
Sepulangnya dari kampus, Zee berencana ingin mampir ke rumah Papa dan Mamanya. Sudah lama juga dia tidak mengunjungi kedua orang tuanya. Terakhir, saat acara syukuran empat bulanannya. Zee menunggu jemputan sang suami di depan pintu gerbang kampus. Namun orang yang ditunggunya belum juga datang, ia berusaha untuk menghubungi ponsel sang suami, tidak ada respon atau balasan apapun. Ia pun mengirimkan pesan kepada suaminya, juga tidak dibalas. Perasaannya cemas dan khawatir, hatinya mulai gelisah tidak karuan. Ia pun memutuskan untuk mendatangi suaminya di kantor.
Zee memberhentikan taksi, dan memberitahu tujuannya kepada sang sopir. Taksi melesat membelah jalanan ibukota yang tidak pernah ada matinya, tidak pagi, siang maupun malam, selalu ramai dan macet. Akhirnya taksi yang ditumpangi Zee sampai juga ke tempat tujuannya. Setelah membayar ongkos, Zee turun dari taksi dan berjalan ke arah pintu masuk Perusahaan. Semua karyawan yang sudah mengenal Zee dengan baik, menyapa istri Bos mereka dengan ramah. Zee pun membalas tidak kalah ramahnya. Ia menaiki lift khusus menuju kantor sang suami. Di depan kantor, Anna memberitahukan kepada Zee, bahwa Pak CEO tidak berada di tempat karena sedang ada rapat mendadak dengan para kepala divisi. Zee mendengus kesal, pasalnya tidak biasanya sang suami tidak memberi kabar. Zee pun memutuskan menunggu kedatangan sang suami di dalam kantor.
Satu jam berlalu, Zee menunggu kedatangan sang suami. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Alan juga nampak terkejut dengan kedatangan istrinya. Dia memang lupa mengatakan bahwa dirinya ada rapat mendadak hari ini.
"Sayang, Papih minta maaf karena nggak bisa menjemput!" ucap Alan seraya mencium kening istrinya dan mengelus-elus perut buncit sang istri.
"Kok nggak langsung pulang?" tanya Alan.
"Mamih cemas! Makanya Mamih langsung datang ke sini!" ucapnya.
"Ada apa, Pih? Apakah ada masalah yang serius?" tanya Zee, Zee bisa melihat raut muka suaminya nampak masam.
"Ada seseorang yang berusaha mencuri data proyek Perusahaan," ujar Alan.
"Data proyek Perusahaan?" bingung Zee.
"Kok bisa, Pih?"
"Iya, Sayang! Data tersebut dicuri dan diajukan ke Perusahaan Cahaya Gemilang! Tentu milik kita ditolak, mereka berfikir kalau Perusahaan kita yang melakukan plagiat!" terang Alan sangat serius.
"Dan Perusahaan tersebut menolak keras, kerja sama dengan Perusahaan kita!" imbuh suaminya lagi. "Padahal proyek ini adalah proyek yang sangat besar! Proyek ini juga sudah memakan biaya ratusan miliar! Papih rugi besar, Sayang," sedihnya.
"Kira-kira siapa yah, Pih? Yang tega mencuri data Perusahaan kita?" tanya Zee penasaran.
"Entahlah, Papih sedang menyelidikinya, Sayang!" ujar Alan.
"Iya, sudahlah, Pih! Mungkin itu bukan rezeki kita!" tutur Zee.
"Iya, Papih tahu! Tapi jika dibiarkan, orang ini akan berusaha untuk menjatuhkan kita lagi! Papih harus tahu siapa pelakunya?" cakap suaminya.
"Iya, Pih! Mamih tahu!" jawab Zee, " Ini sudah waktunya jam makan siang! Tapi, Papih belum juga makan siang! Ayo kita makan siang dulu!" ajak Zee kepada suaminya.
"Papih sangat pusing, Mih!" ujar suaminya.
"Ehm, ya, sudah! Kita beli makanan di kantin Perusahaan saja, bagaimana?" saran istrinya.
"Nanti biar Mamih yang ke kantin!"
__ADS_1
"Oke, deh, terserah Mamih saja!" ucap suaminya.
