Om I Love You

Om I Love You
Episode 92


__ADS_3

Keesokkan paginya


Hari ini Papa Harun menyuruh Alan untuk datang ke rumahnya sepagi ini. Alan tidak tahu apa yang akan di bicarakan papanya, karena tidak biasanya papanya bersikap demikian.


Setelah mandi dan berganti baju, Alan menyuruh istrinya bergegas.


"Sayang, Papih nanti sarapan di rumah Mama saja!" ucapnya.


"Emangnya ada apa sih, Pih?" tanya Zee penasaran.


"Entahlah, Papih juga tidak tahu!" suaminya menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya Papa akan berbicara serius dengan Papih," ujarnya.


"Mamih ikut ya, Pih!" pinta Zee.


"Mamih kan kuliah!" ujar Alan.


"Iya, sih, tapi ..... !" Zee menjeda kalimatnya.


"Jangan khawatir, Sayang! Tidak ada apa-apa kok! Mungkin papa akan membicarakan masalah Perusahaan saja, tidak ada yang serius!" jelasnya, agar Zee tidak terlalu cemas.


"Baiklah,"


Alan pun mengantarkan Zee ke kampusnya, setelah mengecup kening dan perut istrinya, suaminya menjalankan mobilnya kembali menuju rumah papa. Dengan kecepatan tinggi Alan melajukan mobilnya. Mobil sampai di depan rumah papa, di sana sudah terparkir satu mobil lagi, namun Alan tidak mengenali siapa pemilik mobil tersebut.


Alan masuk ke dalam rumah, ternyata pemilik mobil di luar sana adalah Silvi, sontak Alan terkejut. Papa menyuruh Alan duduk, dan mama nampak tidak suka dengan kedatangan Silvi.


"Alan, duduklah!" perintah papanya.


"Ada apa ini, Pah?" tanya Alan bingung.


"Kamu masih ingat dengan Silvi kan?" tanya papa.


"Iya, Alan masih ingat! Ada apa, Pa?" tanya Alan.


"Nggak ada apa-apa, Lan! Kedatangan Silvi kemari, dia ingin bekerja di Perusahaan kita, Lan! Kira-kira apa ada posisi yang cocok buat Silvi?" tanya papa Harun.


"Maaf, Pa! Sebelumnya, Silvi sudah datang ke Perusahaan! Dan menanyakannya kepada Alan, namun di Perusahaan memang tidak ada lowongan pekerjaan, Pah!" jelas Alan.


"Tolonglah, Kak! Jika bukan kepada keluarga ini, kepada siapa lagi Silvi meminta bantuan?" ujarnya.


"Ayahku, sedang di dalam penjara! Sedangkan aku hidup sendiri! Aku hanya ingin bekerja untuk mendapatkan uang, untuk menghidupi diriku sendiri," sedihnya.

__ADS_1


"Alah, pasti itu cuma akal-akalan mu saja! Kau dan ayahmu sama saja! Sama-sama serakah!" hardik mama Sarah.


"Tante kok bicara seperti itu! Silvi memang anak ayah Xavier, tapi bukan berarti sifat kami sama Tante," jawabnya.


"Alah, kau pintar sekali membuat alasan! Kamu pikir, kita tidak tahu kenapa kau tiba-tiba saja menghilang?"


"Tante yakin, kau juga terlibat dengan ayahmu itu!" hardik mama Sarah.


"Hiks ... hiks .... hiks."


"Silvi benar-benar tidak tahu menahu, Tante," ujarnya, raut muka Silvi sangat sedih.


"Mah, sudah dong! Mungkin memang Silvi tidak tahu menahu masalah ayahnya," bela papa Harun.


"Iya, Tante! Silvi benar-benar tidak tahu menahu," ujarnya. "Silvi ke Australia bukan untuk kabur, Tan! Tapi Silvi kuliah!" ucapnya.


"Sekarang Silvi kembali ke Indonesia untuk bekerja, akan tetapi Silvi belum memiliki pengalaman bekerja! Makanya Silvi mendaftar di Perusahaan Om Harun, mungkin dengan bimbingan Kak Alan, Silvi bisa belajar banyak," ucapnya.


"Lan, terimalah Silvi di Perusahaan kamu! Kasihan dia," ucap papanya.


"Tapi, Pah ...?" belum selesai meneruskan kalimatnya, papa Harun memotongnya.


"Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menolongnya? Memang benar, kalau Xavier telah melakukan kesalahan kepada keluarga kita! Tapi bukan berarti Silvi juga bersalah, Lan!"


