
Hujan seharian, membuat Alan dan istrinya mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Mama Sarah kemarin. Akhirnya diputuskan mereka berangkat hari ini ke rumah mama. Semua barang-barang sudah dimasukkan ke bagasi mobil. Setelah memastikan rumah sudah dikunci, Alan dan istrinya menaiki mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju kediaman keluarga Xaquille. Sebelumnya Alan sudah memberitahukan kepada papa dan mama, bahwa mereka akan menginap di sana dalam waktu yang cukup lama. Papa dan mama sangat senang sekali. Itu berarti, setiap hari mama dan Zee bisa bertemu, bercerita dan jalan-jalan bareng.
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah kediaman keluarga Xaquille. Papa dan mama menyambut kedatangan putra dan menantunya dengan bahagia. Mama langsung memeluk Zee dengan sayang.
"Zee menantu kesayangan mama!" antusias mama terhadap menantu kesayangannya.
"Mama, Zee datang lagi! Jangan bosan-bosan sama Zee ya, Ma!" kelakar Zee, membuat papa, mama dan suaminya tersenyum.
"Iya nggaklah, Sayang! Masa bosan! Kamu kan menantu cantik mama," ucap mama Sarah.
"Ayo, masuk! Kenapa hanya berdiri di luar saja," ajak mama. Papa menepuk bahu Alan, mengajak Alan ngobrol di ruang kerjanya. Melihat sikap papa yang demikian, pastilah papa ingin mengobrol masalah penting. Alan mengekor di belakang papanya.
"Lan, ikut papa! Papa mau bicara," ajak papa.
Sedangkan mama Sarah sudah membawa istrinya ke kamar putranya, mama juga sangat rindu ingin mengobrol banyak dengan Zee.
"Duduklah!" papa menyuruh Alan duduk di sofa ruang kerjanya.
"Ada apa, Pah?" tanya Akan penasaran.
"Papa dengar kalau Perusahaan mengalami kerugian besar, Apakah itu benar, Lan?" tanya papa sangat serius.
"Iya, Pah!" jujur putranya, Alan memang tidak sempat bercerita ke papa Harun, karena kesibukannya, dia belum sempat menemui papa.
"Ada seseorang yang sudah mencuri data-data Perusahaan! Tapi Alan belum mengetahui siapa pelakunya," ucap putranya.
"Apakah kau sudah mengecek cctv-nya?" tanya papa.
"Sudah, Pah! Sama sekali tidak ada yang mencurigakan!" ucapnya.
"Alan rasa, saat pencurian data terjadi! Ada seseorang yang berusaha untuk menghapus semua rekaman cctv, mereka sangat rapih melakukannya! Tidak ada jejak apapun yang mereka tinggalkan!" terang Alan.
"Alan yakin! Mereka tidak sendiri melakukannya! Mereka bekerja sama," imbuhnya lagi.
"Apakah kau mencurigai seseorang?" tanya papa tiba-tiba.
__ADS_1
"Belum, Pah! Alan belum berani untuk mengungkapkannya! Sebelum ada bukti yang kuat!" ucapnya lagi.
"Apakah kau tahu tentang Paman Xavier yang sudah bebas?" tanya papa, membuat Alan sangat terkejut.
"Paman Xavier sudah bebas, Pah?"
"Tidak mungkin, Pah! Alan sendiri yang mengecek ke Lapas! Nama Paman Xavier masih ada di data komputer! Petugas Lapas sendiri yang mengecek namanya!" paparnya.
"Apakah kau yakin sudah melihat sendiri orangnya di balik jeruji?" tanya papa.
"Belum sih, Pah! Alan pikir informasi dari petugas Lapas saja sudah lebih dari cukup!"
"Kemarin papa menjenguk Paman Xavier di penjara, karena ingin memberikan kabar bahwa putrinya berada di Indonesia! Saat papa sudah disana, ternyata Paman Xavier sudah bebas dua Minggu yang lalu," jelas papa Harun.
"Bebas, bagaimana bisa?" batin Alan.
"Bagaimana bisa, Pah? Papa kemarin menjenguknya, sedangkan Alan tiga hari yang lalu ke Lapas! Tetapi petugas bilang nama Paman Xavier masih ada didatanya," papar putranya.
