Om I Love You

Om I Love You
Episode 115


__ADS_3

Alan tidak bersemangat bekerja, tubuhnya lunglai tidak bertenaga, karena sudah lima hari ini Zee belum ketemu juga. Silvi juga tidak menghubunginya lagi. Nomer yang kemarin Silvi gunakan untuk menghubungi dirinya pun sudah tidak aktif. Seolah-olah Silvi sengaja agar jejaknya tidak terlacak. Alan merutuki kebodohannya.


"Harusnya aku tidak meninggalkannya sendirian di mobil! Semuanya adalah salahku!" umpatnya kepada dirinya sendiri.


Alan nampak berfikir, dimana kiranya Silvi menyembunyikan Zee. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ataupun jejak yang ditinggalkan. Alan juga sudah menyuruh orang bayangan untuk mencari petunjuk hilangnya istrinya. Namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda orang bayangan tersebut mendapatkan hasil. Sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Alan langsung menyambar ponsel tersebut. Ternyata nama papa mertuanya yang tertera dikontak ponselnya.


"Assalamualaikum, Pah?" ucap Alan memberikan salam.


"Walaikumsalam," jawab papa mertuanya.


"Alan, Cepat datang ke rumah papa! Ada yang ingin papa bicarakan!" perintah papa.


"Kabar hilangnya Zee pasti sudah terdengar di telinga papa," batin Alan.


"Iya, Pah! Pulang dari kantor, Alan langsung ke rumah papa," jawab Alan.


Tut ... Tut .... Tut


"Huft," Alan menghela nafasnya panjang.


"Aku pasti disalahkan atas hilangnya Zee," pikirnya.


Sore harinya, pulang dari kantor Alan langsung menemui papa mertuanya di rumah. Mobil Alan melaju sangat kencang kekediaman keluarga Aghar. Sampai di depan rumah papa, kakinya terasa berat melangkah ke dalam. Dia yakin pasti mertuanya mengetahui soal istrinya yang menghilang.


Tok ... tok .... tok


Alan disambut pelayan dengan ramah, ternyata papa sudah menunggunya di ruang tamu. Ada mama mertuanya juga, Ratu dan juga Elmar.


Papa mempersilahkan Alan untuk duduk di sofa.


"Alan, papa dengar dari papa kamu! Katanya Zee diculik! Apakah itu benar?" tanya papa to the points.


Glekk ...


Alan menelan salivanya, Alan juga bingung harus mengatakan apa kepada papa mertuanya.


"Iya, Pah! Maafkan Alan! Alan tidak bisa menjaga Zee dengan baik," ujarnya sambil menundukkan kepalanya. Mama, Ratu dan Elmar membelalakkan matanya.


"Kenapa kamu tidak cerita ke papa?" tanya papanya.


"Alan tidak mau papa kepikiran! Ini sudah menjadi tanggung jawab Alan! Biarkan Alan yang menyelesaikannya," ucapnya.


"Huft," papa menghela nafasnya berat.

__ADS_1


"Apakah Om sudah melaporkan kejadian ini ke polisi?" tanya Elmar juga ikut cemas.


"Mereka mengancam Om untuk melapor ke Polisi, kalau sampai melapor kejadian ini ke Polisi, nyawa Zee tidak akan selamat," lirihnya.


"Astaghfirullah! Mereka itu sebenarnya siapa? Kenapa mereka begitu tega menculik wanita yang sedang hamil besar? Dimana rasa kemanusiaan mereka?" cecar Mama.


"Hah, itulah yang Alan khawatirkan, Ma! Penculik ini sudah mengincar keluarga Xaquille sejak lama! Mereka menginginkan kematian seluruh keluarga Xaquille," jelasnya, Alan pun menceritakan awalnya hingga akhir. Membuat Papa, Mama, Ratu dan Elmar terkejut.


"Lalu, apa rencana kamu?" tanya papa.


"Alan menunggu mereka menghubungi Alan! Barulah Alan akan bergerak," ujarnya.


"Sebenarnya mereka menginginkan apa? Mau uang? Mau berlian? Atau harta?" tanya Mama sangat mengkhawatirkan keadaan Zee.


"Entahlah, Ma! Mereka belum menghubungi Alan lagi," ucap menantunya.


"Ya Allah, Zee, anakku! Dia sedang hamil besar! Apa yang akan terjadi kepadanya nanti," ucap Mama sambil terisak.


