
Sekembalinya Aisha ke rumah, mereka yang ada dirumah mertuanya bersorak gembira. Akhirnya Alan dan Zee bisa membebaskan Aisha dari para penculik. Namun melihat Zee bersama Alan, itu yang membuat Mama Sarah bertanya-tanya di dalam hati.
"Tunggu .... tunggu!" seru Mama Sarah kepada rombongan Alan, Zee, Elmar dan Aisha. "Bukankah tadi kau berpamitan akan pergi ke rumah Papa dan Mama kamu? Kok bisa bersama suami kamu?" tanya Mama penasaran, Zee hanya terkekeh geli.
"Menantu kesayangan Mama ini, menyusul suaminya ke tempat Aisha di culik! Dan yang lebih menghebohkan lagi, dia melumpuhkan para penculik itu dengan tangannya sendiri, tanpa memikirkan keselamatan nyawanya," jelas Alan kepada Mama Sarah.
"What?" Mama hanya geleng-geleng kepala saja. "Kau ini memang benar-benar bandel! Bagaimana kalau sesuatu terjadi dengan kamu dan calon bayi kamu?" kesal Mama, Zee hanya cengengesan saja.
"Mau bagaimana lagi, Ma? Zee tidak bisa hanya berpangku tangan, sedangkan yang diculik itu anak Zee sendiri," jelasnya. "Zee akan melakukan apapun untuk keselamatan orang-orang yang Zee sayangi," imbuhnya lagi.
"Ha ..... Ha ..... Ha."
"Kau memang sangat istimewa, Nak! Pantas saja suami mu begitu mencintai kamu! Tapi, Papa bangga, kamu mempertaruhkan nyawa demi Aisha," kata Papa Harun. "Sekarang Aisha sudah ketemu, kami semua sangat bersyukur! Dan untuk mensyukurinya, Papa akan mengadakan acara syukuran dan doa bersama khusus untuk keluarga besar kita," ucap papa.
"Wah, syukuran, Terima kasih banyak, Pah!" ucap Zee.
"Akhirnya cucu Oma kembali, kamu pasti kelelahan, sekarang Ayo kita mandi dan ganti pakaian kamu!" perintah Oma Sarah kepada Aisha, sambil menggandeng tangan Aisha menuju kamarnya.
"Oma, Mamih ebat banget, pelempuan itu dihajal Mamih, telus lambutnya ditalik spelti ini," kata Aisha memperagakan gerakan-gerakan Zee kepada Omanya, Sarah hanya terkekeh saja mendengar penuturan Aisha yang bicaranya masih belum jelas.
"Oya, Mamih itu memang sangat unik dan antik! Di pasar atau di toko tidak ada yang jual," ucap Mama Sarah terkekeh geli, Zee yang mendengar hanya manyun saja.
Mama Sarah membantu Aisha mandi dan bersih-bersih, selama diculik tubuh Aisha sangat dekil. Oma Sarah menggosok tubuh cucunya sampai bersih dan mencuci rambutnya yang sudah bau apek. Baju yang tadi dipakai oleh Aisha, Oma Sarah buang ke tempat sampah.
"Buang bajunya supaya tidak sial," ucap Sarah pada baju tersebut.
"Oma, kalau syukulan, Apakah Aisha boleh mengajak teman-teman Aisha ke acala?" tanyanya.
"Siapa teman kamu?" tanya Sarah.
"Anak-anak jalanan, Oma," jawabnya.
"Apakah anak-anak yang diculik salah satunya anak jalanan?" tanya Omanya.
__ADS_1
"Iya, Oma! Kasihan dia nggak punya lumah," jawab Aisha.
"Baiklah nanti kita diskusikan ini dengan Papih dan Mamih," ucap Omanya.
Lumayan lama Elmar berbincang-bincang dengan keluarga Xaquille, akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Saat hendak akan pulang ternyata istri dan papa mama mertuanya datang menyusul.
"Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam," jawabnya serentak. Zee sangat bahagia melihat keluarganya datang.
"Papa, Mama, Ratu, Silahkan masuk!" Zee mempersilahkan mereka masuk. "Dimana Gio?" tanya Zee kepada Ratu.
"Dia tidak ikut, bersama baby sister di rumah," jawab Ratu.
"Kok nggak diajak?" tanya Zee.
"Dia sedang asyik bermain dengan robot-robotan yang dibelikan oleh ayahnya," ucap Ratu.
