
Silvi mendorong tubuh Alan hingga terjerembab jatuh ke sofa, ia kemudian lari ke luar ruangan, berlari sekencang mungkin agar tidak tertangkap. Silvi memasuki lift, turun ke bawah, di sana ada dua security yang menjaga, mungkin itu adalah security yang disuruh kakak sepupunya untuk menangkap dirinya, dia membelok ke arah tangga darurat. Silvi menuruni tangga darurat, supaya tidak bertemu dengan security suruhan Alan. Security suruhan Alan berkeliling mencari keberadaan Silvi, namun tidak ditemukan juga. Silvi berhasil lolos dan kabur.
Alan langsung menelfon mengabari papa Harun perihal kejadian tersebut, papa sangat terkejut. Bahkan yang membuatnya lebih terkejut, Silvi menyalahkan semuanya yang terjadi karena kesalahan keluarga Xaquille.
"Apa Pah, Jadi dalang dari semuanya adalah Silvi?" tanya Mama yang kebetulan mendengarkan obrolan suami dan putranya di telpon.
"Dasar wanita ular! Wanita tidak tahu terima kasih! Dia berpura-pura polos dan lugu ternyata hatinya sangat jahat dan munafik," umpatnya.
"Sudah, Mah! Biarkan ini menjadi urusan polisi! Mama tidak perlu memikirkannya! Nanti Mama pusing!" ucap papa.
"Ish, papa! Semuanya juga gara-gara papa! Coba papa nggak membiarkan wanita la****nat itu masuk ke Perusahaan kita! Jadinya nggak akan seperti ini!" kesal mama.
"Papa juga nggak tahu akan jadi seperti ini, Mah! Sudahlah, biarkan saja! Biar Alan dan polisi yang mengurusnya," tutur papa.
"Loh, kok, dibiarkan saja! iya, nggak bisa gitu dong, Pah! Ayahnya sudah berbuat jahat kepada keluarga kita! Sekarang anaknya, mau jadi apa dia?" kesal mama.
"Iya, iya, papa yang salah, Ma! Sudah ya, Ma! Jangan marah-marah terus, nanti mama cantiknya hilang!" rayu papa.
"Ish, papa mencoba merayu mama! Biar mama nggak menyalahkan papa lagi kan? Kalau papa mau merayu mama! Belikan kalung berlian kek, cincin emas, kalau memang papa sayang mama, beliin Apartemen dua puluh tingkat! Baru mama nggak marah-marah lagi sama papa!" ucap mama panjang lebar.
"Astaga, Apartemen dua puluh tingkat? Buat apa, Ma? Kita ini sudah tua! Kita tidak usah memikirkan duniawi terus! Justru yang harus kita pikirkan, masalah akhirat! Kita harus memperbanyak ibadah kepada Allah," nasehat suaminya.
"Itu wajib dong, Pah!" manyun mama.
"Mama jadi ingin cepat-cepat menggendong cucu dari anaknya Alan dan Zee! Gimana rupanya ya, Pah? Kata Zee, jenis kelaminnya cewek! Pasti nanti akan sangat cantik seperti ibunya," ujar mama.
"Papa juga ingin sekali cepat-cepat menggendong anaknya Alan, pasti sangat seru sekali," ucapnya.
Zee menunggu lumayan lama di parkiran kampus, suaminya belum kunjung datang. Zee mencoba untuk menghubungi nomor suaminya, hanya suara operator telefon yang menjawab.
__ADS_1
"Apakah dia begitu sibuk, sampai ponselnya saja tidak aktif?" manyun Zee. Zee pun mengirimkan pesan kepada suaminya, bahwa ia akan pulang menggunakan taksi. Zee memberhentikan taksi, ia memberitahukan kepada Pak Sopir alamat untuk mengantarkannya ke Perusahaan Xaquille. Taksi berjalan dengan kecepatan sedang, sebelum sampai ke kantor suaminya, Zee meminta Pak Sopir untuk mengantarkannya ke supermarket terlebih dahulu. Ia ingin membeli cemilan dan jus, karena perutnya terasa agak lapar. Zee menyuruh Pak Sopir untuk menunggunya sebentar.
