
Syukuran empat bulanan
Acara akan segera dimulai, semua para tamu undangan juga sudah hadir. Termasuk Papa Aghar dan Mama Nola. Ada Ratu, Elmar dan Bibi Hamidah juga turut merayakan syukuran empat bulanan Zee. Echa dan Pak Ridwan juga turut hadir memenuhi undangan khusus dari Zee. Mereka duduk di barisan paling depan para tamu undangan. Pembawa acara sudah memulai acaranya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Setelah itu, tausiyah yang di sampaikan oleh seorang ustadz yang cukup ternama di kotanya.
Sang ustadz memberikan tausiyah mengenai amanah dari Allah untuk menjaga dan merawat buah hati kita selama didalam kandungan. Zee mendengarkannya dengan seksama, seperti halnya Ratu. Dia juga sangat antusias mendengarkan tausiyah yang disampaikan Pak Ustadz tersebut. Selesai memberikan tausiyah, dilanjutkan dengan do'a bersama untuk keselamatan ibu dan bayinya sampai persalinan nanti. Zee dan suaminya berdo'a dengan khusyuk, meminta kepada Sang Maha Pencipta untuk memberikannya kesehatan dan keselamatan sampai proses persalinannya nanti.
Selesai berdoa, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Semua para tamu undangan menikmati makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah. Makanan yang akan dibagi-bagikan untuk Panti Asuhan juga sudah siap. Mama Sarah menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk membagi-bagikan makanan dan amplop untuk beberapa Panti Asuhan di kota tersebut. Semuanya menikmati acaranya, hingga di penghujung acara, mereka berpamitan sekaligus mendo'akan calon ibu dan bayinya supaya selalu sehat sampai persalinan nanti. Zee mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu-ibu tersebut atas do'anya.
Disusul oleh Papa dan Mama juga memberikan ucapan do'a kepada Zee dan suaminya, Zee sangat bahagia karena kedua orang tuanya bisa hadir dalam acara ini. Dilanjut dengan ucapan doa juga dari Ratu, Elmar dan Bibi Hamidah. Dan terakhir ucapan selamat dan do'a dari sahabatnya Echa. Mereka saling berpelukan, Echa juga ikut merasakan kebahagiaan Zee. Dia masih belum percaya, sahabat baiknya yang terkenal tomboi dan jago berkelahi sedang berbadan dua dan segera akan memiliki bayi. Mereka semua pun berpamitan untuk pulang, karena hari pun sudah malam. Papa mengajak Ratu, Elmar dan Bibi Hamidah untuk menginap di rumahnya. Karena tidak mungkin mereka langsung pulang ke Bogor.
Setelah mobil Papa sudah tidak terlihat lagi, Zee dan Alan pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Mama. Zee nampak kelelahan, dan Alan menyuruh istrinya untuk beristirahat di kamar, namun Zee menolak karena ia ingin ke kamar bersama suaminya. Mama Sarah pun menyuruh putranya untuk menemani istrinya di kamar.
Alan membopong tubuh istrinya ala bridal style menuju kamarnya. Zee menautkan tangannya di leher suaminya, Mama dan Papa merasa sangat bahagia melihat ke romantisan keduanya. Membuat Papa iri ingin kembali muda seperti dulu, masih macho dan kuat membopong tubuh Mama Sarah ala karung terigu. Sekarang tubuh Mama Sarah juga sudah agak gemukan, Papa Harun juga tidak akan kuat membopong tubuh gempal istrinya. Bisa-bisa pinggangnya akan patah kalau dia mencoba memaksa membopong tubuh istrinya.
"Pa, Mama jadi ingin dibopong seperti Zee!" pinta istrinya.
"Hah," papa melongo tidak percaya dengan permintaan aneh istrinya.
"Papa nggak kasihan, Mama sudah sangat lelah dan letih," ucapnya lagi.
"Aduh bagaimana yah? Kalau menolak pasti Mama akan cemberut," batinnya. Tanpa aba-aba pun papa membopong tubuh istrinya seperti yang Alan lakukan kepada Zee. Baru berjalan tiga langkah, tiba-tiba papa mengaduh kesakitan.
Kreeeeek ...
"Auw," sontak papa menjatuhkan tubuh Mama Sarah yang gempal itu.
