
Sore Hari
Setelah menata barang-barang, Alan dan Zee berpamitan kepada papa dan mama.
"Zee bawalah yang penting-penting dulu?" perintah suaminya.
"Nanti sisanya, aku kirim orang untuk mengambilnya!"
"Iya, Om!"
"Sekarang kita harus berpamitan dengan papa dan mama!"
Mereka melangkah menuruni tangga, sudah ada papa dan mama sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Pa, Ma!" panggil Zee, duduk di samping mama.
"Kalian jadi pergi sore ini juga?" tanya mama.
"Jadi, Ma! Tapi kami akan ke rumah mama dulu, menginap sehari atau dua hari! Setelah itu Alan akan membawa Zee, ke rumah yang Alan beli dengan hasil keringat Alan sendiri," jawab Alan.
"Oh, begitu! Baiklah kalau seperti itu, mama seneng dengernya!" ucap mama.
"Zee?"
"Pesan papa, jadilah istri yang baik dan Solehah! Menurut apa kata suami! Jangan bandel dan jangan badung!"
"Bla.... Bla..... Bla," banyak sekali petuah yang di berikan papa kepada Zee, Zee mendengarkan dan menganggukkan kepala tanda mengerti.
Setelah mencium punggung tangan papa dan mama, tidak lupa acara berpelukan.
Zee nampak sedih, karena ini adalah pertama kalinya Zee akan meninggalkan rumah. Biasanya dia meninggalkan rumah kalau ada acara camping saat Sekolahnya dulu.
Mobil Alan melaju meninggalkan kediaman Aghar, Alan menoleh ke arah istrinya, istrinya masih nampak bersedih.
"Jangan khawatir, nanti kita sering-sering bermain ke rumah papa dan mama!" ucap Alan sambil menggenggam tangan Zee, yang di angguki oleh Zee.
Sekitar 30 menit mereka sampai di rumah keluarga Xaquile. Mama Sarah dan papa Harun menyambut anak dan menantunya dengan hangat.
"Akhirnya kalian datang!"mama Sarah memeluk tubuh Zee dengan sayang.
"Zee menantuku! mama sangat senang kau datang, Nak!"
"Ayo masuk!" mama mempersilahkan Zee masuk rumah.
Rumah yang sangat besar, cukup mewah dan sangat indah dengan gaya Eropa. Pelayan-pelayan berdiri berjejer menyapa kedatangan istri dari tuan mudanya, membungkuk memberi hormat.
"Ayo masuk, Sayang!" mama menggandeng tangan Zee masuk ke dalam rumah. Mama menyuruh pelayan menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk menantunya.
"Ini rumah keluarga Xaquille, sekarang menjadi rumahmu, Nak!"
"Mari duduk!" Zee mendudukkan pantatnya di sofa, begitu juga suaminya dan papa.
"Ma, rencananya Alan akan membawa Zee ke rumah Alan sendiri, yang Alan beli dengan hasil keringat Alan sendiri!" ucap Alan.
__ADS_1
"Kenapa tidak tinggal di sini saja? Rumah ini sangat besar! Kenapa kalian tidak tinggal di sini saja! jika kalian pergi, mama akan kesepian di sini!"" cerca mama.
"Alan tahu, Ma! Tapi rumah Alan kan lebih dekat dengan Perusahaan, dan kampus Zee juga lumayan dekat! Alan juga ingin mandiri, Ma!" ucap putranya.
"Biarkan, Ma! Biarkan mereka mandiri! Toh kita bisa sering main ke sana, atau mereka yang sering main ke sini!" timpal papa bijaksana.
"Tapi kan mama ingin lebih dekat dengan menantu cantik mama!" sedih mama .
"Zee janji, nanti Zee akan lebih sering ke sini ma!" ucap Zee .
"Benarkah, Sayang! Baiklah kalau begitu! Mama setuju, tapi sering-seringlah ajak istri mu menginap di rumah ini! Kalau perlu bikinlah banyak anak, biar mama ga kesepian!" ucap mama membuat Zee membulatkan matanya dengan sempurna.
"Pasti, Ma! Mama pasti akan mendapatkan cucu yang banyak dari Alan!" jawab Alan.
"Uhuk....uhuk.... Uhuk," Zee yang mendengar sampai tersedak.
"Aduh kenapa sih Om malah menanggapi omongan mama Sarah?" batin Zee.
"Kenapa, Sayang? Pelan-pelan minumnya!" ujar mama.
