Om I Love You

Om I Love You
Episode 71


__ADS_3

Keesokan Paginya


Kabar Zee masuk Rumah Sakit sudah sampai ditelinga papa dan mamanya, tentu saja mereka sangat khawatir. Mereka langsung datang ke Rumah Sakit. Papa dan mama mencari kamar Zee, mereka bertanya kebagian resepsionis. Setelah mereka mendapatkan informasi letak kamar Zee, mereka langsung menuju kamar tersebut.


Tok ..... Tok ......Tok


"Assalamualaikum?" sapa papa dan mama.


"Walaikumsalam!" jawabnya dari dalam kamar.


"Zee?" panggil mama.


"Pa! Ma!"


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya papa, Alan pun menjelaskan semuanya. Mama Nola sempat terkejut mendengar penuturan menantunya.


Mama tidak menyangka ada orang yang sengaja ingin mencelakai putrinya.


"Tapi, kamu baik-baik saja kan? Bagaimana baby kamu? Nggak kenapa-napa kan?" cerca mama dengan banyak pertanyaan.


"Alhamdulillah, baby baik-baik saja, Mah!" jawab Alan, " Baby sangat kuat seperti mamihnya!" tambah Alan, Zee hanya tersenyum saja.


"Ya Allah, Nak! Kamu sedang hamil, jangan sering berantem! kasihan bayi kamu, Sayang!" ucap mama khawatir.


"Zee terpaksa, Mah! Mereka sengaja ingin menyakiti Zee, dan Zee hanya membela diri!" jawabnya.


"Siapa sih yang tega melakukan ini sama kamu?" kesal mama.


"Tenang saja, Mah! Alan sudah menyuruh orang untuk meringkus mereka! Biarkan para polisi yang menangani mereka!" timpal Alan.


"Kamu harus menjaga istrimu lebih ketat lagi, Lan!" ucap papa.


"Iya, Pah! Akan Alan usahakan! Alan minta maaf ya, Ma, Pa!" sesal Alan.


"Iya, Gak apa-apa! Kamu sudah melakukan yang terbaik!" ucap papa.


Lumayan lama papa dan mama menemani Zee di Rumah Sakit, sedangkan suaminya meminta izin pulang ke rumah karena akan mandi dan berganti baju. Selesai Alan mandi dan bersih-bersih, Alan merebahkan tubuhnya di tempat tidur sebentar. Di Rumah Sakit, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Dret ... Dret ... Dret


Sebuah pesan masuk ke ponselnya, ternyata sebuah pesan dari seorang kenalannya. Pesan tersebut menjelaskan bahwa Melly dan kawan-kawanya sudah dibekuk oleh polisi, awalnya mereka tidak mengakuinya, namun setelah didesak polisi, mereka menceritakan bahwa otak semua kejahatan mereka adalah Melly, yang merasa dendam kepada Zee.


Alan pun menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib. Lumayan lama Alan beristirahat, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit. Alan bersiap-siap ke Rumah Sakit, dengan memakai baju casual. Dia ambil jaket dan kunci mobilnya untuk pergi ke Rumah Sakit.


Sedangkan di ruangan Zee sendiri, ruangannya nampak ramai, karena Zee kedatangan Marsha. Sebelumnya Marsha sudah diberitahu oleh keponakan Roger Aghar, bahwa ponakannya mengalami kecelakaan. Selesai wawancara, Marsha langsung menjenguk ponakannya tersebut.


"Zee?" panggil Marsha khawatir.


"Tante!" Zee mendapatkan pelukan hangat dari tantenya.

__ADS_1


"Siapa yang memberitahu aku disini, Tan?" tanya Zee.


"Papa kamu!" jawab Marsha.


"Apa yang terjadi? kok kamu bisa sampai ke Rumah Sakit?" tanya Marsha, Zee pun menceritakan semuanya kepada Marsha. Marsha sangat terkejut, dan sangat menyayangkan bahwa suami Zee tidak bisa menjaga ponakannya dengan baik. Papa sudah menjelaskan kepada Marsha, bahwa semua karena kecelakaan, bukan kesalahan dari suami Zee. Namun Marsha tetap saja menyalahkan suami Zee, yang menurut Marsha, dia lalai menjaga ponakan dan bayinya.


Tok ..... Tok ..... Tok


Suara pintu di ketuk, dari luar kamar terdengar sangat ramai. Alan masuk ke kamar istrinya, dan ternyata benar sedang ada tamu. Betapa terkejutnya dirinya, tamu yang sedang berada di kamar istrinya adalah Marsha, mantan kekasihnya di Jerman.


Juga sebaliknya dengan Marsha, dia tidak kalah terkejutnya.