Zee pun bergegas ke kantin Perusahaan untuk membeli makan siang suaminya. Semua karyawan yang mengenal bahwa itu adalah istri dari bosnya, mereka menyapa Zee dengan sangat ramah, Zee pun bertindak demikian. Walaupun Zee istri dari seorang CEO, ia tidak pernah sedikitpun merendahkan atau membeda-bedakan karyawan suaminya.
"Selamat siang, Bu!" sapa Wati, salah satu karyawan magang Perusahaan tersebut.
"Siang," jawab Zee.
"Ibu mau ke kantin?" tanya Wati.
"Iya," jawabnya.
"Kalau ibu mau beli sesuatu, akan saya belikan," ujarnya.
"Ah, tidak usah! Saya bisa sendiri kok! Kamu juga mau ke kantin kan?" tanya Zee kepada Wati.
"Eh, iya, Bu," jawabnya.
"Ayo, kita bareng," ajak Zee.
"Mari, Bu," Mereka berdua ke kantin bersama, banyak mata melihat ke arah Zee. Mereka pun langsung menyapa Zee dan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa mereka sangat menghormati istri Bos.
"Apakah kau tidak bisa berkata lembut?" bentak Zee.
"Kenapa tanganmu ringan sekali untuk menampar orang?" bentak Zee lagi.
"Itu bukan urusanmu," ujarnya.
"Tentu saja ini menjadi urusanku! Mereka semua adalah karyawan suamiku! Mereka bekerja di Perusahaan suamiku! Apapun yang terjadi kepada mereka adalah tanggung jawab Perusahaan! Dan secara tidak langsung juga tanggung jawabku juga," tegas Zee.
"Ah, kau banyak sekali aturan!" cibirnya.
"Kenapa? Apakah kau keberatan? Kau bisa mengundurkan diri kalau kau keberatan!" tegasnya lagi.
"Kau!" Silvi menatap tajam ke arah Zee.
"Apa? Kau pikir aku takut kepada wanita seperti dirimu!" ancam Zee.
"Aku akan adukan ini kepada Kak Alan!" Silvi hendak pergi ke kantor Alan, namun tangan Silvi dipelintir ke belakang oleh Zee.
__ADS_1
"Jangan lagi menemui suamiku! Dia sudah terlalu pusing untuk memikirkan masalahnya! Jangan menambah masalah yang tidak penting," tegas Zee seraya mendorong tubuh Silvi. Silvi mengaduh kesakitan karena tangannya dipelintir ke belakang oleh Zee. Zee menyuruh office girl itu untuk kembali mengerjakan pekerjaan yang lain.
"Dasar wanita jadi-jadian!" cibirnya. Zee berlalu pergi dari tempat itu, menuju kantor suaminya.
"Awas kau, aku akan membuat perhitungan denganmu," ucapnya. Silvi berlalu pergi, meninggalkan tempat itu dengan muka yang kesal. Tidak henti-hentinya dia marah-marah kepada staf yang lain.
Sedangkan Zee di kantor, menyuapi sang suami dengan mesranya.l
"Bagaimana? enak?" tanya istrinya.
"Enak," jawab Alan.
"Kok lama, Mih? Apakah antriannya panjang?" tanya Alan.
"Iya, Pih! Antriannya sangat panjang," jawab Zee.
"Semoga wanita gila itu tidak mengadu!" batin Zee.
"Ada apa, Mih?" tanya Alan kepada istrinya.
"Eh, nggak apa-apa kok, Pih!"
"Oya, Apakah Papih nggak curiga dengan adik sepupu Papih?" tanya Zee tiba-tiba.
"Kenapa harus curiga?" tanya Alan mengernyitkan alisnya.
"Yah, semenjak kedatangannya! tiba-tiba saja Perusahaan Papih bisa kecolongan! Kan sangat aneh, Pih!" ucap Zee.
"Iya, juga sih! Papih harus menyelidikinya juga," jawab Alan.
"Papih harus berhati-hati!" cemas Zee.
"Terima kasih, Sayang!"
"Papih mohon, sebelum Papih menyelidiki semuanya! Kamu jangan bikin gara-gara dulu sama dia! Papih cuma takut, dia akan menyakitimu!" pesan suaminya.
"Tidak, Pih! Papih tenang saja!" cakap Zee meyakinkan suaminya sambil tersenyum.
to be continued....
__ADS_1