"Ini kesalahanmu Alan! Seharusnya kau lebih teliti dengan keadaan sekitarmu! Kau harus lebih berhati-hati dengan Paman Xavier! Karena dia pria yang licik dan sangat pintar!" tutur papa.
"Entahlah, coba kau selidiki dia!" perintah papa.
"Papa sudah melakukan kesalahan dengan menerima dia sebagai karyawan! Niat papa baik, Lan! Papa hanya ingin menyambung silaturahmi yang sempat putus akibat keserakahan dan ketamakan semata! Ya, dengan jalan memberikan pekerjaan kepada Silvi!"
"Jika memang Silvi terlibat, secara tidak langsung papa juga ikut bersalah, karena permintaan papa yang membuat Silvi masuk ke dalam Perusahaan," ujar papanya.
"Sudahlah, Pah! Semua sudah terjadi, Alan hanya ingin tahu, Apa motif mereka sebenarnya?"
"Alan akan mencari tahu semua ini! Untuk sementara, Alan akan memakai hacker yang direkomendasikan Papa Aghar untuk mengamankan data Perusahaan," ucapnya.
"Okey, jika butuh bantuan, Papa siap akan membantu kamu!"
"Iya, Pah," jawabnya.
"Oya, kenapa kamu tumben, tiba-tiba mau menginap di sini dalam waktu yang lama? Ada apa?" tanya papa Harun lagi.
__ADS_1
"Sebenarnya, ini juga ada hubungannya dengan peristiwa ini!" ujar Alan.
"Maksudnya?" tanya papa tidak mengerti.
"Sepulang dari rumah papa Aghar, Alan dan Zee diserang oleh empat orang tidak dikenal! Mereka sengaja ingin mencelakai kami," jelas Alan. "Alan khawatir, mereka juga akan mengincar Zee, akan lebih aman jika Zee disini!" jelasnya lagi.
"Siapakah kiranya yang tega melakukan ini?" tanya papa.
"Entahlah, Alan tidak tahu, Pah! Alan yakin, semua ini ada kaitannya," ujar putranya.
"Kau harus melaporkan kasus ini kepada polisi, Lan," saran papa.
"Tentu, Pah! Alan pasti akan melaporkannya kepada polisi!" jawabnya.
Selesai mereka ngobrol dan berbincang-bincang banyak, mama Sarah menyuruh suami dan putranya untuk makan malam terlebih dahulu. Mereka pun menyudahi obrolannya. Hidangan sudah tersaji di meja makan, Zee dan mama juga sudah duduk di meja makan. Alan duduk di samping istrinya, begitu juga papa duduk di samping mama. Seperti biasa sebelum makan mereka akan berdoa terlebih dahulu, setelah itu barulah Zee menyendokkan nasi, sayur dan lauk untuk suaminya, barulah ia mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka semua menikmati hidangan yang dimasak seorang juru masak handal di rumah keluarga Xaquille. Rasa makanannya tidak kalah dengan rasa makanan Restaurant terkenal. Selesai makan nasi, ditutup dengan desert yang sangat enak menggugah selera. Zee menghabiskan empat mangkok kecil desert buah. Alan dan mertuanya sampai geleng-geleng kepala. Satu mangkok kecil saja, mereka sudah sangat kenyang.
"Apakah perutmu tidak kekenyangan, Sayang?" tanya suaminya kepada Zee.
"Tidak, Pih!" jawab Zee tersenyum. Kedua mertuanya hanya terkekeh geli.
"Biarkan saja, Lan! Namanya juga wanita hamil," ucap papa.
Selesai makan malam Alan dan istrinya langsung ke kamar. Mereka menata baju-bajunya di lemari.
"Sudah selesai, Mih?" tanya suaminya.
"Sudah, Pih," jawab Zee.
"Ternyata capek juga," Alan mendekat ke arah istrinya, memijat kaki Zee. Ternyata pijitan suaminya sangat enak, Zee sangat menikmatinya.
"Bagaimana? Enak?" tanya Alan.
"He'em, enak sekali," ucap Zee. Lama kelamaan pijitan suaminya berubah menjadi pijitan yang sangat nakal, membuat istrinya membulatkan matanya dan protes. Alan hanya terkekeh geli, melihat reaksi sang istri.
to be continued......
__ADS_1