
EmpatTahun Kemudian
Seorang wanita sedang hamil besar, menggandeng tangan anak perempuannya di sebuah toko perlengkapan bayi. Perempuan tersebut adalah Zee, dia sedang hamil anak keduanya, disaat Aisha berusia empat tahun. Aisha tumbuh dengan sangat baik dan lincah. Zee sedang memilih baju-baju untuk calon bayinya yang sedang ia kandung. Sedangkan suaminya sedang memilih box bayi dan beberapa mainan untuk calon anaknya.
Diprediksi oleh Dokter kandungan, calon anak yang berada di perut Zee berjenis kelamin laki-laki. Zee dan suaminya pun mencari perlengkapan bayi untuk anak laki-laki. Alan juga memilih box bayi dengan warna biru, dan beberapa mainan untuk anak laki-laki.
Di dalam toko perlengkapan bayi, Aisha merajuk ingin juga dibelikan mainan seperti calon adiknya. Papihnya sudah membelikan Aisha boneka berbie, tapi, Aisha menolaknya mentah-mentah. Dia sangat tertarik dengan mainan milik adiknya.
"Pokoknya, Aish maunya obil-obilan," ucap Aisha memberengut kesal. Aisha memang masih belum jelas mengucapkan kata-kata.
"Tapi, Aish kan perempuan! Masa perempuan mainan mobil-mobilan?" tanya Zee ke Aisha.
"Ndak au! Pokoknya semua ainan adik buat Aish," jawabnya sangat lucu, membuat Papihnya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena pusing dengan tingkah laku putri cantiknya.
"Ya sudah, nanti Papih belikan mobil-mobilan untuk Aish! Sekarang jangan menangis lagi ya? Kam malu dilihatin orang," ujar Papanya.
"Biarin," sungutnya. Alan melirik ke arah istrinya, Zee hanya menaikkan bahunya saja, dia menyerah membujuk Aisha yang sangat keras kepala. Terpaksa semua mainan yang Alan beli, dia berikan untuk Aisha.
Setelah membayar semua barang-barang belanjaan, mereka pun memutuskan untuk makan siang di mall tersebut. Semua barang-barang yang Alan beli, semuanya akan dikirim ke alamat rumahnya.
Mereka bertiga memasuki Restaurant yang menyajikan makanan Indonesia. Mereka memilih duduk di dekat jendela. Zee memesan tiga porsi nasi dan ayam bakar, cumi tepung, tumis telor ikan dan lain-lain. Zee menyuapi Aisha terlebih dahulu, selesai menyuapi Aisha barulah dia bisa makan. Aisha tidak bisa duduk dengan tenang, sedari tadi dia melompat ke sana kemari. Membuat Papih dan Mamihnya pusing tujuh keliling.
"Sayang! Duduklah!" perintah Zee kepada putrinya.
"Mamih, anak itu menatap Aish tadam!" ujarnya.
"Siapa?" tanya Zee menoleh ke arah seorang anak kecil yang mungkin usianya lebih tua dari Aisha.
"Tidak! Dia hanya ingin berkenalan denganmu," ujar Zee.
__ADS_1
"Ndak Mamih! Dia melotot ke alah Aish" ujarnya lagi.
"Nggak, Sayang! Matanya memang besar dan bulat seperti jengkol," ujar mamihnya.
"Tapi, Mih ....!" Aisha menjeda kalimatnya.
Namun Zee tidak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan oleh putrinya. Dia asyik mengobrol dengan suaminya. Tiba-tiba saja anak tersebut menangis kencang, membuat semua mata tertuju kepada mereka.
"Aish, Apa yang kamu lakukan?" tanya Zee, melihat putrinya sudah melayangkan tinju kepada anak tersebut.
"Dia melotot kepadaku! Dia juga menjululkan lidahnya yang jelek kepada Aish! Aish pukul saja," sungutnya.
Zee dan Alan saling berpandangan, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan putrinya. Alan dan Zee merasa tidak enak dengan orang tua anak tersebut. Mereka pun meminta maaf atas kejadian tersebut. Alan langsung membayar semua makanannya, dan pergi meninggalkan Restaurant tersebut.
Didalam mobil, Aisha terlihat kelelahan. Dia tertidur di kursi belakang, dengan berbantalkan paha Zee.
"Sayang, sepertinya kalau sudah besar, dia akan seperti dirimu yang sangat suka berkelahi," goda suaminya.
"He ... He .... He." tawa suaminya.
Tidak terasa mobil yang dikendarai suaminya sudah sampai didepan rumah, Opa dan Oma nya sudah menunggu mereka di depan rumah. Opanya membantu Zee membopong tubuh mungil Aisha, tidak mungkin juga Zee membopongnya sendiri.
"Astaga, Anak ini tertidur di dalam mobil," ucap Omanya.
