
Keesokkan paginya
Setelah sarapan pagi, Elmar sudah bersiap-siap akan pulang ke Bogor. Dia tidak mungkin meninggalkan perkebunan terlalu lama. Alan memberikan satu mobilnya yang sudah lama tidak terpakai, namun masih sangat bagus untuk perjalanan pulang Elmar. Awalnya Elmar menolak, namun pasangan suami istri itu terus memaksa, hingga akhirnya Elmar pun menerimanya. Setelah berpamitan dengan pemilik rumah, Elmar pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman pasutri tersebut. Sampai mobil Elmar tidak terlihat dari pandangan mata Alan dan Zee, mereka pun memutuskan untuk masuk ke rumah.
"Apakah hari ini Mamih akan kuliah?" tanya suaminya.
"Ehm, hari ini Mamih nggak ada jadwal kuliah! Rencananya Mamih mau ke rumah Mama Sarah, sudah kangen sama Mama!" ujarnya. "Lagian sepulang dari Bogor, Mamih belum sempat berkunjung ke rumah Mama!" ucapnya lagi.
"Besok kan weekend, Bagaimana kalau kita menginap saja di rumah mama?" usul Alan.
"Boleh, ide yang bagus, Pih! Mamih mau mandi terlebih dahulu, terus kita berangkat deh ke rumah Mama," ucap Zee, sambil berlalu ke kamar mandi.
"Mau Papih mandiin?" goda suaminya.
"Ish, dasar mesum!" cibir Zee.
"Ha .... ha .... ha." tawa suaminya, namun Alan tetap saja memaksakan kehendaknya ingin mandi bersama dengan istrinya. Tentu saja acara mandi menjadi sangat lama, karena mereka akan melakukan ritual suami istri terlebih dahulu. Entah kenapa semenjak kandungan Zee memasuki usia tiga bulan, hormon seksualitasnya agak meninggi, hingga saat suaminya mengajak berhubungan setiap hari, dengan senang hati Zee akan melayaninya. Menurut buku yang Zee baca, usia suaminya yang sudah matang dan dewasa, adalah usia dimana seorang pria sedang mengalami peningkatan hormon progesteron, sehingga gairah s**ksnya meningkat.
Selesai mereka mandi, Mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mama. Zee memakai baju hamil yang agak longgar selutut, dengan motif bunga-bunga, warna biru laut. Dipadukan dengan sandal flat, yang sangat cantik dan nyaman dipakai. Alan membantu istrinya membawa barang-barang, baju ganti istrinya dengan baju ganti miliknya. Tidak banyak yang mereka bawa, karena memang cuma untuk akhir pekan ini saja mereka menginap.
"Mih, setelah mengantarkan Mamih, Papih langsung berangkat ke kantor! Karena ada sedikit pekerjaan yang harus Papih selesaikan di kantor," ucap Alan.
"Iya, tapi nanti Papih pulang ke rumah Mama kan?" tanya Zee.
"Iya, Sayang," jawab suaminya. Mereka pun menaiki mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Pih, kita mampir ke toko kue dulu! Mamih ingin membeli kue buat Mama!" ujar Zee.
"Oke, Sayang," jawab suaminya.
Alan memberhentikan mobilnya di toko kue yang cukup besar dan terkenal, mereka berdua masuk ke dalam, disambut ramah oleh pelayan toko. Zee memilih kue rainbow, donat dan cheese cake. Pelayan dengan cepat membungkus pesanan pelanggannya. Selesai dibungkus, Alan membayarnya di kasir. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Mama.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sampai di depan halaman rumah Mama.
Tok .... tok .... tok
__ADS_1
"Assalamualaikum?" salam keduanya.
"Walaikumsalam!" jawab Mama. Mama merasa surprise dengan kedatangan putra dan menantu kesayangannya ke rumah. Pasalnya, sebelumnya mereka tidak memberitahukan kedatangan mereka.
"Surprise," ucap Zee, mengagetkan Mama Sarah.
"Zee, Alan, kalian bikin kaget Mama saja!" ucap Mama Sarah. Zee memeluk Mama mertuanya dengan sayang.
"Datang kok nggak bilang-bilang!" kesal Mama Sarah, membuat keduanya terkekeh.
"Mama, Zee kangen banget!" ucap Zee.
"Mama juga, Sayang!"
"Akhirnya kamu pulang! Syukurlah kalian bersama-sama lagi! Padahal Mama sudah bersiap-siap mengasah pisau untuk memotong tanduknya Alan, jika kamu nggak ketemu!" goda Mama Sarah, membuat Alan membulatkan matanya. Zee yang tidak tahu maksud Mama mertuanya hanya garuk-garuk kepala saja.
