Om I Love You

Om I Love You
Episode 120


__ADS_3

Satu Minggu berlalu


Acara syukuran cukur rambut baby Aisha di gelar di rumah Mama Sarah. Acaranya lumayan besar, semua teman-teman dan keluarga besar berkumpul di rumah Mama Sarah. Menikmati serangkaian acara demi acara, hingga terakhir ditutup dengan tausiyah dan pembacaan do'a bersama. Keluarga Astrid belum bisa kembali dari Amerika, karena Yuda masih menjalani serangkaian pengobatan.


Akhir acara, Alan dengan dibantu Elmar membagi-bagikan makanan dan uang untuk Panti asuhan, pantai sosial dan panti jompo.


Kemudian Alan ditemani oleh Elmar menuju ke suatu tempat. Mobil Alan berhenti di sebuah rumah mewah berlantai tiga. Alan memberikan kunci rumah kepada Elmar, sebagai hadiah karena telah membantunya selama ini.


"Om, ini terlalu besar," ucapnya malu-malu.


"Tidak apa-apa! Aku sudah berjanji kepadamu!" jawab Alan.


"Tapi, Om, aku cuma bercanda saja!" cakapnya.


"Sebenarnya rumah ini, ingin aku hadiahkan untuk Zee! Namun, Zee bilang, dia sudah betah tinggal di rumah Mama Sarah! Karena, tidak mungkin Zee bisa merawat baby Aisha sendiri! Kau kan tahu, kedekatan Zee dengan Mamahku! Jadi, kami berdua memutuskan untuk menghadiahkan rumah ini kepadamu yang sudah berjasa besar kepada kami sekeluarga," jelasnya. "Dan aku memiliki alasan sendiri kenapa memberikan rumah ini kepadamu?" ucapnya.


"Aku sangat puas dengan hasil kinerja mu selama ini! Kau laki-laki yang ulet dan pekerja keras! Dan aku juga sangat menyukai kejujuran mu! Dan sebagai bentuk apresiasi atas usahamu, aku memberikan hadiah yang pantas atas kerja kerasmu itu," tegas Alan membuat Elmar terharu.


"Hiks ... hiks .... hiks."


"Terima kasih banyak, Om! Akhirnya aku jadi kawin, Om!" senangnya, hendak memeluk Alan. Namun tangannya ditepis oleh Alan.


"Ish, kau ini! Laki-laki cengeng sekali! Apakah kau tidak malu menangis di depanku?" cibirnya.


"Ini namanya tangisan bahagia, Om!" isak Elmar.


"Ha ... Ha ... Ha." tiba-tiba saja tawa Elmar menggelegar.


"Akhirnya aku jadi kawin juga! Ratu, tunggu Abang, Sayang! Kita akan segera menikah!" ujarnya.


"Ish, dasar tidak waras!" heran Alan. "Biasanya orang gila karena tidak punya duit! Sedangkan kau gila karena cinta," cebik Alan.


"Ah, Om juga sama! Lima hari nggak ketemu Zee saja, sudah seperti orang gila! Tidak mau mandi, tidak mau makan! Apa itu namanya kalau tidak gila?" ujar Elmar.


"Ah, benar juga!" batin Alan. "Sudahlah, Ayo kita pulang!" ajak Alan sambil menyerahkan kunci rumah itu kepada Elmar.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak lihat-lihat dulu dalamnya, Om?" ujarnya.


"Ah, kau saja dengan Ratu! Aku sudah rindu dengan istri dan anakku," timpalnya.


"Astaga! Baru satu jam saja sudah rindu," cebik Elmar.


"Tentu saja! Setelah kau menikah, nanti kau juga akan merasakannya!" ujarnya.


Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke rumah Mama Sarah. Dia menyuruh Elmar untuk menginap saja dirumahnya, tidak mungkin juga menyuruhnya langsung kembali ke Bogor.


Rumah nampak sudah sepi, para tamu juga sudah pulang. Orang tua Zee dan Ratu juga sudah pulang. Papa Harun dan Mama Sarah kelihatannya juga sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Alan menyuruh salah satu pelayan di rumahnya untuk menyiapkan kamar tamu untuk Elmar beristirahat.


"Istirahatlah di kamar tamu!" perintahnya. "Jika perlu apa-apa, kau panggil saja pelayan! Anggap saja rumah sendiri!" ucapnya.


"Terima kasih banyak, Om!" jawabnya.


