
Hari kelulusan Aisha disambut sangat antusias oleh keluarganya. Aisha mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari hasil ujiannya kemarin. Semua keluarganya mengucapkan selamat, bahkan ada yang sengaja membawa kado untuk Aisha sebagai hadiah.
Opa Roger dan Oma Nola juga datang ke rumah dengan memberikan selamat. Elmar, Ratu, Arsy dan Alfan yang kebetulan sedang berada di Kota J, juga datang untuk memberikan selamat kepada Aisha. Semua keluarga berkumpul di kediaman keluarga Xaquille, mereka membuat acara syukuran kecil-kecilan untuk keberhasilan putra dan putri mereka.
"Oya, Apakah kalian jadi mendaftarkan Arsy kuliah disini?" tanya Zee kepada Elmar dan Ratu.
"Jadi dong, itulah kenapa kami membawa Arsy ke Jakarta," jawab Elmar.
"Kalau begitu tinggal saja disini!" ajak Alan.
"Terimakasih banyak, Om. Tapi kami sudah menitipkan Arsy ke Opa dan Oma ya," jawab Elmar. Opa dan Oma yang dimaksud Arsy adalah Papa Roger dan Mama Nola.
"Oh, begitu."
"Bisa tuh Aisha dan Arsy didaftarkan di kampus yang sama," usul Alan.
"Boleh tuh," timpal Elmar.
Aisha sedang mengobrol asyik dengan Arsy. Sudah lama juga mereka tidak bertemu, itu karena jarak yang terlalu jauh membuat mereka jarang bertemu.
"Kau akan kuliah di mana?" tanya Arsy kepada Aisha.
"Entahlah! Papih menyuruhku kuliah disini, Sedangkan Mamih menyuruhku kuliah di Jogjakarta. Sedangkan Opa dan Oma setuju aku kuliah di Luar Negeri," ucap Aisha.
"Kuliah saja denganku," ucap Arsy.
"Memang Kau akan kuliah disini?"
"Iya,"
"Nanti akan aku pikirkan!"
Hidangan sudah tersaji di meja makan, semua keluarga Zee ikut menikmati makan siang mereka di rumah besannya. Semuanya berkumpul dengan hati yang suka cita dan bahagia.
The End
******************************************
Akhirnya cerita Zee dan Alan selesai sampai di sini. Nantikan kelanjutan cerita Aisha dan Om Devan, di Novel Author selanjutnya.
Semoga novel ini bisa menginspirasi dan menghibur banyak orang. Tidak usah memperdulikan tulisan dan PUEBI, karena Author juga masih proses belajar menjadi penulis yang bagus.
Terima kasih banyak atas dukungannya, masih setia membaca dan mengikuti perjalanan Alan dan Zee. Kita ambil sisi baiknya, dan yang tidak baik kita abaikan.... 💕💕😘😘
__ADS_1
Baca juga Novel Author yang lain, karena masih Ada
~ Amelia yang menunggu dan
~ Hidden Rich Twins ( Mencari pelaku percobaan pembunuhan kepada saudara kembarnya)
# PROMOSI NOVEL
# JUDUL : HIDDEN RICH TWINS
# NAMA PENA: CAHYANING FITRI
Yuk bantu Author mendukung karya baru, dengan kasih like, komentar, favorit dan votenya. Terima kasih banyak...🙏🙏
Bab 1
Halwa Callista adalah seorang wanita yang sangat cantik dengan sejuta kemampuan. Dia adalah seorang pengusaha wanita muda yang sukses di Belanda, menggantikan kakeknya. Ditangan Halwa, Perusahaan peninggalan kakeknya berkembang dengan sangat pesat dan maju di lingkup Perusahaan berkembang lainnya. Halwa bukan hanya cerdas di dalam dunia bisnis, ia juga mahir melindungi dirinya. Sejak kecil, ia dituntut oleh kakeknya belajar ilmu beladiri, memanah, menembak dan menunggang kuda.
Salwa Callista adalah saudari kembar dari Halwa, dia juga wanita yang cantik. Namun nasibnya tidak seberuntung Halwa. Dia hanya seorang wanita biasa, yang bekerja serabutan hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan ayahnya saja. Salwa juga bukan seorang wanita karir, dia hanya tamatan SMA saja, tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena tidak memiliki biaya untuk kuliah. Salwa sudah menikah dan memiliki seorang anak bernama Noah Sanjaya, anak laki-laki berusia empat tahun.
Dimas Sanjaya adalah laki-laki tampan, dia adalah seorang Pengusaha terkenal, namanya sudah dikenal oleh banyak pengusaha di Indonesia. Dia adalah suami dari Salwa, dan ayah dari Noah Sanjaya.
Anita Key adalah istri kedua dari Dimas. Mereka dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing, karena orang tua Dimas sendiri tidak pernah merestui pernikahan putranya dengan Salwa yang hanya wanita miskin dan tidak berpendidikan sama sekali.
Noah adalah putra dari Dimas Sanjaya dan Salwa Callista. Semenjak kepergian sang ibu tanpa kabar, ia diperlakukan kejam oleh ibu tirinya. Sehingga dia menjadi anak yang pendiam dan takut dengan orang, terutama kepada Anita, ibu tirinya.
