
Roy memulai perencanaannya. Ia ingin menekan keluarga Rena dengan memanfaatkan kasih sayang mereka untuk memerasnya.
"Hallo.. Nyonya Rena.. Apa kabar anda..?" sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
Rena menyeka air matanya, lalu memperlihatkan isi pesan itu kepada Hanif.
"Hubby, ini sepertinya pesan dari penculik Adillah." ucap Rena merasa gembira.
Hanif menghampiri Rena. "berikan nomor telefonnya, agar Hubby dapat melacak keberadaannya." pinta Hanif, sembari membuka laptopnya, lalu memulai penyadapan dan pembajakan lokasi dari tempat Roy melakukan komunikasi.
Hanif meminta Rena untuk terus melayani Roy dengan percakapan yang dapat mengulur waktu.
Hanif menghubungi polisi, lalu memberikan informasi tentang nomor yang sedang berkomunikasi kepada Rena.
Polisi segera melakukan tindakan, dengan menghubungi polisi yang berada dekat dengan persembunyian Roy dan Adillah.
Mereka akan melakukan penyergapan dengan cara senyap.
"dimana anak saya..?" Rena memulai percakapannya.
"tenanglah, Dia masih dalam kondisi sehat. tetapi saya tidak yakin dia akan selamat atau tidak." balas Roy dengan penekanan.
"apa maksud anda..? Tanya Rena dengan perasaan was was.
"saya ingin tebusan untuk anak ini. Kirimkan uang dengan jumlah yang saya minta.." jawab Roy
"bagaimana saya dapat mempercayai anda..?" tanya Rena.
Roy mengirimkan foto Adillah yang sedang tertidur." bagaimana? Apakah anda sudah percaya.?"
Deeeghh..
Perasaan Rena bergemuruh. "kembalikan anakku..!" balas Rena.
"kirimkan dulu uangnya, maka akan kukembalikan kepada kalian." balas Roy.
"berapa yang harus aku keluarkan..?" tanya Rena.
"kirimkan sebanyak 2 milyar." balas Roy.
Rena memandang Hanif, Ia tau jika Hanif juga membaca pesan itu melalui laptopnya yang menjadi penyadapan percakapannya dengan Roy.
Hanif menganggukkan kepalanya, pertanda akan menyetujui permainan Roy.
"baiklah.. Tetapi kami tidak ingin melalui transfer, harap bertemu langsung untuk melakukan penukaran sandera." jawab Rena.
"ok. Jangan coba-coba membawa polisi, maka kupastikan anak ini tidak akan selamat." Roy mengancam.
"baiklah.. Share lokasi.." pinta Rena.
__ADS_1
Sesat sebuah pesan foto masuk. Roy memberikan lokasi pertemuan mereka.
"ok.. kami akan segera kesana." balas Rena.
Rena dan Hanif menitipkan Khanza kepada papa dan mamanua. Mereka akan berangkat ke kota tempat penyekapan Adillah.
Hanif telah mengirimkan orang-orangnya beserta intel yang sudah siap melakukan penyergapan.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka sampai dilokasi uang dijanjikan.
Pertemuan Rena dan Hanif kepada Roy di sebuah gedung terbengkalai. Hanif menenteng sebuah koper besar.
Tampak dari jauh, Roy keluar bersama Adillah. Roy berjalan sembari menodongkan senjata kekening sisi kiri Adillah.
Pakaiannya masih sama saat pertama kali diculik, masih memakai seragam sekolah. Bahkan orangtua Roy juga tidak perduli dengan Adillah.
Anak itu terlihat sedikit kurus. Mungkin juga tidak mandi sampai sekarang. Sungguh Roy adalah ayah yang buruk.
Saat melihat Rena dan Hanif, Adillah berteriak dengan sangat keras.
"paapa.. Maama.." wajahnya tampak sumringah melihat kehadiran Rena dan Hanif.
Ia ingin berlari mengejar keduanya, namun Roy mencekal lengan mungilnya. "diam..atau akan saya tembak kepalamu.." ancam Roy pada gadis mungil itu.
Seketika Adillah terdiam. Ia menangis terisak.
Hanif mengangkat satu tangannya, pertanda untuk berdamai. Hanif berjalan beberapa langkah, lalu melemparkan koper tersebut hingga berada ditengah- tengah antara mereka.
Roy berjalan mendekati koper itu, lalu melepaskan Adillah. Saat Roy akan menggapai koper tersebut, sebuah tembakan mengenai senjata apinya. Senjata itu terlempar dari genggamannya.
