Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
episode 26 Kata Putus


__ADS_3

"ka...kamu." ucap Bernard tergagap, Ia tak pernah menyangka bahwa Rena dapat menemukan rumahnya. "bagaimana kamu bisa sampai kemari?" Ia masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya.


tanpa menjawab, Rena memalingkan wajahnya, menemui abang Betor.


"bang, ini beneran rumahnya. terimakasih ya." ucap Rena seraya menyerahkan ongkos yang telah disepakati tadi.


"iya mbak. saya jalan dulu, mbak. " ucap abang betor, lalu menancapkan gas betornya untuk berkeliling kota mencari sewa penumpang yang ditemuinya dijalanan.


Rena kembali kerumah yang ternyata benar tempat tinggal Bernard. " apakah Ia dan keluarganya tinggal dirumah kontrakan ini atau hanya tinggal sendiri?" bathin Rena berkecamuk.


sesampainya didepan pintu, Rena menatap Bernard yang masih berdiri mematung. "apakah kamu tak mempersilahkan aku untuk masuk?" ucap Rena, dengan nada menyindir.


"emmmm... oh..iya. silahkan masuk." ucap Bernard dengan salah tingkah.


Rena masuk kedalam rumah kontrakan yang hanya berukuran enam kali enam. dengan memiliki dua kamar yang berukuran dua meter setengah kali dua meter setengah. rumah itu sangat terlihat sempit.


Rena memandangi tiap sudut rumah, melihat foto keluarga dengan frame sederhana. di foto itu tampak kedua orang tua Bernard, Bernard, dan seorang pria tampan, yang diyakini Rena adalah kakak laki-laki Bernard.


berbanding tiga ratus enam puluh derajat, kakak laki-lakinya justru memiliki perawakan kekar, berwajah tampan bak artis korea. kulit putih dan senyum yang menawan.


"mengapa kakak dan adik memiliki perbedaan yang mencolok?" Rena berguman dalam hatinya. karena Ia masih bingung dengan apa yang difikirkannya.


"emmm..mau aku buatin minum? minum apa?" ucap Bernard menawarkan.


"terserah saja." ucap Rena dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


Bernard membuka lemari es, mengambil syrup yang terdapat dirak pintu lemari es. menuangkannya dalam gelas, lalu mencampurnya dengan air dingin yang terdapat dilemari es. hanya untuk satu gelas. Bernard terdiam sejenak, memandangi gelas itu.


"ini minumannya, pasti kamu haus." Bernard dengan senyum genitnya. matanya tak lepas memandangi Rena.


Rena meraih gelas pemberian Bernard. meneguknya hingga tak bersisa. sepertinya Ia memang kehausan.


"terimakasih." ucap Rena, lalu meletakkan gelasnya dilantai. ya, Rena hanya duduk dilantai beralaskan tikar.


"Mengapa kamu sampai kerumah ini? apakah kamu tadi mencariku ke pabrik??" tanya


Bernard yang sedari tadi mengamati Rena.


"karena kamu mengabaikanku selama dua minggu ini. sebab itu aku mencarimu ke pabrik. ucap Rena dengan amarah.


Rena diam sejenak. "karena aku mencintaimu!" ucap Rena tanpa basa basi.


"mengapa kamu resigen dari pabrik? bukankan jaman sekarang susah mencari pekerjaan?" ucap Rena dengan penasaran, meskipun Ia sudah mengetahuinya dari petugas kebersihan dan Anju. namun Ia ingin mendengarnya langsung dari Bernard.


" karena, aku sudah bosan bekerja disitu." jawab Bernard tanpa beban.


"bukan karena penggelapan uang hasil penjualan? lalu kamu gunakan untuk bersenang-senang?" ucap Rena dengan nada mulai meninggi satu oktav.


"jika iya, apakah kamu akan membenciku?" ucap Bernard dengan senyum penuh kelicikan. tatapannya kian memburu seperti hewan buas.


Rena terdiam, lidahnya keluh. hatinya yang semula sakit dan terluka, kini berganti dengan bunga-bunga cinta yang kian bermekaran.

__ADS_1


"mengapa aku tak mampu membencinya, ya Rabb? seburuk apapun perbuatannya aku selalu mencintainya. selalu merindukannya. ada apa dengan diriku?" Rena berguman dalam hatinya.


"apa yang sebenarnya kamu inginkan sekarang?" jawab Renah dengan nada yamg mulai memburu. dadanya kian bergejolak. antara benci dan cinta.


"sebaiknya kamu jauhi aku. mulai saat ini kita akhiri saja hubungan ini. kita 'PUTUS'. ucap Bernard menegaskan.


duuuuuuaar... bagai disambar petir, Rena termangu mendengar ucapan dati Bernard. hatinya sakit, ada sayatan-sayatan yang sangat begitu perih yang Ia rasakan saat ini. baru saja Ia merasakan bunga-bunga cinta bermekaran dihatinya, kini harus layu dan jatuh berserakan.


Rena menangis terisak, tak mampu membendung kesedihannya. luka dihatinya begitu perih. tak mampu Ia ungkapkan. kedatangannya kali ini harus mendapati fakta, berakhirnya hubungan mereka.


Rena beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar meninggalkan Bernard yang tak memiliki perasaan lagi untuknya. sedangkan hatinya begitu mencintai pria itu. Ia mampu menerima segala keburukan prilaku Bernard terhadapnya.


Bernard hanya memandangi kepergian gadis malang itu tanpa mencegahnya sedikitpun.


Rena berjalan menyusuri jalanan dengan air mata yang terus mengalir deras dipipinya. Ia tak memperdulikan lagi orang memandanginya.


Rena berjalan menundukkan kepalanya dengan sangat tergesah-gesah, dan terisak-isak. hatinya yang hancur membuatnya hatinya patah . tampa Ia sadari, Ia menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari minimarket yang terletak dipinggir jalan. Rena tak memperdulikannya, tanpa meminta maaf sedkitpun, Ia terus berjalan, dan pria tampan yang baru saja ditabraknya memandanginya penuh heran.


tak lama Ia menemukan abang betor yang sedang melintas, dan ternyata itu abang betor yang mengantarkannya kerumah Bernard.


tiiiin..tiiin..suara klakson abang betor mengalihkan pandangannya. Ia menoleh, lalu menghentikannya. Rena lalu naik keatas betor.


"kemana kita mbak?" ucap abang betor dengan lirih. Ia seperti merasakan kepedihan yang sedang dialami gadis malang itu.


"kesimpang Medan bang." ucap Rena dengan tergugu. pundaknya berguncang karena isakanya yang tak mampu Ia kontrol. tanpa banyak bicara abang betor mengantarkan Rena ke arah tujuannya.

__ADS_1


__ADS_2