Om I Love You

Om I Love You
Episode 108


__ADS_3

Zee mencoba untuk menghubungi suaminya lagi, kali ini ponsel suaminya aktif. Hatinya pun serasa tenang, namun masih belum diangkat.


Hingga ke-lima kalinya, baru suaminya mengangkat telpon dari Zee.


"Assalamualaikum?"


"Papih kemana saja? Kenapa ponselnya tidak aktif? Apa yang terjadi? Ada apa? Apakah Papih ada masalah?" cecar Zee kepada suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Walaikumsalam," jawabnya.


"Satu-satu dong, Sayang! Bagaimana papih mau menjawab kalau pertanyaan Mamih begitu banyak," sungutnya, membuat Zee tersenyum geli.


"Mamih, ada dimana?" tanya suaminya.


"Mamih sudah dikantor," jawabnya.


"Kalau begitu, tunggu papih di sana! Sekarang Papih pulang," ucap Alan.


"Oke, Mamih tunggu! Jangan lama-lama, nanti Mamih ngambek?" tutur Zee.


"Iya, Sayang," ucapnya.


Setelah urusan dengan polisi selesai, Alan langsung pulang menemui istrinya di kantor. Sebelumnya ia memerintahkan Anna, agar Anna bisa mengurus sisanya di kantor polisi, atas kasus yang terjadi pada hari ini. Alan pulang dengan tergesa-gesa, ia takut kalau istrinya ngambek. Maka akan sangat susah untuk mengobati istrinya yang ngambek. Dengan kecepatan tinggi, Alan melajukan kendaraannya. Sampai diparkiran dia langsung berlari-lari untuk menemui sang istri.


Melihat bos-nya berlari-lari seperti itu, tentu saja membuat semua karyawannya bertanya-tanya didalam hati. Alan sudah sampai di depan kantor, hatinya agak takut. Pasti istrinya sudah mulai memasang tanduknya di kepala, dia harus bisa menyiapkan mental dan sumbat telinga yang besar. Alan memulai membuka pintu kantornya dengan pelan. Zee sedang duduk di kursi kebesaran suaminya, sambil membaca-baca buku yang ada di rak lemari belakang tempat duduknya.


"Assalamu'alaikum, Sayang?" salam Alan.


"Walaikumsalam," jawabnya sambil menoleh ke arah suaminya, dengan muka yang cemberut.


"Kok baru pulang? Dari mana saja? Kenapa ponselnya tidak aktif? Ngapain di kantor polisi? Apakah papih melakukan tindakan kriminal? Atau jangan-jangan Papih korupsi?" cecar Zee.

__ADS_1


"Hah," Alan membulatkan matanya.


"Ish, Sayang! Kamu ini bagaimana? Ini kan Perusahaan ku! Masa aku korupsi di Perusahaan sendiri," cibir suaminya.


"Ha ... ha ... ha."


"Eh, iya, Mamih lupa!" ucap Zee sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lalu Papih darimana?" manyun Zee.


"Papih dari kantor polisi! Melaporkan kasus!" ucapnya.


"Melaporkan kasus? Memangnya siapa, Pih? Apakah ada yang macam-macam dengan Papih?" ujarnya.


"Silvi, Mih! Ternyata dalang dari semua ini adalah Silvi," ujarnya. "Silvi yang telah mencuri data Perusahaan Papih, dan dia juga yang menyuruh orang untuk melakukan penyerangan itu," jawab Alan lagi.


"Serius, Pih? Jadi benar dugaan Mamih! Dia memang wanita gila!" ucap Zee. "Apakah dia tertangkap?" tanya Zee kemudian.


"Memang apa motifnya, Pih?" tanya Zee.


"Dendam! Dia berfikir, kalau keluarga Xaquille lah penyebab ayahnya di penjara! Dan yang lebih parahnya lagi, dia juga menyalahkan kami atas sesuatu yang terjadi padanya, selama dia tinggal di Australia," jelas Alan.


"Memangnya apa yang terjadi padanya, Pih? Sampai dia berbuat nekad?"


"Hah, entahlah, Sayang!" jawab Alan, ia tidak mau istrinya terlalu memikirkan masalah Silvi.


"Mamih sudah makan?" tanya Alan.