Zee masuk ke Supermarket, membeli jus buah dan beberapa cemilan. Ia juga butuh susu hamil, karena persediaan susu di rumah mama juga tinggal sedikit. Tanpa sengaja ada seorang pria yang menyenggolnya, membuat tubuhnya terhuyung dan hendak jatuh. Untung saja, sang pria langsung merengkuh pinggang Zee. Sehingga tubuh Zee tidak sampai jatuh ke lantai. Tatapan mereka saling bertemu, sang pria sangat mengagumi kecantikan Zee. Kecantikan seorang wanita yang sangat alami.
Zee mendorong tubuh pria tersebut, sehingga sang pria berhenti berfantasi yang tidak-tidak.
"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap pria tersebut.
"Makanya kalau jalan itu hati-hati! Masa wanita sebesar ini saja tidak terlihat!" kesal Zee.
"Jika sampai kenapa-kenapa dengan baby ku! Aku hajar kamu," marahnya.
"Oke, saya, minta maaf! Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau saya mentraktir Anda makan?" tanyanya, Zee memutar bola matanya malas.
"Ish, kau pikir aku tidak bisa membayar harga makanan ku!" dengus Zee, sambil berlalu pergi meninggalkan pria aneh tersebut. Pria itu hanya terpaku di tempatnya berdiri. Josh mengejar Zee ke meja kasir, dan hendak membayarkan barang-barang belanjaan wanita cantik itu. Namun Zee menolaknya dengan keras, dia juga mampu membayar semua barang-barangnya. Setelah berdebat masalah pembayaran, Zee pun langsung pergi dengan muka yang kesal.
"Amazing! Aku baru menemukan wanita unik seperti dia! Bukan hanya cantik, dia juga sangat angkuh dan sombong! Aku suka itu," ujar Josh.
Pria itu adalah Josh. Setelah melihat foto Zee dari ponsel kekasihnya, Josh langsung beraksi ingin bertemu secara langsung dengan Zee. Wanita yang sangat dibenci kekasihnya. Josh mengagumi kecantikan Zee, yang menurutnya sangat natural dan menggemaskan. Baru pertama kali dalam hidup Josh mendapatkan cacian dari seorang wanita, saat barang belanjaannya mau dibayarkan. Dan itu adalah Zee, menurutnya wanita yang sangat unik dan berkarakter. Josh tersenyum penuh arti, entah apa yang dipikirkannya.
Taksi yang ditumpangi Zee berhenti di depan gedung bertingkat itu. Setelah membayarkan ongkos taksinya, Zee bergegas masuk ke Perusahaan suaminya. Ia menggunakan lift khusus untuk menuju ruangan suaminya. Zee membuka ruangan suaminya, ternyata suaminya tidak di tempat. Ia pun keluar hendak bertanya kepada sekertaris suaminya, Anna juga tidak ada ditempatnya.
"Kemana semua orang?" batin Zee. Kebetulan seorang office boy lewat di depannya, ia pun bertanya kepada office boy tersebut.
"Apakah Pak CEO sedang ada rapat?" tanya Zee.
"Tidak, Bu! Pak CEO sedang ke kantor polisi," ucapnya.
"Kantor polisi?"
__ADS_1
"Ada apa memangnya?" tanya Zee cemas.
"Saya kurang tahu, Bu! Karena saya baru bekerja d kantor ini," jawabnya.
"Baiklah, terima kasih, Silahkan bekerja kembali," ucap Zee. Office boy pun undur diri, untuk melakukan pekerjaan lainnya.
Zee mencoba untuk menghubungi suaminya lagi, kali ini ponsel suaminya aktif. Hatinya pun serasa tenang, namun masih belum diangkat.
Hingga ke-lima kalinya, baru suaminya mengangkat telpon dari Zee.
"Assalamualaikum?"
"Papih kemana saja? Kenapa ponselnya tidak aktif? Apa yang terjadi? Ada apa? Apakah Papih ada masalah?" cecar Zee kepada suaminya dengan banyak pertanyaan.
"Walaikumsalam," jawabnya.
"Satu-satu dong, Sayang! Bagaimana papih mau menjawab kalau pertanyaan Mamih begitu banyak," sungutnya, membuat Zee tersenyum geli.
"Mamih, ada dimana?" tanya suaminya.
"Mamih sudah dikantor," jawabnya.
"Kalau begitu, tunggu papih di sana! Sekarang Papih pulang," ucap Alan.
"Oke, Mamih tunggu! Jangan lama-lama, nanti Mamih ngambek?" tutur Zee.
"Iya, Sayang," ucapnya.
to be continued.....
__ADS_1