Om I Love You

Om I Love You
Episode 118


__ADS_3

Para Polisi membawa semua penjahat itu, termasuk Paman Xavier dan Silvi. Silvi masih mengeluarkan darah di bagian hidungnya.


Sedangkan Zee menghampiri suaminya yang ngos-ngosan akibat berkelahi hebat.


"Pih?" panggil Zee.


"Sayang!" jawabnya, sambil memeluk tubuh istrinya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya suaminya.


"Tidak apa-apa, Pih!" jawab Zee.


"Kenapa wajah kamu?" tanya Alan.


"Oh, ini gara-gara wanita gila itu!" ujarnya.


"Hem," Alan mengernyitkan alisnya. Papa Harun dan Elmar menghampiri mereka berdua, mereka begitu bahagia melihat Zee selamat dan baik-baik saja.


"Zee?" panggil Papa Harun.


"Kau dan babymu baik-baik saja?" tanya papa cemas.


"Alhamdulillah baik-baik saja, Pah! Terima kasih ya, Pah, sudah menyelamatkan Zee!" ujarnya.


"Iya, Sayang! Syukurlah kalau kau baik-baik saja!" senang papa. Pandangan Zee beralih ke arah Elmar, ternyata Elmar juga membantu menyelamatkannya.


"Elmar, terimakasih sudah mau membantu suamiku!" ucap Zee.


"Tentu! Ini demi masa depan!" jawabnya sambil tersenyum dan memandang ke arah Om Alan.


"Ha ... ha ... ha! Demi rumah mewah," gumam Elmar.


"Ayo, kita pulang! Biarkan polisi yang mengurus semuanya!" ajak Alan kepada semuanya.


Mereka berjalan ke arah mobil, tiba-tiba Zee merasakan perutnya sangat mulas. Ia memegangi perutnya.


"Ada apa?" tanya suaminya, melihat perubahan wajah istrinya yang tiba-tiba menjadi pucat.


"Perut Mamih sakit!" jawabnya.


"Sakit? Kok bisa?" panik Alan.


"Sepertinya Mamih akan melahirkan," jawab Zee.


"Tapi, kan belum waktunya? Masih kurang dua Minggu lagi! Masa kamu sudah mau melahirkan?" tanya suaminya.

__ADS_1


"Tapi, perut Mamih mulas, Pih? Dari semalam perut Mamih nggak enak," ujarnya, perut Zee semakin mulas, ada cairan bening yang merembes dari bagian pangkal pahanya.


"Ini air apa? Kamu pipis, Sayang?" tanya suaminya, melihat air merembes dan mengalir begitu saja di kaki istrinya.


"Ish, Papih ini," kesal Zee memberengut sebal, karena suaminya benar-benar tidak peka.


"Sepertinya itu air ketuban, Lan?" ujar papa, tentu saja papa tahu, karena dia sudah berpengalaman.


"Air ketuban?" heran Alan, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang belum pernah memiliki anak, jadi wajar saja kalau Alan sangat awam mengenai hal seperti itu.


"Bawa Zee ke Rumah Sakit! Sepertinya Zee mau melahirkan," perintah papa.


"Auw, sakit sekali," pekiknya.


"Ah, sakit," pekiknya lagi.


"Tapi, dari keterangan Dokter, Zee akan melahirkan dua Minggu lagi, Pah!" terang Alan.


"Aish, Kau ini! Setiap wanita melahirkan itu beda-beda, Lan! Jangan kau samakan!" jelas papa.


"Aduh, Om Alan! Kenapa malah berdebat sih? Tuh, Zee sudah mau melahirkan! Apakah Om mau istri Om melahirkan di gudang?" seloroh Elmar begitu saja, yang juga merasakan panik melihat Zee kesakitan memegang perutnya.


"Oke, Oke! Kita ke Rumah Sakit!" ucap Alan.


"Iya, Cepetan Om! Bawa Zee ke Rumah Sakit!" cakap Elmar.


"Beres, Om!" jawab Elmar.


Alan pun bergegas membawa istrinya ke Rumah Sakit, Zee mengerang menahan rasa mulas diperutnya. Dia mencengkram benda apapun untuk menjadi pegangannya. Sedangkan Papa Harun, mengekor di belakang mobil putranya, karena Papa Harun membawa mobil sendiri.


"Sabar, Sayang!" ucap suaminya. Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit.


"Sakit, Pih!" jerit Zee.


