
Beberapa menit kemudian bos mereka datang untuk melihat anak-anak yang sebentar lagi akan mereka jual dengan harga jual yang tinggi. Kebanyakan pesanan dari luar negeri adalah anak laki-laki. Kerena selain fisiknya kuat, anak laki-laki tidak gampang menangis, tidak seperti anak perempuan.
Bos penculik itu diketahui bernama Donny, dia memeriksa satu persatu anak-anak tersebut. Mana yang bagus dan mana yang tidak. Yang bagus dan fisiknya kuat, akan diperjualbelikan ke luar negeri. Sedangkan yang fisiknya rentan, paling akan dijual di dalam negeri dijadikan pengemis dan pengamen. Diantara mereka semua, Aisha anak yang paling bersih dan putih. Bos Dony sangat menyukai anak yang bersih dan putih sekaligus mempunyai nilai plus yaitu cantik. Itu justru memiliki nilai jual yang sangat tinggi, Donny tersenyum devil melihat Aisha yang nampak ketakutan.
Keesokkan paginya
Alan mendapatkan kabar terbaru dari kepolisian bahwa putrinya dan anak-anak yang lain menuju perbatasan, semua anak-anak akan diperjualbelikan di perbatasan lewat seorang penadah. Alan yang mendengar kabar tersebut langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya.
"Papih mau kemana?" tanya istrinya.
"Para polisi melacak keberadaan Aisha, Papih harus kesana!" ujarnya. Rasa bahagia terpancar di wajah cantik Zee.
"Mamih ikut!" ucapnya.
"Sayang, kamu sedang hamil! Jadi, Tolong biarkan Papih saja yang menyelematkan putri kita, Papih berjanji pasti akan membawa Aisha kembali sama kamu," jelas suaminya. Alan buru-buru pergi meninggalkan rumah, dia tidak mau sampai harus kehilangan jejak Aisha lagi.
Melihat kepergian suaminya, Zee buru-buru menelfon Elmar. Yang kebetulan Elmar masih di Jakarta, dia belum kembali ke Bogor.
"Ada apa, Zee?" tanya Elmar saat ditelfon oleh Zee.
"Elmar, cepat datang ke rumah! Aisha sudah ditemukan, tapi aku tidak boleh ikut! Cepat kesini dan antarkan aku ke tempat Aisha," tegasnya.
"Astaga, kenapa teriak-teriak sih?" kesal Elmar.
"Kalau begitu cepat!" suruh Zee.
"Oke ... Oke ... Aku langsung ke sana," jawab Elmar. Zee sudah siap di depan gerbang, dia berpamitan kepada mertuanya akan pergi ke rumah Mama, padahal dia akan menyusul suaminya. Tidak menunggu lama, Elmar sudah sampai di depan gerbang. Zee langsung duduk di depan dan menyuruh Elmar menuju alamat yang Zee kasih ke Elmar. Beruntungnya, dia dan suaminya selalu terhubung lewat GPS, sehingga dengan mudah Zee mengikuti arah suaminya pergi.
Waktu untuk pergi ke tempat tujuan juga lumayan jauh, Mereka harus menempuh jarak beberapa kilometer ke tempat tujuan. Alan dan Polisi sudah sampai ke tempat itu. Para polisi juga sudah mengepung tempat tersebut, dan mereka adu tembak dan adu pukul dengan sindikat itu. Semua anak-anak sudah dimasukkan ke mobil box besar, Alan mencari keberadaan putrinya. Kemudian, Alan mengejar mobil itu. Mobil di mana semua anak-anak di sekap. Alan mencoba menghentikan mobil tersebut, dengan memukul sopirnya. Mereka pun adu pukul dan adu jotos.
__ADS_1
Zee dan Elmar yang baru sampai di tempat itu, berusaha mencari putrinya. Dari kejauhan dia melihat mobil besar berhenti, dan disitu suaminya sedang berkelahi dengan para penculik itu. Salah seorang wanita, membuka mobil box dan menyuruh anak-anak untuk keluar mengikuti wanita tersebut. Zee baru teringat bahwa dia adalah wanita yang
sama, yang sudah menculik putrinya. Dan benar saja, dia sedang menarik tangan Aisha. Zee sangat geram dibuatnya, dia menghampiri wanita tersebut, Zee tidak perduli dengan kehamilannya, yang dia pikirkan hanyalah keselamatan putrinya Aisha.
"Zee mau kemana?" tanya Elmar.
