
Selesai mandi dan sholat ashar, Zee menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam. Rasanya hari ini dia ingin sekali memasak makan malam untuk dirinya dan suaminya. Agar tidak terjadi kesalahan lagi dalam mengolah bahan-bahan makanan, Zee melihat tutorialnya di Channel YouTube. Dia perhatikan bahan-bahannya hingga cara memasaknya.
Hari ini, dia ingin membuat nasi goreng seafood. Kebetulan tadi siang, dia juga sudah berbelanja banyak. Zee menyiapkan bawang putih, bawang merah, dan cabai. Dia memblender semua bahan-bahan untuk membuat bumbu. Kemudian dia pisahkan di wadah yang bersih. Zee juga menyiapkan sosis, berbagai macam seafood seperti udang, cumi dan bakso ikan. Setelah selesai ia siapkan nasi yang ada rice cooker, agar sedikit adem.
Setelah itu, dia tumis semua bumbu yang sudah diblender tadi. Zee menambahkan sedikit sawi hijau agar terlihat agak segar, baru ia masukkan nasi dan kecap. Setelah semuanya tercampur merata, Zee memasukkan sosis, udang, cumi, dan bakso ikan. Barulah Zee mencicipi rasanya. Ada sesuatu yang kurang didalam masakannya. Zee menunggu suaminya selesai berganti baju dan sholat.
Beberapa menit kemudian Alan keluar, sudah terlihat wangi dan sangat tampan. Zee meminta tolong kepada suaminya untuk memperbaiki masakannya. Alan terlihat sangat senang, sedikit demi sedikit istrinya mulai bisa menguasai ilmu memasak. Walaupun belum sempurna, namun masih bisa diperbaiki.
Alan menambahkan kecap dan bumbu penyedap. Setelah rasanya pas, Alan menyuruh istrinya untuk menata nasi goreng tersebut di piring besar.
"Kok piringnya cuma satu, Pih?" tanya Zee.
"Kita makan di satu piring, Sayang! Biar lebih romantis," ujarnya.
"Oh," ucap Zee ber'oh ria.
"Kasih hiasan supaya lebih menarik," ucapnya lagi.
Kemudian istrinya menyiapkan dua orange jus di meja makan. Mereka memakan nasi gorengnya dengan piring yang sama. Sekali-kali Alan menyuapkan nasi goreng ke mulut istrinya, Zee juga melakukan hal yang sama kepada suaminya.
"Bagaimana, Pih? Enak?" tanyanya.
"Ehm, lumayan! Aku yakin, lama kelamaan, Mamih akan mahir memasak!" puji suaminya.
"Yeay, Mamih senang kalau Papih suka!" ujarnya.
"Oya, selesai makan malam! Ayo kita jalan-jalan! Lama juga kita nggak jalan-jalan berdua!" ucap Alan.
"Emangnya kita mau kemana, Pih?" tanya Zee.
__ADS_1
"Enaknya kemana yah?" Alan berfikir keras.
"Ehm, yang penting kita muter-muter aja ke pusat kota, Bagaimana?" tanya Alan.
"Ya, udah, Mamih ganti baju dulu," jawab Zee.
"Pakai baju itu saja, Mih! Mamih sudah cantik kok!" ujar Suaminya.
"Benarkah?"
"He'em,"
"Di dobel saja pakai jaket, Mih!" saran suaminya.
"Baiklah," Zee menuruti keinginan suaminya.
Rasanya capek juga berkeliling, mereka pun memutuskan untuk pulang. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Alan melajukan mobilnya menuju rumah. Sepanjan perjalanan istrinya tidak berhenti bercerita. Zee memang seorang wanita yang periang. Sampai di rumah, Alan lihat istrinya sudah terlelap di mobil. Dia tidak tega membangunkan istri tercintanya, ia pun membopong tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dengan telaten, Alan melepaskan sandal yang dikenakan sang istri, dan membenarkan posisi tidur Zee agar lebih nyaman. Alan pun bersih-bersih dan mencuci mukanya. Kemudian dia menyusul istrinya tidur, masuk ke dalam selimut yang sama, merengkuh pinggang Zee dan memeluknya dengan erat.
