Om I Love You

Om I Love You
Episode 96


__ADS_3

Perusahaan Xaquille


Silvi menyerahkan semua pekerjaannya kepada Anton, salah satu karyawan di divisi itu juga. Anton sudah menolaknya, namun Silvi yang terus mengancam dan memaksanya, membuat Anton kalah dari segala hal. Dia pun menuruti semua apa yang diperintahkan oleh adik dari CEO Perusahaan.


Silvi berjalan berlenggak lenggok bak model internasional ke ruangan Alan, rencananya hari ini ia ingin mengajak kakak sepupunya makan siang bersama. Di depan ruangan Alan, Anna sudah mencegah Silvi untuk masuk. Namun Silvi tetap menyerobot masuk ke dalam.


BRAKK...


Pintu dibuka Silvi dengan kasar, membuat Zee yang sedang rebahan di sofa merasa terkejut.


"Hey, siapa kamu?" bentak Silvi kepada Zee.


"Harusnya aku yang bertanya! Siapa kamu?" tanya Zee balik bertanya. "Dasar wanita tidak punya sopan santun! Masuk ke kantor seseorang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu," kesal Zee.


"Suka-suka aku dong! Harusnya aku yang bertanya! Kamu tuh siapa? Seenaknya saja masuk ke ruangan calon suamiku," ujarnya, tentu saja Zee melototkan matanya.


"Eh, tunggu-tunggu! Sepertinya kita pernah bertemu! Kamu kan wanita yang di Supermarket tempo hari itu," ujarnya lagi, Zee pun juga mengingatnya.


"Oh, kebetulan sekali! Aku akan melaporkan kamu ke calon suamiku! Biar kamu dipenjara sekalian, karena kamu telah melakukan perbuatan tidak terpuji kepadaku," beonya.


"Ha .... Ha ..... Ha." Zee tertawa geli.


"Dasar kau wanita gila! Ternyata sebutan gila untukmu sangat cocok sekali! Nyatanya kamu memang gila," ucap Zee, membuat Silvi membulatkan matanya.


"Apa kau bilang? Beraninya kau mengatai aku gila! Kau yang gila," cakapnya.


"Kau yang gila," ujarnya.


"Perempuan hamil gila," marah Silvi karena dikatai gila oleh Zee, Silvi tidak terima, ia pun maju selangkah hendak menampar Zee, namun Zee menangkis serangan Silvi. Adu jambak rambut pun terjadi, Silvi sangat kesal karena Zee mengatainya wanita gila. Mereka saling tarik rambut dan saling cakar, Zee mencakar wajah cantik Silvi dengan kukunya, membuat muka Silvi sedikit kemerahan bekas cakaran Zee. Juga sebaliknya, Silvi tidak kalah sengit, dengan tenaga super dia berusaha menjambak rambut Zee, rambut Zee yang memang panjang dengan mudah diraih oleh Silvi. Jika bukan karena Zee sedang hamil, pasti dengan mudah Zee menghajar Silvi dengan pukulan mautnya. Anna yang melihat kejadian tersebut berusaha untuk melerai mereka, namun tidak berhasil justru dia sendiri yang terkena adu cakar dan tarik-menarik rambut keduanya. Berkali-kali Zee menampar pipi Silvi, karena Silvi berusaha untuk menampar Zee terlebih dahulu. Silvi pun bertambah jengkel, dia hendak memukulkan vas bunga ke arah Zee. Tiba-tiba Alan datang menangkis dengan tangannya, sehingga vas bunga tersebut jatuh ke lantai pecah dan pecahan belingnya berserakan. Anna langsung memanggil Office Boy untuk membersihkan semuanya.


Setelah lantai bersih dari pecahan kaca beling, Aln menyuruh OB dan sekertarisnya untuk keluar dari ruangan CEO. Alan menatap tajam ke arah Silvi, nampak matanya sangat merah dengan tatapan yang tajam.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Alan kepada Silvi, membuat Silvi terkejut.


"Dia yang memulai dulu, Kak," ujarnya.


"Wanita gila ini yang memulainya terlebih dahulu," kesalnya, seraya membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Kau yang gila," ucap Zee, tidak terima dikatai gila.

__ADS_1


"Seenaknya saja masuk ke ruangan suamiku! Dan mengaku-ngaku calon istrinya! Bukannya itu gila!" marah Zee.


"Suami?"


"Ha .... Ha ..... Ha." tawa Silvi.


"Mana mungkin Kak Alan memiliki istri sepertimu! Kau bermimpi ya?" ejek Silvi.


"Hei, Nona! Kalau kau mau bermimpi, pulanglah ke rumahmu! Jangan disini!" imbuhnya lagi.


"Dia memang istriku," ucap Alan, membuat Silvi menghentikan tawanya.


