
Zee kembali ke kamar hotel , dengan sedikit lebam di sudut bibirnya.
Suaminya sudah menunggu di lobi hotel, sedang duduk menunggu kedatangan Zee.
Zee yang melihat suaminya duduk di sofa ,di lobi hotel menghampiri Alan yang sibuk dengan ponselnya.
"Pih!" Alan mendongakkan kepalanya , mengernyitkan alisnya karena melihat sedikit lebam di sudut bibir istrinya.
"Mamih kemana saja?" cemas Alan.
"Ini kenapa? Mamih berkelahi lagi, Astaga, Mih, Papih kan sudah memperingatkan Mamih agar berhenti berkelahi, Lihat sekarang! Siapa yang berani memukul Mamih? Katakan sama Papih!" cecar Alan kepada istrinya, membuat Zee pening dan tiba-tiba saja tubuh Zee ambruk tidak sadarkan diri.
Pukul 16.00 ( Rumah Sakit )
Zee menggeliatkan tubuhnya, merasa pegal-pegal di seluruh tubuhnya.
Ia mengerjapkan matanya, merasa asing di ruangan yang sekarang ia tiduri. Zee mengamati sekeliling ruangan, mencari tahu dimana dia sekarang.
"Pih ?" panggilanya.
Alan yang menyadari istrinya sudah sadar dari pingsannya, mendekati tempat tidur istrinya.
"Ini dimana, Pih?" tanya Zee.
"Mamih di Rumah Sakit," jawab Alan. "Tadi Mamih pingsan, sekarang Mamih di Rumah Sakit."
"Rumah Sakit?" Zee berusaha bangkit dari tidurnya, melihat Zee akan duduk ,suaminya membantunya duduk.
"Hati-hati, Mih, Sekarang Mamih harus lebih berhati-hati, karena sudah ada kehidupan baru di perut Mamih!" jawab suaminya.
"Kehidupan baru?" Zee tidak mengerti.
"Iya, kata Dokter, Mamih sedang hamil!" jawab suaminya sangat bahagia.
"Hamil, jadi maksud Papih, Mamih akan jadi orang tua?" heran Zee.
"Kita berdua akan menjadi orang tua!" senang Alan.
"Ah, pasti Papih bohong!" Zee tidak percaya.
"Kalau tidak percaya, ayo tanya sendiri ke Dokter!" tidak menunggu lama, Dokter kandungan yang direkomendasikan Alan untuk memeriksa istrinya datang.
"Selamat sore, Ibu, Bapak!" sapa sang Dokter.
"Sore, Dok !" jawab Alan dan Zee serempak.
"Saya periksa dulu yah !" Dokter memeriksa tekanan darah Zee, memeriksa hasil urine Zee dan terakhir USG.
"Dan sudah di pastikan Ibu positif hamil !" ujar Dokter.
"Benarkan, Mih?" Alan sangat senang dan bahagia.
"Dengar sendiri kan, Sayang! Kita akan menjadi orang tua!" ucap suaminya. "Kita akan segera punya baby."
__ADS_1
"Mamih akan jadi ibu, Pih !" antara senang dan tidak, Zee berada ditengah-tengahnya.
"Terima kasih ya, Dok !" ucap Alan kepada Dokter.
"Ibu harus jaga kehamilan ibu, karena masih sangat muda dan sangat riskan," tutur Dokter. "Di kehamilan muda seperti ini, ibu harus rileks, tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat dan yang berbahaya!" imbuhnya lagi.
"Dengarkan pesan Dokter, Mih!" goda Alan, membuat Zee membulatkan matanya dengan sempurna.
"Kira-kira usia kandungan istri saya berapa Minggu ya, Dok ?" tanya Alan ingin kepastian.
"Menurut hasil USG tadi, usia kandungan ibu kira-kira masih tiga Minggu, jadi masih sangat riskan ya, Bu, Pak! Harus benar-benar menjaganya!" kata Dokter.
"Baiklah, sekarang saya tuliskan resep obat penguat janin dan vitamin yang harus di minum oleh Ibu di rumah yah!" Dokter memberikan resep obat untuk ditebus oleh Alan di apotek.
Selesai menebus obat di apotek, mereka memutuskan langsung kembali ke hotel.
Zee merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Mih, sekarang Mamih harus banyak-banyak istirahat, jangan terlalu capek dan letih! Mamih ingat pesan Dokter kan?" nasehat suaminya.
"Iya, Pih! Mamih masih ingat kok!" jawab Zee.