"Jangan dengarkan kata-kata Mama, Sayang! Mama memang suka bercanda!" Alan memberengut sebal. Namun Mamanya masih terkekeh geli.
"Kenapa tanduknya mas Alan harus dipotong, Mah?" tanya Zee begitu saja. Membuat Mama dan suaminya saling berpandangan.
"Sudah, sudah! Ayo masuk!" ajak Mama Sarah. Zee memberikan oleh-oleh yang tadi dibelinya.
"Ah, pakai repot-repot segala! Kalian datang kemari saja, Mama sudah sangat senang!" ucapnya.
"Cuma oleh-oleh biasa saja kok, Ma! Zee nggak merasa repot!" ucap Zee.
"Terima kasih, Sayang!" ucap mama, Mereka pun masuk dan duduk di ruang tengah, di sana sudah ada papa sedang bersantai. Mereka berkumpul bersama di ruang keluarga, sambil menikmati teh hangat dan kue yang dibeli Zee.
Lama mereka mengobrol, Alan pun berpamitan kepada kedua orang tua dan istrinya, karena Alan langsung akan ke Kantor untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan di kantor.
"Hati-hati, Lan!" pesan Mama.
"Iya, Ma!"
"Assalamualaikum," salamnya.
__ADS_1
"Walaikumsalam," ucap mereka serempak.
Mama mengajak Zee masuk, dan mereka mengobrol banyak sekitar masalah perempuan.
Papa Harun hanya mendengarkan saja, karena kalau istri dan menantunya sedang asyik mengobrol, mereka lupa dengan kehadiran papa.
"Sayang, sebentar lagi usia kandunganmu empat bulan! Sebaiknya nanti kita adakan syukuran empat bulan di rumah Mama saja! Bagaimana menurutmu?" tanya Mama.
"Ehm, gimana yah, Ma?" Zee nampak berfikir.
"Zee terserah mas Alan saja, enaknya bagaimana! Zee menurut kata suami saja, Ma," ucap Zee.
"Ini kan cucu pertama Mama dari Alan, Mama ingin sekali acara empat bulanannya diadakan di rumah Mama! Kamu dan Alan tenang saja, biar Mama yang mengurus semuanya," ujar mamanya.
"Terima kasih ya, Ma! Zee beruntung punya mertua kayak Mama," puji Zee.
"Ah, kamu bisa saja! Justru Mama sangat beruntung memiliki menantu seperti kamu! Sudah cantik, baik dan pintar lagi!" puji mertuanya.
"Tapi, Zee nggak kayak istri kebanyakan, Ma! Zee nggak bisa memasak! Zee cuma pintar makan saja!" ujarnya.
"Iya, nggak apa-apa! Yang penting Alan menerima kamu dengan ikhlas! Setiap manusia itu memiliki kekurangan dan kelebihan, Sayang! Tidak perlu merisaukan itu!" ujar mama Sarah.
"Tapi, Ma, Kalau mas Alan bosan dengan Zee yang tidak bisa ngapa-ngapain dan berpaling ke wanita lain, Bagaimana?" tanya Zee.
"Nggak mungkin, Sayang! Alan sangat mencintaimu, dia tidak mungkin berpaling ke lain hati!" ucap Mama meyakinkan. "Buktinya, saat kamu kabur dari rumah, dia nampak sangat frustasi mencari kamu, Sayang! Seharian tidak tidur, hanya mencari keberadaan kamu! Sampai-sampai dia tidak memperhatikan pola makannya demi mencari kamu, Sayang!" ujar mertuanya lagi.
Zee menelan ludahnya, mendengarkan cerita mertuanya. Sekarang Zee percaya, bahwa suaminya benar-benar tulus menyayangi dan mencintainya.
"Ma, Zee ingin belajar memasak dong? Zee juga ingin menjadi istri yang baik untuk Mas Alan," ucapnya, membuat Mama kagum. Di balik sifat tomboinya, ternyata Zee memiliki sifat lembut dan keibuan.
"Baik, Sayang, kapanpun kamu mau belajar, pasti Mama akan mengajarimu sampai bisa!" kata mertuanya.
"Asyik, nanti kapan-kapan kalau Zee punya waktu, Mama ajarin Zee memasak ya?" tanya Zee.
"Siap, Sayang!" jawabnya. Mereka pun saling berpelukan sayang, meskipun Zee hanyalah menantu di rumah ini, namun kehadirannya membuat rumah ini menjadi ramai dan serasa ada kehidupan di rumah ini.
__ADS_1
to be continued.....