
Sudah seminggu ini, setiap Habis maghrib, Rena merasakan perutnya sangat begitu sakit, dan akan berakhir jika Hanif membacakan ayat ruqyah.
lolongan anjing yang sangat memilukan terdengar dari arah depan rumah. Suasana ini membuat Hanif merasa curiga.
Hanif keluar dari rumahnya, saat mendengar lolongan anjing yang memilukan itu.
Saat melihat Hanif keluar dari pintu, anjing itu melarikan diri. sebelumnya anjingbitu melolong dengan terus menatap kearah bubungan rumah.
Hanif yang penasaran dengan apa yang menjadi pusat perhatian anjing tersebut, mencoba melihat keatas bubungan itu. alangkah terkejutnya Ia, karena diatas bubungan rumah itu terlihat sesosok makhluk mengerikan.
makhluk itu juga yang pernah masuk kedalam rumahnya. Hanif terlihat berang "siapa yang menyuruhmu mengganggu rumahku..?"
makhluk itu menyeringai, makhluk berjenis genderuwo itu berbalik menatap marah.
seketika sekelebat bayangan putih melesat dari sisi Hanif. bayangan putih dengan wujud memakai sorban dan jubah berwarna putih, menemui makhluk itu.
terjadi perdebatan diantara kedua makhluk itu. sang genderuwo membangkang tidak ingin pergi. namun, makhluk berjubah putih segera mengusirnya.
tak terima dengan pengusiran itu, sang genderuwo melakukan perlawanan sehingga terjadi terjadi pertarungan sengit.
makhluk berjubah putih melakukan serangan yang membuat sang genderuwo terpental jauh, meninggalkan lengkingan yang sangat memekakkan telinga. namun, hanya Hanif saja yang dapat mendengar dan melihat pertarungan dua makhluk astral tersebut.
Hanif seperti mendapat firasat, jika ada seseorang yang sengaja mengirimkan makhluk itu untuk menggangu kehidupan rumah tangganya.
"aku akan cari tau esok.. siapa sebenarnya pengirim makhluk itu" Hanif berguman lirih.
Hanif memasuki rumahnya. Ia melangkah menaiki anak tangga dilantai dua rumahnya menuju kamar.
Ia melihat Rena sedang berbaring hendak tidur. Ia mendekati Rena, lalu duduk ditepian ranjangnya " sayang..kalau mau tidur itu baca surah al fatiha, ayat qursi, al ikhlas, al falaq dan an nass."
"tiupkan ke kedua telapak tangan dan sapukan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Insya Allah sebagai penolak Sihir dan santet." ucap Hanif menjelaskan.
Rena mengangguk."Iya Hubby.. makasih ya." ucap Rena sembari mengecup punggung tangan Hanif.
****
pagi ini, sepertinya Hanif sepertinya begitu penasaran. Ia ingin mencari tau sesuatu yang ada di sekitar rumahnya sebagai petunjuk.
sebuah bisikan mengatakan jika ada seseorang yang telah melakukan perbuatan keji terhadap keluarganya.
Ia mencoba menyusuri daerah sekitar halaman rumahnya.
"sedang cari apa pak..? koq serius amat sih..?" ucap kang mamang penasaran.
"tolong bantu saya pak.. periksa sekitar sini, jika ada benda mencurigakan panggil saya." ucap Hanif dengan tenang.
"siap pak.." jawab kang Mamang dengan serius.
mereka menyusuri setiap sudut perkarangan rumah. hingga akhirnya, kang mamang merasa curiga dengan sebuah kantong kresek berwarna hitam. Ia mencoba mendekatinya. dengan merasa penuh penasaran, kang Maman membuka kantong kresek tersebut. Ia terperanjat, matanya membulat dan mulatnya. dan mulutnya menganga, Ia merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
"astagfirullahalladzim.." ucap Kang Mamang dengan rasa kaget yang teramat sangat.