"Iya, Nih, sebentar lagi sampai!" ucap Alan. "Sabar ya, Sayang!" ucap suaminya sambil mengelus perut istrinya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Alan langsung membopong tubuh istrinya masuk ke dalam Rumah Sakit. Karena panik, Alan berteriak sekencang-kencangnya mencari Dokter, hingga membuat perhatian orang-orang di sana. Dua orang suster membawa brankar Rumah Sakit, Alan meletakkan tubuh istrinya di brankar tersebut. Zee dibawa ke ruang persalinan oleh dua suster itu. Seorang Dokter laki-laki masuk ke ruang persalinan Zee, Alan yang melihat itu, membelalakkan matanya, dia menyerobot masuk ke dalam.


"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Alan kepada Dokter tersebut.


"Saya akan membantu persalinan istri Anda," ucapnya.


"Tidak, Tidak! Saya tidak mau istri saya ditangani oleh Dokter pria! Saya ingin Dokter wanita!" tegas Alan.


"Lan, apa yang kau lakukan?" tanya papa mengekor dibelakang putranya.

__ADS_1


"Pah, dia mau membantu Zee melahirkan," ucap Alan.


"Itu memang tugasnya," jawab papa.


"Tapi, Alan tidak mau kalau Zee dibantu oleh Dokter pria, Pah!" ucapnya. "Hanya Alan yang mengetahui bagian luar dan bagian dalamnya Zee," jujur putranya.


"Astaga, Nak! Dalam keadaan genting seperti ini kamu masih memikirkan hal seperti itu," ucap papa geleng-geleng kepala. Dokter yang melihat tingkah lucu suami pasiennya, terkekeh sendiri.


"Oke, Oke! Begini saja, saya panggilkan Dokter wanita untuk membantu persalinan istri Anda!" ucap Dokter.


"Nah, itu baru benar!" sahut Alan. Beberapa menit kemudian Dokter wanita datang masuk ke ruangan persalinan. Alan meminta izin untuk menemani istrinya melahirkan. Dokter nampak berfikir, namun karena suami pasien memaksa akhirnya Dokter mengizinkan Alan untuk menemani istrinya di ruangan persalinan.


"Nanti di dalam Bapak jangan mengganggu proses persalinan ya?" tutur Dokter.


"Baiklah, Dok!" jawabnya.


Alan memegang tangan istrinya dengan erat, melihat istrinya kesakitan seperti itu, Alan tidak tega melihatnya.


"Ah, sakit! Auw, sakit sekali!" pekik Zee.


"Dokter, istri saya kesakitan! Bagaimana ini?" tanya Alan khawatir.


"Tidak apa-apa, Pak! Wanita kalau mau melahirkan ya seperti ini!" kata Dokter.


"Aaaaaaaa, Pih, sakit sekali!" Zee mencengkeram lengan suaminya dengan erat.


"Sekarang ibu tarik nafas yah! Saya akan mengecek terlebih dahulu, ibu pembukaan berapa?" kata Dokter. Dengan memakai kaos tangan karet, Dokter hendak memeriksa Zee sudah masuk pembukaan berapa. Namun Alan mencegahnya, karena menurutnya, hanya dia saja yang boleh menyentuh area terlarang istrinya. Dokter dan suster yang mendengar penuturan suami pasiennya menjadi geli sendiri, mereka ingin tertawa takut dosa.


"Astaga, Bapak! Kalau Bapak melarang, Bagaimana saya bisa mengeceknya?" tanya Dokter.


"Apakah harus dimasukkan tangannya?" jawab Alan, malah balik bertanya.


"Bukan tangan, Bapakl! Cuma jari saja yang masuk untuk mengetahui kedalaman berapa centi antara kepala dengan jalan lahir," terang Dokter.


"Papih? Kenapa malah berdebat? Mamih sudah kesakitan sekali!" kesal Zee, karena sedari tadi Zee mendengar suaminya selalu protes. Dokter dan suster terkekeh geli. Dokter mengecek keadaan Zee, ternyata Zee sudah mencapai pembukaan sepuluh.


"Ternyata cepat juga," gumam Dokter.


Dokter menyuruh pasiennya untuk bersiap-siap mengejan, karena sang jabang bayi akan terlahir kedunia ini. Dokter juga menyuruh suami pasien untuk menyiapkan baju dan perlengkapan bayi. Alan keluar sebentar untuk memberitahu Papa Harun, agar papa menghubungi Mamanya dirumah dan menyusulnya ke Rumah Sakit.


to be continued.......


*******************************************


Yuk, mampir juga ke novel aku yang lain yang ceritanya nggak kalah seru.

__ADS_1




__ADS_2