Om I Love You

Om I Love You
Episode 94


__ADS_3

Silvi melangkahkan kaki jenjangnya ke Perusahaan Xaquille. Dengan memakai rok span diatas lutut dengan kemeja panjang. Ia sengaja membiarkan dua kancing bagian atas kemejanya terbuka, hingga gunung kembar yang sangat montok itu terpampang jelas. Sambil meliuk-liukkan tubuhnya, ia berjalan ke arah kantor Alan. Anna, sekertaris Alan sudah melarangnya, namun Silvi bersikeras ingin menunggu Alan di dalam. Dengan mengancam Anna, akhirnya Silvi berhasil masuk ke dalam.


Setelah mengantarkan istrinya ke kampus, Alan menjalankan mobilnya menuju Perusahaan. Alan melangkahkan kakinya masuk, semua karyawan memberikan salam seraya menundukkan kepalanya. Alan berjalan ke kantor dengan menggunakan lift khusus untuk CEO. Sampai didepan kantor, sekertarisnya memberitahukan bahwa di dalam ruangan ada adik sepupunya. Alan sangat kesal, matanya memerah, membuat sang sekertaris ketakutan.


"Anna, lain kali, Jangan biarkan siapapun masuk, kecuali istriku!" tegasnya.


"Baik, Pak," jawab Ana ketakutan.


Alan pun masuk ke ruangannya, Alan sangat kesal dengan tingkah laku adik sepupunya, yang menurutnya tidak memiliki etika.


"Apa yang kau lakukan disini?" ketus Alan.


"Eh, Kakak, kakak sudah sampai," ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Aku tanya, Apa yang kau lakukan disini?" bentaknya lagi.


"Aku sedang menunggu kakak," jawabnya santai.


"Kenapa kau harus menungguku? Jika kau memang berniat ingin bekerja di sini! Kau harusnya datang ke HRD, untuk menanyakan lowongan tersebut! Lalu kenapa kau datang kemari?" ketusnya lagi.


"Kakak, disini tidak ada yang aku kenal! Makanya, sebelum ke HRD aku kesini dulu! Supaya kakak mengantarku," ucapnya.


"Huft," Alan menghela nafasnya panjang, dia harus bersabar menghadapi wanita yang berdiri di depannya. Alan pun menghubungi sekertarisnya, untuk mengantarkan Silvi ke posisi yang kosong di bagian divisi pemasaran.


Anna masuk ke kantor Ceo-nya, dan mengajak Silvi untuk pergi ke tempat tersebut. Silvi nampak tidak senang, karena dia tidak menempati posisi sebagai sekertaris Alan. Raut mukanya terlihat sangat masam, niat hati ingin lebih dekat dengan kakak sepupunya, malah justru dia ditempatkan di divisi pemasaran.


Silvi diperkenalkan dengan orang-orang disana, namun Silvi sangat sombong. Dia tidak mau mengerjakan pekerjaannya seperti karyawan yang lain. Bahkan dia berani untuk memerintah karyawan yang lain untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jika karyawan tersebut tidak mau mematuhi perintahnya, maka dia akan mengancam karyawan itu, dengan dalih pemecatan bagi karyawan yang mau melawan adik seorang CEO. Tentu saja mereka ketakutan dengan ancaman Silvi.


Jam kantor berakhir, Silvi keluar dan menunggu di depan ruangan kakak sepupunya dengan wajah masam. Karena sekertarisnya sudah melarangnya untuk masuk, itupun harus adu mulut terlebih dahulu dengan Ana, sekertaris Alan. Alan keluar dari ruangannya, Silvi melambaikan tangan dan langsung menggandeng tangan Alan. Namun Alan menepisnya dengan kasar.


"Jaga batasan mu! Kau tahu ini di kantor kan?" ketus Alan, membuat Silvi memberengut kesal.

__ADS_1


"Kenapa kau belum pulang?"


"Aku menunggu, Kak Alan," jawabnya.


"Kenapa harus menungguku?" ketusnya lagi.


"Ayo, kita pulang bareng," ajaknya.


"Maaf, aku tidak bisa! Lebih baik kau pulang sendiri!" ujar Alan, "Bukankah kau punya mobil! Lebih baik kau pulang, ini sudah sore!" perintah Alan, sambil berlalu pergi meninggalkan Silvi yang masih berdiri di sana. Silvi meremas tasnya, sangat kesal. Lagi-lagi Alan menghindarinya. Anna yang sedari tadi melihat kejadian itu, mendapatkan tatapan tajam dari Silvi. Silvi menghampiri meja Anna.


