
Mentari akan menyambut pagi, namun melihat langit yang sedari tadi subuh sudah muram, Sang mentari masuk kembali ke peraduan tidak jadi untuk menampakkan sinarnya. Gerimis deras membasahi bumi. Sepagi ini, ibukota sudah diguyur oleh gerimis yang tidak mau berhenti. Alan dan istrinya yang sudah bangun dan mandi dari tadi, sangat enggan untuk keluar rumah. Alan menyuruh istrinya untuk membenahi baju-bajunya untuk dimasukkan ke dalam koper terlebih dahulu, agar saat hujan berhenti, mereka bisa langsung berangkat ke rumah Mama Sarah.
Selesai membenahi baju, Zee merasakan lapar di perutnya. Jam juga sudah menunjukkan pukul tujuh, waktunya sarapan. Zee keluar dari kamar, dan mendapati suaminya sedang sibuk memasak makanan untuk sarapan. Dari wangi masakannya, sepertinya sang suami sedang membuat omelette telor. Baunya sangat harum menggugah selera. Zee menghampiri suaminya, dan mengambil sendok untuk mencicipi omelette bikinan sang suami.
"Heum, enak," ucapnya.
"Sayang, katanya lapar! Ayo kita makan!" ajak sang suami. Alan menyiapkan nasi di piring untuk dirinya juga istrinya.
"Bahan-bahan makanan sudah habis, hanya telor dan sosis yang tersisa! Akhirnya Papih membuat Omelette saja untuk sarapan kita," ucap suaminya. "Lagian juga, mau keluar membeli makanan hujan terus!" imbuhnya.
"Nggak apa-apa, Papih sayang! Mamih suka kok," cakap Zee.
Mereka menikmati sarapannya dalam diam. Ternyata hujan gerimis di luar semakin deras saja. Mereka saling berpandangan, rencana ke rumah Mama Sarah sedikit tertunda. Mereka terpaksa membatalkannya, mungkin nanti siang atau sore setelah hujan berhenti. Selesai makan, Zee mencegah suaminya untuk mencuci piring. Ia merasa kasihan, seharian sibuk di dapur, masa urusan mencuci piring juga harus suaminya. Dia sendiri juga bisa melakukanya. Semua piring kotor sudah di bersihkannya, dan menatanya di rak piring.
Zee mencari keberadaan suaminya, ternyata dia berada di ruang kerjanya. Sepertinya sang suami sedang sibuk dengan laptop di depannya. Zee menghampiri sang suami, mendudukkan pantatnya di samping sang suami.
"Sedang sibuk, Pih?" tanya istrinya.
"He'em! Sebentar ya, Mih! Papih ada pekerjaan sedikit!" ucapnya. Zee menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Sekali-kali tangannya dengan jahil memainkan ****** sang suami, membuat Alan kegelian.
"Sebentar ya, Mih! Sebentar lagi Papih selesai," ucap suaminya lembut.
"Hujannya tidak berhenti-henti! Bagaimana kita bisa ke rumah Mama Sarah?" tanya istrinya.
"Ehm, mungkin sebentar lagi akan berhenti, Sayang! Sabar dulu, Sayang!" tutur suaminya.
"Sebenarnya Papih juga berencana untuk menemui orang yang direkomendasikan Papa Aghar," cakapnya lagi.
"Apakah kita akan lama di rumah Mama, Pih?" tanya Zee.
"Iya, Sayang! Sampai semuanya terungkap! Barulah Papih bisa tenang!" ucap Alan kepada istrinya.
"Papih tidak tenang meninggalkan Mamih sendiri di rumah! Di rumah Mama ada banyak penjaga dan orang, mereka semua bisa menjaga Mamih," ucapnya lagi.
"Baiklah, Pih! Tapi, apa yang akan kita lakukan sekarang, Pih?" tanya Zee. "Ini seperti sebuah misteri besar yang harus kita pecahkan?" tanya Zee lagi.
__ADS_1
"Sabarlah, Sayang! Kebenaran pasti akan terungkap!" ucap Alan sambil memeluk tubuh istrinya.
Di tempat lain, Silvi merasa kesal karena orang-orang suruhannya tidak berhasil mencelakai Alan dan istrinya. Malah justru, mereka pulang dengan wajah babak belur. Silvi menampar satu persatu orang-orangnya. Hatinya begitu dongkol kepada mereka.
PLAKKK ...
Tamparan keras ia layangkan ke pipi empat laki-laki yang bertubuh besar itu, mereka hanya tertunduk, tidak berani mengatakan apa-apa.
