
Di sebuah Apartemen mewah, sepasang laki-laki dan perempuan sedang memadu kasih. Saling bercumbu dan ******* satu sama lain. Menghasilkan *******-******* kenikmatan dari dalam ruangan tersebut. Mereka dalam keadaan polos tidak memakai busana sehelai pun, sedang melakukan olahraga panas di malam hari. Keringat bercucuran membasahi kain sprei, sampai pada titik klimaksnya, tubuh mereka sama-sama ambruk. Tubuh Silvi merasakan lemas yang luar biasa, sang laki-laki mengecup kepala Silvi dengan sayang.
"Bagaimana? Apakah kau berhasil masuk ke Perusahaan itu?" tanya laki-laki tersebut, masih dalam keadaan polos.
"Tentu saja aku berhasil," jawab Silvi.
"Silvi gitu loh, ditangan Silvi semuanya akan berhasil," imbuhnya lagi.
"Lalu sampai kapan kau menyembunyikan ayahmu di rumahku?" tanya laki-laki tersebut.
"Ayolah, Sayang! Kau jangan pelit! Aku berusaha keras untuk menyusun rencana ini," timpalnya.
"Apa kau butuh bantuan?" tanyanya.
"Sejauh ini belum, mungkin nanti aku akan sangat membutuhkan bantuanmu," ujarnya.
"Baiklah, Sayang, jika butuh bantuanku aku siap," timpalnya. Mereka pun kembali mengulangi kegiatan panas tersebut hingga pagi.
Silvia Atmaja dipanggil Silvi, adalah putri dari Xavier Atmaja. Dia dikenal dengan gadis yang cantik, periang, baik dan sangat penurut. Ibunya sendiri sudah meninggal akibat penyakit kronis yang dideritanya, saat Silvi masih berusia satu tahun. Silvi kecil tumbuh dan berkembang dijaga dan dirawat oleh ayahnya. Sewaktu kecil, Alan dan Silvi sangatlah akrab. Mereka disekolahkan di sekolah yang sama, hingga mereka tumbuh menjadi remaja. Seiring berjalannya waktu, secara diam-diam Silvi menyukai kakak sepupunya, dengan terang-terangan Silvi mengungkapkan perasaannya. Namun Alan menolak, dia menganggap Silvi sebatas adik sepupu saja, tidak lebih. Itu membuat Silvi sangat marah dan kesal, hingga Silvi berusaha menjauh dari Alan.
Sedangkan Paman Xavier sendiri adalah anak angkat dari keluarga Xaquille. Paman Xavier sudah diangkat anak sejak kecil, karena memang dia adalah anak yatim-piatu. Ia dan Harun kecil dibesarkan secara bersama-sama, dan disekolahkan juga disekolah yang sama.
Diusia remaja, mereka menyukai wanita yang sama. Namun karena Harun memiliki sifat yang lembut dan penuh kasih sayang, dia pun rela mundur demi saudara angkatnya.
Suatu kejadian membuat Xavier berubah, salah satunya karena wanita tersebut menolak perasaan cinta yang diutarakan Xavier. Secara terang-terangan juga, si wanita menyatakan cintanya kepada Harun, membuat Xavier sangat marah dan naik pitam. Sang perempuan memilih untuk pergi dari kehidupan kakak beradik itu, dan kabarnya si perempuan sudah pindah ke luar negeri.
Saat sudah dewasa, Xavier kembali menelan kekecewaan. Karena semua harta peninggalan keluarga Xaquille diserahkan kepada anak kandungnya, Harun Xaquille. Membuat Xavier sangat marah dan kesal. Dia pun merencanakan pembunuhan terhadap kedua orang tua angkatnya, dengan menggunakan racun. Dimana racun tersebut tidak langsung membuat penggunanya mati, namun cara bekerja racun ini secara bertahap. Membuat kedua orang tua angkatnya lumpuh dan hilang kesadaran dan akhirnya mereka meninggal. Tidak ada seorangpun yang tahu, mereka menganggap kematian kedua orang tua Xaquille diakibatkan oleh penyakit tua semata.
Sampai Xavier masuk dalam Perusahaan sebagai asisten pribadi Harun. Dengan cara curang Xavier menggelapkan uang Perusahaan hingga miliaran rupiah, namun sama sekali tidak diketahui oleh Harun. Perusahaan sempat mengalami kerugian besar, namun saat itu Harun belum berhasil mengungkapkan siapa pelakunya.