"Sayang, Aisha katanya sudah ditemukan! Apakah itu benar?" tanya Mama Nola.
"Alhamdulillah sudah, Ma," jawab Zee. Zee pun menceriterakan aksi nekatnya kepada Papa dan Mama. Papa hanya terkekeh geli, pasalnya dia tahu betul sifat putri kesayangannya. Jika sudah memilki keinginan, dia akan terus maju pantang menyerah.
"Ish, Papa ini, sifat putri kamu begitu bar-bar, kok malah diketawain?" sungut Mama. Mama saja tidak setuju dengan aksi nekad putrinya yang justru membahayakan keselamatannya sendiri.
"Mah, Kamu tidak perlu meragukan kemampuan Zee! Dia ini jagonya berkelahi, bahkan dalam keadaan hamil saja dia bisa membabat musuh-musuhnya, Apalagi kalau sedang tidak dalam keadaan hamil?" Papa kembali terkekeh.
"Tapi, Pah, tentu saja itu sangat berbahaya! Zee ini sedang hamil, bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya dan calon bayinya?" sungut Mama lagi. Terjadilah perdebatan yang sengit antara Papa dan Mama di rumah besannya.
"Sudah, Sudah, malu kalau hanya masalah kecil di perdebatkan! Papa dan Mama, sekarang Zee baik-baik saja dan calon anak yang dikandungan Zee juga sangat sehat," jelasnya.
"Oke, Oke, sekarang Mama mau lihat cucu dulu," ucap Mama Nola berlalu ke kamar Aisha.
Cukup lama Papa dan Mama bermain dengan Aisha, sedangkan Ratu dan suaminya sudah berpamitan sedari tadi. Zee merasakan tubuhnya sangat lengket dan gerah, ia pun memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Ternyata suaminya mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Ish, bikin kaget saja," cibir Zee kepada suaminya, Alan hanya terkekeh geli melihat raut muka istrinya.
"Mamih mau kemana?" tanya Alan.
"Mamih mau mandi, gerah," ucapnya.
"Bareng yuk? Mumpung tidak ada pengganggu kecil," ujar suaminya tanpa rasa malu lagi kalau meminta jatah kepada istrinya.
"Ish, Mamih tahu, Papih mau modus kan? Biar bisa *****-***** tubuh Mamih," ucapnya tanpa filter sama sekali.
"Mamih memang paling pengertian sedunia," ucap Alan sambil terkekeh.
Di dalam kamar mandi terjadilah acara mandi yang sangat panjang dan penuh dengan gairah. Hingga Zee terlihat sangat lelah, barulah Alan menghentikan kegiatan panasnya di kamar mandi. Alan membantu memandikan tubuh istrinya. Dia juga membantu memakaikan baju di tubuh Zee, dan barulah dia memakai bajunya sendiri. Zee merasakan matanya mengantuk dan tubuhnya sangat lelah, dia pun merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya. Semenjak putrinya diculik, dia memang tidak nyenyak tidur. Alan pun menyuruh sang istri untuk beristirahat saja.
Papa Roger dan Mama Nola sudah pulang, hari juga sudah malam. Alan melihat keadaan putri cantiknya di kamar. Ternyata dia masih sangat senang bermain boneka yang baru saja dibelikan Oma Nola.
"Sayang, Ayok tidur, ini sudah larut malam!" perintah Papihnya kepada Aisha.
"Aisha mau tidul sama Mamih," jawabnya.
"Aisha tidur di kamar sendiri, karena Mamih sudah tidur karena kecapaian," jelas Alan kepada putrinya.
"Tapi, Aish mau tidul sama Mamih," ucapnya lagi.
"Sama Papih saja ya, nanti Papih bacakan dongeng kesukaan kamu," bujuknya.
"Baiklah, tapi, Papih disini saja ya? nemenin Aish tidul," ujarnya.
"Baiklah, sekarang, Ayo tidur, ini sudah malam!" ajaknya.
Zee terlihat sangat kelelahan, Alan pun menggantikan tugas istrinya untuk menidurkan Aisha. Tidak terasa matanya juga sangat mengantuk, padahal ini baru jam delapan malam. Tapi si mata tidak mau berkompromi, semakin dipaksakan semakin ingin terpejam, akhirnya Alan pun tertidur di tempat tidur putrinya.
to be continued....
__ADS_1