Om I Love You

Om I Love You
Episode 79


__ADS_3

Rencananya hari ini pasangan suami istri itu akan kembali ke kota Jakarta, namun kepulangan mereka agak berbeda. Kali ini mereka akan pulang membawa Elmar. Alan sengaja membawa Elmar, supaya mereka bisa membicarakan kerjasamanya dengan leluasa di Perusahaan Alan bekerja. Setelah berpamitan kepada Ratu dan Ibu Hamidah, mobil Alan melaju meninggalkan Villa. Sepanjang perjalanan kedua sahabat itu tidak berhenti berdebat, membuat Alan pusing. Meskipun Zee sedang hamil dan akan segera menjadi seorang ibu, namun sifat kekanak-kanakannya masih jelas terlihat. Buktinya, jika Zee menginginkan sesuatu, tanpa merasa malu dia akan merengek-rengek seperti anak kecil. Tentu saja sang suami harus mengikuti keinginan istri kecilnya.


Sampai di Jakarta, tiba-tiba Zee ingin makan baksonya Pak Kumis yang sedang viral di Sosmed, tentu saja suaminya harus berhenti sejenak untuk membeli bakso tersebut. Antriannya sangatlah panjang, membuat Alan malas untuk mengantri. Alan pun menyuruh Elmar untuk mengantri bakso, namun Zee melarangnya, karena Zee bilang, dia ingin sekali melihat suaminya yang mengantri. Dengan terpaksa Alan mengantri di sana, Alan rela berdesak-desakan dengan ibu-ibu demi istrinya. Banyak ibu-ibu yang sedang bergunjing membicarakan ketampanan Alan, melihat dan mendengar ibu-ibu sedang bergunjing, Alan hanya mengangguk dan menyapa ibu-ibu tersebut, membuat sang ibu-ibu merasa senang dan bahagia bisa disapa oleh pria tampan blesteran itu.


Setelah mendapatkan 3 bungkus bakso super jumbo, Alan pun kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Alan mengajak Elmar untuk menginap di rumahnya. Karena Alan yang mengajak Elmar ke Jakarta, tentu saja dia yang harus bertanggung jawab atas tempat tinggalnya. Sekitar 10 menit, mobil sampai di depan rumah. Mereka pun turun dari mobil. Alan mempersilahkan Elmar masuk.


"Elmar, silahkan masuk!" ucap Alan mempersilahkan Elmar masuk ke dalam.


"Mih, siapkan kamar tamu!"


"Baik, Pih." kata Zee. Zee membuka kamar tamu dan sedikit membersihkannya, walaupun kamar tamu jarang digunakan, namun masih rapih dan bersih, setiap hari suami istri ini bekerjasama untuk membersihkan rumah. Setelah bersih Zee menyuruh sahabatnya untuk membawa barang-barangnya ke kamar tamu.


Zee ke dapur untuk menyiapkan menu siangnya, yaitu bakso yang suaminya beli tadi. Air liurnya sudah menetes, rasanya ingin cepat-cepat menikmati bakso tersebut. Mau makan terlebih dahulu, rasanya kurang sopan, karena suaminya sendiri belum makan. Akhirnya Zee mengurungkan niatnya untuk menikmati bakso sendiri. Zee menata menu makan siangnya di meja, dan ia membuat ice lemon tea untuk teman makan bakso.


"Sempurna," ucapnya.


Zee masuk ke kamar untuk memanggil suaminya makan siang, tenyata suaminya sedang melaksanakan sholat dhuhur. Zee pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih, karena tubuhnya terasa gerah dan lengket. Sehabis mandi, Zee mengambil wudhu terlebih dahulu untuk sholat dhuhur juga.


Selesai melaksanakan kewajiban mereka, Alan mempersilahkan Elmar untuk menikmati bakso yang tadi ia beli. Mereka semua menikmati baksonya di dekat kolam renang, tempatnya teduh juga sangat nyaman, tempat ini adalah tempat favorit Zee.


"Ah, kenyangnya," ucap Zee sambil mengelus-elus perutnya.


"Astaga, Sayang, Apakah kamu sangat lapar?" tanya suaminya sambil geleng-geleng kepala.


"He ... he .... He."


"Ish, Papih ini, Mamih kan juga harus memberi makan anak Papih di dalam perut, jadi wajarkan, kalau Mamih makannya banyak," ujarnya sambil tersenyum.