"Pih?" panggil Zee, membuyarkan lamunannya.


"Oh, Alan! Sini, Nak!" ajak papa memperkenalkan adik iparnya dengan suaminya Zee.


"Perkenalkan, ini tantenya Zee! Namanya Marsha!" ujar papa.


"Dan Marsha, perkenalkan juga! Ini suami ponakan mu, namanya Alan!" ujar papa.


Marsha diam terpaku, dia tidak menyangka kalau dirinya bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, namun bukan sebagai kekasih melainkan suami ponakannya.


"Tante?" panggil Zee, membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya!" Marsha menjabat tangan Alan, ada rasa canggung di hati mereka, namun mereka tetap berusaha untuk tenang dan berpura-pura tidak saling mengenal.


"Tante pulang ya, Zee! Jaga diri kamu baik-baik!" ucap Marsha kepada Zee, dijawab anggukan kepala oleh ponakannya.


Saat Marsha akan berpamitan kepada Alan, tatapan mereka bertemu, namun tidak tahu harus berbuat apa, mereka pun sama-sama masih berpura-pura tidak saling mengenal.


Alan sangat syok dengan pertemuan tak terduga itu, dia pun memilih untuk berjalan-jalan sebentar di taman Rumah Sakit.


Namun, tanpa dia sadari ternyata Marsha masih berada di Rumah Sakit, dan berusaha untuk mendekati Alan.


"Alan?" panggilnya, Alan menoleh dan dia tampak begitu terkejut. Marsha memeluk erat mantan kekasihnya. Orang yang sangat dirindukannya, namun Alan berusaha untuk mendorong tubuh Marsha dengan lembut.


"Marsha, tolong! Jangan seperti ini, ini Rumah Sakit! Dan aku juga sudah menikah!" tegasnya.


Marsha pun melepaskan pelukannya.


"Aku tidak menyangka, kita dipertemukan dengan keadaan seperti ini!"


"Apakah kamu ingin balas dendam padaku? Sehingga harus menikah dengan keponakanku?" tanya Marsha.


"Tidak seperti itu! ini semua sudah kehendaknya! Aku harus menjalaninya! Dan aku juga tidak tahu, kalau Zee adalah keponakanmu!" jawab Alan.


"Apakah kau sudah tidak mencintaiku?" tanya Marsha tiba-tiba.


"Marsha! Aku sudah beristri, tentu saja aku mencintai istriku! Dan kamu hanyalah masa laluku!" ucapnya.

__ADS_1


"Maaf, Marsha! Aku harus pergi! Zee sendirian di kamar!" ucap Alan sambil berlalu meninggalkan Marsha sendiri di taman.


Alan masuk ke ruangan istrinya dengan hati yang gelisah. Alan hanya takut, Marsha akan berbuat nekad dan menceritakan semuanya kepada Zee, dan dia tidak tahu apa yang bakal terjadi andaikata Zee tahu bahwa Marsha adalah mantan kekasihnya di Jerman.


Huft ...


Alan menghela nafasnya berat, banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan terlintas di otaknya.


"Pih?" panggil Zee.


"Iya, Mih!" jawab Alan.


"Kenapa sih? kok melamun? Ada apa?" cerca Zee.


"Nggak ada apa-apa, Mih!" jawab Alan.


"Tadi, Papih darimana?" tanya istrinya lagi.


"Dari kantin, Mih! Apakah Mamih ingin sesuatu?" tanya Alan.


"Mamih pengin cepat-cepat pulang, Pih!" rajuk Zee.


"Ehm, nanti papih tanya ke Dokter! Apakah Mamih sudah diperbolehkan pulang atau masih harus dirawat inap?" ucap Alan.


"Beneran ya, Pih! Mamih sudah nggak betah disini!" ujarnya.


"Iya!" jawab Alan.


Tok .. Tok ... Tok


"Assalamualaikum?"


"Walaikumsalam!"


"Zee!" teriak Echa, membuat Zee kaget.


"Echa!" senang Zee, dapat melihat sahabatnya kembali.


"Echa, aku senang sekali! Akhirnya bisa bertemu dengan kamu lagi, Ca! Ternyata kamu ngangenin!"


"Ha .... ha ..... ha!" tawa Zee.


"Tentu, sajalah! Echa gitu loh!" sombong Echa.


"Termasuk yayang bebeb, Ridwan!" goda Zee, membuat Echa membelalakkan matanya.


"Yayang bebeb juga kangen sama kamu!" ucapnya lagi, sontak membuat Echa malu dan langsung membekap mulut Zee, tentu saja kelakuan konyol mereka dari tadi sudah dilihat oleh Alan, dan Alan akhirnya memilih keluar mencari udara segar.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2