"Apa?"


"Kak Alan jangan bercanda! Aku tahu, kakak sedang bercanda kan?" tanya Silvi.


"Aku sedang tidak bercanda! Dia memang istriku!" ucap Alan.


"Astaga, Kak! Kenapa kau suka bercanda? Mana mungkin kau memiliki istri seperti dia! Lihatlah dia seperti laki-laki, Kak! Dia menjambak rambutku! Dia juga mencakar wajahku yang cantik ini," kata Silvi sambil menunjukkan bekas cakaran Zee. Hampir saja Alan tersenyum, karena memang benar adanya, sebagian muka Silvi kemerahan bekas cakaran kuku, tentu saja itu kuku istrinya.


"Makanya, kalau punya mulut itu jangan sembarangan berbicara! Mengaku-ngaku calon istri! Mana mungkin suamiku menyukai wanita gila seperti dirimu!" ejek Zee.


"Silvi!" bentak Alan.


"Apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Alan.


"Jika pekerjaanmu tidak selesai! Jangan harap kau mendapatkan gaji! Jika aku mengetahui bahwa pekerjaanmu hanya berkeliling dan bersantai-santai, maka akan aku pastikan kau keluar dari Perusahaan ini," tegas Alan.


"Tapi, Kak!"


"Kembali ke tempatmu!" perintah Alan kepada Silvi.


"Sekali lagi kau membuat masalah dengan istriku, kau akan berurusan dengan ku," tegasnya.


"Baiklah," lirihnya sambil berlalu pergi ke tempatnya bekerja.


"Hush .... Hush .... Hush!" usir Zee.


"Dah wanita gila!" ledek Zee melambaikan tangannya, sambil menjulurkan lidahnya. Silvi nampak kesal, ia menghentakkan kakinya di lantai dan berlalu pergi dari kantor kakak sepupunya.

__ADS_1


Tatapan mata Zee, beralih ke suaminya. Ia menatap suaminya dengan tajam.


"Gawat, matanya tidak berhenti menatap ku! Pasti dia marah!" batin Alan, merasa ngeri melihat tatapan istrinya.p


"Siapa wanita itu?" marahnya.


"Dia sepupu Papih, Mih! Apapun yang dia katakan, jangan dengarkan!" ucap Alan.


"Sepupu? Kenapa Papih nggak mengatakan apapun kepada Mamih?" kesalnya.


"Karena Papih pikir, dia tidak penting, Mih!" ujarnya.


"Jika bukan karena papa yang meminta untuk menerimanya di Perusahaan! Papih juga nggak akan mau menerimanya sebagai karyawan disini," imbuhnya lagi.


"Jadi, yang Papih bicarakan dengan Papa Harun masalah wanita gila itu?" tanya Zee.


"Iya, dia itu anak dari Paman Xavier! Adik angkat Papa," ucapnya. "Dia datang ke rumah merengek meminta pekerjaan! Papa Harun tidak tega, maka dari itu Papih terpaksa harus menerimanya sebagai karyawan!" jelasnya.


"Lalu, dimana orang tuanya?" tanya Zee.


"Paman Xavier di penjara! Tapi aku belum memastikannya, Apakah dia sudah bebas atau masih dipenjara! Lama juga kami sekeluarga tidak menengoknya di penjara," ucap Alan. "Dan ibunya meninggal, saat Silvi masih kecil! Hanya kamilah yang Silvi punya sekarang," terang Alan.


"Jadi aku mohon, kamu jangan marah dulu, Sayang," bujuk Alan kepada istrinya.


"Mamih tidak marah, Pih! Mamih hanya kesal, karena Papih nggak jujur sama Mamih," jawabnya.


"Bukannya Papih nggak mau jujur, Sayang! Papih tidak sedikitpun menganggapnya penting di hidup Papih! Jadi buat apa Papih harus menceritakan masalah yang tidak penting," jelasnya lagi.


"Baiklah kalau begitu! Mamih percaya! Tapi lain kali, jauhi dia, Pih?" saran Zee.


"Karena menurut Mamih, dia memiliki niat yang tidak baik ke keluarga kita," cakap Zee.


"Iya, Papih juga bisa melihat itu! Sekian lama tidak berjumpa, tiba-tiba dia datang dan membuat kekacauan! Papih juga yakin, dia memiliki niat tersembunyi," ucap suaminya.


"Nah, kan! Papih saja bisa berpikiran seperti itu! Bagaimana Mamih tidak?" ujarnya lagi.


Alan mengajak istrinya untuk makan di luar, setelah makan Zee bersikeras untuk menemani suaminya selesai bekerja. Karena dia yakin, Silvi akan berusaha untuk menggoda suaminya lagi.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2