Om I Love You

Om I Love You
Episode 101


__ADS_3

Setelah makan malam selesai di rumah papa dan mama, pasangan suami istri itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Hari juga sudah semakin malam, Alan tidak tega membiarkan istrinya kelelahan. Setelah berpamitan, mobil Alan melaju meninggalkan kediaman Aghar. Zee nampak lelah dan letih, suaminya bisa melihat itu.


"Capek?" tanya suaminya.


"He'em," jawab Zee. Tangan kiri suaminya menggenggam jari jemari istrinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang setir mobil.


"Oya, Pih! Kenapa tadi Mamih tidak boleh bercerita tentang masalah Ratu dan Elmar? Papah sama Mama kan juga berhak tahu?" tanya Zee penasaran.


"Biarkan saja, Sayang! Lagipula itu bukan urusan kita!" jawab suaminya santai.


"Mereka juga memiliki privasi sendiri, Sayang! Kita tidak boleh mencampuri urusan mereka!"


"Biarkan mereka jujur kepada semua orang! Terutama sama papa dan mama! Kamu mengerti kan?" kata suaminya malah balik bertanya.


"Iya, Pih! Mamih mengerti! Memang sebaiknya Elmar sendiri yang mengatakan kepada Papa dan Mama," ucapnya.


"Iya, Sayang! Kita jangan dulu mencampuri urusan Ratu dan Elmar," jawab suaminya.


Di tengah perjalanan, mobil mereka dikejar oleh empat orang pria bertubuh besar memakai motor. Mereka berempat memakai baju hitam, celana hitam dan penutup wajah. Alan dan Zee tidak mengenali mereka semua. Alan terpaksa menghentikan mobilnya ke tepi jalan yang sepi, karena mereka terus memepet mobil Alan yang sedang melaju. Alan tidak tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka. Keempat orang itu turun dari motornya, dan menyuruh penumpang didalamnya keluar dari mobil. Alan menyuruh istrinya untuk tetap didalam mobil, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


Cekreek ...


Suara mobil di buka.


"Hei, turun!" teriak salah satu dari mereka, memerintahkan Alan untuk turun dari mobilnya.


"Siapa kalian?" tanya Alan kepada keempat laki-laki tersebut.


"Kami orang yang akan menyabut nyawamu!" ucap temannya. Wajah mereka ditutup dengan topeng, sehingga Alan tidak tahu suara siapa yang sedang berbicara, jalanan pun nampak sepi dan gelap.


BUGH ...


BUGH ..


Perkelahian tidak bisa dielakkan, salah satu diantara mereka menghajar Alan, Alan bisa menghindarinya. Ala dikeroyok oleh empat laki-laki berbadan besar, Zee tidak bisa hanya melihat saja, suaminya dikeroyok empat orang laki-laki. Meskipun suaminya jago beladiri, kondisi tubuh suaminya juga kurang vit, tentu suaminya merasa kualahan juga menghadapi empat orang laki-laki bertubuh besar dan tegap.

__ADS_1


Zee mencari sesuatu untuk senjatanya, dia sudah tidak seperti dulu. Saat belum hamil, Zee masih bisa mengalahkan enam orang penjahat sekaligus. Namun keadaanya berbeda, kini ia sedang membawa beban berat diperutnya. Pergerakannya juga tidak sebebas dulu, ia harus sangat hati-hati menjaga calon bayi diperutnya. Zee keluar mobil dan menemukan sebilah kayu yang panjang. Zee memukulkan kayu tersebut tepat di tengkuk salah satu penjahat itu. Karena tengkuk adalah salah satu kelemahan seseorang dalam bertarung, itulah yang dia pelajari saat mengikuti seni ilmu beladiri di sekolahnya dulu.


Bugh....


Salah satu laki-laki bertubuh besar itu, langsung terjatuh memegangi tengkuknya yang sakit akibat pukulan Zee. Yang satu tidak terima dan hendak menyerang Zee. Zee menangkisnya, dan menginjak kaki pria itu hingga mengaduh kesakitan dan ia langsung menghajar hidung, mata dan dagunya. Membuat pria itu jatuh terjengkang. Zee hendak memukulkan kayu itu ke arah pria yang sudah tidak berdaya, namun hati nuraninya masih berjalan, hingga dia mengurungkan niatnya untuk memukul. Zee menggertak pria itu untuk menelfon polisi, agar pria tersebut takut dan pergi. Kedua pria itu lari terbirit-birit ke arah motornya.


