Om I Love You

Om I Love You
Episode 83


__ADS_3

Mama Sarah memasak makan malamnya sendiri, karena ia sengaja ingin mengajari Zee memasak makanan kesukaan Alan. Dengan telaten Mama Sarah mengajari menantunya, dari mengupas bawang Bombay sampai mengirisnya tipis. Awalnya memang agak susah, karena tangan Zee sama sekali tidak pernah menyentuh yang namanya dapur. Semua kebutuhannya disiapkan oleh pelayan atau Mama Nola. Sehingga dia sangat kaku memegang pisau maupun alat-alat dapur.


Hari ini Mama Sarah akan membuat masakan kesukaan putranya, yaitu sup ayam kampung, udang tepung, tumis daging, dan ongseng jamur suwir ayam. Zee sangat bersemangat belajar memasak dari Mama mertuanya. Sekitar satu jam masakan sudah matang dan siap disajikan. Zee membantu Mama mertuanya untuk menata makanan itu di meja makan. Semua hidangan sudah siap di meja makan, Zee memanggil suami dan papa mertuanya untuk makan malam bersama.


Mereka sudah duduk dan siap mencicipi makanan yang dihidangkan, setelah membaca do'a, mereka pun menyantap hidangan tersebut dengan lahap.


"Gimana, Pih? Enak nggak?" tanya Zee kepada suaminya.


"He'em, enak, Mih! Apakah Mamih yang memasak?" tanya suaminya.


"Bukan, Pih! Mama Sarah yang memasak, Mamih cuman bantu-bantu," ucap istrinya tersenyum senang.


"Oh, kirain Mamih yang memasak!" ujar suaminya.


"Papih mau mengejek yah?" tanya Zee memberengut kesal.


"Ah, tidak! Papih nggak berani!" ujar Alan, membuat kedua orang tuanya terkekeh geli, pasalnya baru kali ini mereka melihat putra kesayangannya takut dengan istrinya.


"Tadi Zee juga ikut membantu Mama kok! Nanti pelan-pelan pasti kamu bisa, Sayang!" ucap Mama mertuanya lembut.


"Dulu Mama juga begitu, seiring berjalannya waktu, Mama mempunyai keinginan untuk bisa, jadi Mama terus belajar dengan semangat!" jelasnya.


"Dan akhirnya Mama pandai, semuanya butuh proses, Sayang!" ucap Mama lagi.


"Tuh kan, semuanya butuh proses, Pih! Tidak instan, langsung mahir! Semua ada prosesnya!" ucap Zee membenarkan kata-kata Mama mertuanya, semuanya terkekeh geli mendengar penuturan Zee yang tidak mau kalah berdebat.

__ADS_1


"Oh, ya, Lan! Sebentar lagi usia kandungan istrimu empat bulan, Bagaimana kalau syukuran empat bulan istrimu dirumah ini saja! Mama akan menyiapkan semuanya," ujar Mamanya.


"Zee baru memasuki usia tiga bulan, Mah! Nanti saja dipikirkannya!" jawab putranya.


"Eh, jangan menyepelekan sesuatu, Lan! Kita harus mempersiapkan semuanya dari jauh hari, biar acara syukurannya berjalan dengan baik dan lancar!" saran Mamanya.


"Sebenarnya Alan ingin mengadakan acara syukuran Zee, di rumah Alan saja! Kan ini anak pertama Alan, Alan ingin mengurus semuanya sendiri!" jawab putranya.


"Tapi, Lan, Mama ingin sekali mengadakan syukuran anak kamu di rumah Mama! Kamu kan tahu, Lan! Dulu Astrid membuat syukuran empat bulanan dan tujuh bulanan di gedung mewah, semua yang mengurus pihak gedung! Padahal Mama ingin sekali ikut andil pada syukuran tersebut!" sedih Mama Sarah.


"Pih, kasihan Mama! Biarkan syukurannya di sini, Mamih nggak masalah kok! Lagian jika membuat Mama bahagia, itu akan menjadi ladang pahala buat kita sebagai anaknya!" bisik Zee kepada suaminya, Alan manggut-manggut mendengarkan penuturan istrinya.


"Begini saja, Ma! Alan setuju jika syukurannya di rumah Mama! Tapi, kalau masalah biayanya biarkan Alan yang menanggungnya! Karena bagaimanapun Alan adalah orang tuanya!" ucap Alan.