"Tenanglah, Ma! Meskipun Zee itu konyol, namun dia itu pintar dan cerdik! Dia juga jago beladiri, Mama tidak usah khawatir," terang papa mencoba untuk membuat Mama tenang.


"Tapi, Zee sedang hamil, Pah! Sehebat apapun seorang wanita, jika dia dalam keadaan hamil pasti pergerakannya akan sulit! Apalagi dia hamil besar!" kata Mama.


"Iya, Ma, papa tahu! Kita berdoa saja, semoga Zee dan bayinya baik-baik saja!" nasehat papa.


Josh menyerahkan pakaian tersebut kepada Zee. Kemudian mengantarkan sanderanya ke kamar mandi. Diam-diam Zee menghitung orang-orang yang menjaga tempat ini. Semuanya berjumlah dua puluh tiga orang, termasuk Silvi, Josh dan orang tua itu, yang Zee yakini itu adalah Paman Xavier. Setelah mandi dan berganti baju, Zee terlihat lebih segar dan cantik. Josh yang melihat kecantikan seorang Zee, membuatnya jatuh hati kepada wanita hamil tersebut. Zee keluar dengan memakai pakaian hamil pemberian Josh. Zee terpaksa memakainya, karena sudah lima hari juga dia tidak mengganti bajunya.


"Aku lapar," ucapnya kepada Josh.


"Kau mau makan apa?" tanya Josh.


"Jangan yang aneh-aneh! Aku tidak akan membelikannya untukmu," ujarnya.


"Ish, kau jahat sekali!" cibir Zee.


"Aku heran denganmu! Kau terlihat sangat baik, kenapa kau membantu wanita jahat seperti Silvi?" tanya Zee kepada Josh.


"Apakah bagimu aku terlihat baik?" kata Josh malah balik bertanya.


"Buktinya, kau masih memiliki hati! Meskipun sedikit," ujarnya. Membuat Josh tersenyum.


"Karena Silvi bisa memuaskan ku di ranjang!" jujurnya. Jawaban Josh membuat Zee membulatkan matanya.


"Apakah di otakmu hanya ada rasa kepuasan saja? Kenapa kau tidak mencari seseorang yang bisa membuatmu bahagia?" tanya Zee lagi.

__ADS_1


"Maksudmu, seseorang yang membuatku jatuh cinta, begitu?"


"Iya," jawab Zee.


"Ha ... ha ... ha." tawa Josh.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Zee.


"Dulu, aku selalu berfikir, wanita itu makhluk yang sangat merepotkan! Yang dipikirkannya hanya uang dan kemewahan saja! Ternyata tidak semua wanita seperti itu!" jelasnya.


"Tentu saja! Tidak semua wanita menyukai kemewahan!" ucap Zee.


"Lalu, apa alasanmu menculik ku? Aku tidak memiliki kesalahan kepadamu!" cibirnya.


"Benar juga, apa alasanku menculiknya? Apakah karena aku tertarik dengan wanita hamil ini?"


"Oh, tidak! Apakah aku sudah gila, menyukai wanita hamil?" batin Josh sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Hei, kenapa kau? Jangan terlalu dekat dengan wanita itu! Kau jadi ikutan gila," cibir Zee.


"Hah,"


"Astaga! Wanita ini selalu membuatku terpesona," batinnya lagi. Zee kembali ke tempatnya di kurung. Dia tidak mungkin kabur, perutnya sudah terlalu besar untuk kabur, pergerakannya tidak sebebas dulu. Saat Zee kembali ke tempatnya di sekap, tiba-tiba Silvi datang dan menampar pipinya.


PLAKK ...


"Auw," pekik Zee sambil memegangi pipinya.


"Kau mau kabur ya?" Silvi menarik rambut Zee, Josh yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah mereka, dan berusaha melepaskan tangan Silvi yang menjambak rambut Zee.


"Silvi, berhenti! Kau menyakitinya!" bentak Josh.


"Dia hendak kabur! Siapa yang berani melepaskan ikatannya?" tanya Silvi.


"Aku yang melepaskannya," ucap Josh.


"Dia akan ke kamar mandi! Tentu saja aku melepaskan ikatannya!" jelas Josh lagi. Silvi pun memerintahkan anak buahnya kembali mengikat sanderanya.


Silvi menarik tangan Josh, dia menampar pipi kekasihnya.


"Apakah kau menyukainya?" bentak Silvi.


"Ayo jawab!" bentak Silvi lagi.

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2