Om I Love You

Om I Love You
Episode 82


__ADS_3

Amerika


Hari ini Astrid membawa putranya ke psikolog, hal ini Astrid lakukan agar putranya berkonsultasi dengan psikolog, agar beban yang menggangu pikirannya sedikit berkurang.


Awalnya, saat Astrid mengajak putranya untuk berobat masalah impotensi putranya, Yuda menolak dengan keras. Dia merasa tidak percaya diri, dia juga takut gagal.


Itu membuat putranya akhir-akhir ini murung dan tidak berselera makan.


Namun Astrid terus memberikan dukungan dan semangat kepada putranya. Membuat Yuda bersedia datang ke psikolog yang cukup terkenal.


Astrid dan Yuda sedang menunggu giliran dipanggil oleh seorang petugas. Psikolog ini memiliki klinik sendiri, jam prakteknya pun hanya dibatasi sampai sore saja.


Kini giliran Astrid dan Yuda dipanggil oleh seorang petugas. Mereka masuk ke ruangan psikolog, dan mereka dipersilahkan duduk di sofa. Seorang wanita berparas cantik, berwajah bule dengan rambut pirang dan panjang mendekat ke arah mereka. Yuda nampak pernah melihat perempuan ini, namun dia masih berfikir keras, dimana dirinya bertemu dengan perempuan cantik itu.


"Selamat siang, Nyonya dan Tuan! Perkenalkan nama Saya Catherine! Bolehkah saya tahu namanya?" tanya Dokter Catherine.


"Nama saya Astrid, Dok! Dan ini putra saya, bernama Yuda!" jawab Astrid.


"Apakah kalian orang Melayu?" tanya Catherine lagi.


"Bukan, kami orang Indonesia! Dokter sangat fasih berbahasa Indonesia, Apakah Dokter ada keturunan Indonesia?" tanya Astrid, balik bertanya.


"Ha ... ha ... ha!" tawa Catherine renyah.


"Suami saya orang Indonesia, saya belajar bahasa Indonesia bersama suami saya!" ujarnya.


"Oh, hebat sekali, pasti suami Dokter sangat senang! Bukan hanya cantik tetapi Dokter sangat pintar," puji Astrid.


"Ah, bisa saja, Nyonya! Saya juga masih belajar, tapi ....!" Catherine menjeda kalimatnya.


"Tapi, Apa?" tanya Astrid penasaran.


"Belum begitu lancar berbahasa Indonesia, suami saya meninggal karena kecelakaan!" jelasnya dengan sedih.


" Ya Ampun, kasihan sekali! Maafkan saya, Dokter! Saya tidak bermaksud untuk membuat Dokter bersedih!" ucap Astrid.


"It's Oke, Saya tidak apa-apa! Lagian kejadiannya juga sudah lama!"


"Oya, Ada keperluan apa Nyonya dan Saudara Yuda datang kemari?" tanyanya sopan.


Astrid pun menceritakan tujuan kedatangan dirinya dan putranya. Catherine yang mendengarkan dengan seksama bisa mengerti dengan masalah yang diderita oleh pasiennya.

__ADS_1


Langkah pertama yang dilakukan Catherine adalah menyuruh Yuda untuk duduk rileks di kursi khusus pasien. Dengan dibantu Astrid, Yuda berpindah ke kursi tersebut. Hal pertama yang dilakukan Catherine adalah mendiagnosis masalah kesehatan mental Yuda, dengan cara interview, survei dan observasi.


Catherine terus mengajak Yuda untuk talk terapi atau terapi bicara. Yang bertujuan untuk mengubah respon terhadap perilaku dari pola pikir negatif ke pola pikir positif.


Sekitar 30 menit, Catherine mengajak Yuda untuk terapi bicara. Hingga Yuda terlihat kembali bersemangat dan tidak murung lagi.


"Bagaimana perasaan kamu, Yuda?" tanya Catherine.


"Lebih baik, Dok," ucapnya.


"Jangan panggil Dokter, Panggil saja Catherine," ujarnya.


"Ah, rasanya tidak sopan hanya memanggil nama saja,," ucap Yuda.


"Ayolah, jika kau memanggilku dengan Dokter, aku serasa sangat tua," ucap Catherine tanpa malu-malu.


"Baiklah, Dok, eh, maksud saya, Catherine," ujarnya. Catherine tersenyum senang, karena Yuda dengan cepat berinteraksi dengan lawan bicaranya.


