Om I Love You

Om I Love You
Episode 22


__ADS_3

BUGHHHHHH...


"Auw .. !" pekik Alan.


"Dadah, Om! Zee lari duluan!" dengan tenaga super Zee langsung berlari ke arah taman.


"Uh, dasar Zee curang! Tidak akan aku biarkan!" dengan ancang-ancang yang pasti Alan berlari sekencang mungkin, membuat Zee tersalip.


Alan yang memang seorang pelari saat SMA dulu, menyalip seorang Zee bukanlah perkara yang sulit. Alan sampai di taman duluan, Zee hampir tidak percaya suaminya begitu cepat berlari, padahal tadi ia sempat berbuat curang.


"Kau kalah!" ucap Alan sambil ngos-ngosan.


"Ah, Om curang!" elak Zee.


"Curang dari mananya? Jelas-jelas kau yang curang!" hardik Alan masih ngos-ngosan.


"Itu .. tadi .. itu ... !" Zee bingung harus menjawab apa.


"Tepati janjimu! Katanya siapa yang menang harus menuruti semua perkataan pemenang! kau masih ingatkan!" ucap Alan sambil mengedipkan satu matanya.


"Iya .. Iya, memang Zee harus melakukan apa?" tanya Zee.


"Ehm ,nanti saja aku beritahukan!" jawab Alan.


"Sekarang kau lelahkan! Ayo kita beristirahat terlebih dahulu!" ajak suaminya duduk di bangku taman.


Tamannya sangat indah, banyak sekali orang yang datang, sekedar jalan-jalan, joging mengitari taman dan ada juga yang sengaja datang untuk menikmati keindahan taman tersebut di pagi hari. Banyak juga orang-orang yang menjajakan dagangannya, di sekitar taman. Alan mengajak istrinya untuk menikmati makanan ketoprak makanan khas Jakarta.


"Bu, ketopraknya dua, pedesnya sedang saja, telornya di ceplok, kerupuknya di banyakin!" pesan suaminya kepada ibu penjual ketoprak.


"Iya, Pak, silahkan duduk dulu! Minumnya apa pak?" tanya suami ibu itu.


"Teh hangat dua, tapi yang satu gak pake gula!" jawab suaminya lagi.


Zee hampir gak percaya, suaminya yang seorang CEO Perusahaan besar mau makan di pinggir jalan. Kebanyakan yang Zee tahu, orang kaya tidak akan mau jajan di pedagang kaki lima, mereka akan memilih jajan di Restoran, kafe atau rumah makan mewah. Zee jadi kagum dengan sikap suaminya yang bersahaja.


"Kenapa senyam-senyum sendiri? heran kalau seorang CEO seperti aku makan di pinggir jalan?" tanya suaminya.


"Ish, Om tahu saja apa yang ada di pikiran Zee!"


"Jangan-jangan pas mama Sarah ngidam, pengin ketemu sama Tommy Rafael nih, makanya tahu apa yang Zee pikirkan!"


"Ha ... ha ... ha!" tawa Zee membuat Alan senang, pasalnya istrinya sangat cantik ketika sedang tertawa, dan sangat menggemaskan saat sedang cemberut.


"Silahkan, Pak!" kata ibu penjual, meletakkan hidangannya di meja.


Alan dan Zee sangat menikmati ketoprak itu, hingga satu porsi ketoprak habis mereka makan.


"Alhamdulillah, kenyangnya!" ucap Zee membuat Alan tersenyum.


"Bagaimana? Ketopraknya enak?" tanya Alan.


"Enak, Om!"


"Kalau begitu ayo kita pulang! Bukankah hari ini, kau akan kuliah?"


"Oh, iya! Zee hampir lupa, kalau hari ini Zee akan kembali masuk kuliah! Ayo, Om!" mereka pun dengan berjalan beriringan pulang ke rumah, namun tinggal beberapa meter lagi dari rumah, Zee merasa tidak sanggup lagi berjalan.


Kakinya benar-benar capek dan kram.

__ADS_1


"Om, kaki Zee kram, sakit Om!" keluh Zee, Alan yang tidak tega melihat istrinya meringis menahan sakit, dengan sigap Alan berjongkok persis di depan istrinya.


"Naiklah ke punggungku! Biar aku gendong!"


"Tapi, Om, Zee berat, Om, nggak akan kuat!"


"Cepat naiklah! Jangan membantah!" kata Alan penuh penekanan.


"Baiklah!" Zee segera naik ke punggung suaminya, Zee di gendong hingga sampai rumah.


"Akhirnya, sampai juga!"


"Om turunkan Zee! Om pasti capek!"


"Buka saja pintunya!" masih dalam keadaan di gendong, Zee membuka pintunya.


CEKREEK


Pintu terbuka, tubuh istrinya Alan letakkan di sofa.


"Masih sakit kakinya?" tanya suaminya.


"Masih!" Alan mengambil kotak obat dan mengoleskan salep pereda nyeri di bagian betis Zee dan sedikit mengurutnya.


"Bagaimana?"