"Belumlah, Pih! Tapi Mamih sudah makan cemilan," ujarnya sambil menunjuk ke arah cemilan-cemilan yang dibelinya tadi di Supermarket. Alan sampai melongo di buatnya, pasalnya sebegitu banyaknya makanan, habis dimakan sendiri oleh istrinya.


"Pih, katanya mau makan siang?" tanya Zee.

__ADS_1


"Mamih masih mau makan?" tanya Alan.


"Iyalah, kan Mamih belum makan siang!" ujarnya.


"Hah, Astaga! Lima roti lapis habis dia makan, masih mau makan siang!" batin Alan.


"Ayo, Pih!" ajaknya. Zee menarik tangan suaminya, untuk makan siang di luar. Perutnya juga masih lapar. Semenjak hamil, kalau belum makan nasi, rasanya belum kenyang. Zee meminta suaminya untuk mencari rumah makan Padang, karena hari ini dia ingin makan dengan daun singkong dan sambal hijau. Dan Rumah makan Padang adalah tempat makanan yang menyajikan menu daun singkong dengan sambel hijaunya yang paling enak.


Alan memesan dua porsi nasi Padang beserta lauk-pauknya, namun yang membuat Alan heran, istrinya hanya memilih daun singkong dan sambel hijaunya saja, padahal banyak lauk yang tersaji di meja makan.


"Kenapa lauk-pauknya tidak di makan?" tanya suaminya.


"Baby nya cuma mau daun singkong sama sambelnya saja, Pih," ucapnya sambil tersenyum.


"Astaga! Dibela-belain datang ke sini, cuma makan daun singkong!" cemberut suaminya.


"Hi ... hi ... hi." tawa Zee.


"Ini kemauan anak kita, Pih!" ujarnya.


Selesai makan siang, Alan langsung mengantarkan istrinya pulang ke rumah. Badannya juga sangat lelah, ia juga memutuskan untuk pulang saja. Sampai di rumah mereka turun dari mobil, mama yang sangat penasaran dengan cerita putranya, sudah menunggu di depan teras. Zee memeluk mama mertuanya, dan mencium punggung tangan mama mertuanya. Setelah masuk dan duduk di ruang tamu, mama mencecar suaminya dengan banyak pertanyaan. Membuat Zee pusing mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan mama mertuanya kepada sang suami, ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar terlebih dahulu.


Alan menceritakan semuanya kepada mama, mama sampai kesal mendengar cerita Alan. Sangat kesalnya, papa yang baru datang, langsung mendapat omelan dari Mama. Mereka pun berdebat hebat karena masalah Silvi, hingga papa capek sendiri mendengarkan omelan mama. Ia pun meninggalkan mama yang masih ngomel-ngomel. Alan yang mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, hanya tersenyum geli. Pasalnya, jika mama sudah mengomel, papa akan langsung meninggalkan mama begitu saja. Karena menurut papa, ia tidak akan menang melawan mama.


Alan pun menyusul istrinya masuk ke kamar, terlihat istrinya hanya memakai daster yang ukurannya sangat minim sekali. Membuat paha mulus dan putih istrinya nampak dengan sangat jelas. Tentu saja adik yang dibawah sana, meronta-ronta ingin memakan mangsa. Alan langsung masuk ke kamar mandi, dan mengganti bajunya dengan memakai jubah mandi. Zee yang melihat itu mengernyitkan alisnya, tatapan mata suaminya tidak jauh dari area terlarang istrinya. Tentu saja bisa dipastikan sang suami akan menyeruduk dirinya, disiang bolong seperti ini.


Peluh dan keringat bercampur menjadi satu, kain sprei yang baru saja diganti, kembali kotor akibat keringat dan peluh mereka. Mereka melakukan ritual suami istri sampai menjelang sore, hingga tubuh sang isteri terasa sangat lemas, barulah sang suami menghentikan aksi menyeruduk gawang istrinya.


Alan melihat istrinya tertidur dengan pulas, ia pun menyelimuti tubuh sang istri yang masih polos. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Karena akan melaksanakan sholat ashar. Selesai mandi, ia membangunkan sang istri untuk bersih-bersih, takutnya keburu mama Sarah datang. Biasanya kalau sore-sore begini, sang mama akan mengajak istrinya berjalan-jalan keliling komplek, sekedar mengenalkan kepada para tetangga samping rumah.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2