Suaminya masih adu hantam dengan dua pria lagi, hingga kedua penjahat lengah, Alan menghajar kedua penjahat itu sampai babak belur. Kedua pria yang sudah berada di motor memanggil temannya untuk kabur. Alan hendak mengejar namun ia teringat bahwa istrinya ikut turun dan berkelahi dengan penjahat-penjahat tersebut. Dia mengurungkan niatnya untuk mengejar.


"Mih?" panggil suaminya, menghampiri dan memeriksa tubuh istrinya, apakah ada yang lecet ataupun terluka.


"Mamih nggak apa-apa, Pih," ucap Zee. Alan menatap tajam ke arah istrinya, ia membulatkan matanya sempurna.


"Sudah aku bilang! Jangan keluar mobil! Kenapa Mamih keluar?" hardik Alan.


"Habisnya, mereka mengeroyok Papih! Mamih tidak bisa hanya menonton, sedangkan Papih hampir babak belur di hajar mereka," ujar Zee.


"Huft," Alan menghela nafasnya sangat panjang. Tetapi jika bukan bantuan dari Zee, mungkin ia juga bisa babak belur dikeroyok penjahat-penjahat itu. Secara, kondisinya juga kurang vit.


"Tapi, yakin, Mamih nggak apa-apa?" tanya Alan lagi.


"Iya, Pih! Alhamdulillah Allah masih sangat sayang sama Mamih dan bayi kita" ucap istrinya, membuat hati Alan seperti di siram dengan air yang sangat sejuk lagi menyejukkan.


"Pih, siapa mereka?" tanya Zee.


"Mungkin mereka hanya perampok," cakap suaminya begitu saja.


"Mana mungkin perampok? Jika mereka perampok pasti mereka akan mengincar barang-barang kita! Nyatanya, sama sekali mereka tidak tertarik?" ujar istrinya.


"Apa yang dikatakan Mamih memang benar, mereka bukan hendak merampok! Berarti mereka memang sengaja di suruh seseorang untuk mencelakainya," batin Alan.


"Lalu siapa yang hendak mencelakai mereka berdua?" pertanyaan demi pertanyaan menggelayut di otaknya, berputar-putar seperti gugusan bintang-bintang di langit, membuat kepalanya terasa pusing.


Chiiiiit....


Alan menghentikan mobilnya, kepalanya terasa sangat pusing. Zee sangat khawatir dengan kondisi suaminya. Ia pun menawarkan untuk menggantikan suaminya mengemudikan mobil. Namun Alan menolaknya, ia tidak mau istrinya terlalu lelah dan letih. Alan meneguk air mineral yang selalu ia bawa di mobilnya.

__ADS_1


"Gimana? Masih pusing?" tanya istrinya cemas.


"Mendingan," ucap suaminya. Suaminya kembali menjalankan mesin mobil, karena jarak pulang ke rumah sudah sangat dekat. Sampai di rumah, Zee langsung menyuruh suaminya untuk duduk di sofa. Zee membersihkan sudut bibir suaminya yang terluka akibat baku hantam tadi.


"Auw," pekik Alan.


"Sakit?" tanya Zee.


"Sakit, Mih," ucap suaminya. Setelah mengoleskan salep ke suaminya, Zee juga mengambil obat nyeri kepala untuk suaminya. Zee menyodorkan obat dan air putih dihadapan suaminya untuk diminum. Alan meminumnya dengan sekali tenggak.


"Sekarang Papih harus beristirahat! Pasti Papih pusing akibat kecapean," ujar Zee.


"Terima kasih ya, Mih! Untuk sementara, besok kita tinggal di rumah Mama Sarah," ucap suaminya.


"Kenapa, Pih?" tanya istrinya.


"Papih tidak tenang meninggalkan Mamih sendiri di rumah," ucap Alan lagi.


"Apakah karena masalah yang tadi?" tanya Zee lagi.


"Itu salah satunya, Sayang!" ucap Alan.


"Sebelum semuanya terungkap, kita tinggal di rumah Mama terlebih dahulu! Di sana, kamu lebih aman, Sayang!" tutur suaminya.


"Baiklah, Pih, terserah Papih! Mamih menurut saja! Yang penting, Papih harus lebih berhati-hati!" ucap Zee.


"Baiklah, Sayang!" Alan mengecup kening istrinya dengan sayang.


"Aku harus lebih berhati-hati, mereka bukan hanya mengincar ku, Zee juga menjadi sasaran empuknya," batin Alan.


to be continued....


*********************************************


Rekomendasi novel yang sangat bagus

__ADS_1




__ADS_2