
Kata para Readers lima ratus miliar berapa nolnya? Author saja belum pernah melihat yang Lima ratus juta, bagaimana lima ratus miliar???
Wkwkwkwkwk.......😆😆😆🤣🤣🤣🤣🤣
Jangan negatif thinking dulu gaes, ini cuma cerita hallu kok, biar para Readers juga bisa menghalu sendiri dan tentunya bikin senyam-senyum sendiri, ngakak juga boleh? Seperti slogannya WARKOP DKI " Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang". Tapi ingat yah, jangan kebablasan!!!!
Yuk lanjut! 💕💕💕💕💕
Pukul tujuh malam
Alan melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh Silvi, Alan juga membawa Papa Harun bersamanya, namun Papa Harun mengendarai mobilnya sendiri. Entah kenapa Silvi bersikeras menyuruh dirinya untuk membawa Papa Harun bersamanya. Alan juga sudah menyiapkan lima belas koper berisi uang yang diminta oleh Silvi. Sepuluh koper dia letakkan di mobilnya sendiri, dan lima koper berada di mobil papa.
Mobil Alan melaju dengan kecepatan tinggi, dia ingin secepatnya menyelamatkan istri tercintanya. Sekitar lima puluh menit perjalanan ke tempat tujuan. Mobil Alan dan Mobil Papa Harun terparkir di depan sebuah gudang yang besar, yang terletak di tengah persawahan kering, jauh dari pemukiman warga. Mereka berdua mengamati sekeliling tempat itu, tempatnya cukup menyeramkan, gelap dan dipenuhi dengan semak belukar.
"Apakah mungkin Zee ada di gudang seperti ini, Lan?" tanya papanya.
"Alamat yang dikirim Silvi benar adanya, Pah!" ucap Alan kepada papa.
"Tapi, lihatlah! Gudang ini hanya ditumbuhi semak belukar! Mana ada orang di sini!" ujarnya.
"Iya juga sih," batin Alan.
Kemudian nampak terlihat dua orang bertubuh besar berjalan menghampiri mereka, mereka meminta uang yang diinginkan oleh bosnya. Namun Alan menolak sebelum dia bertemu dengan istrinya dulu. Salah satu orang bertubuh gemuk, sepertinya sedang menelfon seseorang. Setelah menelfon seseorang tersebut, pria bertubuh besar itu menunjukkan kepada Alan, agar mobilnya memutar ke belakang gudang, karena disanalah istrinya berada.
Alan dan papa kembali ke mobilnya, mereka menjalankan mobilnya menuju belakang gudang. Disana Alan melihat Silvi dan seorang laki-laki paruh baya disampingnya, juga Zee yang terikat tangannya di belakang. Empat orang bertubuh kekar disamping Silvi, dan enam yang lainnya menyebar.
"Pih?" teriak Zee.
"Lepaskan Mamih dari wanita gila ini," seloroh Zee.
"Silvi, Lepaskan Zee! Dia tidak bersalah!" teriak Alan kepada Silvi.
"Ha .... ha .... ha." tawa Silvi.
"Siapa bilang wanita ini tidak bersalah? Karena wanita ini sudah berusaha mempermalukan aku! Dan dia harus menerima hukumannya!" ujarnya, membuat Alan naik pitam.
"Tenang, Lan!" ucap papa, pandangan Papa Harun beralih ke arah pria separuh baya disamping Silvi.
"Xavier! Ternyata kau dibalik penculikan menantuku!" ucap papa.
"Ha .... ha .... ha."
"Kakak, Apa kabar? Lama tidak bertemu!" ucapnya.
"Apa mau kamu? Menantuku tidak bersalah! Lepaskan dia!" bentak papa. "Aku membawa uang yang kau minta! Sekarang, lepaskan menantuku!" teriak papa.
"Baiklah, aku akan melepaskannya! Tapi, berikan uang itu ke anak buahku!" ujarnya.
Alan memberikan sepuluh koper itu ke masing-masing anak buah Xavier yang berjumlah sepuluh orang. Kemudian Silvi melepaskan Zee, masih dengan tangan terikat ke belakang, tapi kakinya bebas tidak terikat. Zee berjalan ke arah suaminya, Alan berlari ke arah istrinya, dan memeluknya dengan erat. Dia begitu merindukan istrinya, begitu juga sebaliknya. Alan berusaha melepaskan ikatan istrinya, selesai melepaskan ikatan sang istri, Xavier dan anak buahnya menodongkan senjata ke arah mereka. Papa Harun sangat terkejut, dengan tindakan Xavier dan anak buahnya.
"Aku sudah menduga itu! Kau akan bermain curang!" bentak Papa Harun.
__ADS_1
"Ha ... ha .... ha." tawa Xavier, tawa Silvi dan anak buahnya menggelegar di gudang itu.
"Harun, Harun! Kau seperti tidak mengenaliku saja! Kau memang sangat bodoh!" ejeknya.
"Dari dulu kau memang bodoh! Tapi, kenapa harus kau yang memiliki semuanya? Harusnya aku yang menjadi pemilik seluruh kekayaan keluarga Xaquille!" teriak Xavier.
