Om I Love You

Om I Love You
Episode 9


__ADS_3

Burung berkicau, melompat dari ranting pohon satu ke ranting pohon yang lain. Bau tanah menyeruak, akibat tanah yang semalaman di guyur hujan. Cuaca yang masih mendung , membuat Zee malas untuk bangun. Dia masih bergelung di bawah selimutnya.


Tok....tok....tok


"Zee?" suara mama.


"Zee bangun, Sayang!" mama masuk ke kamar gadisnya.


"Zee? kamu gak kuliah?"


"Zee?" mama menggoyangkan bahu Zee .


"Hoam!"


"Masih ngantuk,Ma!"


"Bangun Sayang!"


"Emang tadi subuh kamu gak sholat?" tanya mama.


"Sholat ,Ma! Zee bobo lagi! habis dingin,buat bobo enak!" suara Zee ,khas orang bangun tidur.


"Ya ampun, Sayang! Ayo bangun, papa sama Ratu sudah nunggu di meja makan!"


"Ya ,ma! Zee mau mandi dulu!"


Zee pun bergegas ke kamar mandi, untuk bersih-bersih.


Sekitar 10 menit,Zee sudah siap dengan kaos dan celana jeans-nya. Menuruni tangga, menuju meja makan.


"Pagi semuanya!"


"Maaf, kali ini Zee gak ikut sarapan! Zee buru-buru!" Zee hanya meminum susunya yang sudah di sediakan mama.


"Dasar putri tidur! jam segini baru bangun!" cibir Ratu.


"Biarin! suka-suka gue dong!" jawab Zee enteng.


"Dah , semuanya!"


"Muuuuuuuuaaaaaaaccccchhhhhh!" cium papa.


"Muuuuuuuuaaaaaaaccccchhhhhh!" cium mama.


"Hati-hati,Nak!"


"Bye....bye....bye!" sambil tangannya mengacak rambut Ratu , tentu saja sang empunya melotot tajam.


"Sialan kamu, Zee!" kesal Ratu.


Pertengkaran seperti itu, setiap hari sudah kenyang papa dan mama dengarkan.


Namun mereka cuma bisa geleng-geleng kepala saja.


Untuk menyatukan minyak dan air memang sangat susah, butuh kesabaran ekstra dan super sabar.


Dari pernikahan keduanya, Roger Aghar dengan Nola Calya memang tidak di karuniai anak.


Maka itulah Nola berusaha menjadi seorang ibu dan istri yang baik di keluarga ini.

__ADS_1


Namun Ratu yang merasa ibu kandungnya lebih menyayangi anak tirinya ,ia menjadi benci dan iri kepada Zee.


Berkali-kali Nola menasehati Ratu, namun Ratu tidak pernah mau mendengar.


Zee berangkat di jemput Echa, Echa sudah menunggu diluar gerbang.


"Hei ,Cha, Selamat pagi?"


"Selamat pagi juga! Zee kamu tahu sekarang jam berapa?" kesal Echa.


"Kita bisa terlambat,Zee!"


"Ya sudah, biar aku yang bawa motor!" tawar Zee.


"Ogah ,inget dulu! kamu yang bawa motor, aku yang nyungsep ke bak sampah! bak sampahnya bau banget lagi! badanku sama rambut ikutan bau ! kamu ingat gak,Zee?" omel Echa.


"Kali ini aku jamin gak bakal nyungsep lagi! aku jamin seratus persen!" Zee meyakinkan.


"Ya udah deh! Awas ya kalo kamu nyungsep lagi!" ancam Echa.


"Paling nyungsep di sungai!" lirih Zee.


"Apa kamu bilang?" ucap Echa membulatkan matanya.


"Ha...ha...ha !"


"Ga,Beb! aku janji!" Zee memakai helm nya.


Dan sekali tarik.


BREM.....BREM....BREM


"Zee, pelan-pelan!"


"Kalau pelan-pelan, kita bisa terlambat !" jawab Zee agak keras.


Dalam perjalanan 10 menit, mereka sampai di parkiran kampus, Zee turun dari motor.


"Astaga! kenapa rambut kamu, Ca ?" Zee terkejut melihat rambut Echa mirip Mbah Surip ( Almarhum).


"Dasar dodol! semua gara-gara kamu! gara-gara kamu ngebut, rambutku jadi begini! hilang deh kecantikan aku!" sungut Echa.


"Ha ...ha....ha!" tawa Zee terbahak-bahak.


"Jangan ketawa monyong!" Echa melotot tajam.


