
Keesokan paginya
Setelah melakukan sederetan aktivitas di rumah, pasangan suami istri ini melanjutkan aktivitasnya kembali di luar rumah. Alan pergi ke kantor, dan istrinya ke kampus.
Sebelum turun dari mobil, Zee mencium punggung tangan suaminya, juga sebaliknya Alan mencium kening istrinya, aktivitas seperti itu rutin dilakukan oleh pasangan suami istri ini.
Zee melambaikan tangannya, dan masuk ke kampus.
Di dalam kelas, Echa sedang sibuk dengan ponselnya, senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Dengan jahilnya, Zee melemparkan tas selempangnya ke meja, jatuh tepat di depan Echa, membuat Echa sangat kaget.
"Sialan! siapa sih?" umpat Echa.
"Ha..ha..ha!" Zee tertawa terbahak-bahak.
"Zee!" kesal Echa.
"Biasa deh, sukanya ngagetin cewek cantik!" sombong Echa.
"Yang lagi sibuk!" ujar Zee.
"Sibuk sama siapa sih?" kepo Zee.
"Ada deh!"
"Kamu baru nongol, kemana saja Zee?" tanya Echa heran, memang setelah Zee menikah dan diangkat menjadi asisten dosen, pertemuan mereka sangat singkat.
"Iya, Ca! aku sibuk banget! kalau kemarin-kemarin aku ada urusan keluarga! makanya izin tiga hari!" ujarnya.
"Kalau kamu sendiri? sepertinya aku lihat, kamu sibuk banget dengan ponselmu!" selidik Zee.
"Ah, masa! cuma perasaan kamu doang!" elak Echa.
"Oya, Zee! aku lihat-lihat, kamu kok agak gemukan yah?" tanya Echa, membuat Zee langsung memegang pipinya yang semakin gembul.
"Masa sih! kamu rabun kali!" ucap Zee.
"Gak, Zee! serius! Kamu gak sedang hamil kan?" tanya Echa, membuat Zee membulatkan matanya. Zee tersenyum simpul, membuat Echa penasaran.
"Jadi beneran kamu hamil?" suara keras Echa, membuat Zee membekap mulut sahabatnya.
"Jangan keras-keras! aku malu, Ca!" ujarnya.
"Jadi benar! Ah, syukurlah! akhirnya aku akan mempunyai keponakan!" senang Echa.
"Jangan keras-keras, Ca! jangan sampai mereka dengar!" Zee memberengut sebal.
__ADS_1
"He...he...he!"
"Iya, Beb! aku seneng banget!" ucap Echa.
Beberapa menit kemudian seorang dosen masuk dan memberikan mata kuliah untuk para mahasiswa dan mahasiswinya.
Sekitar tiga jam pelajaran, mereka menerima ilmu dari dosennya.
Selesai jam mata kuliah, Zee langsung berpamitan kepada Echa, karena dia memiliki janji ketemu dengan Tante Marsha.
Tidak lupa Zee mengirimkan pesan kepada suaminya, agar tidak usah menjemputnya.
Zee menjelaskan bahwa hari ini, dia memiliki janji ketemu dengan tantenya, adik mama kandungnya dari Jerman.
Zee melangkah masuk ke sebuah cafe, yang letaknya dekat dengan kampus.
Zee mendapatkan pesan bahwa tantenya sudah menunggu dirinya di cafe tersebut.
Zee melihat ada seorang wanita duduk sendiri, kulitnya putih dengan rambut pirang.
Zee mendekati wanita tersebut, takut salah, ternyata itu benar adalah Tante Marsha, adik kandung mamanya Zee.
"Tante?" teriak Zee, membuat para pengunjung lain menatap aneh ke arah mereka.
"Zee! Apakah kamu, Zee! ponakan kecilku!" ucap wanita tersebut, menatap ke arah Zee.
"Iya, Tan! ini aku, Zee! ponakan Tante yang cantik!" ucap Zee.
"Terima kasih, Tante!" ucap Zee.
"Ayo, sini duduk! kamu mau pesan apa?" tanya Marsha.
"Ehm, jus buah naga saja deh, Tan!" ujarnya, karena Zee teringat pesan suaminya, kalau dia tidak boleh meminum minuman yang mengandung caffeine. Zee pun memilih jus buah sebagai alternatif yang bagus.
Marsha memesankan jus untuk ponakan tersayangnya, beberapa menit kemudian pelayan datang membawa jus yang dipesan oleh Zee.
Zee menyeruput jus buah naga tersebut.
