
Silvi memarkiran mobilnya di sebuah Mansion yang cukup besar yang letaknya jauh dari keramaian kota. Dia turun dari mobil mewahnya, disambut hormat oleh beberapa bodyguard di rumah tersebut. Karena memang mereka semua mengenal baik perempuan itu. Silvi melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Di sana sudah ada Josh menyambutnya dengan sangat hangat.
"Hallo, Sayang!" sapanya, sambil memeluk tubuh kekasihnya dengan penuh gelora. Mencium dan meraba tubuh seksi itu. Sekali-kali Josh mencium tengkuk dan bahu Silvi.
"Hentikan Josh! Aku sedang sangat marah," gerutu Silvi.
"Ada apa, baby?" tanyanya.
"Aku baru saja berkelahi dengan seseorang," kesalnya.
"Berkelahi? Ayolah, baby! Jangan bercanda, kau berkelahi dengan siapa? Sampai mukamu lebam-lebam seperti itu," cemasnya.
"Wanita bar-bar bre**********sek! Dia sudah mencakarku dan menjambak rambutku," geram Silvi.
"Wanita bar-bar?" Josh bingung dengan apa yang dikatakan kekasihnya.
"Oh my God, baby! Sepertinya wanita itu sungguh luar biasa! Apakah dia cantik?" ledeknya.
"Jangan menguji kesabaran ku, Josh," cemberutnya.
"Dia wanita hamil, akan tetapi tenaganya seperti sapi! Aku sampai kualahan menghadapinya," gerutunya.
"Oh my God, sekuat itu kah dia?" tanya Josh penasaran. Ini adalah pertama kalinya Josh melihat Silvi begitu kesalnya.
"Tentu saja! Kau bisa lihat wajahku? Dia sudah merusak kecantikanku," tangisnya.
"Oh, sayang! Janganlah bersedih! Aku jadi penasaran dengannya? Siapa wanita kuat yang bisa membuat marah wanitanya?" gumamnya.
Josh adalah kekasih Silvi, dia juga seorang Pengusaha muda yang cukup terkenal. Namun kesuksesannya di dapat dengan cara yang culas, kejam, dan curang. Membuat ia tidak disukai oleh pembisnis-pembisnis yang lain. Mereka dipertemukan di sebuah pameran lukisan besar di Australia. Cukup lama mereka menjalin hubungan dekat, namun dikamus seorang Josh, tidak ada kata serius. Mereka menjalin hubungan atas dasar simbiosis mutualisme, saling membutuhkan kehangatan diranjang.
"Ayolah, Sayang! Jangan cemberut! Aku sudah merindukan sentuhan mu!" ujarnya, menciumi bahu kekasihnya.
"Hentikan Josh, aku sedang kesal!" marahnya.
"Kecuali, jika kamu bisa membuatku bahagia," goda Silvi.
"Bagaimana caranya?" tanya Josh. Silvi membisikkan sesuatu kepada Josh, Josh setuju dengan ide yang dicetuskan kekasih penghangat tidurnya.
"Baiklah, Baby! Aku akan memberikan sedikit pelajaran kepada perempuan yang sudah berani mengganggu wanitaku," ucapnya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar dari orang suruhan Alan?" tanya Silvi.
"Ha ... ha ... ha." tawanya.
"Aku sudah menyuruh orangku untuk membunuhnya, dan jasadnya sudah ku buang ke dasar jurang," ucapnya.
"Bagus, dengan begitu, tidak ada yang menyelidiki tentang ayahku lagi," puasnya.
"Tidak, Silvi! Alan itu sangat pintar! Dia tidak akan berhenti begitu saja! Apalagi salah satu orang kepercayaannya menghilang begitu saja! Dia pasti akan terus mencarinya!" jelas Josh.
"Para pengusaha curang sepertiku memilih untuk menghindarinya! Karena dia sangat berbahaya bagi usahaku," jelasnya lagi.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Silvi.
"Kau ingin kehancuran keluarga Xaquille! Sedangkan aku ingin Kehancuran Perusahaan besar itu," ujar Josh.
"Aku ingin membersihkan kerikil tajam yang mengganggu setiap usahaku," kelakarnya.
"Oke, aku setuju," kata Silvi.
"Oya, Apakah yang aku minta sudah kau dapatkan?" tanya Josh.
"Tentu saja," jawabnya, sambil memperlihatkan ponselnya, dimana disana terdapat banyak foto.
"Tunggu! Kau harus memenuhi janjimu!" ucapnya lagi.
"Jangan khawatir, Baby! Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan," ucapnya. "Kau tidak perlu mengingatkan ku setiap hari," ujarnya lagi.
