
BUGH....BUGH....BUGH
"Keparat kau!" ucap papa lagi, dengan amarah menggebu-gebu.
Kembali papa Zee menghajar wajah dan perut Yuda hingga babak belur.
"Sudah, Pah! Sudah!" ucap mama.
"Kita obrolkan baik-baik! Jangan pakai kekerasan!" mama menengahi.
Seketika nafas papa ngos-ngosan, dan mulai tenang.
"Kita obrolin baik-baik, Pah! Zee pakai pakaianmu!"
"Papa dan mama tunggu kamu di ruang tamu!" perintah mama.
Mama keluar dengan menggandeng tangan papa dan menyuruhnya duduk di ruang tamu. Mama juga menyuruh Yuda duduk, dan memperintahkan para pelayan kembali ke kamarnya masing-masing termasuk Ratu juga di suruhnya istirahat.
Zee duduk di samping Mama dengan ketakutan, tidak berani menatap wajah papa. Mama berusaha menenangkan hati Zee.
Huft....
Papa menghela nafas berat.
"Sudah aku putuskan! Yuda malam ini, Kau menginap di sini! Besok kau harus panggil orang tua mu ke sini! Kau harus menikahi anakku!"
"Kau mengerti!" bentak papa lagi.
"Ta..... tapi, Om! Saya tidak melakukan apa-apa !"
"Saya cuma .....?" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, papa sudah menatapnya sangat tajam.
"Kau mau ku hajar lagi!" papa sudah mengepalkan tinjunya ke arah Yuda.
"Ya ampun! Ayah dan anak sama-sama tukang tinju! Dia pikir muka ku samsak tinju?" batin Yuda.
"Jika kau masih tidak mau menikahi anak ku! Akan aku pastikan kau mendekam di penjara! Aku memiliki bukti CCTV, bahwa secara diam-diam kau masuk ke rumah orang!"ancam papa Zee .
"Tapi om.....?"
"Percuma saja aku mengelak!" batin Yuda.
"Baiklah, Om! Besok saya akan menyuruh orang tua saya ke sini!"
"Bagus!"
"Sekarang istirahatlah di kamar tamu!"
"Ma, antarkan Yuda ke kamar tamu!" perintah papa.
"Baik, Pah!" ucap mama mengantarkan Yuda ke kamar tamu.
Sekarang tinggal Zee dan papa, Zee menoleh ke arah papa saat di panggil.
__ADS_1
"Zee?" Zee mendekat ke arah papa dan bersimpuh di kaki papa
"Maafin Zee, Pah!"
"Zee dan Yuda tidak melakukan apa-apa!"
"Kami belum sempat melakukan itu, Pah!" jelas Zee.
Hiks... Hiks.... Hiks
Papa membantu anak gadisnya berdiri, dan menatap mata Zee yang sembab, akibat terus-menerus menangis.
"Zee, anak ku! maafkan papa yang tidak bisa menjagamu dengan baik! cara inilah yang terbaik untuk semuanya!"
"Zee, bukankah dia kekasihmu! pasti kau akan bahagia bersamanya!"
"Tidak, Pah! tidak seperti itu! Papa tidak tahu Yuda orang seperti apa?"
"Zee sudah putus sama Yuda, Pah!"
"Tolong, Pah! Pertimbangkan lagi keputusan papa! Zee masih ingin kuliah! mengejar mimpi Zee!" mohon Zee.
"Hiks.... hiks... hiks!"
"Papa tahu, Sayang! Tapi, papa juga tidak mau, kejadian buruk ini sampai ada orang yang mendengar!"
"Kamu tahu kan! Kita orang terpandang!"
"Tolong turuti kemauan papa, Nak!"
"Baiklah, Pah!" dengan kaki lunglai, Zee kembali ke kamarnya. Dia menangis dan meratapi nasibnya.
"Kenapa jadi begini? Masa depan ku bagaimana?"
Hiks.... hiks.... hiks
Ke esokan paginya
Setelah Yuda memberikan kabar yang mengejutkan untuk kedua orangtuanya, mereka datang ke kediaman Aghar. Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu. Zee di dampingi mama dan papanya, begitu juga Yuda yang didampingi mama dan papanya juga.
Roger Aghar ( papa Zee ) menjelaskan semua perkaranya kepada keluarga Yuda.
Astrid sebagai mama Yuda, sangat terkejut dengan perilaku putra tunggalnya. Pasalnya Yuda dan Zee pasangan kekasih, bagaimana seorang Yuda melecehkan kekasihnya.
Yuda yang terus di desak oleh papanya untuk menjawab, dia pun menjelaskan duduk perkaranya. Papa dan mama Yuda sangat syok dengan kelakuan bejat putranya.
Terutama mama, ia sangat kecewa dengan tindakan Yuda, mama tidak bisa lagi membendung air matanya.