"Iya, Ma! Aish tertidur di mobil," jawab Zee. "Terima kasih banyak, Pah!" Zee bisa bernafas lega.
"Hati-hati, Sayang! Perutmu sudah semakin besar," tutur Mama.
Alan langsung membantu istrinya untuk berdiri, karena memang usia kandungan Zee sudah menginjak usia delapan bulan. Jadi, tubuhnya terasa berat dan susah beraktivitas. Papa meletakkan tubuh mungil Aisha di tempat tidurnya. Setelah berusia empat tahun, Zee mengajari putrinya untuk tidur di kamarnya sendiri. Awalnya memang menolak, tapi, selama satu Minggu ditemani oleh Papihnya tidur di kamarnya sendiri, Akhirnya Aisha terbiasa tidur di kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Apakah dia rewel?" tanya Mama sambil membenarkan posisi tidur Aisha.
"Hah, bukan hanya rewel! Dia juga sudah menarik perhatian banyak orang di Restaurant," sahut Zee kesal, membuat Mama Sarah tertawa. Tentu saja, karena memang Aisha anak yang sangat cerdas dan aktif.
"Kenapa memangnya?" tanya Mama lagi.
"Seperti biasa, Ma! Jika sudah melihat mobil-mobilan, dia akan merengek memintanya!! Padahal Papihnya sudah membelikan Aish boneka, eh, malah mintanya mobil-mobilan," kesal Zee.
"Namanya juga anak kecil! Dia itu merasa iri karena sebentar lagi kasih sayangnya akan tergantikan dengan adiknya," terang Mama.
"Sepertinya nanti akan ada Zee kedua, Ma," celetuk Alan sambil tersenyum.
"Lho, kenapa?" tanya Mama heran.
"Di Restaurant, Aish habis pukul anak, gara-gara nggak terima diledekin," ujar Alan, tentu saja membuat Mama Sarah tertawa geli. Pasalnya, Aisha benar-benar mirip dengan Zee yang suka main pukul sembarangan.
"Ish, Papih ini! Sekarang kan nggak, Pih! Mamih sudah menjadi wanita yang feminim, nggak banyak tingkah, penurut dan pendiam," jawabnya. Membuat Mama mertua dan suaminya terkekeh.
Di lain sisi, Ratu juga sedang kerepotan mengurus dua balita yang masih membutuhkan perhatian, yaitu Arsy dan adiknya Reno. Saat Arsy berusia satu tahun, Ratu sedang mengandung anak dari Elmar. Dan sekarang Ratu memiliki dua jagoan kecil yang sangat menggemaskan. Hubungan Elmar dan Ratu menjadi semakin lengket dan romantis, apalagi ditambah dengan kehadiran Reno. Namun kasih sayang keduanya tidak berkurang untuk Arsy.
Elmar yang ulet dalam bekerja sudah menjadi seorang petani bunga yang sukses, dia memperluas lahan di desanya untuk menanam bunga Krisan, dan bukan hanya bunga Krisan, Elmar juga menanam bunga sedap malam, rekomendasi dari pusat. Dan sekarang tempat kelahirannya sudah menjadi sebuah tempat pariwisata yang diminati oleh masyarakat luar daerah, bahkan luar negeri. Dia juga membangun rumah mewah di tempat kelahirannya. Elmar sengaja memboyong semua keluarganya ke Bogor. Sekarang mereka hidup bahagia di Bogor bersama istri dan kedua anaknya. Sedangkan Ibu Hamidah menutup usia disaat Arsy kecil berusia dua tahun. Saat itu Ratu harus bersusah payah mengurus dua anaknya. Apalagi setiap dua Minggu sekali, dia sering ditinggal suaminya ke Bogor. Ratu pun merasa sangat kerepotan. Elmar yang merasa tidak tega melihat istrinya kerepotan, dia berencana untuk membeli lahan dan membuat rumah dengan hasil keringatnya sendiri. Dan sekarang, dirumah itulah mereka hidup harmonis dan bahagia. Sedangkan rumah pemberian Om Alan, ia sewakan kepada stasiun televisi untuk syuting sinetron. Dan hasilnya juga lumayan untuk menambah pundi-pundi di rekeningnya.
Walaupun dia menjadi orang yang sukses, namun Elmar tidak pernah sombong, semua warga masyarakat di desanya sudah dia anggap sebagai keluarga. Dan mereka yang bekerja di perkebunan Elmar pun merasa senang dan bahagia, sebagian dari warga yang merantau pun berbondong-bondong pulang ke tempat kelahirannya dan meminta pekerjaan kepada Elmar. Dengan senang hati Elmar menerima mereka sebagai karyawannya.
to be continued....
******************************************
Baca juga karyaku yang lain, ceritanya juga seru dan ada sedikit bawang Bombay nya, siap-siap tisu dan cemilan.
__ADS_1