Om I Love You

Om I Love You
Episode 86


__ADS_3

Awan mendung menyelimuti bumi di pagi hari, kilat menyambar menandakan akan turun hujan lebat. Setelah melaksanakan sholat subuh, Alan dan Zee kembali tidur, karena mereka tahu kalau sebentar lagi akan turun hujan lebat. Dan benar saja, hujan yang sangat lebat mengguyur ibu kota. Suara petir menggelegar, membuat Zee merasa takut. Dan masuk lebih dalam ke pelukan suaminya. Alan yang tahu kalau istrinya ketakutan mendengar petir yang menggelegar, memeluk tubuh istrinya dengan senyum kemenangan. Dengan posisi seperti itu membuat dirinya menang banyak, karena dengan mudah tangannya akan menggerayangi setiap inci tubuh istrinya. Membuat Zee menatapnya tajam, dan tidak berhenti mengomel. Alan hanya cuek saja dan pura-pura tidak mendengar. Namun tangan nakalnya terus bergerilya tidak mau berhenti.


Setelah petir berhenti menggelegar, hujan lebat pun berhenti, rintik-rintik hujan masih bertahan mengguyur bumi. Zee merasakan lapar diperutnya, ia pun membangunkan suaminya.


"Pih?"


"Pih, bangun!" Zee menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


"Heem," ucap suaminya.


"Pih, Mamih lapar!" rajuk Zee. Namun Alan masih tidak bergeming, ia masih pulas dibawah selimut yang tebal.


"Pih?" Zee menggelitik telinga suaminya, Alan hanya menutup telinganya saja, matanya masih terpejam. Dengan jahilnya, Zee mengendus-endus leher suaminya, membuat suaminya kegelian.


"Mamih sengaja memancing yah?" ujar suaminya.


"Tidak, Mamih cuma berusaha membangunkan Papih!" polos Zee.


"Tapi, tanduk Papih ikut terbangun!" bisik suaminya.


"Ish, masih pagi sudah mesum," manyun Zee.


"Siapa suruh menggoda, Papih," goda Alan lagi. Alan pun menyerang istrinya tanpa ampun, ciuman dan ******* bibir suaminya membuatnya bergairah. Di pagi yang mendung ini, terjadilah pertempuran panas antara keduanya. Keringat membasahi kain seprai yang baru saja diganti, sekarang harus kembali basah karena air keringat dan air-air yang lain.


Setelah sama-sama meraih kepuasan, mereka pun sama-sama ambruk. Alan beranjak dari tempat tidurnya, menyelimuti istrinya yang kelelahan. Dia langsung mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi, ia langsung ke dapur memasak sesuatu untuk istrinya. Ia mencari bahan-bahan di kulkas. Ternyata hanya sayur dan daging saja yang tersisa. Dia lupa bahwa Minggu ini, belum berbelanja bulanan ke Supermarket. Akhirnya Alan memutuskan masak dengan bahan yang ada saja.


Hari ini Alan memasak sup daging, belum matang saja, aromanya sudah tercium sampai kemana-mana.


Zee masih enggan untuk bangun, karena badannya terlalu lemas. Namun dirinya mencium aroma masakan yang menggugah selera, langsung saja Ia buru-buru mandi dan bersih-bersih.


Zee sudah terlihat segar dan cantik, berbalut baju hamil warna pink. Dia memoleskan sedikit make up, menambah kecantikan seorang Zevanya. Zee keluar dari kamarnya, dan melihat suaminya sedang sibuk di dapur.


"Pih, lagi masak apa?" tanya istrinya.


"Sop daging, Sayang," jawab suaminya. "Buat Mamih, agar stamina Mamih kembali fit," godanya.

__ADS_1


"Aish, nggak lucu! Mamih lemas juga gara-gara Papih! Setiap hari Papih meminta jatah! Semua tulang-tulang Mamih remuk! Anunya juga tambah longgar!" ceplas-ceplos Zee.


"Hah, anunya! Anunya apaan sih, Mih?" tanya Alan tidak mengerti, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Yah, pokoknya itulah! Susah buat menjelaskan!" cemberut Zee.


"Cepat dong, Pih! Perut Mamih sangat lapar, Pih? Babynya juga kelaparan!"


"iya, Sayang! Nih sudah matang! Nanti biar Papih siapkan nasinya dulu." Alan menyiapkan satu mangkok sop daging dengan sepiring nasi hangat. Zee memakannya dengan sangat lahap. Alan hanya memperhatikan istrinya menyantap sarapan paginya dengan sangat lahap.


