
Dua hari berlalu
Hari ini adalah hari ulang tahun Papa Harun , di mana hari ini Zee ingin memberikan kejutan untuk Papa dan Mama mertuanya.
Zee juga ingin memberikan kejutan kepada Papanya sendiri dan Mama Nola.
Suaminya yang selalu cerewet perihal pakaian istrinya yang selalu terbuka, membuat Zee kali ini memakai dress panjang tertutup, dengan sedikit rambut diikat.
Memoleskan sedikit bedak dan lipstik warna merah, membuat aura seorang bumil terpancar terlihat sangat cantik dan anggun.
Suaminya sampai terpana melihat kecantikan istrinya.
"Mulutnya ditutup,Pih ! nanti ada lalat masuk !" gurau Zee.
"Mamih cantik banget !" puji Alan.
"Papih baru tahu Mamih cantik ? emang dulu-dulu Mamih gak cantik apa ?" sungut Zee.
"Cantik,Mih ! tapi memakai pakaian tertutup seperti ini, Mamih semakin cantik !"
"Aura keibuannya semakin terpancar !" puji Alan lagi, membuat pipi Zee memerah.
"Ah,Papih bisa saja !"
"Yuk,ah, berangkat ! ini sudah jam 7 lho ,Pih !"
"Ayok !"
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah keluarga Xaquille , sekitar 40 menit mereka sampai.
Semua keluarga sudah berkumpul di rumah Papa.
Mama Sarah menyambut kedatangan Alan dan Zee .
"Assalamualaikum ?"
"Walaikumsalam , Sayang ?" Mama Sarah memeluk menantunya dengan sayang.
"Selamat yah , Sayang ?"
"Akhirnya kamu hamil juga !" ucap Mama Sarah memberikan selamat kepada Zee.
"Hah !" Zee menatap tajam ke arah suaminya.
"Mama tahu dari mana ?" tanya Zee.
"Itu ?" Mama melirik ke arah putranya.
"Ish ! padahal Zee mau ngasih kejutan sama Papa dan Mama ?"Zee memberengut sebal .
"He.....he.....he !"
"Maafkan Papih , Sayang ! habisnya Papih sudah gak sabar ngasih tahu kabar gembira ini !" Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ha.....ha......ha !"
"Sudah ! sudah ! Mama terkejut kok !" jawab Mama .
"Kamu tahu kenapa ?"tanya Mama ,di jawab gelengan oleh putra dan menantunya.
"Karena tanduk putra Mama yang super alot berfungsi !"
"Ha......ha.......ha !" Mama tertawa terbahak-bahak , membuat Alan cemberut.
Zee ikut tertawa terbahak-bahak , namun mendapat tatapan tajam dari suaminya, membuat Zee berhenti tertawa.
"Ups !"
__ADS_1
"Sudah Ayo masuk !"
"Semuanya sudah berkumpul !"
"Papa dan Mama mu juga sudah datang dari tadi !"
Mama mengadakan pesta kecil di taman belakang , rumah keluarga Xaquille.
Di sana sudah ada Papa Roger dan Mama Nola, Astrid dan suaminya , Yuda dan Ratu.
Alan dan istrinya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Papa Harun.
Papa Harun terlihat sangat bahagia, semua keluarga bisa berkumpul di sana.
Zee menyerahkan kado spesial untuk Papa mertuanya ,Papa Harun menerima kado pemberian Zee dengan senang.
Acara dimulai dengan meniup lilin dan memotong kue.
Potongan pertama Papa berikan kepada istri tercintanya , potongan kedua ia berikan kepada putra dan putrinya, potongan ketiga dan seterusnya ia berikan kepada menantu-menantunya.
Selesai memotong kue di lanjutkan dengan berdo'a bersama meminta keselamatan, kesehatan, limpahan rezeki, panjang umur dan yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatan untuk menantu dan cucu menantunya sampai melahirkan nanti.
Selesai potong kue dan do'a di teruskan dengan acara makan bersama.
Zee menyendokkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya terlebih dahulu, barulah dirinya.
"Terima kasih, Sayang !" ucap Alan.
Yuda yang duduk di meja paling ujung merasa jengkel dan muak melihat kemesraan pasangan tersebut.
Yuda meremas taplak meja didepannya masih bisa terlihat jelas oleh Ratu , bahwa suaminya terlihat tidak suka menatap Zee dan Om Alan yang nampak mesra.
"Pih, Mamih mau ke kamar mandi dulu ?" bisik Zee kepada suaminya,dan di angguki oleh Alan.
Zee berpamitan sebentar ke kamar mandi untuk membuang hajat kecil.
"Zee ? Aku ingin bicara dengan mu !" ucap Yuda.