Keesokkan paginya
Pagi-pagi sekali, Mama Sarah sudah sibuk menghubungi seseorang untuk mendekorasi rumah Mama Sarah, Karena dua hari lagi adalah acara syukuran empat bulan menantu kesayangannya. Mama memilih dekorasi yang sederhana namun sangat elegan. Ia juga sudah memesan beberapa catering dari Restaurant yang cukup terkenal. Ia juga memesan baju khusus yang nantinya akan dikenakan putranya dan menantunya pada acara tersebut. Sebelumnya Mama Sarah juga sudah memesan undangan khusus, untuk para sahabat dan keluarga besar. Semuanya Mama yang mengurus. Dari pagi sampai siang, Mama terlihat sangat sibuk. Hingga kedatangan putra dan menantunya saja sampai tidak mendengar.
"Mama?" panggil Zee.
"Sayang? Kamu sudah datang, Nak?" tanyanya.
"Baru saja kami datang," jawab Alan. Zee menghambur ke pelukan mama mertuanya.
"Mama, kelihatannya Mama sangat capek! Biar Zee sama Mas Alan yang membantu Mama, ya?" tawarnya.
__ADS_1
"Semuanya sudah beres, Sayang! Kamu dan Alan jangan khawatir!" ujarnya.
"Tapi, Ma! Zee nggak mau, gara-gara terlalu capek mengurusi semua ini, Mama jadi sakit!" ucap Zee.
"Iya, Sayang! Mama nggak apa-apa kok!"
"Mama tuh terlalu bersemangat," jawabnya.
"Ayo, masuk! Tuh ada Papa sedang duduk santai di dekat kolam renang," ucap Mamanya. Mereka pun masuk dan menyalami punggung tangan papa Harun.
"Papa kok membiarkan Mama bekerja sendiri sih?" kata Alan.
"Mama kamu tuh di kasih tahu orangnya susah! Semuanya ingin dikerjakan sendiri! Padahal papa sudah menawarkan bantuan!" cakap papa.
Alan dan Zee hanya tersenyum saja. Memang Mama sangat bersemangat sekali untuk mengatur acara syukuran ini. Hingga selesai orang-orang yang diperintah Mama untuk mendekorasi tempat, mereka pun beristirahat sejenak. Para pelayan membuatkan minuman dingin dan juga cemilan.
Hingga sampai jam 3 sore, mendekorasi tempat selesai juga. Mereka semuanya sudah pulang, Mama nampak keletihan. Zee bisa melihat itu. Lalu Zee menyuruh Mama mertuanya untuk beristirahat.
"Ma, istirahat dulu?" ajak Zee kepada mama mertuanya.
"Iya, Sayang!" jawab Mama Sarah, mendudukkan pantatnya di sofa. Zee menyuruh pelayan untuk membuatkan lemon tea untuk Mama, kemudian Zee yang memberikan sendiri kepada Mama mertuanya. Zee sudah menganggap Mama mertuanya seperti Mama kandungnya sendiri, juga sebaliknya. Mereka saling menyayangi selayaknya ibu dan anak kandung. Setelah memberikan satu gelas lemon tea kepada Mama mertuanya, Zee memberikan pijatan untuk kaki mertuanya. Mama sempat menolak, namun Zee memaksa, karena Zee yakin kaki Mamanya pasti sangat capek.
"Terima kasih, ya, Sayang! Mama sangat sayang sama kamu!" ucap Mamanya.
"Zee juga sangat menyayangi Mama," jawab Zee.
Dua hari sebelum acara syukuran di mulai, Alan dan istrinya menginap di rumah Mama Sarah. Karena mereka akan melakukan sesi pemotretan terlebih dahulu. Kata mertuanya, ini semua dilakukan karena ingin memiliki kenang-kenangan untuk dipajang di dinding rumahnya.
to be continued....
__ADS_1