
""Hey, lihat! Siapa yang duduk di sini? Seorang pengantin baru!" ucap Ratu, namun tidak ditanggapi oleh Zee, Echa yang mendengar merasa bingung.
"Aduh, yang jadi pengantin baru, tapi pengantin laki-lakinya gak baru!" ejek Ratu.
"Ha .... ha .... ha!" Ratu dan teman-temannya tertawa mengejek.
"Apa sih maksud kamu?" marah Echa.
"Hush .... hush ... hush! Aku nggak ada urusan sama tikus kecil kayak kamu!" hina Ratu.
"Udah, Ca! Jangan di urusin!" bela Zee.
"Aku nggak bisa ngebiarin nih orang hina sahabatku!"
"Hina? Siapa yang menghina? Aku ngomong sesuai fakta ko, emang sahabat tercinta kamu nggak cerita, kalau dia menikah sama pria yang udah karatan alias Om-om!"
"Ha ... ha ... ha!"
"Apa??" Echa hampir tidak percaya dengan ucapan Ratu.
"Kalau kamu nggak percaya! kamu bisa tanyakan sendiri ke sahabat kamu!"
"Ha ... ha ... ha."
"Byeeeee." Ratu dan teman-temannya berlalu pergi. Echa menatap tajam ke arah Zee, meminta penjelasan.
"Duduklah dulu, Ca!" Zee mencoba menenangkan sahabatnya.
"Apakah yang di katakan Ratu benar?"
"Jadi selama 10 hari ini, kamu izin gak masuk, kamu menikah, Zee?" Echa semakin penasaran.
"Jawab dong, Zee, jangan diem saja!"
"Iya, aku menikah, dan yang di katakan Ratu benar, aku menikah sama Om-om, dan kamu tahu, itu Omnya Yuda !" lirih Zee.
"Apaaaaaaa??" mata Echa membulat sempurna.
"Bagaimana bisa?"
Zee pun menceritakan awalnya, hingga ia terpaksa menikah dengan Om nya Yuda. Echa yang mendengarkan merasa miris dan marah dengan perbuatan Yuda.
"Bisa-bisanya Yuda berbuat seperti itu?" marah Echa.
"Kalau aku ketemu sama Yuda, aku becek-becek kaya rujak!" selorohnya.
"Sudahlah, Ca, aku ikhlas ko menjalaninya!" kata Zee.
"Gak bisa gitu dong ,Zee ! sekarang kamu nikah sama om-om gendut, jelek, botak, hidup lagi! pokoknya nggak aku biarkan!"
"Apa?" heran Zee.
"Gendut, jelek, botak! Echa ... Echa! Dia belum tahu siapa suami aku? Kalau Echa tahu bisa mati muda dia!" Zee tersenyum simpul dalam hatinya.
"Udah, dulu yah, Ca, suami aku sudah di depan kampus, dia sudah menjemput!"
"Bye .... bye, Echa!" pamit Zee melambaikan tangannya. Sedangkan Echa kesal karena, di tinggal begitu saja.
"Dasar, Zee! aku kan belum selesai ngomong!" kesal Echa, diam-diam Echa membuntuti Zee sampai parkiran. Zee masuk ke mobil mewah itu lagi, namun Echa tidak bisa melihat rupa dari Om-om itu.
"Dasar, Om tidak tahu diri, maunya sama daun muda! Tidak sadar apa dirinya tua, peot, tua renta, harusnya kamu tuh sama nenek lampir saja, huh, dasar!" kesal Echa berdialog dengan dirinya sendiri.
Mobil melaju meninggalkan kampus, Zee yang masih mengingat ucapan sahabatnya masih senyam-senyum saja, sahabatnya mengatai suaminya pria gendut, jelek dan botak.
Zee tidak bisa menahan ketawanya, membayangkan wajah suaminya memang seperti itu.
"Ha ... ha ... ha." tawa Zee pecah.
"Ada apa sih?" tanya suaminya heran.
"Gak apa-apa, Om!"
"Di kampus, tadi ada kejadian lucu banget!" jawabnya.
__ADS_1
"Kejadian apa?" tanya suaminya.
"Ah, bukan apa-apa Om!"
"Jangan di pikirkan!"
"Ish, kau ini!"
"Oya, Om, Zee lapar! Kita makan yuk?" ajak Zee.
"Boleh, kita mau makan di mana?"
"Di Restoran itu saja, Om!"
"Baiklah!"
Mobil mereka pun berhenti di sebuah Restoran yang sangat terkenal. Alan menggandeng tangan istrinya memasuki Restoran, Alan mempersilahkan istrinya duduk terlebih dahulu, baru dirinya duduk.
"Mau pesan apa?" tanya suaminya.
"Sama saja, deh sama, Om!"
"Kami pesan dua porsi nasi, ayam bakar mentega, kepiting saus tiram dan cumi goreng tepung!"
"Untuk minumannya dua orange jus, dan yang satu tanpa gula!" ucap Alan kepada pelayan.
"Di tunggu pesanannya yah, Pak!" jawab pelayan.
"Terima kasih, Mba !" jawab mereka.
Zee mengeluarkan Black Card dari dompetnya, yang kemarin-kemarin pernah di pinjamkan Alan kepada istrinya.