Pada saat Harun dan keluarga berlibur ke Paris, semua urusan Perusahaan dibawah kendali Xavier. Dengan merajalela, Xavier memindahkan sebagian aset Perusahaan ke aset pribadinya. Namun dengan sangat lihai, dia memanipulasi semua data dan laporan, supaya tidak tercium kebusukannya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Seorang detektif swasta yang disewa oleh Harun berhasil membongkar kebusukan dari sang adik angkat, hingga pembunuhan keji yang dilakukannya kepada kedua orangtua angkatnya dengan racun. Membuat Harun sangat murka, dia pun menjebloskan adik angkatnya ke penjara.
__ADS_1
Keesokkan paginya
Hari ini seperti biasa, setelah sholat subuh berjamaah, Alan akan mengawali aktivitasnya dengan lari pagi. Dia sudah bersiap-siap dengan baju dan celana trainingnya. Namun istrinya merengek ingin ikut, Alan tidak tega harus meninggalkannya, akhirnya dia mengajak istrinya. Acara lari pagi berganti dengan jalan-jalan pagi.
Sampai di taman, Alan menyuruh istrinya untuk duduk di kursi taman. Dia sendiri akan sedikit berolahraga dimulai dengan memutari taman sebanyak dua kali putaran.
Sambil menunggu suaminya, Zee bermain game di ponselnya. Seorang wanita dan pria separuh baya duduk disampingnya, mereka menyapa Zee dengan ramah. Zee pun tidak kalah ramah menyapa mereka.
"Selamat pagi," sapa mereka.
"Selamat pagi juga," sapa Zee, tidak kalah ramah.
"Wah, Nona sedang hamil! Berapa bulan?" tanya wanita tersebut.
"Empat bulan lebih dua Minggu, Nyonya," jawabnya.
"Selamat ya! Semoga Nona diberi kesehatan dan keselamatan sampai melahirkan," ujarnya, mendo'akan Zee.
"Terima kasih banyak atas do'anya, Nyonya!" jawab Zee.
"Nama saya Zevanya, panggil saja Zee," jawabnya. "Kalau Nyonya dan Tuan sendiri, Siapa namanya?" tanya Zee.
"Jangan panggil Nyonya! Panggil dengan Tante saja, Tante Lisa," ucapnya.
"Dan ini suami saya, Om Handoyo," tambahnya lagi.
"Senang bertemu dengan Om dan Tante," ujar Zee.
"Om dan Tante mau lari pagi?" tanya Zee.
"Ha ... ha ... ha." tawa mereka.
"Tentu tidak, Nak! Kami sudah tua, mana mungkin kami kuat jika harus lari pagi," kata Om Handoyo.
__ADS_1
"Kami sedang menunggu teman-teman kami, karena kami akan mengadakan senam manula disini," ujarnya.
"Oh," jawab Zee ber'oh ria.
"Dan kamu sendiri? Kamu sama siapa ke sini?" tanya Tante Lisa.
"Sama suami, Tan," jawabnya, "Dan suami Zee sedang lari pagi," imbuh Zee.
"Oh,"
"Eh, Ma! Mereka sudah datang semua," ujar Om Handoyo.
"Zee kami kesana dulu, Teman-teman kami sudah berkumpul," ucap Tante Lisa.
"Oh, Silahkan, Tante! Semangat senamnya, ya, Tante, Om!" ucap Zee memberikan semangat kepada pasangan suami istri itu.
"Terima kasih, Sayang," jawab suami istri itu. Mereka pun beranjak dari kursinya menuju kelompok senamnya. Mereka memulai senamnya di tengah-tengah taman. Jadi bukan hanya untuk sekedar berjalan-jalan, namun ada juga yang sengaja datang kesini untuk senam berkelompok, kebanyakan dari kelompok manula.
Alan selesai memutari taman, sambil ngos-ngosan menghampiri istrinya. Zee mengelap dahi suaminya yang penuh dengan keringat.
"Capek?" tanya Zee.
"Huh, lumayan," jawan suaminya.
"Lapar nggak?" tanya suaminya.
"Lumayan," jawab Zee.
"Mau makan apa?" tanya suaminya lagi.
"Bubur ayam, Pih," timpalnya, "Mamih sedang ingin makan bubur ayam," jawabnya.
"Baiklah, Ayo kita cari bubur ayam," jawab Alan, sambil menggamit tangan istrinya. Mereka berjalan mencari bubur ayam disekitar taman. Banyak juga penjual yang berdagang makanan di sana. Mereka pun berhenti di sebuah gerobak bubur ayam, mereka duduk lesehan di sana. Alan memesan dua porsi bubur ayam, dan dua teh hangat. Mereka memakannya dengan sangat lahap.
__ADS_1
to be continued......