__ADS_1
Hanif yang mendengar suara kang Mamang beristighfar menjadi penasaran. Ia mencoba menghampirinya. Ia ingin mencari tahu tentang apa yang sedang dilihat kang Mamang.
"ada apa Kang Mamang..?" ucap Hanif penasaran.
Kang Mamang menyerahkan kantong plastik kresek berwarna hitam, lalu Hanif membukanya dengan rasa penasaran, dan [deeeeegh]..
jantung Hanif berdegup kencang, saat mengetahui isi dari kantong plastik kresek tersebut. sebuah boneka bentuk manusia yang yang dipenuhi jarum pentul.
"astaghfirullahalladzhim.." ucap Hanif dengan nada setengah kaget.
Hanif mencabuti seluruh jarum pentul yang ditusukkan diboneka tersebut.
"bakar boneka ini kang.." perintah Hanif.
kang Mamang langsung membakar boneka itu hingga tak tersisa. lalu membuang abunya pada air yang mengalir di sungai.
***
"Pa...kira-kira berhasil gak tuh santet nya..?" ucap Wina kepada ferdy sang ayah.
"berhasillah sayang..liat saja..! sebentar lagi janin dalam kandungan istrinya itu akan mengalami keguguran." ucap Ferdyn dengan yakin.
Wina menatap lurus kedepan dengan tatapan nanar. ada seribu dendam yang terpatri dihatinya.
Ia belum dapat merelakan Hanif begitu saja. "oooeeeekk...oeeek.." suara lirih tangisan bayi berusia kurang lebih dua bulan. bayi itu merasa haus.
"Beri susu bayimu itu Win.. papa pusing mendengar suara tangisannya." ucap Ferdy dengan kesal.
bayi itu mengalami kecacatan di bagian bibirnya. dimana bayi itu memiliki bibir sumbing. itu semua karena usaha Wina untuk menggugurkan janinnya saat sedang mengandung.
usaha yang dilakukannya dengan cara meminum segala ramuan dan obat yang dapat menggugurkan janin, namun sepertinya usaha janin itu untuk tetap bertahan jauh lebih kuat dibanding usaha ibunya yang ingin membuangnya.
Wina seperti sangat malas memberi susu tersebut kepada bayi mungilnya. Ia terlihat seperti terpaksa.
setelah diberi susu, bayi itu akhirnya tertidur pulas. Wina memandang bayi itu dengan geram "ini semua karena kamu..!! jika kamu tidak hadir didalam rahimku, maka aku tidak akan mengalami kesialan." Wina menggerutu dengan kesal.
"itu juga kesalahanmu..! mengapa kau sampai bermain api dengan pria tak berguna seperti Roy.." sergah Ferdy dengan kesal.
Wina menatap ayahnya dengan pandangan penuh dengan amarah.
Ia mengambil bayi mungilnya yang sedang berada di keranjang bayi, lalu masuk ke dalam kamar, dan menghempas pintu dengan kasar.
"aku harus mencari cara umtuk merebut Hanif, agar kembali padaku.
***
Hanif bersiap hendak berangkat kepabrik. "sayang..jangan lupa shalat ya..? agar kita dan calon bayi kita terlindungi dari segala marabahaya." ucapnya sembari membelai lembut perut Rena yang tampak membuncit.
"Iya bby..Hubby hati-hati dijalan ya..?" ucap Rena sembari mencium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
Hanif membalasnya dengan mencium kening Rena dengan penuh ketulusan cinta.
Hanif beranjak dari tempatnya. Rena memgantar suaminya hingga sampai didepan pintu.
Hanif mengendaria mobilnya dengan perlahan dan akhirnya menghilang dari pandangan.
****
Hanif sedang terburu-buru. Ia menuju ruangan kantornya. saat Ia sedang sibuk hendak memeriksa file pekerjaannya, Ia dikejutkan oleh suara ketukan dipintu. Ia mengira itu adalah sekretarisnya. "masuk..: jawab Hanif dengan lembut.