Elmar di antar pelayan ke kamarnya. Elmar dibuat takjub dengan rumah mewah milik orang tua Om Alan. Rumahnya sangatlah besar dan mewah. Semua perabotan di rumah itu, semuanya bermerek dan pastinya sangat mahal. Namun yang membuatnya heran, kenapa suami sahabatnya memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana, rumah saat dirinya menginap dulu.


"Om Alan benar-benar hebat! Meskipun terlahir dari keluarga yang kaya raya, dia tidak mau menunjukkan atau memamerkan keluarganya yang sangat kaya itu!" pujinya di dalam hati.


Alan masuk ke kamarnya dengan berhati-hati, karena istrinya dan baby Aisha sedang tertidur pulas di kasur big size nya. Alan memandangi wajah cantik baby Aisha, sangat mirip dengan Mamihnya. Saat dia akan mencium baby Aisha, dia teringat bahwa dirinya belum mandi dan bersih-bersih. Dia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi, dia melihat baby Aisha terbangun dan menangis. Sepertinya sang baby lapar, minta susu Mamihnya. Alan pun membangunkan istrinya pelan-pelan.


"Heum," Zee menggeliatkan tubuhnya. Sayup-sayup ia mendengar putrinya menangis, ia pun membuka matanya. Ternyata, sang suami sedang berusaha untuk menenangkan baby Aisha yang sedang menangis.


"Pih?" panggilnya, Zee duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Aisha lapar, Mih!" ucapnya.


"Sini, sepertinya Aisha mau Mimi susu, Pih!" jawab Zee. Alan mendekatkan baby Aisha ke Mamihnya, baby Aisha meminum susu ASI nya dengan cepat, membuat Alan manggut-manggut mengikuti gerakan kepala putrinya.


"Jangan dihabiskan ya, Sayang! Nanti sisanya buat, Papih!" selorohnya.


"Ish, jangan mulai mesum deh!" cibir Zee.


"Iya, namanya juga usaha!" jawab Alan.

__ADS_1


"Usaha apa?" Zee membelalakkan matanya, "Jangan mesum! Mamih masih masa nifas! Nifas selesai pun, Papih harus puasa selama dua Minggu lagi!" cebiknya.


"Hah, dua Minggu?" herannya. "Astaga, Mih! Mamih tega banget! Padahal masa nifas saja lama banget! Ditambah dua Minggu, bisa berlumut, Mih!" selorohnya begitu saja.


"Papih pikir batu keramat!" cibir Zee.


"Ini bukan batu keramat, Sayang! Tapi, senjata keramat," ujarnya.


"Ah, mesum!" ucap Zee.


Setelah melihat baby Aisha kembali tertidur, Alan menyuruh agar istrinya menaruh baby-nya di box saja. Zee pun menurut kata-kata suaminya, ia menaruh baby Aisha di box bayi.


"Papih sudah makan?" tanya Zee.


"Belum, Sayang!" jawabnya.


"Apakah Papih mau makan?" tanya Zee.


"Ehm, boleh deh! Memangnya masih ada makanan, Sayang?" tanya Alan.


"Sepertinya masih, Pih! Coba Mamih lihat di kulkas," ucapnya. Zee mengecek kulkas, apakah ada makanan yang tersisa dari acara syukuran tadi sore. Ternyata masih ada rendang dan gulai di dalam kulkas, tinggal ia panaskan dengan microwave, semuanya beres.


Zee mengambilkan satu piring besar makanan dan satu gelas air putih, dia bawa ke dalam kamar, agar suaminya makan di dalam kamar saja. Dengan begitu dia masih bisa mengawasi baby Aisha, yang takutnya akan terbangun. Alan memakan makanan yang dibawa istrinya dengan lahap, satu piring tandas tanpa sisa.


"Oya, Pih! Bagaimana? Apakah Elmar sudah menerima kunci rumahnya?" tanya Zee.


"Sudah, Sayang! Kau tenang saja," jawabnya.


"Terus, bagaimana dengan rumah kita yang dulu?" tanya Zee lagi.


"Itu gampang, Sayang! Nanti aku akan suruh orang untuk membersihkannya setiap hari! Atau kita jual saja! Bagaimana menurutmu?"


"Jangan, Pih! Rumah itu punya kenangan sendiri buat kita," ujarnya.


"Baiklah, nanti Papih akan suruh orang untuk membersihkannya setiap hari," jawabnya.

__ADS_1


"Okey, Pih!" jawabnya.


to be continued....


__ADS_2