"Baiklah, Mama setuju! Mama akan membuat acaranya sebagus mungkin! Pokoknya nggak akan mengecewakan kalian berdua!" terangnya.


"Iya, Ma! Apa yang dikatakan Zee benar!" ujar papa Harun.


"Ish, Papa diam saja! Ini adalah cucu pertamaku dari Alan, tentu saja harus istimewa dan meriah!" jelasnya.


"Jangan terlalu meriah, Ma! Yang penting konsepnya adalah do'a banyak orang, supaya Zee selalu diberikan kesehatan dan keselamatan," saran Alan kepada Mama.


"Baiklah, Sayang! Mama bahagia sekali, akhirnya Mama akan segera menggendong cucu lagi!"


"Setelah Yuda besar, Mama sudah tidak menggendong bayi! Rasanya momen-momen seperti itu Mama rindukan!" ucap Mama.

__ADS_1


"Iya, Ma!" jawab Alan dan istrinya.


Selesai makan malam, Zee membantu Mama untuk membereskan piring-piring kotor. Setelah semuanya selesai, Zee merasakan lelah dan letih di tubuhnya. Zee lihat, suaminya sedang asyik mengobrol dengan Papa mertuanya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar suaminya lebih dulu untuk beristirahat. Zee sangat suka dengan bau kamar suaminya, baunya sangat wangi seperti bau tubuh suaminya. Tidak terasa matanya sangat berat, dia pun sudah berada di alam mimpi.


Amerika


Ini adalah hari kedua Yuda pergi ke psikolog ditemani oleh Mamanya, Catherine memberikan konseling kepada pasiennya. Selama 1 jam, Catherine membantu Yuda untuk mengembalikan semangat dan tekad untuk sembuh. Sedikit demi sedikit, rasa percaya diri Yuda mulai bangkit kembali. Ia pun dengan tekad yang bulat, ingin mengikuti program penyembuhan penyakitnya.


Setelah makan siang, Astrid mengantarkan putranya ke Dokter, guna konsultasi masalah impoten yang dideritanya karena sebuah kecelakaan. Dokter memeriksanya dengan seksama, ternyata impoten yang dialami Yuda adalah jenis kasus yang agak rumit. Dokter merekomendasikan kepada pasiennya untuk memasangkan implan pada pusakanya. Dengan tindakan operasi kecil pemasangan alat khusus pada pusaka untuk membantu terjadinya ereksi.


"Apakah aman, Dok?" tanya Astrid kepada sang Dokter.


"Aman, Nyonya! Kita berdo'a saja, semoga operasinya berjalan lancar! Besok pagi akan kita laksanakan, jadi sebaiknya putra Anda rawat inap di Rumah Sakit saja!" saran Dokter Daniel kepada Astrid.


"Baiklah, Dok! Saya percayakan semuanya kepada Anda!" jawab Astrid. Sore itu juga Yuda dirawat inap di sebuah Rumah Sakit terkenal di Amerika. Aditama suaminya belum bisa menyusul karena ada perkejaan yang tidak bisa ia tinggalkan. Astrid bisa mengerti itu. Astrid memberikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tuanya, bagaimanapun juga mereka harus tahu perkembangan cucu pertamanya selama di Amerika. Astrid mendial panggilan video kepada Mama Sarah, dan menceritakan perkembangan Yuda selama di Amerika. Mama Sarah juga turut bahagia mendengar kabar tersebut. Mama Sarah juga bercerita bahwa adiknya Alan dan istrinya sedang menginap di rumah Mama. Sebentar lagi mereka akan mengadakan syukuran empat bulanan di Rumah Mama. Astrid turut bahagia mendengarkan kabar tersebut.


Setelah saling berkomunikasi dan bercerita, mereka pun mengakhiri panggilan videonya. Astrid kembali ke kamar Yuda, ternyata putranya masih tertidur pulas. Ia pun mengistirahatkan tubuhnya sejenak, agar besok bangun di pagi hari, tenaganya sehat dan bugar.


to be continued...


******************************************


Baca juga novel aku dengan judul "Ketulusan Cinta Dara", Semoga para pembaca suka dan bersedia memberikan like, favorit dan dukungannya. Dukungan dari pembaca sangat penting bagi Author, karena akan memberikan semangat untuk Author tercinta.


Jangan lupa mampir yah.............

__ADS_1




__ADS_2