"Dasar tidak tahu malu! Sudah untung keluargaku mau menerima mu sebagai bagian anggota keluarga! Tapi, apa balasanmu?" bentak papa.
"Hanya demi harta, kau tega menghabisi orang yang sudah membesarkan mu! Bahkan mereka dengan tulus merawatmu dan menjagamu! Dimana hati nurani mu?" bentak papa.
"Ha ... ha .... ha." tawa papa Xavier.
"Aku tidak peduli! Kau telah membuatku dipenjara! Karena mu juga anakku harus kehilangan kasih sayang ku sebagai seorang ayah! Dan dia harus menjadi wanita penghibur di negeri orang!" bentak Xavier.
"Itu karena kesalahanmu sendiri! Kenapa kau harus menyalahkan orang lain?" ketus papa.
"Aku tidak peduli! Aku harus mendapatkan apapun yang aku inginkan," jawabnya.
"Kau memang laki-laki berhati iblis," teriak papa.
Xavier hendak menembakkan pistol ke arah Papa Harun. Belum sempat menembakkan pistol, Elmar dan anak buah Alan datang menyelamatkan.
DORR...
DORR...
DORR..
BUGH ....
BUGH ....
BRAKK ...
BRAKK ...
Zee tidak bisa tinggal diam, dan hanya menjadi penonton saja. Dia mencari balok kayu untuk menghajar penjahat-penjahat itu. Zee pukul laki-laki yang tidak bersenjata dengan balok kayu, dia tendang bagian terlarang pria bertubuh besar itu. Membuat rasa sakit yang luar biasa di bagian tongkolnya. Pria bertubuh besar itu memekik tertahan, merasakan nyeri yang tidak terkira rasa sakitnya.
BRUGH....
Pria itu ambruk, tidak sadarkan diri. Dari belakang Silvi sudah mengincar Zee, dia menjambak rambut Zee dari belakang.
"Auw." pekik Zee.
"Rasakan ini!" teriak Silvi dibelakang telinga Zee.
"Dasar wanita tidak waras! Rasakan ini!" Zee menyikut perut Silvi, Silvi merasakan kesakitan di bagian perutnya. Kemudian Zee meninju muka Silvi.
BUGH .... BUGH .... BUGH
"Auw." pekik Silvi mengeluarkan darah dari hidungnya.
__ADS_1
"Rasakan itu! Ini adalah pembalasan karena kamu sudah berani-berani menampar wajahku yang cantik! Untung kau wanita, jika laki-laki pasti sudah ku tendang area terlarang mu!" ketus Zee. Silvi tidak berani menatap wanita hamil yang galak itu. Dari arah belakang, anak buah Silvi hendak memukulkan besi panjang ke arah Zee, namun ditangkis oleh tangan kekar seseorang. Ternyata itu adalah Josh, dia menghajar laki-laki bertubuh tambun yang hendak menyerang Zee dari arah belakang.
Ternyata sedari tadi Josh sudah berada di gudang itu, namun dia tidak peduli dengan masalah keluarga Xaquille dan Paman Xavier.
Namun saat dia melihat Zee dalam bahaya, dia berusaha menyelamatkan nyawa wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Terima kasih, Josh!" ucap Zee.
"Kau ini wanita atau laki-laki? Dalam keadaan hamil saja, kau mampu mengalahkan tiga orang sekaligus!" cibir Josh.
"Tentu saja! Aku harus bisa melindungi diri ku sendiri! Jika kau macam-macam, aku juga bisa menghajar mu juga!" Zee mengepalkan kedua tangannya, membuat Josh bergidik ngeri.
Alan menghajar wajah Paman Xavier, karena pria ini berusaha untuk menembak sang papa, itu sudah sangat membuatnya marah. Beberapa menit kemudian, Polisi datang. Ini sudah Elmar rencanakan sebelum datang kesini, dia sudah bekerja sama dengan pihak Polisi untuk menangkap para penjahat itu, dan itu semua adalah rencana Alan, mengaturnya sedemikian rupa agar para penjahat itu tidak merasa curiga.
Melihat kedatangan Polisi, Josh langsung berpamitan kepada Zee.
"Zee, aku harus pergi! Aku akan mengingat kebersamaan kita!" ucapnya.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Zee.
"Aku akan pergi jauh! Sampai jumpa lagi! Bye," ucap Josh, buru-buru pergi meninggalkan gudang tua itu.
"Dasar pria gila!" umpat Zee.
Para Polisi membawa semua penjahat itu, termasuk Paman Xavier dan Silvi. Silvi masih mengeluarkan darah di bagian hidungnya.
Sedangkan Zee menghampiri suaminya yang ngos-ngosan akibat berkelahi hebat.
"Pih?" panggil Zee.
"Sayang!" jawabnya, sambil memeluk tubuh istrinya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya suaminya.
"Tidak apa-apa, Pih!" jawab Zee.
"Kenapa wajah kamu?" tanya Alan.
"Oh, ini gara-gara wanita gila itu!" ujarnya.
"Hem," Alan mengernyitkan alisnya.
to be continued...
*****************************************
Yuk baca juga di novel yang lain, yang nggak kalah serunya.
__ADS_1