"Baiklah, Pah! Tapi Alan akan lihat, posisi apa yang pantas untuknya!" jawab putranya.


"Baiklah, sekarang kamu tenanglah, Silvi! Alan akan mengurus semuanya," ucap papa Harun.


"Terima kasih, Om, Kak Alan, dan Tante Sarah," cakapnya. Namun tetap saja Mama Sarah terlihat tidak senang.


Sepulangnya Silvi dari kediaman Xaquille, Mama menasehati papa. Mama sangat tidak setuju kalau Silvi harus bekerja di Perusahaan. Mama tahu betul siapa Silvi, bukan hanya Mama yang tidak setuju, ternyata pemikiran Alan pun sama. Namun keputusan papanya memang agak susah diganggu gugat. Hingga dia tidak boleh gegabah terlebih dahulu sebelum ia menemukan petunjuk.


Dari rumah Mama, Alan langsung melajukan mobilnya menuju Perusahaan. Hari ini dia ada jadwal meeting. Sebelum meeting, ia mengecek ke HRD, apakah ada posisi yang kosong untuk Silvi. Ternyata di bagian divisi pemasaran ada posisi yang kosong. Orang yang menempati posisi sebelumnya, sudah pindah ke tempat lain. Alan pun langsung memberitahukan ke pihak HRD, bahwa posisi tersebut akan diisi oleh seseorang. Pihak HRD pun mengerti dan langsung memprosesnya.


Alan pergi ke ruangannya, betapa terkejutnya dia ternyata Zee sedang duduk di sofa kantornya.


"Lho, Mamih nggak kuliah?" tanya suaminya.


"Ternyata Dosennya cuti, Pih," jawabnya.


"Oh," Alan menghampiri istrinya dan mencium puncak kepala sang istri.


"Apakah papih jadi ke rumah papa?" tanya istrinya.

__ADS_1


"Sudah," jawabnya.


"Ada keperluan apa, Pih?" tanya istrinya penasaran.


"Masalah pekerjaan, Sayang," ujarnya.


"Oh,"


"Lapar?" tanya suaminya.


"He'em," jawab Zee.


"Mau pesan makanan?" tanya suaminya lagi.


"Boleh, deh, enaknya makan apa yah?" Zee nampak berfikir.


"Ehm, Mamih mau asinan Bogor deh, Pih!"


"Tapi belinya di Bogor," ucap Zee.


"Apa Bogor? Yang benar saja dong, Sayang! Masa beli asinan saja harus ke Bogor!" cakap Alan, mulai pusing dengan keinginan nyeleneh dari istrinya.


"Ehm, kita cari di sekitar Jakarta, pasti ada yang jualan asinan Bogor," cakapnya lagi.


"Tapi Mamih inginnya yang di Bogor, Pih! Asli dari sana!" rengek Zee.


"Ya Ampun, Mih! Tapi Bogor lumayan jauh, bisa memakan waktu berjam-jam! Memangnya Mamih mau menunggu sampai begitu lamanya," jelas suaminya.


"Bagaimana kalau cari yang lain saja? Yang jelas tidak susah mencarinya!" saran suaminya.


"Tapi Mamih maunya asinan Bogor, Pih!" jawab Zee.


"Kenapa harus rujak sih, Mih? Nanti perut Mamih sakit, kan tadi pagi belum sempat sarapan!" protes Alan, supaya istrinya mengganti dengan makanan yang lainnya.


"Tapi, Anak kita yang mau, Pih! Bukan Mamih!" Zee menggelengkan kepalanya.


"Mamih cuma mengunyah kan saja!" seloroh istrinya, membuat Alan tambah pening.


"Huft, Baiklah nanti Papih suruh orang untuk mencarikannya," ucapnya. Alan menyuruh beberapa orangnya untuk mencari rujak yang Zee inginkan. Alan juga berpesan, sebelum membeli rujak tersebut, mereka harus memastikan bahwa penjualnya asli orang Bogor, supaya rasanya dan teksturnya mirip dengan aslinya.


Alan bisa bernafas lega, setelah menunggu selama satu jam kabar dari anak buahnya, akhirnya salah satu dari mereka mendapatkan apa yang diinginkan istri bos-nya. Dengan senyum sumringah, Alan memberikan bungkusan tersebut kepada istrinya. Saat suaminya akan memberikan rujak tersebut, Zee malah tertidur di sofa. Alan pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hah, Mamih! Padahal Papih sudah menyuruh orang untuk mencarikan apa yang Mamih inginkan, malah tidur!" dengus Alan. Dia pun membopong tubuh Zee ke kamar pribadinya, di kantor tersebut.

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2