"Aduh," mama mengaduh kesakitan.
"Ih, Papa! Mama kok di jatuhin! Papa pikir tubuh Mama karung terigu!" marah mama.
__ADS_1
"Aduh, Ma! Pinggang Papa patah! Gara-gara menggendong tubuh Mama yang gempal," cakapnya.
"Enak saja! Tubuh bak gitar Spanyol dibilang gempal!" kesal Mama, memajukan bibirnya.
"Hah, gitar Spanyol? Papa rasa Mama kayak kendang, bulat dan bundar!" jujur suaminya.
"Ish, Papa jahat banget! Teganya mengatai Mama seperti kendang!" manyun istrinya.
"Aduh, Ma, pinggang papa sakit banget nih!" suaminya mengaduh kesakitan.
"Aduh, Bagaimana ya?" bingung Mama.
"Mama panggilkan tukang pijat," ujarnya. "Sebentar, Pa! Mama akan suruh si Mimin untuk memanggilkan tukang pijat," ujar istrinya.
"Cepatlah, Ma! Pinggang papa sakit nih!" rengek suaminya. Kemudian Mama memanggil salah satu ART nya, memanggil tukang pijat kampung untuk datang ke rumah.
Tidak menunggu lama, tukang pijat yang rumahnya tidak terlalu jauh dengan kediaman Xaquille pun datang. Alan yang kebetulan berpapasan dengan tukang pijat itu merasa heran.
"Itu tukang pijat, Tuan!" jawabnya.
"Buat siapa?" tanya Alan.
"Tuan besar," jawabnya lagi.
"Papa," Alan nampak bertanya-tanya didalam hatinya. Dia pun memutuskan untuk menghampiri kamar papa dan mamanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Alan kepada mamanya, karena berkali-kali papa berteriak kesakitan saat dipijat.
"Itu, pinggang Papa patah!" jawab Mama.
__ADS_1
"Patah? Kok bisa patah?" tanya Alan lagi.
"Tadi Papa berusaha gendong Mama!" lirihnya.
"Hah, Kok bisa sih?" tanya Alan tambah heran.
"Ya, bisa dong, Nak! Mama tuh iri sama kemesraan kamu dan Zee, makanya Mama minta gendong Papa! Ternyata kejadiannya akan seperti ini," sesal Mama.
"Astaga! Papa dan Mama ada-ada saja! Kenapa kalian nggak ingat umur sih?" hardik Alan.
"Ish, kau ini! Malah mengatai kami seperti itu! Mama mana tahu akan terjadi seperti itu!" ucap Mama nggak mau kalah.
"Wajar kalau pinggang Papa patah, kan Papa sudah tua!" jelasnya.
"Mah, bukan karena masalah tua! Alan yang masih muda saja, kalau menggendong badan Mama, pastinya Alan juga akan mengalami hal yang sama!" ucap Alan.
"Jadi menurut kamu, Mama gendut gitu?" cakapnya, "Padahal Mama sering berolahraga untuk menurunkan berat badan Mama," lirihnya. Alan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menyaksikan sikap absurd kedua orang tuanya.
Sekembalinya Alan ke kamar, dia melihat istrinya sudah lebih segar dan sangat wangi. Alan memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menciumi rambut istrinya yang sangat wangi.
"Pih? Ada apa sih dibawah? Kok ramai sekali?" tanya Zee.
"Itu, Papa pinggangnya patah," ujar Alan, Zee membulatkan matanya.
"Patah? Papih jangan bercanda deh! Nggak lucu," ucap Zee.
"Iya, Papih nggak bohong kok!"
"Kok bisa sih?" tanya Zee penasaran. Alan pun menceritakan kejadiannya kepada istrinya, Zee tertawa terbahak-bahak, dia tidak percaya kedua mertuanya akan melakukan hal yang sangat lucu.
__ADS_1
Tiga hari menginap di rumah Mama, Zee merasa sangat bahagia. Alan dan istrinya pun kembali ke rumahnya sendiri. Sebenarnya Zee masih ingin menginap di rumah mama mertuanya. Namun apalah daya, besok pagi Zee dan suaminya akan kembali ke rutinitasnya masing-masing.
to be continued.....