Om I Love You

Om I Love You
Episode 72


__ADS_3

Tok .. Tok ... Tok


"Assalamualaikum?"


"Walaikumsalam!"


"Zee!" teriak Echa, membuat Zee kaget.


"Echa!" senang Zee, dapat melihat sahabatnya kembali.


"Echa, aku senang sekali! Akhirnya bisa bertemu dengan kamu lagi, Ca! Ternyata kamu ngangenin!"


"Ha .... ha ..... ha!" tawa Zee.


"Tentu, sajalah! Echa gitu loh!" sombong Echa.


"Termasuk yayang bebeb, Ridwan!" goda Zee, membuat Echa membelalakkan matanya.


"Yayang bebeb juga kangen sama kamu!" ucapnya lagi, sontak membuat Echa malu dan langsung membekap mulut Zee, tentu saja kelakuan konyol mereka dari tadi sudah dilihat oleh Alan, dan Alan akhirnya memilih keluar mencari udara segar.


"Ishhhhhhh! Jangan keras-keras, aku malu tahu?" cibir Echa.


"Bagaimana kalian bisa bersama-sama?" tanya Zee penasaran. Lalu Echa menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya, sebuah cincin berlian bermata besar yang sangat indah.


"Kenapa jari kamu? tumor?" tanya Zee asal.


"Tumor kepala kamu!" sewot Echa, membuat Zee terkekeh.


"Kamu nggak tahu! kalau cincin yang kupakai dengan cincin yang dipakai Pak Ridwan itu sama persis?" sungut Echa


"Yah, nggak tahulah! Kan aku pingsan, mana sempat aku melirik cincin Pak Ridwan!" cebik Zee.


"Maka dari itu Zee, sahabatku yang cantiknya, tidak ada tandingannya! Aku ingin memberitahu kamu, bahwa aku sudah dilamar Pak Ridwan!" ujarnya.


"Apaaaaa?" kaget Zee.


"Serius? kamu lagi nggak bercanda kan?"


"He'em!" jawab Echa.


"Kok bisa sih?"


"Jangan-jangan kamu sengaja ke dukun! buat pelet Pak Ridwan?" tanya Zee.


"Ish, dasar teman nggak ada akhlak! Buat apa aku ke dukun?" cebik Echa.


"Zee, benar apa katamu! Jodoh gak akan kemana! Nggak dikejar, tiba-tiba muncul sendiri!" jawabnya.


"Ceritain dong, Ca! Jangan berbelit-belit! Aku penasaran!" tanya Zee.


"Mau tahu banget, apa mau tahu sekali?" goda Echa.

__ADS_1


"Mau tahu banget, Ca!" kata Zee.


"Ha ... Ha ... Ha! Lain kali ya, Beb, ceritanya!" canda Echa, membuat Zee memberengut kesal.


"Sudah, ah, aku mau pulang! karena aku sudah ditunggu!"


"Bye, bye, Zee!" pamit Echa.


"Ish, Echa nyebelin banget dia!" manyun Zee.


Setelah Tiga Hari


Tiga hari berlalu, akhirnya Zee diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Zee sangat senang, akhirnya dia bisa kembali ke rumahnya.


Semua orang berkumpul, untuk menjemput Zee dari Rumah Sakit. Ada papa dan mama, ada papa Harun bersama mama Sarah.


Sedangkan suaminya sedang menebus obat di apotik Rumah Sakit. Selesai mengambil obat, mereka pun langsung pulang menuju kediaman pasangan suami istri ini.


Mama Sarah sangat menjaga menantunya, sepulang dari Rumah Sakit, mama Sarah tidak memperbolehkan menantunya untuk mengangkat yang berat-berat.


Zee langsung disuruh mamanya untuk beristirahat. Sedangkan mama Nola sibuk di dapur membuat makanan, dibantu oleh mama Sarah.


Mereka terlihat sangat akrab, mereka bersama memasak makanan kesukaan Zee. Sedangkan para laki-laki sedang duduk di ruang keluarga, menonton acara bola di televisi.


Selesai dengan masakannya, mereka pun makan bersama di meja makan milik pasangan itu. Tidak terlalu besar, namun sangat cukup untuk enam orang. Mereka makan dengan sangat lahap, masakan para mama. Zee sangat beruntung mendapatkan mama Nola dan mama mertuanya, mereka sangat menyayangi Zee seperti putri kandungnya sendiri.


Selesai acara makan, mereka memutuskan untuk pulang. Papa dan mama berpamitan terlebih dahulu, kemudian disusul oleh kedua mertuanya. Sebenarnya Zee menyuruh mama Sarah menginap, tetapi mama menolak alasannya besok mereka akan ada acara keluarga besar di Surabaya. Rencananya mereka akan berangkat pagi-pagi sekali.