Jam menunjukkan waktu makan siang, waktunya Catherine untuk beristirahat dan menunggu buah hatinya datang ke kliniknya. Saat Astrid dan Yuda hendak pulang, tiba-tiba seorang anak kecil datang dan memanggil nama Mommy nya.


"Mommy?" panggilnya.


"Menyenangkan, Mommy," ucapnya, kemudian dia melirik ke arah seseorang yang sedang duduk di kursi rodanya.


"Uncle Yuda?" panggil gadis manis itu kepada Yuda.


"Ehm, Laura," Yuda nampak mengingat-ingat gadis kecil nan cantik didepannya.


"Yes, ini Laura," ucapnya, walaupun masih berusia 4 tahun, namun gadis kecil itu sangat fasih berbicara.


"Bagaimana kabarnya uncle? Kok uncle bisa disini? Apakah uncle sakit?" cecar Laura dengan banyak pertanyaan, membuat semuanya tersenyum.


"Iya, Sayang, uncle sedang sakit, dan Mommy Dokternya!" jawab Catherine, karena jika tidak dijawab Laura akan semakin banyak bertanya.


"Tante, Yuda, ini adalah Laura, putri saya." ucap Catherine memperkenalkan putrinya.


"Kami pernah bertemu, saat ditaman!" ujar Yuda, kemudian Catherine nampak teringat dengan laki-laki berkursi roda, ternyata dia adalah Yuda.


"Oh, iya, aku baru teringat dengan pria kursi roda yang sering diceritakan oleh Laura, ternyata Anda," ujar Catherine.


"Wah, kebetulan sekali, Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Astrid kepada Catherine.

__ADS_1


"Baiklah, kebetulan ini sudah waktunya jam makan siang,"


"Mari! Silahkan!" ajak Catherine mempersilahkan Astrid berjalan terlebih dahulu.


Keluar dari klinik, mereka nampak bingung mau makan dimana. Kemudian Yuda memberikan usul, makan dicafe seberang saja. Karena tempatnya dekat dengan klinik Catherine.


Mereka semua pun setuju, mereka menuju cafe depan sana. Mereka duduk di depan cafe, tempatnya sangat nyaman buat tongkrongan dan merilekskan pikiran.


Astrid memesan beberapa menu, untuk Catherine dan si kecil Laura. Laura sangat antusias sekali dengan acara makan bersama seperti ini. Dia merasa seperti memiliki seorang Daddy dan Oma. Yuda dibuat tertawa bahagia dengan kelakar lucu dan menggemaskan seorang Laura.


"Sepertinya Laura sangat senang bertemu dengan Anda!" ucapnya, membuat Yuda sangat malu.


"Benarkah? Berarti aku orang yang lucu dan menggemaskan!" sombongnya.


"Ah, Anda bisa saja!" ucapnya.


"Oh, ya, Tante! Tante dan Yuda tinggal dimana?" tanya Catherine.


"Kami tinggal di Bourbon Street 18," ucap Astrid.


"Oh, ternyata kita satu arah," ujarnya.


"Kalau saya di Bourbon Street 25, di belokkan ambil Utara, itu rumah kami," ujarnya.


"Wah, ternyata kita bertetangga," ucap Astrid.


"Senang bisa berkenalan dengan Dokter Catherine," ucapnya.


"Saya juga sangat senang sekali," ujarnya.


Setelah makan siang selesai, Catherine hendak membayar makanan tersebut, namun Astrid melarangnya, karena dialah yang mengajak Catherine dan putri kecilnya makan siang bersama, jadi sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membayar billnya.


Setelah menyelesaikan pembayaran makanan, mereka pun berpisah. Awalnya Laura ingin ikut bersama Yuda, namun Catherine melarangnya, takut akan merepotkan. Akhirnya mereka berpisah di tempat parkir.


"Laura, Sayang, kapan-kapan uncle akan menemui Laura lagi!" ucap Yuda.


"Promise," ujar Laura memberikan jari kelingkingnya, agar mereka saling menautkan jari kelingking, tandanya Yuda berhutang satu janji kepada gadis kecil ini. Astrid tersenyum bahagia, karena kehadiran Laura membuat Yuda bersemangat lagi, dan sedikit melupakan masalahnya.


"Okey, I'M Promise," Yuda mengecup puncak kepala gadis kecil itu, membuat Catherine sempat terharu, pasalnya ayah Laura meninggal saat Laura masih sangat kecil. Sehingga Laura kecil sangat merindukan sosok seorang ayah. Yuda masuk kedalam taksi yang Astrid pesan, Laura melambaikan tangannya kepada Yuda, tanda perpisahan.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2