[kreeeeek..] suara pintu dibuka. alangkah terkejutnya Hanif, saat melihat siapa yang masuk kedalam ruangan kantornya.
"Ka..kamu..? mengapa kamu kemari?!!" ucap Hanif dengan berang. belum pernah Ia semarah itu.
"aku ingin kembali padamu.. aku masih mencintaimu" ucap seorang wanita yang dengan tanpa malu menggunakan pakaian serba sexy.
Hanif merapatkan gigi-giginya. "pergi kamu saat ini juga..keluaar..!!" ucap Hanif sembari merentangkan satu tangannya dengan satu tangan, jemari telunjuknya menunjuk kearah pintu.
"tapi sayang..? aku adalah wanita yang paling kau cintai." ucap Wina menghiba.
"Itu dulu.. dan Hatiku saat ini hanya untuk Rena, Istriku.." ucap Hanif dengan tenang, namun ada penekanan disetiap katanya.
"apa yang kamu harapkan dari wanita itu..?! aku jauh lebih cantik darinya..!!"ucap Wina sembari terisak penuh drama.
Hanif menatap Wina dengan penuh tatapan dingin dan sinis. "tapi dia jauh lebih terhormat darimu. dimana kecantikanmu menjadi harga murah dengan segala apa yang kau perbuat.!!" Hanif berujar dengan tenang dan penuh penekanan.
Wina berbalik menatap tajam. " itu juga salahmu..!! mengapa kau bersikap terlalu dingin padaku.?! aku juga manusia yang memiliki hasrat.!!" ucap Wina sengit membela dirinya.
Hanif terkekeh dengan penuh ejekan." karena aku memuliakanmu, aku ingin menyentuhmu saat kau halal untukku..! tapi sayang.. kau sendiri yang menjatuhkan martabatmu dan menjadi hina..!!" jawab Hanif dengan tenang namun menyakitkan.
"kaauuu...!!" ucap Wina dengan keras.
"keluarlah dari ruanganku, sebelum aku panggilkan security untukmu.!" ucap Hanif tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
"hah..kau..!!" ucap Wina memandang dengan amarah sembari meraptkan gigi-giginya.
Ia keluar dengan membawa sejuta kekecewaan. Ia tidak pernah menyangka, Hanif yang terlihat tenang dan dingin selama ini ternyata dapat berubah menjadi seekor singa saat sedang marah.
"tunggu pembalasan dariku..!! kau akan bertekuk lutut padaku, memohon dan mengemis cinta padaku..!!" ucap Wina, sembari berlalu.
setelah kepergian Wina, Hanif menarik nafasnya dengan berat. Ia menghempasakn bomongnya dikursi kebesannya. melonggarkan ikatan dasinya. lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
selama ini belum pernah sekalipun Ia melontarkan kata-kata kasar pada seorang wanita. namun Wina telah menghina Rena, istrinya.
jika dipandang dari segi kecantikan, ya..! jelas Wina jauh lebih cantik. namun Rena tetaplah wanita yang memiliki sejuta pesona yang tidak Ia temukan pada Wina.
Rena mampu membuatnya merasa nyaman, dan awal perkenalan mereka melalui saluran telefon genggam, membuatnya sudah jatuh hati, meskipun Ia sendiri belum mengetahui seperti apa wajah gadis itu sebenarnya.
sikap sederhana, perhatiannya, ketulusannya menjadi seorang istri, menjadikannya memiliki nilai lebih dimata Hanif.
bahkan selama hampir 7 bulan lebih mengarungi bahtera rumah tangga, belum perna Rena meminta ini itu kepadanya.
__ADS_1
terkadang Haniflah yang harus pandai menawarinya sesuatu agar Ia membeli apa yang diinginkannya.
Hatinya sudah jatuh terpaut akan cinta Rena, dan itu tidak dapat ditawar lagi. cinta tanpa sebab, bukan karena rupa dan sebagainya. cinta itu hadir dari palung hatinya yang terdalam.