"Sudah malam! Ayo beristirahat!" ajak suaminya.


"He'em!" jawab Zee.


"Nanti kalau kita mempunyai banyak anak, pasti rumah kita akan sangat ramai!" ucap suaminya, sambil menggandeng tangan istrinya masuk ke kamar.


"Banyak anak?"


"Ya ampun, Pih! Satu anak saja, belum tentu Mamih sanggup! Bagaimana kalau banyak?" ucap Zee, membuat suaminya tersenyum geli membayangkan istrinya memiliki banyak anak.


"Kamu tenang saja, Sayang! Aku akan membantumu merawat anak-anak kita!" ucap suaminya, sambil mengusap-usap perut istrinya yang sudah mulai membuncit.


"Sekarang, tidurlah! Kamu harus banyak-banyak istirahat! Aku akan mengerjakan sedikit pekerjaan!" ucap Alan, sambil mencium kening istrinya.


"He'em!"


Alan ke ruang kerjanya sebentar, karena dia akan menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda, karena menunggu istrinya di Rumah Sakit.


Alan membuka laptopnya, dan mengerjakan pekerjaannya. Selesai mengerjakan pekerjaannya, Alan mendengar ponselnya bergetar. Dia melihat ada notifikasi pesan dan panggilan masuk, dia buka ternyata nomor tidak dikenal.


Setelah melihat pesannya, ternyata pesan dari Marsha, sebuah pesan ingin bertemu di cafe X, malam ini juga.


Dia sempat bingung, darimana Marsha mendapatkan nomer barunya. Sebenarnya Alan tidak mau menemuinya, namun Marsha terus saja mendesaknya.

__ADS_1


Akhirnya Alan menyambar kunci mobil dan jaketnya menuju cafe X, Alan ingin berpamitan dengan istrinya, ternyata Zee sudah terlelap, dia tidak tega membangunkannya.


Alan mengendarai mobilnya ke Cafe X, disana sudah ada Marsha duduk menunggu sambil menikmati es kopinya.


"Marsha?" sapanya, Marsha tersenyum dan mempersilahkan Alan untuk duduk.


"Silahkan duduk!" ucap Marsha sangat lembut.


"Terima kasih!" jawab Alan.


"Ada apa Marsha? Aku tidak bisa lama-lama, karena Zee dirumah sendiri!" ucapnya.


"Iya, aku tahu! kamu mau pesan apa?"


"Ehm, tidak usah!" jawab Alan tegas, Marsha bisa merasakan perubahan besar pada Alan.


"Apakah di hatimu sudah tidak ada namaku?" tanya Marsha tiba-tiba, Alan menoleh ke arah Marsha.


"Tidak!" tegas Alan.


"Aku sudah bahagia dengan pasanganku! istriku dan anak yang sedang dikandungan Zee! Aku sangat bahagia! Aku harap kau juga akan menemukan kebahagiaanmu!" jelas Alan.


"Tapi kenangan kita ...?" ucap Marsha menjeda kalimatnya.


"Kenangan akan menjadi kenangan! Namun yang sedang kita jalani, adalah masa depan kita! Hubungan diantara kita sudah selesai! Aku harap kamu akan bahagia, seperti aku bahagia dengan Zee! Jadi aku mohon, jangan ganggu hubunganku dengan keponakan kamu!" ucapnya.


"Baiklah jika itu kemauan kamu! Aku harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk Zee! Suami yang bertanggung jawab! Dan bisa menjaga istrinya dengan baik!" ucap Marsha.


"Baiklah, aku harus pulang! Aku tidak mau, Zee berfikiran macam-macam! Apalagi tadi aku tidak sempat berpamitan!" jelas Alan.


Mereka pun berpisah, Alan merasa lega, akhirnya dia bisa menyelesaikan masalahnya.


Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia takut kalau Zee terbangun, dan tidak mendapati suaminya disampingnya.


Mobil Alan sudah sampai di garasi, Alan masuk secara perlahan, karena takut membangunkan istrinya, namun saat akan menutup pintu, Zee sudah berdiri dibelakangnya. Sontak saja Alan terkejut.


"Astaga, Mamih! Mengagetkan Papih saja!" ucap Alan.


"Papih darimana?" tanya Zee curiga.


"Papih cari angin segar! Di dalam rumah panas, Papih gerah, Mih!" bohong Alan, dia tidak pandai berbohong, karena baru kali ini dirinya berbohong.


"Papih sedang tidak berbohong kan?" selidik Zee.


"Tidak, Sayang! Ayo kita tidur, Papih capek banget!" ucap Alan sambil menggandeng tangan istrinya.


"Awas kalau berbohong!" ancam Zee.


"Nggak berani, Sayang!" jawabnya.


Setelah mengganti bajunya dengan piyama, mereka pun tertidur sampai keesokkan harinya.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2