
Keesokan paginya
Alan masih mencari keberadaan istrinya, dia berulang kali mendial nomor istrinya. Namun oleh Zee, sama sekali tidak diangkat. Hingga kelelahan, akhirnya Alan memutuskan untuk kembali ke rumah. Sampai di rumah, Alan melihat mama Sarah menunggunya di teras. Mama Sarah merasa aneh dengan penampilan putranya hari ini, begitu berantakan dan kantong mata yang menghitam, mama yakin seharian putranya tidak tidur. Banyak pertanyaan yang menggelayut di otaknya.
"Alan?" panggil mama.
"Mama, kok ada disini," ucap Alan.
"Kamu kenapa? Apakah ada masalah? Apakah kamu sedang bertengkar dengan istrimu?" cecar mama dengan banyak pertanyaan.
"Huft," Alan menghela nafasnya panjang.
"Ada apa?" tanya mama penasaran.
"Kita masuk dulu, Ma." Alan membuka kunci pintu, dan mempersilahkan mama masuk. Alan mendudukkan pantatnya di sofa, mama pun juga.
"Semalam Zee tidak pulang ke rumah, Ma!" lirih Alan, namun masih bisa didengar oleh mamanya.
"Apa? Nggak pulang? Memangnya Zee kemana? Apakah Zee menginap di rumah papanya?" cecar mama dengan banyak pertanyaan.
"Zee salah paham, Ma!" ucapnya lesu.
"Salah paham, Bagaimana sih?" tanya mama lagi. Alan pun menceritakan awal kejadiannya sampai akhir, mama terperanjat mendengar cerita putranya. Dia tidak percaya kalau tantenya Zee adalah mantan kekasih putranya di Jerman.
"Ini semua salahmu!" kesal mama. "Harusnya dari awal kamu jujur sama istri kamu, kenapa nggak jujur?" omel mama.
"Sekarang lihat, Zee kabur gara-gara ulah kamu sendiri," ucap mama lagi. "Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus mencari menantu kesayangan mama!" omel mama lagi.
"Kalau sampai nggak ketemu, mama sunnat kamu dua kali," gertak mama. Alan yang mendengar gertakan mamanya, menelan ludahnya sendiri dan menutupi benda pusakanya. Pikirannya traveling kemana-mana, bagaimana jadinya kalau beneran disunat?
"Astaga, mama kejam sekali!" gumam Alan.
__ADS_1
"Iya, sudah, sekarang kamu mandi dan bersih-bersih! Kamu harus istirahat, kamu pasti belum makan!" ujar mamanya, mamanya langsung ke dapur dan memasak makanan untuk putranya. Meskipun mama Sarah tahu betul kalau putranya bisa mengurus dirinya sendiri, namun nalurinya seorang ibu, dia tidak tega membiarkan putra semata wayangnya seperti benang kusut. Mama Sarah pun berinisiatif memasak makanan kesukaan Alan. Hidangan sudah tersaji di meja makan, mama Sarah menunggu putranya di meja makan.
"Nak, kamu sudah selesai mandi belum?" tanya mama, "Jangan bunuh diri di bathtub, gara-gara tidak bisa menemukan bantal guling mu!" gurau mama, Alan yang baru selesai mandi, nampak segar dan wangi berjalan menuju meja makan sambil menggerutu.
"Bantal guling apa sih, Ma?" tanya Alan tidak paham. "Alan kehilangan Zee, bukan bantal guling," sungut Alan.
"Iya, itu kan bantal guling, buktinya kalau tidur setiap malam, kamu peluk Zee seperti bantal guling," canda mama.
"Ish, Mama, Alan sedang bersedih nih, Ma!" manyun Alan.
"Ha .. ha .. ha!" tawa mama.
"Kamu tuh sudah tua, Lan! Masa cari anak SD nggak bisa?" goda mamanya.
"Makanya, Nak, Kamu jadi suami tuh jangan suka main rahasia-rahasiaan, wanita paling tidak suka dibohongi, Kamu ngerti nggak sih?" omel mama.
"Iya, Ma!" sesal Alan.
"Ya, sudah, kamu makan dulu, terus istirahat." mama beranjak mengambil tasnya.
"Mama mau kemana?" tanya Alan.
"Mama mau pulang, nanti kalau ada waktu mama kesini lagi," ucapnya, sambil berlalu pergi.