"Lumayan, Om., sudah tidak begitu sakit!"


"Kalau begitu, cepat mandilah nanti kita terlambat!" ucap suaminya.


"Oke!"


Sekitar 20 menit mereka sudah siap untuk berangkat. Alan menyuruh istrinya untuk ikut mobilnya, Zee sempat menolak namun Alan yang sifatnya pemaksa akhirnya Zee ikut juga.


Mobil berhenti tepat di depan kampus, Zee hendak keluar namun di hentikan oleh suaminya.


"Ada apa lagi, Om?" kesal Zee.


"Ingat syaratnya!"


"Iya, Zee ingat!"


"Cium tangan suami dulu dong! Kamu mau jadi istri durhaka ?" goda Alan.


"Ih, amit-amit, ya, nggak lah!" lalu Zee pun mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.


"Hati-hati ya! Nanti siang aku jemput, kau kirim pesan saja jam berapa mau di jemput!"


"Okey! bye ..bye, Om!" Zee melambaikan tangannya.


Mobil suaminya melaju sampai tidak terlihat, barulah Zee masuk ke kampus. Zee menjadi pusat perhatian di kampus, pasalnya Zee datang sendiri, biasanya dia akan masuk kampus bergandengan mesra dengan Yuda, sekarang Zee hanya datang sendirian membuat tanda tanya besar untuk teman-teman Zee di kampus. Zee duduk di bangkunya seperti biasa, tiba-tiba dari belakang.


"DORR," suara Echa mengagetkannya.


"Astaga, Echa! Bikin kaget saja!"


"Sialan kamu, Ca!" kesal Zee.


"Ha .. ha .. ha." tawa Echa menggelar di dalam kampus.

__ADS_1


"Abisnya gue panggil-panggil nggak dengar!" Echa mengerucutkan bibirnya.


" Benarkah? Ko aku nggak dengar, ya?"


"Makanya periksa tuh kuping, kali saja ada pelornya!"


"Ha .. ha .. ha." tawa Zee.


"Sialan! Kapan kamu kembali dari Bandung, Ca?" tanya Zee.


"Sudah satu Minggu ini! Kamu nggak masuk kuliah sepuluh hari kemana saja?" tanya Echa heran.


"Kamu nggak sedang enak-enakan sama Yuda?"


"Terus tadi aku lihat diparkiran, kamu naik mobil mewah banget!.Apa itu mobil Yuda yang baru?" cerca Echa dengan banyak pertanyaan.


"Satu-satu dong, Ca! Aku bingung harus menjawab yang mana dulu!" kesal Zee di berondong dengan banyak pertanyaan, membuat Echa terkekeh.


"Ayo dong jawab?"


"Pertama ya, Jangan pernah sebut nama cecurut itu, aku gak suka! Dan aku sudah nggak punya hubungan apapun dengannya!" jelas Zee penuh penekanan.


"Kedua, aku nggak sedang enak-enak sama tuh cecurut! Karena gara-gara cecurut itu hidup aku berantakan! Tapi syukurlah aku di pertemukan dengan orang yang tepat!"


"Hah, maksud kamu apa sih? Kamu punya gebetan baru!" Echa tidak paham.


"Susah ngejelasinnya!"


"Jelasin dong, aku siap kok dengerin cerita kamu!"


Belum sempat Zee menjelaskan, dosen masuk untuk mengajar. Sekitar dua setengah jam pelajaran baru selesai. Karena Echa merasa lapar dan haus, Echa mengajak Zee untuk ke kantin. Sambil menunggu suaminya menjemput, karena Alan akan istirahat jika pas jam makan siang, Zee memutuskan menemani Echa makan, namun Zee memilih pesan minuman saja. Sambil menunggu pesanan, tidak di sangka di kantin bertemu Ratu, biang masalah.


"Hey, lihat! Siapa yang duduk di sini? Seorang pengantin baru!" ucap Ratu, namun tidak ditanggapi oleh Zee, Echa yang mendengar merasa bingung.


"Aduh, yang jadi pengantin baru, tapi pengantin laki-lakinya gak baru!" ejek Ratu.


"Ha .... ha .... ha!" Ratu dan teman-temannya tertawa mengejek.


"Apa sih maksud kamu?" marah Echa.


"Hush .... hush ... hush! Aku nggak ada urusan sama tikus kecil kayak kamu!" hina Ratu.


"Udah, Ca! Jangan di urusin!" bela Zee.


"Aku nggak bisa ngebiarin nih orang hina sahabatku!"


"Hina? Siapa yang menghina? Aku ngomong sesuai fakta ko, emang sahabat tercinta kamu nggak cerita, kalau dia menikah sama pria yang udah karatan alias Om-om!"


"Ha ... ha ... ha!"


"Apa??" Echa hampir tidak percaya dengan ucapan Ratu.


"Kalau kamu nggak percaya! kamu bisa tanyakan sendiri ke sahabat kamu!"


"Ha ... ha ... ha."


"Byeeeee." Ratu dan teman-temannya berlalu pergi.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2