
Hari ini Alan dan istrinya akan kembali ke kota Jakarta, sebenarnya masih kurang satu hari lagi Zee disini. Namun melihat suaminya merengek agar Zee pulang, akhirnya Zee pun menurut. Zee juga gak tega menolak keinginan sang suami.
"Mih, sudah siap semua?" tanya suaminya.
"Iya, Pih!" jawab Zee.
Mereka berjalan beriringan, Alan membantu Zee membawakan koper kecil. Diruang keluarga, ada Ratu dan Elmar sedang menonton televisi.
"Ratu? hari ini gue pulang!" ucap Zee kepada Ratu.
"Oh, kamu jadi pulang hari ini, Zee!" ucap Ratu.
"Iya, kamu kan tahu! suamiku gak bisa hidup tanpa aku!" bisik Zee ke Ratu, membuat Ratu tersenyum.
"Salam buat papa dan mama!" ucap Ratu, seraya memeluk saudara tirinya.
"Iya, nanti aku sampaikan!" jawab Zee.
Alan berpamitan kepada Elmar, tidak lupa Alan memberikan kartu nama kepada Elmar.
"Simpan kartu namaku!" ucap Alan.
"Jika kamu bersedia bekerjasama denganku, hubungi aku segera!" ucap Alan.
"Oke, Om! pasti sesegera mungkin Elmar menghubungi, Om!" ujar Elmar seraya berjabat tangan dengan suami sahabatnya.
Alan dan Zee juga berpamitan kepada Bibi Hamidah, ibu Elmar. Alan menitipkan Ratu kepada Bibi Hamidah dan Elmar, agar menjaganya dengan baik.
Mobil melaju meninggalkan Villa dengan kecepatan sedang, hati Alan sangat bahagia, akhirnya dia bisa membujuk istrinya untuk kembali ke Jakarta.
Sepanjang perjalanan istrinya tidak berhenti bercerita, ada saja yang diceritakan istrinya, membuat Alan tersenyum dan merindukan momen-momen seperti ini.
"Kenapa sih dari tadi papih senyum-senyum sendiri?" tanya Zee kala melihat suaminya begitu sumringah dan senyum-senyum sendiri.
"Papih senang, akhirnya kita bisa berkumpul kembali!" ucap Alan seraya mencium tangan istrinya.
"Hem, baru satu hari saja sampai menyusul ke Villa! Bagaimana kalau satu bulan?" cemberut Zee.
"Jangan dong, Sayang! Papih gak bisa jauh-jauh dari mamih! gak ada mamih di rumah, papih kesepian, Mih!"
"Mau makan gak enak, mau bobo gak ada yang nemenin! mau mandi apalagi! pokoknya tersiksa banget deh!" ucap Alan, membuat Zee tersenyum geli.
Tidak terasa mobil yang Alan kendarai sudah di Jakarta, Alan berhenti sebentar di Restoran.
"Kenapa kesini, Pih?" tanya Zee sambil celingukan.
"Papih lapar, makan dulu yuk?" ajak Alan.
"Baiklah, kita makan siang dulu!" jawab istrinya.
__ADS_1
Mereka pun berhenti sejenak untuk mengisi perut dan tenaga. Suaminya memesankan nasi dan ayam bakar madu untuk istrinya, tanpa sambel. Membuat Zee membulatkan matanya.
"Pih, kok gak ada sambelnya? kan kalau makan ayam bakar harus pakai sambal?" tanya Zee memberengut kesal kepada suaminya.
"Papih sengaja! kasihan baby didalam perut Mamih, dikasih yang pedas-pedas terus!" ujar Alan tanpa merasa bersalah.
"Tapi, Pih! tanpa sambal, mamih gak bisa makan!" manyun Zee.
"Mamih harus membiasakan hidup sehat! apalagi sekarang mamih sedang hamil muda! Mamih harus bisa memberikan makanan terbaik untuk baby kita! biar baby sehat dan tumbuh baik di dalam perut Mamih!" jelas Alan.
"Nih papih juga pesankan sayur capcay untuk Mamih! dan ini jus buah naga! sangat bagus buat ibu hamil!" terang Alan lagi.
"Ish, Papih! sok tahu! kayak papih pernah hamil saja!" Zee mengerucutkan bibirnya.
"Papih baca-baca di artikel kesehatan, Sayang!" ujar suaminya.
"Ih, papih lama-lama kaya mama Sarah!" manyun Zee.
"Ya, iyalah! papih kan anaknya!" seloroh Alan bangga.