"Kenapa? Apa Papih nggak rela?" tanya Zee sambil cemberut.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Sayang! Mau nambah juga boleh?" ucap Alan sambil garuk-garuk kepala.


"Bilang saja rakus," goda Elmar.


"Apa kau bilang?" kesal Zee, membelalakkan matanya. Alan menatap tajam ke arah Elmar, dan Elmar langsung berhenti untuk berdebat. Karena jika Zee marah, semuanya akan kena imbasnya, termasuk dirinya, bisa-bisa nanti malam nggak dapat jatah dari istrinya.


"Elmar, sebaiknya kamu beristirahat! Kamu jangan sungkan-sungkan disini! Anggap saja rumah sendiri! Kamarku dan Zee ada di sebelah sana!" tunjuk Alan.


"Besok kau ikut aku ke Perusahaan, kita bicarakan kerjasama kita di sana!" ucap Alan lagi.


"Baik, Om," ucapnya.


"El, kau harus bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh! Jangan mengecewakan suamiku dan orang-orang yang percaya dengan kemampuanmu!" ucap Zee memberi semangat.


"Iya, aku akan berusaha, kau tenang saja, Zee!" jawabnya meyakinkan Alan dan Zee.


"Sebaiknya, kau jangan berurusan lagi dengan rentenir-rentenir itu! Mereka akan terus-menerus mencekik mu dengan bunga-bunga yang mereka berikan! Padahal di dalam Islam itu namanya riba!" nasehat Alan.


"Terima kasih banyak, Om!" ucapnya.


"Untukku mana?" protes Zee.


"Iya, untukmu juga, sahabatku yang paling baik," tuturnya.


"Nah, gitu dong!" jawab Zee senang.


"Kamu harus bersungguh-sungguh, supaya uangmu terkumpul banyak! Dan jika sudah bisa membeli rumah sendiri dan sukses, aku yakin Ratu pasti tidak akan menolak mu!" ucap Zee, sontak Elmar membelalakkan matanya.


"Bagaimana dia tahu kalau aku menyukai Ratu?" batinnya.

__ADS_1


"Tidak usah menatapku seperti itu! Aku tahu, diam-diam kau menyukainya?" godanya, membuat Elmar malu didepan Alan.


"Benarkah? Jadi selama ini Elmar menyukai Ratu?" tanya Alan kepada istrinya.


"Iya, Pih! Malahan dari dulu! Saat kita masih sering bermain bersama," jawabnya lagi.


"Zee, kau ini ember sekali," manyun Elmar.


"Ha .... ha ..... ha." tawa Zee.


"Kau harus menunggu, Ratu bercerai dulu dengan keponakan Om Alan!" bisik Zee.


"Apa yang Mamih bisikan kepadanya?" tanya suaminya cemburu.


"Nggak ada kok, Pih! Mamih hanya memberikan saran kepada Elmar, bahwa saingannya adalah keponakan Papih," ujarnya.


"Ha ... ha ....ha."


Alan dan Elmar saling berpandangan, Elmar tersenyum kecut. Pasalnya Zee benar-benar tidak bisa mengunci mulutnya, bagaimana kalau gara-gara mulut ember Zee, Om Alan membatalkan kerjasamanya.


"Ck, dasar kau ember!" desis Elmar.


"Sayang, biar Papih yang membereskan ini semua! Kamu istirahatlah, pasti capek!" ucap suaminya, "Kamu kan sedang mengandung, tidak boleh terlalu capek," ujarnya lagi.


"Ih, Papih, nggak apa-apa kok! Mamih nggak capek! Sudah papih ngobrol saja sama Elmar, biar Mamih yang membereskan semuanya," ujarnya. Namun Alan yang sangat menyayangi istrinya, tidak akan membuat istrinya bersusah payah sendiri. Elmar yang melihat perhatian Om Alan kepada sahabatnya merasa kagum.


"Om Alan benar-benar hebat! Zee sangat beruntung mendapatkan suami seperti Om Alan! Bukan hanya baik, Om Alan juga sangat menyayangi istrinya, dia begitu perhatian dan sangat dewasa!" batin Elmar.


Selesai membereskan semuanya, Zee rebahan di tempat tidurnya. Beberapa hari tidak tidur di kasurnya, rasanya seperti satu tahun. Tidak terasa matanya sangat mengantuk, Zee pun sudah berada di alam mimpi.

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2