"Ingat, ya, Lan! Kamu harus menemukan menantu kesayangan mama!" gertak mamanya.
"Iya, Ma." manyun Alan sambil memasukkan satu sendok nasi ke mulutnya. Alan mengunyah makanannya, rasanya ada yang berbeda, biasanya dia makan didampingi istrinya, terkadang mereka makan bersama dalam satu piring yang sama, namun kali ini dia makan sendiri, tidur sendiri dan dirumah sendiri.
Amerika
Hari ini adalah hari dimana pemasangan implan di tubuh Yuda, setelah semua hasil pemeriksaan keluar dan Yuda dinyatakan sehat, Tim medis pun menyarankan agar hari ini pemasangan implan tersebut.
__ADS_1
Papa dan mama sudah menunggu di luar ruangan operasi, hati keduanya sangat khawatir dan cemas. Namun mereka selalu memberikan dukungan dan doa untuk putra kesayangannya.
Sekitar 4 jam operasi dilakukan, sampai salah satu Dokter keluar dari ruangan operasi tersebut dan menyatakan berhasil. Betapa bahagianya Astrid dan Aditama mendengarkan kabar gembira ini. Yuda yang masih tertidur dalam pengaruh obat bius, Astrid dan Aditama hanya bisa menunggu putranya diluar ruangan, sampai Yuda dipindahkan ke ruang rawat.
Astrid begitu bahagia, air matanya terus mengalir. Dia tidak berhenti berdo'a untuk putranya yang masih terbaring di brankar Rumah Sakit. Sedangkan Aditama pergi ke kantin Rumah Sakit, untuk membeli makanan.
Aditama membeli dua burger dan dua minuman coklat panas, untuk dirinya dan untuk istrinya, dari kemarin memang nafsu makan istrinya agak berkurang. Aditama sebagai suami juga khawatir dengan kesehatan istrinya.
Dari kantin Aditama, langsung menuju ruangan UGD.
"Mah, makanlah!" perintah suaminya memberikan paper bag kecil kepada istrinya yang berisi makanan.
"Mamah nggak lapar, Pah," ujar Astrid. Aditama mendekat ke arah istrinya, dia menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Dari kemarin kamu belum makan, jika kamu sakit, siapa yang akan menjaga dan merawat Yuda?" ucap suaminya.
"Papah bisa saja merawat Yuda, tapi, tidak sebaik rawatan Mama!" ujarnya lagi.
"Iya, Pah! Mama akan makan," ucap Astrid. Sedikit demi sedikit, Astrid pun memakannya.
Dua hari berlalu, Yuda sudah dipindahkan ke ruang rawat. Yuda juga sudah bisa diajak mengobrol. Setiap pagi, Dokter akan mengajak Yuda untuk rehabilitasi dan fisioterapi. Ini berguna untuk melemaskan syaraf-syaraf karena mencoba gerakan pertama sejak kecelakaan. Awalnya, memang kaku, Yuda merasakan kaku di bagian bawah tubuhnya.
Namun secara perlahan-lahan, dia mampu berjalan di treadmill yang bergerak lambat.
Sekitar 30 menit fisioterapi dilakukan, Yuda kembali lagi ke kamarnya. Ada sedikit perubahan pada tubuh bagian bawahnya, sedikit-sedikit dia bisa menggerakkannya. Namun saran Dokter, harus secara perlahan-lahan dia menggerakkan kaki dan pinggulnya.
Aditama nampak lelah, tiga hari dia berada di Rumah Sakit. Astrid pun menyuruh suaminya untuk pulang ke rumah, beristirahat. Astrid juga tidak tega melihat suaminya kelelahan, beberapa hari ini begadang menunggui putranya. Aditama pun menuruti perintah istrinya untuk kembali ke rumah.
Dengan telaten Astrid merawat Yuda, menyuapi putranya makan, mengantarkannya ke kamar mandi, Astrid juga bolak-balik mengantarkan Yuda untuk fisioterapi.
Yuda sangat bersyukur mendapatkan mama seperti Astrid, dia menyadari bahwa selama ini yang dilakukannya adalah salah. Yuda juga sudah menyesali dan jujur kepada Astrid, perbuatan yang selama ini dilakukannya di luar sana. Astrid nampak terkejut, namun melihat penyesalan putranya, Astrid hanya bisa menasehati dan berdo'a Yuda untuk berubah.
__ADS_1
to be continued...