taksi untuk membantunya. Selesai memasukkan barang-barang di bagasi taksi, Zee pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Sampai di rumah, Zee meletakkan semua barang-barangnya di teras depan. Dia membayar ongkos lebih kepada sopir taksi, karena sudah membantunya menurunkan barang-barang belanjaannya. Satu persatu Zee bawa masuk kedalam. Zee menatanya dengan rapi. Biasanya, dia akan dibantu oleh suaminya menata barang-barang belanjaan.
Zee merasakan capek dan lelah di bagian kakinya. Dia pun menselonjorkan kakinya di sofa. Tidak terasa, dia tertidur sampai suaminya pulang dari kantor. Alan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya yang sedikit kurang aturan. Siapa yang tidak heran, istrinya tidur di sofa tanpa mengunci pintu rumah dan membiarkan sedikit terbuka. Bagaimana kalau ada seseorang yang masuk dan hendak berbuat jahat.
Dengan jahil, Alan menggelitik telinga Zee. Zee hanya menggaruk-garuk telinganya yang terasa geli. Alan tersenyum penuh dengan kemenangan, dia mengulangi kegiatan yang sama, membuat istrinya terbangun dan mengerjapkan matanya. Zee mencubit tangannya sendiri, karena dia mengira telah bermimpi bertemu dengan suaminya. Namun hasil cubitannya membuat tangannya terasa sakit. Dia pun memekik kesakitan, Alan hanya tersenyum melipat kedua tangannya di dada.
Zee tersenyum, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kok Papih sudah pulang?" tanyanya.
"Lihat!" Alan menunjukkan jam yang terpasang di dinding rumahnya ternyata sudah jam 5 sore. Dia pun belum mandi dan melaksanakan kewajibannya yaitu sholat Ashar.
"Hi .... hi ....hi." Zee nyengir kuda, merasa malu karena sudah sore, belum mandi dan sholat.
"Mamih mandi dulu, Pih!"
"Apakah Papih mau minum teh dulu atau kopi?" tawarnya.
"Nggak usah, Sayang! Sana mandi dulu, bau asem!" goda suaminya.
"Masa sih?" Zee pun mencium bau ketiaknya sendiri.
"Tidak bau," gumamnya.
"Ehm," setelah mencium nafasnya sendiri ternyata bau iler, yang menetes saat tidur. Zee pun kurang percaya diri, ia pun langsung menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.
Alan menggunakan kamar mandi lainnya untuk mandi dan bersih-bersih.
Selesai mandi dan sholat ashar, Zee menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam. Rasanya hari ini dia ingin sekali memasak makan malam untuk dirinya dan suaminya. Agar tidak terjadi kesalahan lagi dalam mengolah bahan-bahan makanan, Zee melihat tutorialnya di Channel YouTube.
to be continued.....
__ADS_1