"Kalian memang bodoh! Melakukan hal yang gampang saja tidak bisa?" hardiknya.
"Aku membayar kalian untuk membuat mereka terluka! Kenapa justru kalian yang babak belur?" bentaknya.
"Maafkan kami, Nona! Pasangan suami istri itu jago beladiri! Istrinya juga sangat jago beladiri!" ucap salah satu laki-laki yang kena pukulan Zee.
"Tapi, dia itu wanita hamil! Masa kau kalah dengan wanita hamil," ketus Silvi.
"Tapi mereka memang terlatih, Nona," ucapnya lagi terbata-bata.
"Kau! Dasar bo***h!" umpatnya.
"Sudahlah, Sayang! Jangan marah-marah terus! Apa kau tidak capek! Dari tadi marah-marah terus!" ucap Josh.
"Aku jadi sangat penasaran dengan wanita satu ini! Seperti apa rupanya, wanita yang sudah mencoba untuk mengalahkan orang-orangku?" ucap Josh dalam hati.
"Ada apa? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" ketus Silvi.
"Jangan katakan kalau kau penasaran dengan wanita itu! Jika memang iya, sebaiknya kau lupakan dia! Dia wanita yang sudah bersuami! Jika kau macam-macam dengannya, kau juga akan babak belur seperti anak buahmu yang bo
**h itu!" cibirnya.
"Astaga, Sayang! Apakah kau sedang menyumpahi ku? Kau jahat sekali," rayu Josh kepada Silvi. Sepertinya Silvi ngambek, jika wanitanya ngambek pasti dia akan sangat sulit di bujuk, kecuali jika di belikan perhiasan mahal dan barang-barang mewah. Josh pun mengajak Silvi berbelanja di Mall, ia ingin menyenangkan wanitanya hari ini. Supaya nanti malam, Silvi bisa melayaninya dengan baik.
Josh membawa Silvi berjalan-jalan ke Mall yang sangat besar. Ia juga membelikan Silvi barang-barang branded di Mall tersebut. Silvi membeli tas, sepatu dan perhiasan mahal. Silvi juga berkeliling mall, membeli baju-baju yang sangat mahal. Mereka menenteng banyak paper bag ditangan mereka, hingga lelah menggelayut di kaki mereka. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Silvi juga merasakan lapar yang teramat sangat di perutnya. Mereka memilih makanan Resto Jepang, sebagai pilihan utamanya.
Mereka mencari kursi kosong, di Resto tersebut. Pelayan memberikan daftar menu dan menulisnya di buku kecil. Mereka memesan sushi, sashimi, shabu-shabu, origiri dan takoyaki. Mereka menikmati makanannya dalam diam.
__ADS_1
"Bagaimana? Enak?" tanya Josh, membuka percakapan.
"He'em, Enak sekali, Sayang," ucapnya.
"Apakah kau masih marah?" tanya Josh.
"Tidak," jawabnya.
"Bagaimana suasana hati mu?" tanya Josh.
"Aku sangat bahagia, Josh," ucapnya.
"Oh, baguslah! Nanti siapkan staminamu untuk nanti malam," ujarnya, membuat pipi Silvi merah merona karena malu.
"Ish, kau ini! Kenapa harus berbicara mesum di tempat umum?" cibir Silvi.
"Bukannya kau suka, Sayang?"
"Tentu saja, aku sangat suka!" jawabnya menggoda.
"Bagaimana kalau kau membeli lingerie yang sangat seksi?" tanya Josh.
"Ah, kau mesum, Sayang," ucapnya sangat malu.
"Ehm, tapi, baiklah! Yang penting, kau yang membayarnya!"ucap Silvi.
"Tenang saja, Baby!" ucap Josh, menoel hidung Silvi.
Mereka pun berburu pakaian dalam dan beberapa lingerie. Josh membelikan banyak ****** ***** dan lingerie seksi untuk wanitanya. Josh memang laki-laki yang sangat kuat dalam hal bercinta. Namun dia tidak suka celap-celup sana-sini, jika sudah memiliki satu wanita, dia hanya akan bermesraan dan bercinta dengannya. Namun dia laki-laki yang tidak suka dengan ikatan, baginya suatu hubungan yang dilandasi dengan ikatan, membuatnya pusing dan tertekan. Dan dia tidak mau itu.
to be continued....
*********************
Silahkan baca juga karya novel yang bagus banget.
__ADS_1