
"Zee?" panggilnya, membuat jantung Zee berdegup sangat kencang. Zee menoleh ke sumber suara.
"Sekarang aku adalah suamimu! Aku tahu, pernikahan kita adalah suatu kesalahan! tidak pernah kita harapkan! Akan tetapi pernikahan adalah ikatan!" ucap Alan penuh penekanan.
"Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang disepakati oleh dua insan manusia untuk hidup bersama saling menyayangi dan mencintai dalam menjalani bahtera rumah tangga!"
"Pasangan suami istri juga menginginkan kehidupan rumah tangganya selalu di berkahi oleh Allah dan di jauhkan dari segala masalah!"
"Sedangkan ikatan itu sendiri bukan hanya mengikat antara suami dan istri saja, akan tetapi juga mengikat dua keluarga yang tidak saling mengenal, yang akhirnya menjadi saling mengenal!"
"Karena itu Zee, Aku akan menganggap pernikahan ini pernikahan pertama dan terakhirku!" jelas Alan panjang lebar.
"Aku akan berusaha menyayangimu, aku juga akan berusaha mencintaimu, aku akan berusaha menerima masa lalu mu, aku juga berusaha menerima kelebihan dan segala kekurangan mu, aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik buat mu!"
"Dan pertanyaan ku adalah Apakah kau bersedia melakukan hal yang sama, Zee?" tegas Alan.
Zee benar-benar di buat mati kutu oleh pertanyaan Alan, dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun saat ia mengingat nasehat papa dan mamanya sebelum acara ijab qobul, ia pun memantapkan hati untuk menerima pernikahan ini dengan hati yang ikhlas.
"Iya, Om! Zee akan berusaha menjadi istri yang baik!" jawab Zee polos.
"Termasuk jika suami meminta haknya?" tanya Alan.
"Iya, Om! Apa?" Zee menyadari pertanyaan jebakan Alan.
"Ha...ha...ha! Aku bercanda! Aku akan menunggu hingga kau sendiri yang meminta!" ucap Alan.
"Huft!" Zee bernafas lega.
"Sudah malam sebaiknya kita tidur!" ucap suaminya.
"Baiklah!" Zee melipat mukenanya lagi, dia langsung beranjak ke tempat tidurnya.
Saat Alan mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Zee, Zee bingung harus bagaimana.
"Tidurlah! Apakah kau akan tidur sambil duduk?" tanya suaminya. Zee pun tidur dengan posisi membelakangi suaminya.
"Astaga! bagaimana aku bisa tidur? Ini adalah pertama kalinya gue tidur satu kamar dengan seorang pria!"
"Walaupun sekarang kami sudah menjadi suami istri, kenapa rasanya canggung sekali?"
"Ah.....!" Zee terduduk mengacak rambutnya sendiri, ingin teriak takut suaminya terbangun.
Zee menoleh ke arah suaminya, terdengar dengkuran halus, tandanya suaminya sudah tertidur.
Zee memandangi wajah tampan suaminya, jarinya menyentuh hidung suaminnya turun ke bawah berhenti di bibir seksi Alan.
Zee membaringkan tubuhnya yang terasa lelah menghadap suaminya. Tanpa terasa matanya sangat berat dan Zee tertidur sambil berhadapan dengan suaminya.
Pagi hari
Seperti biasa setelah sholat subuh, Zee akan kembali ke tempat tidur meringkuk di bawah selimut tebalnya. Alan yang melihat istri kecilnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Alan, menyuruh orang kepercayaannya untuk mengirimkan baju untuk ganti.
Rencananya hari ini, dia ingin lari pagi. Setelah menerima baju dari anak buahnya, Alan langsung berganti dengan kaos dan celana training serta sepatu olahraga. Alan membangunkan istri kecilnya, namun tetap tidak bangun juga. Akhirnya ia memutuskan lari pagi sendiri mengelilingi kompleks.
Mama masuk ke kamar Zee, dan melihat Zee masih bergelung selimut tebalnya.
"Ya Ampun, Zee kau masih tidur! Ayo Zee bangun! Kau sudah bersuami, harus bangun pagi dan menyiapkan keperluan suami!" bawel mama.
"Ma, Zee masih mengantuk!" ucap Zee menarik selimutnya sampai menutupi kepala.
"Ya Allah, Nak! Alan saja sudah bangun dari tadi! masa kau masih tidur! Cepat bangun!"
