Om I Love You

Om I Love You
Episode 110


__ADS_3

Dua bulan berlalu


Setelah dua bulan lamanya polisi mencari keberadaan Silvi. Silvi menghilang bagai ditelan bumi. Tidak ada satupun orang yang mengetahuinya. Bahkan kabar paman Xavier saja yang sudah dibebaskan dari penjara, tidak terdengar lagi kabar selanjutnya. Seakan-akan semua akses mengenai mereka terputus begitu saja, tidak ada jejak ataupun aktivitas lainnya. Mereka memang sangat lihai dalam menyembunyikan diri dan identitas mereka. Namun rasa kekhawatiran Alan dan papa Harun masih saja menggelayut dipikiran mereka. Alan pun masih tidak berani untuk kembali ke rumah sebelum mereka ditangkap. Apalagi melihat kondisi Zee dengan perutnya yang semakin besar, menambah deretan kekhawatiran Alan.


Papa dan mama sama sekali tidak merasa keberatan mereka tinggal di rumah keluarga Xaquille. Justru mereka sangat bahagia, yang sebentar lagi akan menyambut cucu pertama dari putranya. Mama Sarah sudah membelikan berbagai perlengkapan bayi untuk cucunya. Bahkan kamar sebelah Zee sudah ia renovasi menjadi kamar bayi yang sangat cantik, dengan berbagai banyak boneka dan mainan-mainan yang sangat mahal. Mama Sarah sengaja membuat pintu yang dihubungkan dengan kamar Alan dan istrinya. Itu sengaja dilakukan supaya mereka bisa memantau bayi dengan mudah.


Seperti biasa, setelah sholat subuh Alan akan mengawali aktivitasnya dengan lari pagi berkeliling kompleks. Dia melarang istrinya ikut, karena melihat perut istrinya sudah semakin membuncit. Sudah siap dengan baju dan training, ia pun berpamitan kepada istri dan baby yang ada didalam perut Zee.


"Aku lari pagi sama papa dulu, Sayang?" pamit Alan.


"Iya, Pih! Hati-hati." ucapnya. Alan pun pergi keluar rumah dengan papa Harun untuk lari pagi.


Sedangkan Zee akan membantu Mama di dapur untuk membuat sarapan. Meskipun di rumah besar ini memiliki koki sendiri untuk membuat makanan, namun Mama memang hobi memasak. Jika dia memiliki keinginan kuat memasak hari ini, maka hari itu juga dia akan melakukannya. Sang koki tidak akan bisa melarang Mama untuk mengacak-acak dapurnya. Sang koki hanya bisa melihat dan membantu Mama dibelakangnya.


Masakan Mama sudah siap, Zee membantu menyiapkannya di meja makan. Kali ini Mama membuat bubur ayam spesial untuk keluarganya. Terlihat sangat enak dan menggoda. Berkali-kali Zee menelan salivanya sendiri, ingin cepat-cepat mencicipi bubur buatan Mama yang sangat enak.


"Kalau sudah lapar, makan saja dulu," tutur Mama, membuat Zee malu.


"Ah, nanti! Tunggu Mas Alan dan papa pulang! Mungkin sebentar lagi mereka pulang." ujarnya.


Walaupun sebenarnya Zee ingin sekali mencicipi bubur tersebut, namun dia tidak mungkin sarapan terlebih dahulu.


"Kenapa? Mama nggak apa-apa kok kalau kamu sarapan terlebih dahulu!" kata Mama.


"Masalahnya bukan begitu, Ma! Anak Mama nggak bisa kalau sarapan sendiri, dia akan berselera makan kalau Zee makan disampingnya," manyun Zee.

__ADS_1


"Dia akan bela-belain perutnya kosong, karena tahu kalau Zee sudah makan dulu! Dan nggak mungkin juga Zee makan sampai dua kali! Malu dong! Apa kata orang, kalau melihat wanita cantik makannya rakus," cibirnya kepada diri sendiri, membuat Mama tertawa mendengar celotehan menantunya.


"Iya, sudah! Sekarang kamu mandi dulu! Paling sebentar lagi mereka pulang," cakap Mama.


"Oke, Ma." Zee pun bergegas ke kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih. Perutnya sudah semakin membuncit, bebannya juga sudah semakin berat. Itu membuat pergerakan Zee tidak bisa sebebas dulu. Dia sangat berhati-hati menjaga dirinya, terutama bayinya.


