
Mobil Alan berhenti di depan, Alan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia disambut hangat oleh istrinya, Alan hanya tersenyum saja, tidak seperti biasa. Zee melihat wajah suaminya nampak masam. Biasanya suaminya akan sangat bahagiya jika sudah sampai di rumah, ia juga akan menciumi perut buncit istrinya. Namun kali ini ada sesuatu yang dipikirkannya, membuat Zee merasa heran.
"Kenapa dengan wajah, Papih?" tanya istrinya.
"Nggak ada apa-apa! Emang kenapa dengan wajah Papih?" jawab suaminya malah balik bertanya.
"Ish, Papih malah balik bertanya!" gerutu istrinya, membuat Alan tersenyum melihat kekhawatiran di wajah cantik Zee.
"Nggak ada apa-apa, Sayang! Papih cuma kelelahan saja!" jawabnya.
"Yakin nggak ada apa-apa?" tanya Zee lagi.
"Yakin," jawabnya mantap.
"Iya, sudah kalau begitu! Mamih buatkan minuman untuk Papih," ujarnya seraya pergi ke dapur dan membuatkan satu gelas lemon tea untuk suaminya. Zee memberikan minuman tersebut dan mengambil tas kerja suaminya. Alan meminumnya sampai habis, ternyata segar juga minuman buatan Zee.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya, diangguki oleh Zee.
"Papih mau mandi dulu? Mamih siapkan handuk dan bajunya!" ujarnya.
"Iya, Papih akan mandi dulu! Apakah Mamih sudah mandi?" tanya suaminya.
"Tentu saja dong, Pih! Apa Papih nggak mencium aroma wangi ditubuh Mamih?" tanyanya.
"Heum, iya, wangi!"
"Padahal hari ini, Papih ingin mengajak Mamih mandi bersama," gerutunya.
"Setiap pagi kita kan selalu mandi bersama! Masa belum puas sih?" imbuhnya.
"Iya belum dong, Mih! Kalau pagi kan kita disibukkan dengan aktivitas di pagi hari! Mana puas Papih!" gerutunya lagi.
"Ish, Papih ini! Sudah jangan mesum, sana mandi! Nanti malam Mamih kasih sampai puas!" selorohnya begitu saja, membuat Alan bersemangat mendengar ucapan istrinya.
"Beneran, Mih?" tanya Alan, memastikan ucapan istrinya.
"Iya, cepat sana mandi!" perintah Zee. Alan pun langsung menyambar handuk, pergi menuju kamar mandi.
Sembari menunggu suaminya mandi, Zee menyiapkan baju ganti suaminya. Zee sudah berdandan cantik, dengan baju hamil motif bunga-bunga. Dengan rambut di ikat satu, Zee nampak terlihat sangat cantik. Alan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Dia heran karena istrinya hari ini berdandan sangat cantik.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Alan. Zee mendekat ke arah suaminya, dan memakaikan baju ke tubuh suaminya sambil menggoda nakal. Tentu saja membuat Alan panas dingin.
"Mamih lapar! Ayo kita mencari sate! Mamih mau makan sate," rengek Zee.
"Hah,"
"Ck, Mamih membuat Papih panas dingin!" desisnya, membuat Zee tersenyum penuh kemenangan.
"Cepatlah! Pakai celana Papih! Apakah Papih mau anak kita ileran?" selorohnya.
"Ish, kenapa do'anya jelek sekali?" decak Alan.
Zee membantu suaminya mengeringkan rambut, kemudian memberikan gel di rambut suaminya secara merata, baru Alan menyisirnya sendiri. Selesai memakai baju dan sedikit berdandan, Alan menyambar jaket dan kunci mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, memutari kota Jakarta mencari penjual sate yang paling enak. Alan mencari penjual sate yang paling ramai, karena kedai yang paling ramai biasanya rasanya lebih enak. Mobil Alan berhenti di depan kedai tersebut, dan menggandeng Zee untuk duduk lesehan. Alan memesan dua porsi sate ayam dengan lontong, dan dua gelas es teh. Tidak menunggu lama, pesanan mereka datang. Zee memakan sate itu dengan sangat lahap, suaminya pun juga menikmati sate tersebut.
"Pih, sebelum pulang ke rumah, nanti mampir ke Supermarket terlebih dahulu," pinta Zee.