"Ni mama panggilkan papa kalau masih tidak bangun juga!" gerutu mamanya.
"Iya, Ma!" Zee beranjak dari tempat tidur, dengan langkah yang malas, Zee menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
Selesai mandi Zee membantu mama menyiapkan sarapan di meja makan.
Setelah semuanya selesai, mama menyuruh Zee untuk berpenampilan menarik dan cantik.
"Ganti pakaianmu! Sekarang kau ini seorang istri! Buat suamimu betah di rumah!" nasehat mama.
"Ya Ampun, Ma! Meskipun Zee tidak berdandan, Zee masih tetap cantik kok!"
"Zee tetap seksi, nih lihat! masih seksi kan?" ucap Zee sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.
"Gak tepos-tepos juga kok, Ma!" Zee menepuk pantatnya.
Ehm.... Ehm..... Ehm
Zee menengok ke arah belakang, betapa terkejutnya dia melihat suaminya sudah berdiri di sana. Mama yang melihat hanya tersenyum geli, melihat raut muka Zee menahan malu.
"Sejak kapan Om berdiri di belakang, Zee?" tanya Zee untuk mengurangi kecanggungan.
"Sejak dari tadi! melihat uget-uget sedang berjoget bak cacing kepanasan!" ejek Alan.
"Uget-uget begini juga cantik, Om !" jawab Zee sekenanya.
"Sudah-sudah! Cukup berdebatnya! Alan mandilah, nanti kita sarapan bersama!"
"Zee, siapkan keperluan suamimu!" perintah mama.
"Eh, baiklah, Ma!"
"Ingat pesan mama!" ujar mama, mengingatkan Zee.
"Pesan apa, Ma?" tanya Zee bingung.
"Dandan yang cantik dan pakai baju feminim!" bisik mama.
"Ah, Mama! Ngapain harus dandan sih?" Zeemenyusul suaminya ke kamar.
__ADS_1
Setelah menyiapkan baju ganti suaminya, Zee pun berganti baju dengan baju yang lebih feminim dan sedikit memakai bedak dan lipstik.
Alan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Zee yang melihat pemandangan itu jadi malu sendiri, Zee membuang pandangannya ke arah lain. Alan benar-benar terpukau melihat istri kecilnya begitu cantik setelah berdandan. Alan mendekat ke arah Zee, memandang wajah Zee.
Zee yang merasa di pandangi oleh suaminya, pipinya merah merona seperti udang rebus.
"Ih, minggir sana!" Zee mendorong dada bidang suaminya.
"Zee sudah nyiapin baju ganti, Om! Tuh ada di atas kasur!" tunjuk Zee.
"Terima kasih!" jawab Alan.
"Oya, Om! Siapa yang membawa koper itu?" tunjuk Zee ke koper di sebelah tempat tidurnya.
"Anak buahku yang mengantarkan ke sini, pagi-pagi sekali!" jawab Alan.
"Ko Zee gak tahu?" tanyanya.
"Jelaslah kamu gak tahu, orang kamu tidur udah kaya bangkai!" canda suaminya.
"Apa?"
"Ish, Om ini!" Zee mengerucutkan bibirnya.
"Ha... ha... ha," tawa Alan, melihat istrinya seperti itu membuat Alan benar-benar gemas, ternyata Zee tidak seburuk yang dia kira.
"Nanti sore bersiap-siaplah! kemasi barang-barang mu yang penting-penting dulu! kita akan ke rumah mama!" ucapnya.
"Sore! Apakah kita akan tinggal di rumah mama?" tanya Zee.
"Tidak! Tapi kita harus menginap di sana terlebih dahulu, satu atau dua hari lah!"
"Aku sudah memiliki rencana sendiri untuk kita!" tuturnya lagi.
"Memangnya apa rencana Om?" tanya Zee, penasaran.
"Sebelum menikah, Aku sudah membeli rumah sendiri! karena aku sudah menikah, rumah itu akan aku tempati bersama istriku!"
"So sweet!" batin Zee membuat pipinya memerah.
"Kenapa kita tidak tinggal di sini atau di rumah mama Sarah saja?" tanya Zee heran.
"Karena aku tidak mau urusan rumah tanggaku ada campur tangan orang tua! Terutama masalah urusan ranjang!.kau mengerti kan?" goda suaminya.
"Ha...ha....ha !"
"Ish, Om ini!" Zee yang di tatap suaminya jadi semakin salah tingkah.
to be continued....
__ADS_1