"Segarnya!" ucap Zee.
"Zee! Tante sudah mendengar dari papa kamu, kalau kamu sudah menikah! Apakah benar, Zee?" tanya Marsha.
"Iya, Tan!" jawab Zee.
"Kok bisa sih? kamu masih terlalu muda untuk berumah tangga, Sayang?"
"Apakah kamu tidak mau menggapai cita-citamu terlebih dulu?" cerca Marsha.
__ADS_1
"Iya, Tan! awalnya terjadi karena sebuah kesalahpahaman! tetapi berjalannya waktu, Zee bisa menerima itu semua! Zee sangat mencintai suami, Zee! dia juga orangnya sangat baik, pengertian dan juga sangat mencintai Zee juga!" jelasnya.
"Mungkin usianya seumuran dengan Tante!" lirih Zee.
"Seumuran dengan Tante! Kenapa? Apakah tidak terlalu tua?" heran Marsha.
"Ha...ha...ha!"
"Suami Zee belum tua, Tan! cuma pria matang! pemikirannya dewasa!" polos Zee.
"Ah, bagi Tante sama saja! apa bedanya coba?" kesal Marsha, merasa kalau ada yang salah dengan pernikahan ponakannya.
"Ya beda dong, Tan! suami Zee itu laki-laki yang matang! yang siap untuk menikah! dan saat kami menikah pun statusnya masih lajang belum beristri! dan yang terpenting kami saling mencintai!" bangga Zee.
"Tante benar-benar heran sama selera kamu! masa kamu menikah sama om-om! atau jangan-jangan kamu diancam ya sama tuh orang?" selidik Marsha.
"Ish, Tante! Zee gak merasa diancam ataupun dipaksa! meskipun Zee menikah sama om-om, dia baik kok! perhatian! dan sangat menyayangi Zee dan calon baby kami!" ucap Zee jujur.
"Apa? baby?" Marsha benar-benar terkejut.
"Pasti suami kamu seorang pedofil! masa menghamili anak dibawah umur?" kesal Marsha.
"Ish, Tante! Apa-apaan sih? kami itu sudah halal! kami halal untuk melakukan hubungan suami istri, dimana letak kesalahannya?" tanya Zee.
"Kesalahannya itu di kamu!" kesal Marsha.
"Masa kamu tidak bisa mencari seseorang yang sepadan dengan umur kamu!"
"Ah, Tante! Zee pernah pacaran sama cowok yang seumuran Zee, tapi, apa? cowok itu bre*********sek! cowok itu hanya mempermainkan perasaan Zee!"
"Zee capek! Zee lelah!" ujarnya.
"Sekarang Zee sudah bahagia dengan suami Zee! dia sangat baik! sangat menyayangi Zee! dan selalu mengutamakan kepentingan Zee, dibandingkan dengan kepentingannya sendiri!"
"Zee sangat bahagia, Tan! jadi Tante tidak perlu khawatir!"
"Oke, Oke! jika memang kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang! Tante juga akan turut bahagia! pesan Tante, jika kamu butuh bantuan Tante, jangan sungkan-sungkan! Tante selalu ada buat kamu!" pesan Marsha.
"Terima kasih banyak, Tan!" ucap Zee sambil memeluk Marsha.
Akhirnya mereka berpisah, Marsha menawarkan diri untuk mengantarkan Zee pulang ke rumah, namun Zee menolak karena dia akan pergi ke suatu tempat.
Zee melangkahkan kakinya, mencari taksi menuju kantor suaminya. Sampai di kantor, Zee disambut hangat oleh security dan karyawan suaminya. Mereka tahu, kalau Zee adalah istri CEO Perusahaan ini.
Dengan menggunakan lift khusus, Zee sampai di depan kantor suaminya. Zee sangaja tidak memberitahu kedatangannya ke kantor. Zee membuka pintu tanpa mengetuk, ternyata suaminya sedang kedatangan tamu penting.
Zee sangat malu, dia pun hendak pergi dari kantor suaminya. Namun suaminya mencegah kepergian istrinya, justru Alan memperkenalkan Zee kepada semua rekan bisnisnya. Dengan sangat ramah Zee menyapa mereka semua, mereka pun sangat senang mengenal istri CEO Perusahaan Xaquille. Bahkan mereka semua memuji kecantikan Zee, membuat suaminya sedikit cemburu.
__ADS_1
Sepulang rekan-rekan bisnis suaminya, Alan mengajak istrinya untuk makan siang di luar kantor.
to be continued.......