"Gue mau menyelamatkan Aish, kau urus saja yang lain," ujarnya.
"Astaga, Apa dia tidak ingat kalau dirinya sedang bunting?" Elmar mengacak-acak rambutnya sendiri. Jika sesuatu terjadi pada Zee, tentunya dia akan disalahkan.
Zee memberhentikan wanita tersebut, dan menyuruh wanita tersebut untuk melepaskan putrinya.
"Lepaskan putriku!" murkanya.
"Mamih," teriak Aisha.
"Aku adalah maut mu!" tegas Zee, tanpa menunggu lama Zee menghajar wanita itu dengan brutal, meskipun hamil pukulan Zee tidak kalah dengan laki-laki, dia meninju dan menampar pipi wanita tersebut, membuat wanita tersebut jatuh tersungkur. Aisha yang melihat itu, menyoraki Mamihnya supaya wanita itu dibuat babak belur.
"Ayo, Mih! Hajal Telus, jangan kasih kendol," ucap Aisha bersorak-sorai. Anak-anak yang masih di dalam mobil box berhambur keluar menyaksikan adegan perkelahian itu. Ditambah Mamihnya Aisha dengan brutal menghajar para penjahat itu, terutama wanita yang sudah membuat dirinya berpisah dengan putri kesayangannya.
"Berani-beraninya kamu menculik anak ku! Berurusan denganku, berarti kau siap-siap menerima hukumannya," Zee terus menjambak rambut wanita itu, dan menghajar kembali wajah wanita itu hingga babak belur.
"Ah, sakit, Lepaskan saya!" ujarnya.
"Makanya jangan sekali-kali kamu berfikir untuk menculik seorang anak, saya pastikan kamu akan mendapatkan ganjarannya," ancam Zee.
"Baik, Nyonya, Lepaskan!" ucap wanita tersebut merasakan sakit yang teramat sangat di wajahnya, perutnya dan rambutnya.
"Enak saja dilepaskan, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu di kantor polisi! Dan aku pastikan kau dan teman-teman mu membusuk di balik jeruji," geramnya.
__ADS_1
Para polisi meringkus semua pelaku penculikan tersebut hingga penadah dan bosnya. Mereka semua di giring ke mobil besar dan membawa mereka ke kantor Polisi.
Aisha yang melihat Mamihnya langsung berhambur kepelukan Zee, Zee menangis bahagia bisa bertemu kembali dengan putri kesayangannya. Anak-anak bertepuk tangan, karena apa yang dikatakan Aisha memang benar bahwa kedua orang tuanya pasti akan menyelamatkannya. Aldo memberikan selamat kepada Aisha, karena Aisha sudah bertemu dengan keluarganya.
"Selamat ya, Aisha, kamu sudah bertemu kembali dengan kedua orang tua mu," ucap Aldo sedih, karena memang Aldo dan beberapa temannya adalah anak jalanan, sehingga mereka tidak memiliki tempat tujuan setelah bebas dari sini.
"Telima kasih," jawab Aisha.
"Aisha?" panggil seseorang, ternyata itu adalah suaminya. Alan mengernyitkan alisnya, karena baru saja dia melihat istrinya disini, padahal dia sendiri tidak memperbolehkan istrinya ikut. Zee tersenyum, karena pasti suaminya akan berceramah panjang lebar.
"Mamih?" cemberut suaminya.
"Maaf, Pih! Mamih terpaksa harus melakukan hal ini, bagaimanapun Aisha adalah putri ku, Mamih benar-benar tidak tenang, jika Mamih tidak memastikan sendiri keselamatan Aisha," jelas Zee panjang lebar.
"Huft," Alan menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, kali ini Papih maafkan! Lain kali jangan lakukan hal berbahaya lagi," tutur suaminya. "Sebenarnya kamu kesini dengan siapa?" tanya Alan. Elmar mendekat ke arah mereka.
"Zee memaksa Elmar, Om! Jadi, jangan salahkan Elmar," elaknya.
"Kau juga sama saja! Sudah tahu dia sedang hamil, malah justru kau mengikuti kemauannya," cibirnya, Zee tersenyum geli melihat raut muka Elmar yang memberengut kesal karena ulah Zee.
"Semua bukan salah Elmar, Pih! Mamih yang memaksa Elmar," Belanya.
"Baiklah, jangan ulangi lagi," ancamnya.
"Ish, sadis banget sih." manyun Elmar.
to be continued.....
__ADS_1