Adillah berlari kencang menghampiri Rena dan Hanif.
Hanif menyambutnya dengan pelukan dan langsung menggendong gadis kecil tersebut.
Roy melihat sebuah pasukan telah mengelilinginya.
"siaal.." Roy mengumpat kesal. Ia telah dijebak oleh Hanif dan Rena. pasukan itu menembakkan peringatan keudara.
Lalu mereka melakukan penyergapan kepada Roy.
Roy menatap penuh dendam kepada Rena dan Hanif.
"tunggu saja pembalasanku.." ucap Roy memberikan ancaman kepada Rena dan Hanif.
Rena menggenggam jemari Hanif karena takut dengan ancaman Roy.
Roy yang kini tak dapat berkutik karena digiring oleh beberapa orang berpakaian preman dengan persenjataan laras panjang.
__ADS_1
Roy masuk kedalam mobil tahanan dengan rasa penuh kesal.
Bayangan akan uang 2 milyar pupus sudah. Ia sudah merencanakan akan menggunakan uang itu untuk bersenang- senang dan berjudi. namun semuanya berbalik dibalik jeruji besi.
Roy sedang mengalami kesulitan financial. Ia memiliki hutang yang sangat banyak.
Maka dari itu Ia ingin memanfaatkan sofia sebagai penebusnya. Awalnya Ia ingin menjual sofia, namun karena Sofia dipungut oleh orang yang berduit, maka Ia mengubah rencananya untuk memeras orangtua pungut Sofia.
Namun kini semua hanya tinggal khayalan saja. Bukannya mendapatkan uang, malah mendapatkan kesialan.
Saat tiba dirumah, Khanza begitu antusias menyambut kepulangan Adillah. Ia berlari memeluk Adillah. "kaaa...kaak.." teriak Khanza. Ia begitu merindukan kakak sesusuannya meski baru beberapa hari saja.
Setelah melepaskan rasa rindu, Rena membawa Adillah kekamar, membersihkan tubuh gadis itu. Ia tampak kusut dan lelah.
Saat makan malam, Adillah terlihat sangat lahab sekali memakan makanannya, meskipun diperjalanan tadi sudah makan, sepertinya Roy tidak memberi makan pada Adillah.
--- - - - -
Didalam penjara, Roy tersenyum. Ia pastikan jika Ia hanya sebentar saja menginap didalam hotel prodeo ini.
Roy mengirimkan sebuah pesan kepada Rena, berupa ancaman akan membeberkan siapa Adullah sebenarnya. Ia berniat akan menjatuhkan reputasi Hanif didunia bisnis, Karena Mereka telah menyalahi perjanjian.
Roy akan memperbutkan Adillah sebagai hak asuh anak, dengan melakukan tes DNA.
Selain itu, Roy ternyata memiliki rencana untuk memberitahu Wina, jika selama ini anak mereka diasuh oleh Hanif.
Roy yakin jika Wina akan tertarik dengan kerjasama ini. Ia berniat menghancurkan Hanif secara perlahan namun pasti.
"lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu..!!" Roy berguman dalam hatinya.
Seorang polisi membawa satu tawanan lain yang juga baru saja masuk kedalam sel yang sama dengan Roy.
Tawanan itu terjerat kasus porstitusi online. Ia tersangka sebagai mucikari yang memasarkan para remaja.
Bahkan, meskipun Ia masuk didalam penjara, Ia masih dapat berinteraksi dalam perdagangan manusia.
"berapa dalam sehari kamu dapat menghasilkan uang.?" tanya Roy penasaran.
"ratusan juta." jawab mucikari tersebut.
Bukankah kau sudah berada didalam sel, lalu mengapa masih bertransaksi.?" Roy semakin penasaran.
"ini zaman digital. Buat akun yang banyak." jawabnya santai.
"jika akun yang satu di blokir, masih ada cadangan."ungkapnya dengan jelas.
"sepertinya bisnis yang menjanjikan..?" ucap Roy sumringah.
__ADS_1
"ya.. Kita hanya tinggal menawarkan kepada para hidung belang foto-foto para pekerja yang akan dijajakan, merwka yang bekerja, kita yang mendapatkan imbalan 30 % sebagai uang setoran. " mucikari memberikan iming-iming kepada Roy yang mulai terlihat tertarik dengan bisnis yang dilakoni oleh teman baru satu selnya.