"Gak ada yang perlu kita bicarakan,Yud !"
"Minggir !" ketus Zee , mencari celah karena jalannya ditutupi oleh kursi roda Yuda.
"Zee,aku mohon maafin aku !"
"Kembalilah kepada ku ,Zee !"
"Aku sangat mencintaimu ! Aku tidak bisa hidup tanpa kamu ,Zee !" ucap Yuda membuat Zee benar-benar muak.
"Kau ini sudah gila yah ! Kau ini sudah menikah ! bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu !"
"Aku juga sudah menikah dengan Om kamu ! jadi panggil aku dengan sebutan Tante !" galak Zee.
"Gak ! Aku gak perduli ! kamu bisa tinggalkan Om Alan ! dan aku juga akan meninggalkan Ratu ! kita pergi yang jauh ! kita akan hidup bersama dan bahagia ,Zee !" lanjut Yuda lagi.
"Cih , Simpan omong kosong mu !"
"Aku sudah tidak mencintai kamu lagi ,Yud !"
"Hatiku sudah aku serahkan untuk suami ku !"
"Dan di dalam hati ini, tidak ada ruang untuk mu ! kau mengerti kan ?"
"Lebih baik sekarang, yang kau pikirkan itu adalah Ratu dan calon anakmu !" cerca Zee.
"Sekarang minggir ! biarkan aku lewat !" saat Zee mendorong kursi roda Yuda , tiba-tiba Yuda menarik pinggang Zee hingga terjatuh tepat di pangkuan Yuda.
BRUGH..
"Lepaskan aku ,Yud !" Zee berusaha melepaskan tangan Yuda yang mencengkram erat pinggang Zee.
__ADS_1
"Kau memang bre*********sek ! Kau baji********n !" Zee memukul dada bidang Yuda.
"Selama kau begitu ketus kepada ku , maka Ratu yang akan kena imbasnya !"
"Dan selama kau begitu kasar dan cuek kepada ku ,Ratu juga yang akan menanggung semuanya !" ancam Yuda kepada Zee, membuat Zee membelalakkan matanya.
Zee memberontak , berusaha melepaskan dirinya dari Yuda.
Hingga terdengar suara panggilan suaminya dari luar , barulah Yuda melepaskan cengkeramannya dari pinggang Zee.
"Dasar gila !" Zee berdiri dan berlari meninggalkan Yuda, sedangkan Yuda tersenyum puas.
"Mih ?"panggil suaminya.
"Dari mana saja sih ?" tanya suaminya melihat muka istrinya pucat.
"Itu Pih ,perut Mamih tadi agak sakit !" jawab Zee sekenanya.
"Sakit ?" Alan memegang kening Zee.
"Kita ke Rumah Sakit yah ?"
"Ish,Papih ! tidak usah , cuma mulas-mulas saja Pih !" bohong Zee.
"Sekarang sudah baikan kok!"
"Oh, syukurlah !"
"Ayo, kita makan ! nanti makanannya dingin!" ajak suaminya.
Zee pun melangkah beriringan bersama suaminya menuju meja makan kembali, menikmati makan malamnya bersama keluarga.
Yuda pun kembali berkumpul , Yuda bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sikapnya sangat tenang , bahkan saat menyantap makanannya tanpa ekspresi apapun.
Makan malam telah usai, hari pun mulai larut.
Papa Roger dan Mama memutuskan untuk pulang, disusul oleh keluarga Nalendra, semuanya kembali ke rumahnya masing-masing.
Saat Alan dan istrinya hendak pulang,isi perut Alan kembali di aduk-aduk.
Hoek......Hoek........Hoek
Alan kembali mengeluarkan seluruh isi perutnya, sampai keluar rasa pahit di mulutnya.
"Duh,Papih masuk angin lagi ,Ma !" ucap Zee cemas.
"Masuk angin ?" tanya Mama.
"Ya sudah kalian menginap di sini saja, tidak usah pulang dulu !"
"Kasihan suami kamu, Sayang !" ucap Mama mertuanya.
"Baiklah !" Zee memapah tubuh suaminya yang lemas ke kamar pribadi suaminya di rumah itu.
"Pih , kita menginap di rumah Mama,yah ?"
"Iya ,Mih ! kepala Papih pusing sekali !"
Tidak menunggu lama,Mama sudah membawakan minyak kayu putih dan obat masuk angin.
"Zee , baluri suami mu dengan minyak angin ini !" Mama menyerahkan minyak kayu putih kepada Zee.
"Iya ,Ma !"
Setelah membaluri suaminya dengan minyak angin dan memberikan obat untuk Alan ,Alan pun tertidur dengan nyenyak.
to be continued......
__ADS_1