Silvi memindahkan foto-foto di ponselnya ke ponsel Josh, foto itu adalah sebuah informasi yang penting, yang ia curi secara diam-diam dari Perusahaan Xaquille.
"Bagus, aku suka ini! Kau memang wanitaku," ucap Josh, menciumi bibir itu dengan ganas. Josh membopong tubuh seksi itu ke kamar pribadinya. Josh memberikan sensasi panas ke tubuh wanitanya, membuat tubuh Silvi menegang dan meracau tidak jelas. Tidak menunggu lama, mereka melakukan penyatuannya di kamar tersebut. Hanya suara erangan dan ******* yang terdengar. Sampai titik *******, tubuh mereka sama-sama ambruk dan sama-sama merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Merasa kelelahan, mereka pun tertidur diselimut yang sama masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
Keesokkan paginya, Silvi merasakan perutnya terasa berat, ternyata itu adalah tangan Josh. Ia melihat ke arah jam dinding, dia terlambat masuk ke kantor, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Dia bisa sangat terlambat jika tidak memakai jurus cepat. Selesai mandi dan bersiap-siap, ia meninggalkan Josh begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu. Silvi mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Dalam waktu lima belas menit, mobil sampai tepat di parkiran Perusahaan besar tersebut. Dia berlari menyerobot masuk ke Lift, dia mengusir semua karyawan yang sudah masuk ke dalam lift tersebut. Karena dia tidak mau berdesakan apalagi saling menempel di dalam lift tersebut, dia juga tidak mau, keringat orang lain ikut menempel di bajunya.
Lift terbuka, dia berlari menuju ruangannya. Semua karyawan sudah memulai pekerjaannya, sedangkan ia baru saja masuk ke kantor. Namun karyawan lain tidak ada satupun yang berani mengkritiknya. Banyak berkas yang harus di foto copy, namun Silvi sangat malas untuk berjalan ke ruangan foto copy. Seperti biasa dia akan menyuruh karyawan lain untuk mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Silvi hanya duduk dan bersantai-santai ria di ruangan tersebut.
Kampus
Mobil suaminya sudah tidak nampak lagi, Zee pun berjalan masuk ke dalam kantor. Hari ini dia akan membantu dosen senior untuk membuat soal-soal yang akan dibagikan kepada mahasiswa-mahasiswa baru. Di kantor, Pak Budi sudah menunggu kedatangan Zee. Pak Budi meminta tolong kepada Zee untuk membuat soal-soal ujian tersebut. Dengan cekatan dan cepat Zee melakukan tugas tersebut dengan sangat baik, membuat Pak Budi kagum dengan kinerja Zee, mereka sedikit mengobrol masalah skripsi ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan oleh ibu muda itu. Kemungkinan sekitar satu bulan lagi, Zee akan disibukkan dengan ujian skripsi. Dimana Zee akan menerima gelar kesarjanaannya.
__ADS_1
Selesai membantu dosen senior, Zee merasakan lapar di perutnya. Dia pergi ke kantin untuk makan. Di kantin ia melihat sahabatnya Echa sedang makan, Zee menghampirinya.
"Echa, Sayangku! Aku merindukanmu!" ucap Zee seraya memeluk tubuh Echa.
"Zee,"
"Ah, senangnya bisa melihat ibu hamil ini lagi," ucap Echa. "Bagaimana keadaan calon keponakan ku? Sehatkan?" tanya Echa.
"Sehat dong," jawab Zee.
"Aku juga mau pesan makanan, ah," Zee menghampiri ibu kantin memesan satu porsi soto daging dengan nasi. Zee kembali ke mejanya.
"Kenapa kok makan di kantin?" tanya Echa.
"Emangnya kenapa?"
"Iya tumben saja!" selorohnya.
"Aku lapar, Ca! Maklum ibu hamil, makannya juga harus dobel," ucap Zee.
"He ... He ... He."
"Begitukah?"
"Mungkin, jika kau sudah menikah! Kau pasti akan merasakannya, Beb," ujarnya.
"Ah, kau bisa saja!"
"Jadi pengin cepat-cepat kawin!" ucap Echa.
"Woi, nikah dulu baru kawin!" seloroh Zee.
"Oh, iya, nikah dulu baru kawin! Pasti enak ya, Zee?" tanya Echa penasaran.
"Enak, dong! Bikin merem melek," canda Zee.
"Merem melek? kaya naik roller coaster saja?" gumamnya.
"Ha ..,. ha .... ha."
__ADS_1
"Ya begitulah," ujar Zee.
to be continued....