"Dan jangan terlalu banyak berkelahi, itu sangat berbahaya buat janin, Mih! Nanti besok kita kembali ke Jakarta, dan Mamih harus banyak-banyak istirahat di rumah," ujar suaminya. "Bila perlu Mamih kuliah saja di rumah," imbuhnya.
"Astaga, suaminya benar-benar sangat cerewet seperti emak-emak yang sedang mencari diskonan di tanah abang!" batin Zee.
"Masa Mamih harus kuliah di rumah, Pih," rajuk Zee.
"Pih, Mamih janji gak berkelahi lag, Mamih berkelahi juga ada alasannya, Pih," jelas Zee, Zee pun menceritakan awal kejadian kenapa Zee bisa berkelahi, sampai akhirnya ada luka memar di wajah cantiknya.
"Tapi ijinkan Mamih kuliah yah," pintanya.
"Oke, tapi mulai sekarang Mamih harus janji menjaga diri dan janin yang ada di dalam kandungan Mamih," seloroh suaminya.
"Okey !" Zee tersenyum senang.
Setelah melewati perdebatan panjang itu, suami istri itu memilih tinggal di kamar.
Alan memesan makanan dari Restoran, agar bisa diantar ke kamar. Mereka menikmati makan malamnya di kamar hotel. Saat Alan akan menelan suapan terakhir, perutnya terasa mual tidak karuan. Alan buru-buru ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.
Hoek......Hoek.......Hoek
"Papih kenapa?" tanya Zee cemas.
"Perut Papih mual banget ,Mih !" jawab Alan.
"Papih pasti masuk angin !"
"Papih sih marah-marah terus ! akhirnya banyak energi yang dibuang ! dan karena terus marah-marah , tentu saja mulut Papih terbuka terus ! itu membuat angin mudah masuk ! sekarang Papih jadi masuk angin begini !" ucap Zee membuat Alan manyun.
"Mana ada seperti itu !"
"Gak ada sejarahnya , gara-gara marah ! orang masuk angin !"
__ADS_1
"Itu persepsi Mamih saja ,biar Papih gak marahin Mamih kan ?"
"Ih,Papih kalau dibilangin gak percaya !" manyun Zee.
Alan kembali memuntahkan isi perutnya, sampai keluar cairan kuning pekat yang rasanya sangat pahit.
Tubuh Alan terasa lemah dan lemas ,Zee memapah suaminya ke tempat tidur.
Menyelimuti tubuh suaminya agar hangat ,Zee menelfon pihak hotel agar di belikan minyak kayu putih untuk suaminya.
Setelah membayar minyak kayu putih tersebut,Zee langsung membaluri tubuh suaminya dengan minyak kayu putih.
Dan bagian punggung suaminya , sedikit ia pijit-pijit supaya anginnya keluar.
Benar saja Alan bersendawa keras, membuat Zee merasa kasihan kepada suaminya.
"Mih, kepala Papih pusing?" rengeknya.
"Sini biar Mamih pijit!" Alan tiduran di paha istrinya. Zee memijat kepala suaminya, sampai terdengar dengkuran halus suaminya, pertanda suaminya sudah tidur.
"Papih pasti kelelahan, kasihan!" Zee membenarkan kepala suaminya, agar bisa tidur di bantal.
Keesokan paginya , Zee memesan bubur ayam ke pegawai hotel untuk suaminya.
Sembari menunggu suaminya bangun ,Zee mengemasi barang-barang ke koper.
Agar siang hari bisa langsung pulang ke rumah sendiri.
Tok....tok.....tok
"Selamat pagi, Bu, ini pesanan ibu!" ucap pegawai hotel sangat ramah.
"Terima kasih banyak!" Zee memberikan tips kepada pegawai hotel, dan pegawai hotel pun pergi.
Zee meletakkan bubur ayam di mangkuk dan ia tata di meja makan. Zee melihat suaminya sudah bangun, dan langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Zee menyiapkan baju ganti untuk suaminya , serta handuk.
Zee sudah mulai terbiasa dengan tugasnya sebagai seorang istri.
Harus bisa menyiapkan segala keperluan suami dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi, itu pesan Mama Nola yang selalu terngiang-ngiang di telinga Zee.
"Pih , ini handuknya !" Zee menaruh handuknya di depan kamar mandi.
"Iya ,Mih !"
Alan keluar sudah agak segar dan wangi , bau parfum dan deodorantnya sampai menusuk hidung.
Tentu saja karena parfum yang suaminya pakai adalah jenis parfum termahal se-dunia dan deodorantnya saja di pesan di Luar Negeri.
Sampai tujuh turunan juga bau wanginya tidak hilang.
Inilah yang Zee suka dari suaminya, suaminya sangat pandai merawat tubuhnya.
to be continued.............
__ADS_1