"Kenapa Papih tidak makan?" tanya Zee, karena suaminya sedari tadi hanya memperhatikan dirinya makan saja.


"Rasanya senang, kalau Mamih sangat lahap menyantap masakan Papih," jawab suaminya.


"Tentu saja, masakan Papih memang sangat enak! Papih sangat pintar memasak," puji Zee.


"Lain kali, ajarin Mamih ya, Pih!" pinta Zee.


"Iya, Sayang! Kalau ada waktu kita belajar sama-sama!" ujar Alan. Alan teringat, kala itu, istrinya merajuk meminta dibelikan bahan-bahan untuk membuat masakan seperti yang dimasak mama mertuanya. Dia mencoba untuk memasak sendiri, padahal Alan sudah menawarkan bantuan, namun Zee menolaknya. Alhasil, masakan istrinya benar-benar hancur. Sopnya terlihat keruh seperti air kobokan, rasanya juga sangat asin. Untuk menghormati istrinya, Alan terpaksa memakannya walaupun hati tidak ingin.


Selesai sarapan, Alan dan Zee bersiap-siap untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Seperti biasa, Alan akan pergi ke kantor dan Zee kembali ke kampus. Sebelum ke kantor, Alan akan mengantarkan istrinya terlebih dahulu ke kampus. Zee mencium punggung tangan suaminya, dan Alan pun mencium kening istrinya. Zee keluar dari mobil suaminya, ia melambaikan tangan kepada suaminya. Setelah mobil suaminya sudah tidak nampak lagi, barulah ia melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Di sana sudah ada Echa sedang sibuk. Dari arah belakang, Zee mengagetkannya, membuat Echa membulatkan matanya kesal.


"Ha .... ha .... ha." tawa Zee terbahak-bahak.


"Echa, Sayang, aku rindu banget sama kamu! Berapa lama yah kita nggak ketemu?" tanya Zee.


"Alah, baru juga beberapa hari! Emang yang namanya Echa tuh bikin kangen terus!" sombongnya.


"Ish, kau memang paling benar!" ucap Zee.


"Sedang apa sih? Sepertinya sibuk sekali?" tanya Zee.


"Aku sedang ngerjain skripsi! Tahun ini kita kan harus lulus dengan nilai memuaskan," jelasnya.


"Kamu mau cepat-cepat lulus, biar secepatnya dilamar sama Pak Ridwan kan?" selidik Zee.

__ADS_1


"Ish, Aku sudah dilamar, Sayang! Nih lihat, kan aku sudah pernah mengatakannya kepadamu!" ujar Echa.


"Ah, kau payah! Kau lamaran, akan tetapi tidak mengundangku!" manyun Zee.


"He ... he .... he."


"Nanti jika aku menikah, kau adalah orang pertama yang aku undang! Dan undanganmu khusus aku buat dengan tinta emas! Dan kau harus menyumbangku dengan amplop yang tebal!" jujur Echa.


"Aish, itu namanya pemerasan!" manyun Zee.


"He ... he ... he." Echa terkekeh.


"Tenang saja, Beib! Aku cuma bercanda! Aku sangat senang jika kau bisa datang ke pernikahanku nanti! Kadatanganmu lebih dari cukup buatku," ucap Echa membuat Zee terharu.


"Oh, Beib, aku jadi terharu!" mewek Zee.


"Aku harap kita masih bersahabat seperti ini, meskipun masing-masing sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri," ucap Zee.


"Tentu saja dong, Beib! Kita kan bersahabat sejak sekolah! Jadi setelah menikah pun kita harus tetap bersahabat!"


"Bila perlu, jika aku sudah menikah dan memiliki anak, kita jodohkan anak-anak kita!" ujar Echa.


"Ish, seperti jaman Siti Nurbaya saja!" kekeh Zee.


"Kan lucu tuh, Beib! Kita jadi besanan," selorohnya.


"Ha .... ha ... ha," tawa mereka terbahak-bahak.


"Oh, ya, memang berapa bulan usia kandungan kamu?" tanya Echa.


"Hampir memasuki empat bulan, Beib!" jawabnya, "Nanti kalau aku mengadakan syukuran empat bulanan, kamu datang ya, Beib!" pinta Zee.


"Beres, pokoknya apa sih yang nggak buat kamu! Apalagi buat calon keponakan aku ini," ujar Echa sambil mengelus-elus perut Zee yang sudah mulai terlihat membuncit.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2