"Baiklah," jawabnya.
"Mau beli apa, Mih?" tanya suaminya, sepertinya baru tiga hari yang lalu istrinya berbelanja kebutuhan dapur.
"Perlengkapan mandi, Pih," ujarnya, "Mamih lupa."
"Baiklah, sepulang dari sini!" kata suaminya, dijawab anggukan oleh istrinya.
"Mih, Papih disini saja ya! Badan Papih sangat capek," ujarnya. Zee bisa melihat itu dari raut muka suaminya yang kelelahan.
"Baiklah." Zee keluar dari mobil suaminya. Ia berjalan melangkah masuk ke Supermarket, dia mengambil trolly. Ia membeli banyak sabun, shampoo, pasta gigi dan sikat, semua perlengkapan mandinya sudah lengkap ia beli. Kemudian ia menuju ke tempat parfum, namun tanpa sengaja Zee menyenggol lengan seorang wanita sehingga wanita tersebut hampir terjatuh.
"Auw," pekiknya.
"Maaf." Zee meminta maaf.
"Apakah kau tidak punya mata?" ketusnya.
"Sakit tahu!" ucap wanita itu sambil memegangi lengannya.
"Aku kan sudah meminta maaf, Kenapa Nona masih marah-marah?" tanya Zee kesal.
"Apa kau bilang? Kau tidak tahu siapa aku?"
__ADS_1
"Aku ini adik dari pemilik Perusahaan paling terkenal di Indonesia," sombongnya.
"Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu! Sekarang juga kamu harus memohon kepadaku, agar aku memaafkan mu!" tambahnya lagi.
"Aku sudah meminta maaf! Apakah telinga Anda tuli?" ejek Zee.
"Apa kau bilang? Sekarang kau mengatai aku tuli? Dasar tidak sopan!" hardiknya.
"Untung saja kau wanita hamil, jika bukan ... !" wanita tersebut menjeda kalimatnya.
"Jika bukan, Apa?"
"Anda akan menyakiti saya, Begitu! Meskipun saya hamil, saya tidak takut!" sentaknya.
"Dasar kau ini!" geram wanita itu.
"Apa?" Zee melototkan matanya. Wanita tersebut nampak kesal, dan maju selangkah ke arah Zee hendak menamparnya, namun Zee langsung memelintir tangannya ke belakang, membuat wanita mengaduh kesakitan.
"Aduh, sakit! Dasar wanita gila," pekiknya.
"Kau yang gila! Jangan kau pikir aku tidak bisa melakukan apapun!" ancamnya, seraya mendorong tubuh wanita tersebut hingga terjerembab.
"Untungnya kau wanita! Jika kau laki-laki, pasti ku hajar kau!" kesal Zee, dia pun langsung pergi meninggalkan wanita tersebut dan menuju meja kasir. Setelah membayar semua barang-barang belanjaannya, ia pun keluar dari Supermarket itu, banyak mata yang melihat dan menyaksikan kejadian tersebut, membuat ia malu dan segera pergi dari sana.
Sampai di mobil, Alan melihat istrinya nampak sangat kesal. Alan sampai heran dibuatnya.
"Sayang, Ada apa?" tanya Alan.
"Ada wanita gila di Supermarket," jawab Zee sekenanya.
"Wanita gila!" ujar Alan tidak mengerti.
"Iya, tadi ada wanita gila marah-marah! Padahal Mamih tidak sengaja menyenggolnya, malah dia marah-marah! Dasar gila," kesal Zee, membuat Alan tersenyum geli. Pasalnya jika istrinya marah-marah seperti itu, wajahnya sangat lucu dan menggemaskan. Alan pun menjalankan mesin mobilnya, Mobil melaju kencang menuju rumah.
"Sudah, Sayang! Jangan cemberut lagi, nanti cantiknya hilang!" ujar suaminya, menghibur Zee.
"Ish, Papih! Mamih tuh lagi marah, jadi jangan coba-coba menggoda Mamih," manyun Zee.
"Astaga, Sayang! Papih kan tidak tahu apa-apa, Kenapa Mamih marah sama Papih?" tanya Alan.
__ADS_1
"Hah, alamat nggak dapat jatah nanti malam," batin Alan mengacak-acak rambutnya sendiri.
to be continued....