"Ini Om, kartunya Zee kembalikan!" ucap Zee sambil menyodorkan Black Card.
"Kenapa di kembalikan?" tanya Alan.
"Ini kan punya, Om, tentu harus Zee kembalikan dong!"
"Apa? Buat Zee? Jangan, Om," tolak Zee.
"Ini kan milik, Om, pasti Om membutuhkannya!"
"Lagian Zee buat apa?"
"Kuliah saja, Om sudah membiayai semuanya!"
"Masa iya, Zee harus menerima semua ini!" jujurnya.
"Zee, kamu istriku, jadi sudah sepantasnya kamu menerima semua ini! Simpanlah Black Card itu, kamu bisa mentraktir teman-teman mu atau menggunakan untuk keperluanmu!"
"Dan aku tidak mau penolakan!" tegas Alan.
"Baiklah, kalau begitu!"
"Tapi jangan salahkan Zee yah, kalau uang Om habis karena Zee pakai !" goda Zee.
"Ish, kau ini! Sampai tujuh turunan uangku tak akan habis!" sombong Alan.
"Ih, Om sombong!"
"Ha ... ha ... ha." mereka tertawa bersama.
Tidak menunggu lama, hidangan sudah tersaji di meja makan. Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar.
Selesai makan Alan mengantarkan Zee pulang ke rumah, di sana sudah ada mama Sarah menunggu di depan rumah.
"Mama?" panggil Zee.
"Mama sudah lama menunggu di sini?"tanya Zee.
"Gak kok, mama baru sampai!" jawab Mama.
"Ayok, Mah, masuk!" Alan membuka pintu dan mempersilahkan mama nya masuk.
__ADS_1
"Papa gak ikut, Ma ?" tanya Alan.
"Gak, papa sedang sibuk dengan burung perkututnya!" jawab mama sekenanya.
"Burung perkutut?" heran Zee.
"Ya sudah, Alan tinggal dulu! Alan masih banyak kerjaan." setelah berpamitan kepada kedua wanita yang di sayanginya, what ??????? sayang ???? Oh, Alan apakah sudah ada rasa cinta di hati mu untuk Zee ??🤣🤣🤣
"Sini, Sayang, duduk! Mama mau tanya-tanya nih?"
"Tanya apa, Mah?" Zee penasaran.
"Bagaimana? Apakah bentengnya sudah ambrol?" tanya mama aneh.
"Benteng?" Zee semakin tidak mengerti.
"Ish, Kau ini! Masa tidak mengerti ! maksud mama, Apakah Alan sudah menggunakan tanduknya untuk menyeruduk benteng mu?" ujar mama lagi.
"Ah, Zee gak ngerti dengan apa yang mama bicarakan?"
"Seruduk apa? Tanduk apa? Benteng apa? Zee nggak ngerti !" polos Zee.
"Kalau sapi tanduknya di atas, kalau Alan tanduknya di bawah!"
"Ha ... ha ... ha ." tawa mama.
"Kamu mengerti kan!" setelah mama bicara masalah tanduk di bawah, Zee baru ngeh.
"Ah, Mama! Benteng Zee masih utuh, Ma, belum ambrol!" jawab Zee polos.
"Kok bisa?" tanya mama lagi.
"Zee takut, Ma! katanya sakit kalau di sruduk!"
"Aduh, Kenapa takut, Sayang?"
"Nyatanya banyak orang yang kesakitan, tapi minta nambah terus!"
"Berarti itu enak kan, Sayang?"
"Ibaratnya seperti kita makan sambel, tahu sambelnya pedas, tapi merasa enak cocol terus, bikin nagih kaya sambelnya Pak Somad!" jawab mertuanya meyakinkan.
"Tapi ma ...... ?" Zee nampak berpikir.
"Nih, mama bawa sesuatu buat kamu!"
Mama menyerahkan paper bag besar kepada Zee.
"Apa ini, Ma?"
"Itu ramuan-ramuan herbal, biar kamu dan Alan makin GRENG!!!"
"Dan ini lulur biar tubuh kamu selalu harum, benteng kamu tambah sempit, sesek dan seret! tanduk Alan susah buat masuk!"
"Ha ... ha ... ha ." tawa mama.
"Ih, mama bisa saja, Zee malu, Ma!" jawab Zee malu-malu.
"Jangan malu-malu, kita sama-sama perempuan, kalau yang kayak begini kamu harus belajar banyak dari mama!"
"Lihat tuh papa mertua kamu, satu Minggu sampai lima kali, gempur terus, walaupun umur sudah tidak muda lagi!"
"He .... he .... he !" kekeh mama.
"Iya deh, nanti Zee belajar banyak dari mama!"
"Bagus-bagus, mama suka!"
Banyak sekali nasehat-nasehat yang di berikan mama Sarah kepada Zee, ada nasehat yang bikin Zee merinding ada juga nasehat bijak yang bisa di ambil. Setelah selesai memberikan Zee petuah, mama pun pulang di jemput sopir pribadinya.
"Hati-hati ya, Ma!" mobil mama melaju meninggalkan rumah Zee.
to be continued.....
__ADS_1