"Yuk cepetan masuk! hari ini pelajaran Pak Ridwan! kamu gak mau liat pesona dosen satu itu?" Zee menarik tangan Echa buru-buru.


"Aduh, jangan cepat-cepat jalannya!" kelas baru saja mau di mulai .


"Selamat pagi,Pak?" sapa Echa.


"Kalian terlambat?" tanya Pak Ridwan.


"Ga kok Pak! Tuh lihat, jam 8 pas, ga kurang ga lebih!" jawab Echa sambil menunjuk jam dinding.


"Duduk!" tegas Pak Ridwan.


"Wah, Sweet banget! meskipun killer , pesonanya membuat hati aku berantakan!" bisik Echa ke Zee .

__ADS_1


"Hati kamu kayak mainan, berantakan !" ejek Zee .


Selama dua jam mereka mengikuti pelajaran dari dosen killer itu.


Perusahaan XaGroup


Dengan di dampingi papanya, Alan memasuki perusahaan besar milik keluarga Xaquille.



Dengan memakai setelan jas warna biru, Alan terlihat sangat tampan dan gagah. Banyak mata yang memandang ke arah mereka tanpa berkedip. Banyak pula desas-desus , para kaum hawa membicarakan pria yang barusan datang bersama pemilik Perusahaan.


Di ruangan meeting, semua sudah berkumpul. Harun dan putranya memasuki ruangan meeting. Harun memperkenalkan putranya kepada semua orang di ruangan itu,sebagai penggantinya di Perusahaan ini. Semua menunduk hormat dan memberikan selamat kepada CEO baru.


Selesai acara perkenalan, Harun mengajak putranya melihat ruangan CEO yang akan di tempatinya besok. Ruangannya sangatlah besar dan luas ,ada satu ruangan private untuk CEO, yang di lengkapi dengan tempat tidur dan lemari pakaian, di sana juga ada beberapa pakaian kantor yang masih baru belum tersentuh, mungkin sengaja papanya siapkan saat masih menjabat sebagai CEO. Di dalam kamar itu juga ada kamar mandi yang sangat luas, tidak kalah dengan kamar mandi di rumahnya.


Di sudut ruangan ada kulkas mini, kulkasnya lengkap dengan minuman.


"Putraku, sekarang kantor ini menjadi milikmu!"


"Papa harap kamu bisa mengelola Perusahaan ini dengan benar!"


"Semua karyawan bergantung kepada Pimpinannya!" nasehat papa.


"Papa jangan khawatir! Semoga Alan bisa amanah! papa doakan saja untuk kelancaran dan kesuksesan Alan!"


"Bagus! itu yang papa suka dari kamu!" puji papa .


"Kamu memiliki loyalitas yang tinggi!"


"Papa suka itu!"


Selesai melihat-lihat Perusahaan, Alan dan papanya memutuskan untuk pulang. Mobil melaju meninggalkan Perusahaan ,menuju kediaman Xaquille.


Di tengah perjalanan Alan melihat, seseorang masih memakai helmnya sedang di keroyok oleh lima kawanan pemuda, dan sepertinya mereka adalah begal.


Satu temannya berteriak meminta tolong, namun karena memang jalanan yang sepi, tidak seorangpun yang menolongnya.


Orang tersebut berusaha untuk membela dirinya, dengan gerakan gesit dan lincah kedua pemuda tumbang di hajarnya, melihat kedua temannya tersungkur, pemuda yang lainnya mengeroyok orang itu.


Namun orang berhelm itu terjerembab ke depan, akibat begal itu menendangnya dari belakang.


"Pa, tunggu di sini! Aku harus menolongnya! dia sedang di keroyok!" ucap Alan, melepaskan jas yang dia kenakan.


"Jangan Alan! mereka semua begal! Kamu bisa terluka,nak!" larang papa.


"Tapi orang berhelm itu bisa mati, Pa!" Alan tidak mendengarkan panggilan papanya,Alan langsung menolong orang itu.


Dengan sekali pukulan para penjahat jatuh tersungkur, Alan menendang pemuda yang mengarahkan senjata tajam ke arahnya. Alan yang menguasai berbagai ilmu beladiri, dengan mudah menjatuhkan lawannya. Mereka semua lari terbirit-birit, sambil memegangi luka-lukanya.


Alan mengulurkan tangan membantu berdiri orang berhelm itu.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Alan.


"Terimakasih, Om!"


"Terimakasih banyak sudah membantu!"ucap orang berhelm sambil membuka helmnya.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2