"Cepat habiskan makannya! kita lanjutkan perjalanan!" ucap Alan.
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Zee sudah tidak cemberut lagi, wajahnya kembali ceria.
Sekitar lima belas menit mereka sudah sampai di depan rumah, Alan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Zee dengan manja meminta gendong pada suaminya, dengan senang hati Alan menurutinya.
Setelah selesai wawancara, Marsha kembali ke Perusahaan Xaquille untuk menanyakan keberadaan Ceo-nya. Namun sang security mengatakan bahwa CEO Perusahaan belum kembali. Dengan tangan kosong, Marsha kembali ke hotel.
Dret....Dret....dret
"Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam!"
"Zee, it's auntie! how are you?" tanya Marsha.
"Aunty! siapa yah?" tanya Zee.
"Marsha! your mother's sister! you remember?" ucap Marsha.
"Aunt Marsha! How are you?" tanya Zee.
"Auntie is fine!"
"Bisakah kita bertemu? Tante benar-benar merindukanmu!" senang Marsha.
"Tentu saja! Apakah Tante sedang berada di Indonesia?"tanya Zee.
"Iya, Zee! kebetulan Tante di Indonesia! kemarin Tante kerumah kamu! ternyata kamu tidak ada di sana!"
__ADS_1
"Iya, Tan! Zee memang tidak tinggal di rumah papa!" ucap Zee tersenyum getir.
"Nanti Zee ceritakan!"
"Oh, baiklah! kita perlu bertemu!" ucap Marsha.
"Kalau begitu, besok setelah Zee pulang kuliah saja, kita bertemu di cafe dekat kampus Zee! Bagaimana, Tan?" tanya Zee.
"Ehm, Baiklah! Besok kita bertemu!"
"Tante sudah gak sabar pengin ketemu kamu, Sayang!" senang Marsha.
"Oh, ya! Tante tinggal di mana? kenapa gak menginap saja di rumah papa?" tanya Zee.
"Tante menginap di hotel! kamu tenang saja, Sayang! semuanya sudah diurus oleh pihak agensi! jadi masalah tempat tinggal, it's Ok!"
"Oh, begitu!" ujar Zee.
"Eh, sudah dulu ya! Tante ada keperluan!"
"Bye, bye, bye!" Marsha pun memutuskan panggilannya karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Setelah pintu dibuka ternyata asisten pribadinya, ingin memberitahukan bahwa nanti sore ada jadwal pertemuan dengan orang penting.
Jadwalnya begitu padat, hingga ia harus mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
Setelah mandi dan bersih-bersih, Marsha memejamkan matanya sebentar, untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.
Setelah mengakhiri panggilannya tadi, Zee langsung mandi dan bersih-bersih. Sambil menunggu suaminya pulang berbelanja, dia rendamkan sebentar tubuhnya di bathtub.
"Ah, segarnya!" ucap Zee sambil mengguyur air ke seluruh tubuhnya.
Sekitar satu jam Zee berendam di bathtub, tidak mau terlalu lama berendam, dia pun mengakhiri acara mandinya.
Zee lilitkan handuk di tubuh, keluar dari kamar mandi. Zee mengamati sekeliling, mencari keberadaan suaminya, ternyata suaminya belum kembali.
"Kemana Papih? kok belum pulang?" tanya Zee dalam hati. Zee pun memakai bajunya, dia memakai dress panjang selutut.
Zee mendengar suara pintu dibuka, dia yakin pasti itu suaminya.
Ternyata benar, suaminya yang datang, membawa banyak barang-barang belanjaan. Zee langsung membantu suaminya, namun Alan menolak karena tidak mau istrinya kecapean.
"Kok lama banget sih, Pih?" tanya Zee cemas.
"Iya, Sayang! selain membeli kebutuhan sehari-hari! Papih juga membelikan Mamih daster cantik buat ibu hamil yang cantik! nih, lihat! Bagus tidak?" ujar Alan, menyerahkan paper bag, berisi banyak daster ibu hamil.
"Ish, Papih! kalau mau beli daster, harusnya mengajak Mamih!" manyun Zee.
"Papih cuma gak mau, nanti mamih kecapean!" ujar suaminya, tentu saja Zee sangat, sangat, dan sangat bahagia mendapatkan perhatian istimewa dari suaminya.
__ADS_1
"Ah, Papih! Mamih jadi bahagia banget! terima kasih suamiku, Sayang!" ucap Zee, memberikan ciuman sayang kepada suaminya.
to be continued.....