Halwa Callista adalah seorang wanita yang sangat cantik dengan sejuta kemampuan. Dia tumbuh dan besar bersama kakek dan neneknya di Belanda. Ibunya sendiri bernama Anna William Vander sudah meninggal, saat Halwa kecil berusia dua tahun. Dia dibesarkan oleh kakek dan neneknya di lingkungan yang serba ada dan berkecukupan, atau bisa dibilang cucu dari orang kaya. Kakeknya bernama Robert William Vander, berkebangsaan Belanda namun istrinya asli orang Indonesia, bernama Reisa Wiratama Vander. Robert adalah seorang Pengusaha industri teknologi, karena sebagian besar orang Belanda terhubung dengan teknologi, dan teknologi adalah topik hangat di negara ini.
Selain industri teknologi, kakeknya juga memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Ada berhektar-hektar lahan pertanian yang masih berjalan sampai sekarang. Dan itu juga merupakan salah satu sumber penghasilan untuk masyarakat sekitar, yang tinggal di pedesaan tersebut. Banyak diantara mereka menjadi buruh atau pekerja dipertanian Robert. Mereka sangat senang bekerja dengan Robert, karena Robert sendiri adalah orang yang sangat loyal dalam pembayaran upah karyawan.
Sejak kecil Halwa dididik oleh sang kakek dengan sangat keras, agar menjadi seorang pribadi yang kuat, tegas, dan bertanggung jawab. Itu bertujuan supaya Halwa bisa meneruskan kerajaan bisnis sang kakek. Saat kecil, ia dituntut untuk belajar di Sekolah khusus untuk anak-anak pengusaha. Yang nantinya mereka akan meneruskan Perusahaan orang tua.
__ADS_1
Halwa kecil belajar di Sekolah tersebut dengan anak-anak dari pengusaha lain. Halwa yang memang sangat mudah dalam bergaul, dalam waktu cepat dia memiliki banyak kawan dan teman.
Robert sengaja menyekolahkan cucunya di Sekolah tersebut, agar cucunya mendapatkan ilmu dan pelajaran ekstra kurikuler yang lain, seperti ilmu beladiri, ilmu memanah, ilmu menembak, dan pelajaran menunggang kuda. Dan itu adalah pelajaran ekstrak kurikuler yang wajib diikuti oleh semua anak-anak.
Halwa memang seorang wanita, namun kemampuan dan kecerdasannya tidak diragukan lagi. Dalam kurun waktu kurang dari empat tahun, dia sudah mengantongi gelar MBA, dengan predikat terbaik. Halwa muda pun terjun di dunia bisnis kakeknya, disektor pertanian. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya berkembang pesat. Dalam waktu satu tahun, bisnisnya merambah sampai ke luar kota bahkan luar negeri. Melihat kemajuan dan keberhasilan cucunya, Robert sangat senang dan bangga. Hingga akhirnya Robert menyerahkan dan mempercayakan bisnisnya kepada sang cucu.
Semakin hari Perusahaan yang dikelola oleh Halwa, semakin berkembang pesat. Dia adalah pembisnis wanita yang paling muda di Belanda.
Dengan kepandaian dan kecerdasannya, ia mampu meraih predikat pengusaha wanita terbaik nomer lima. Tidak sampai di situ, ia juga dikenal sebagai wanita yang sangat baik dan ramah kepada siapapun. Sebagian penghasilannya, ia sumbangkan kepada beberapa panti asuhan, panti jompo, panti asuhan disabilitas dan panti sosial lainnya.
Disaat karirnya sedang naik diatas daun, nenek yang sangat disayanginya meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Sang nenek tidak dapat bertahan hidup, beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit. Halwa sangat sedih, sepeninggal neneknya. Nenek yang sudah merawat dan membesarkan, pengganti seorang ibu di dalam kehidupannya, telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Kepergian sang nenek ternyata membuat kesedihan mendalam bagi sang kakek. Hingga ia jatuh sakit, terus memikirkan istri tercintanya. Kakeknya telah kehilangan separuh nyawa dan tulang sumsumnya. Satu bulan kemudian sang kakek dipanggil oleh sang Maha Kuasa.
Sebelum sang kakek meninggal, kakeknya meninggalkan sebuah kotak, dimana di dalamnya terdapat sebuah liontin dan sepucuk surat. Kakek berpesan, bahwa dirinya harus kuat dan menjadi wanita hebat. Mampu melindungi yang lemah dan menolong yang susah. Itu yang selalu diingat oleh seorang Halwa.
Halwa memandangi kotak yang ditinggalkan oleh kakeknya. Dia hanya melihat isinya sekilas. Kata kakek, kotak tersebut adalah peninggalan dari ibunya sebelum meninggal.
Halwa mencoba untuk membuka, ia sangat penasaran dengan isi dari surat yang ditinggalkan oleh mendiang ibunya.
Halwa membuka kotak tersebut, disana terdapat satu buah liontin. Dimana di liontin tersebut, terdapat foto dua bayi kembar. Hatinya bertanya-tanya, otaknya diliputi oleh banyak pertanyaan. Ia pun membuka surat dengan amplop berwarna merah, surat yang ditulis oleh ibunya sendiri sebelum meninggal.
Hatinya takut, tangannya bergetar, saat hendak membuka amplop tersebut. Namun, seperti apa yang dikatakan sang Kakek, ia harus menjadi wanita yang kuat. Ia robek ujung amplop tersebut, dan mengeluarkan isinya.
__ADS_1
to be continued......