"Ini tadi ada lalat masuk ke minuman Zee, Ma!" jawab Zee sambil melirik ke arah suaminya. Alan hanya santai mendapatkan lirikan dari mata istrinya.
"Oh, gitu! Uda ganti saja minumnya!" ujar mama.
"Nih, Sayang!" mama mengganti gelas Zee dengan yang baru.
"Terima kasih, Ma!"
"Pasti kalian capek! Sekarang kalian bersih-bersih dulu di kamar, karena sebentar lagi kita akan makan malam!" ucap mama. Alan menggandeng tangan istrinya menuju kamarnya.
"Ini kamar, Om?" tanya Zee.
"Iya, Kamu suka?" tanya suaminya.
"Kamu adalah wanita pertama yang masuk ke kamarku!" ucapnya lagi.
"Benarkah?"
"Ah, tidak percaya! Om ini kan ganteng, pasti banyak wanita yang tergila-gila sama Om!"
"Salah satunya pasti pacar, Om!"
"Dan tentu saja karena sudah berpacaran pasti Om sering membawanya kemari!" beo Zee.
"Ha... ha... ha! jadi kamu mengakui kalau aku ini ganteng?" tanya Alan.
"Eh, maksud Zee lumayan! gak ganteng-ganteng amat sih!"
"He... he... he!" senyum Zee menampilkan deretan gigi putihnya.
"Benarkah?" Alan mendekat ke arah Zee, menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"Om, mau apa?"
"Jangan dekat-dekat! Zee gerah!" Zee mendorong dada bidang Alan.
"Kenapa? kamu merasa gugup jika berdekatan dengan ku!"
"Ck, padahal ada AC! masa gerah?" cibir Alan.
"Apa?" lirih Zee, pipinya sudah sangat merah karena malu.
"Ya Ampun! Ada apa dengan ku? Kenapa jantungku seperti mau copot saja!" batin Zee.
"Cepat sana mandi! Sebentar lagi waktunya makan malam!" Zee yang menahan rasa malu, langsung bergegas pergi menuju kamar mandi.
Sekitar satu jam Zee mandi, Zee merendam tubuhnya di bathtub yang super mewah milik suaminya. Berbagai macam aromaterapi di sana, sampai Zee bingung memakai yang mana.
Selesai mandi Zee berjalan berjinjit keluar dari kamar mandi, ia pikir suaminya sudah keluar.
Zee mengambil bajunya yang masih di koper, mengambil dress cantik bunga-bunga warna navy.
"Kau sudah selesai mandi?" suara bariton suaminya membuatnya terlonjak kaget, dengan reflek Zee melayangkan tinjunya persis di rahang suaminya.
BUGH...
"Auw!" Alan mengaduh kesakitan.
"Astaga, Om! Maaf Om! Zee pikir tadi ada pencuri masuk ke kamar!"
"Ish, Kau ini! kau laki-laki atau wanita sih?" Alan memegangi rahangnya yang sakit.
"Maaf, Om! Zee benar-benar minta maaf! Zee refleks, ini tidak Zee rencanakan! Suer!" Zee merasa bersalah.
Zee tidak menyadari bahwa gunung kembarnya menyembul di sela jubah mandinya, Alan yang melihat itu tidak berkedip, dan pikirannya traveling kemana-mana.
Zee yang sedari tadi bicara tidak mendapatkan respon dari suaminya, tentu saja melirik ke arah suaminya, ternyata suaminya tidak berhenti menatap gunung Mahamerunya tanpa berkedip.
BUGH
Zee kembali melayangkan bogemnya ke pipi mulus Alan.
"Auw, apa yang kau lakukan ?" teriak Alan meringis kesakitan.
"Habisnya Om menatap gunung Mahameru Zee tanpa berkedip!" kesal Zee.
"Kau yang salah kenapa aku yang kau pukul?"
"Lihatlah gunung Mahameru mu mengintip?" tunjuk Alan .
"Ish, dasar mesum!" Zee langsung menutupi dua gundukan yang menyembul itu, dia membenarkan tali jubah mandinya yang longgar.
"Apakah kau hendak menggoda ku?" goda Alan.
"Tidak, Om! Mana ada anak kecil menggoda Om-om!" ujarnya lirih namun masih bisa di dengar oleh suaminya.
__ADS_1
"Apa??" Alan menatapnya tajam, namun Zee langsung mengambil pakaiannya lari ke kamar mandi dengan terbirit-birit membuat Alan tersenyum puas.
to be continued......