"Anna, Apakah istri bosmu itu sangat cantik?" ketus Silvi kepada Anna.


"Iya, Nona," jawab Anna.


"Lebih cantik mana? Aku atau wanita itu!" tanyanya lagi.


"Ehm," Anna nampak berfikir.


Alan memarkirkan mobilnya di garasi, dia berjalan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia disambut hangat oleh istrinya. Alan mencium puncak kepala Zee. Zee sudah terlihat sangat cantik dan wangi. Tidak lupa, dia juga mengelus perut buncit istrinya, dan menciumnya sayang.


"Hei, anak papih, lagi ngapain?" tanya Alan, mendekat ke arah perut sang istri.


"Lagi bobo papih," jawab Zee menirukan suara anak kecil, membuat sang suami tertawa.


"Sayang, kau wangi sekali," ujar suaminya.


"Tentu saja dong, Pih! Kan Mamih sudah mandi," jawabnya.


"Oya, pih, hari ini Mamih ada jadwal kontrol, nanti Papih antarkan Mamih, ya?"


"Oke, Papih mandi dulu!" jawab suaminya.

__ADS_1


Alan langsung menyambar handuk, menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Selesai mandi, ia memakai baju yang sudah disiapkan oleh istrinya. Zee sudah membuatkan teh hangat untuk suaminya, Alan meminumnya sampai habis. Selesai bersiap-siap, mobil mereka pun melaju ke arah Rumah Sakit. Mereka berencana ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Alan dan istrinya sangat bersemangat sekali ke Rumah Sakit. Sampai di Rumah Sakit, mereka mengambil nomer antrian. Tidak menunggu lama, nama Zee dipanggil oleh petugas Rumah Sakit. Zee masuk ke ruangan Dokter obgyn ditemani oleh suaminya.


"Selamat sore, Ibu, Bapak!" sapa sang Dokter.


"Sore, Dok," ucap mereka serempak.


"Bagaimana? Apa ada keluhan?" tanya Dokter.


"Tidak, Dok! Alhamdulillah saya tidak memiliki keluhan apapun," jawab Zee.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Dokter. "Berarti, kandungan ibu, sangat sehat ya?" Dokter memulai mengoleskan gel kepada perut Zee, Dokter menempelkan alat pendeteksi jantung ke perut Zee. Jantung bayi sangat jelas terdengar, membuat Zee dan suaminya sangat bahagia. Dokter juga melihat jenis kelamin bayi dengan USG pada perut Zee. Di monitor nampak terlihat jelas, bahwa bayi yang ada dikandungan Zee adalah bayi perempuan.


"Tuh lihat! Bayinya nampak begitu jelas, bayinya berjenis kelamin perempuan ya, Pak, Ibu," terang Dokter.


"Benarkah, Dok? Jadi bayinya perempuan?" tanya Alan kurang percaya.


"Benar sekali, Pak," jawab Dokter. Alan nampak begitu senang dan bahagia. Berkali-kali ia mencium puncak kepala istrinya, membuat Dokter dan istrinya terkekeh geli.


Setelah menerima hasil USG dan mengambil obat untuk istrinya. Alan menggandeng istrinya menuju mobil yang ia parkir kan. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan istri dan calon bayinya.


"Pih, jangan terlalu berlebihan! Mamih malu," ucap Zee.


"Kenapa harus malu? Kita suami-istri yang sah! Yang seharusnya malu itu, pasangan yang belum menikah! Mereka belum sah, tapi memamerkan kemesraan di depan umum," cakapnya.


"Ish, Papih! Jangan keras-keras nanti didengar oleh orang lain!" larang Zee.


"Ayo, pulang! Tapi sebelum pulang, kita makan bakso dulu ya, Pih," ajak istrinya.


"Okey, Sayang!" ucap Alan. Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan yang lumayan macet. Itu sudah biasa terjadi di ibu kota, bagi mereka bukanlah hal aneh jika terjadi macet sepanjang jalan raya.


Alan melihat kedai bakso yang cukup ramai, ia pun turun untuk membeli bakso demi istrinya. Alan memang sengaja membungkusnya untuk dibawa pulang. Karena dia hanya ingin menjaga istrinya agar tidak terlalu capek saja.

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2