Disisi lain Ratu sudah merasakan mulas diperutnya, ini memang sudah bulannya dia melahirkan. Memang tanggalnya lebih awal dari tanggal yang sudah ditentukan oleh ibu bidan. Air ketuban Ratu sudah merembes, Mama Nola yang melihat itu sangat panik. Mama pun menyuruh papa untuk membawa putrinya langsung ke Rumah Sakit. Papa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Mama, di kursi penumpang membantu Ratu untuk tenang dan berdo'a agar semuanya lancar.


Sampai di Rumah Sakit, petugas langsung memberikan pertolongan kepada pasiennya. Memindahkan tubuh Ratu ke brankar Rumah Sakit, dan mendorongnya ke ruangan persalinan. Papa dan Mama menuggu Ratu di depan ruangan persalinan. Papa hendak memberitahukan perihal ini kepada Zee, namun Mama melarangnya. Melihat kondisi Zee juga sedang keadaan hamil tua, takutnya Zee akan kepikiran dan melemahkan mental dan semangatnya. Itu akan berdampak buruk buat putrinya yang lain.


Masih dalam keadaan menunggu persalinan Ratu, tiba-tiba Elmar datang ke Rumah Sakit. Papa dan Mama sangat terkejut, pasalnya mereka belum memberitahukan perihal Ratu yang mau melahirkan.


"Elmar, kamu tahu dari mana Ratu di Rumah Sakit?" tanya Mama saat Elmar menyalami keduanya.


"Kok bisa?" tanya papa heran.


"Dari semalam perasaan Elmar tidak tenang! Makan juga rasanya kurang nafsu! Apalagi sedari malam, Ratu mengatakan kalau perutnya agak mulas! Jadi, Elmar langsung datang ke Jakarta dan ke rumah papa, tapi, kata pelayan Ratu dibawa kesini!" jelasnya panjang lebar.


"Astaga, anak ini benar-benar!" batin papa, "Aku yakin, dia bisa membahagiakan Ratu," batin papa lagi.


Dua jam lamanya, akhirnya persalinan berjalan dengan lancar. Bayi kecil, mungil dan tampan telah lahir dari rahim Ratu secara normal. Papa dan Mama sangat bahagia, terutama Elmar, kesempatan untuk meraih jodohnya sudah semakin dekat. Bayi dibawa oleh suster untuk dibersihkan, karena berbau anyir bekas darah dan air ketuban. Setengah jam kemudian, Ratu boleh dijenguk keluarganya, namun mereka tidak boleh sekaligus masuk ke ruangan persalinan. Dokter menyarankan supaya satu persatu saja yang masuk menjenguk pasien.


Satu jam kemudian, Ratu dipindahkan ke ruang rawat. Bayinya juga sudah bersih dan wangi. Mama menyuruh papa untuk mengadzani nya. Namun Elmar memohon agar dirinya yang mengadzani bayi tersebut. Papa dan Mama saling berpandangan, mendengar permohonan Elmar. Tidak mungkin juga papa meminta Yuda untuk mengadzani anaknya, secara Yuda masih berada di Amerika. Papa pun mengizinkan Elmar untuk mengadzani bayi Ratu. Elmar membopong tubuh bayi kecil itu dan mendekatkan mulutnya ke telinga sang bayi. Elmar mulai mengadzani bayi tersebut, semua yang mendengarkan merasa terharu sekaligus takjub. Dengan suara yang indah, Elmar mengadzani bayi mungil itu.


Cukup lama Elmar di ruangan Ratu, berbincang-bincang dan ngobrol dengan papa. Sedangkan Mama membantu Ratu untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah kau bisa memenuhi permintaan ku?" tanya papa kepada Elmar dengan serius.


"Itu, Pah!" Elmar menjeda kalimatnya.


"Jika langsung menjadi kaya itu tidaklah mungkin! Tapi, saya memberikan solusi terbaik buat kamu!" ucap papa.


"Solusi apa, Pah?" tanya Elmar menyunggingkan senyumnya.


"Jika kamu bisa membeli Rumah disini dengan uang hasil kerja kerasmu! Maka kalian bisa menikah setelah Ratu selesai masa nifasnya," tantang papa. Hati Elmar begitu bahagia, itu adalah solusi yang terbaik yang Elmar dengar.


"Insya Allah, Pah! Papah do'akan


saja! Elmar yakin bisa, Pah!" yakin Elmar.


to be continued.....




Aku mau promosi novelku yang lain yang sudah tamat dan nulisnya masih acak-acakan, mohon dimaklumi karena penulis amatir...🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤗🤗🤗🤗



![](contribute/fiction/3681962/markdown/32005883/1648001884082.jpg)

__ADS_1


__ADS_2