"Siapkan semuanya, Pak!"
"Saya pastikan putra tunggal saya akan menikahi putri Bapak!" ucap Aditama Nalendra, papa Yuda.
"Okey, dua hari lagi kita nikahkan mereka! Tidak usah mewah-mewah, yang penting sah dulu!"
__ADS_1
"Acara resepsi, bisa kita atur nanti!" jawab papa Zee mantap, tegas dan penuh penekanan.
Para orang tua yang hadir di tempat itu setuju dengan rencana tersebut, kecuali Ratu yang sedari tadi menguping pembicaraan, merasa jengkel dan marah.
"Tidak bisa aku biarkan! Zee sudah mendapatkan segala-galanya! Sekarang giliran ku untuk mendapatkan kebahagiaan!" Ratu berdialog dengan dirinya sendiri.
Selesai pertemuan dan diskusi yang cukup panjang itu, akhirnya selesai dan keluarga Yuda pun pulang, termasuk Yuda juga ikut pulang bersama orang tuanya.
Di kamar Zee merasa frustasi, apalagi mama menyuruh Zee tidak keluar rumah, karena sebentar lagi akan menjadi pengantin.
Hari itu juga, mama menghubungi teman-teman mama yang bekerja sebagai MUA dan Wedding Organizer untuk datang ke rumah.
Semuanya serba instan, semua serba ekspress.
Dalam waktu seharian, para MUA sudah menyiapkan baju pengantin untuk Zee.
Wedding Organizer juga sudah merombak rumah Zee, menjadi dekorasi yang sederhana namun terlihat sangat mewah. Banyak bunga-bunga yang terpasang dan menggantung di sana. Kursi-kursi untuk para tamu undangan yang hadir di tata dengan apiknya.
Mama juga memesan makanan dari hotel bintang lima yang terkenal untuk cateringnya.
Selama dua hari acara di susun rapi oleh mama, mama yang mengurusi semua keperluan pernikahan Zee. Zee sangat bahagia mendapatkan ibu tiri seperti mama, walaupun Zee tidak terlahir dari rahim mama, tapi Zee sangat menyayangi mama.
Di keluarga Xaquille sendiri, Yuda mendapatkan Omelan dari sang Oma. Pasalnya tidak ada anak di keluarga Xaquille merendahkan kehormatan seorang wanita, Oma tampak kecewa dengan apa yang dilakukan cucu kesayangannya.
Opa nya juga menasehati Yuda, bermacam-macam nasehat yang harus di dengar Yuda.
"Sudah, Pa !" Alan menengahi perdebatan yang menegangkan itu.
"Yuda harus mempertanggung jawabkan atas perbuatannya!"
"Dia itu kan seorang laki-laki, jadi dia harus gentleman !" ucap Alan, Omnya Yuda.
"Apa yang di katakan Alan benar!"
"Kau berani melakukan, kau juga harus berani bertanggung jawab!" ucap papa Yuda .
Yuda nampak frustasi, karena sama sekali dia tidak pernah berpikir untuk menikah muda.
Usianya selisih satu tahun dengan Zee, dia baru berusia dua puluh tiga tahun sedangkan Zee dua puluh dua tahun. Yuda mengacak rambutnya sendiri yang tidak gatal.
Semua orang di rumah itu menyalahkannya, semua orang di rumah itu tidak mendukungnya.
Yuda pergi meninggalkan rumah Opa dan Omanya, untuk menghilangkan rasa dongkolnya, dia memilih untuk pergi ke klub sendirian.
Yuda meminum minuman setan itu, pikirannya kalut dan tidak singkron dengan hatinya. Dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan.
Setelah mendengar Zee akan menikah dengan Yuda, hatinya terbakar dan panas. Dia memutuskan untuk pergi ke klub seorang diri, untuk sedikit mengobati luka hatinya.
Iya adalah Ratu, saudara tiri Zee. Yang sejak lama menaruh hati kepada Yuda, namun tidak pernah berani untuk mengungkapkannya. Setiap hari melihat kemesraan Yuda dan Zee, membuat hatinya terbakar dan marah. Sekarang Dewi cinta sedang berpihak kepadanya, di klub malam dia mendapati Yuda tengah mabuk sendiri. Ratu mengamati sekitarnya, mengikuti langkah Yuda saat hendak keluar klub. Yuda yang dalam keadaan sangat mabuk, mencari-cari kendaraannya yang ia parkirkan.
Yuda berjalan menuju mobilnya, mengambil kunci dan hendak memasukkannya ke lubang kunci, namun terpeleset.
Ratu menangkap tubuh Yuda dan membantunya masuk mobil. Melihat kondisi Yuda yang tidak sadarkan diri, Ratu memutuskan membawanya ke suatu tempat di mana seseorang tidak menemukannya.
__ADS_1
To be continued......