Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Teror Ghaib


__ADS_3

Bernard mengetik sebuah pesan yang berisikan ancaman kepada Rena.


"jangan kamu kira dapat pergi dariku dengan mudah. aku sudah mengetahui kamu akan menikah. jika sampai pernikahan itu terjadi, maka aku akan membunuhmu.." Bernard mengirimkan pesan itu kepada Rena.


setelah mengirimkan pesan itu, Ia tersenyum licik. Ia berharap dengan ancamannya akan membuat Rena ketakutan dan membatalkan pernikahannya, lalu kembali padanya.


Bernard tersenyum licik. "lihat saja, sebentar lagi kau akan melemah dengan ancamanku" ucap Bernard dengan yakin.


Ia berniat untuk mencari kesenangan malam ini. Ia begitu bosan dengan hanya berkurung dikamar sepanjang hari, namun sayang, Ia tak memiliki sepeser uangpun. "mau minta uang sama siapa lagi aku..? kalau sama inang pasti sudah ngamuk dia plus ngomel.." Bernard merasa pusing memikirkannya.


Ia mengingat sesuatu.."oh iya, arloji dari kan masih ada..itu saja ku jual murah..yang penting bisa minum tuak aku malam ini." ucapnya dengan mata berbinar.


Ia mencari kotak kecil didalam lemarinya. setelah menemukan yang dicari, Ia bergegas keluar rumah. mengendarai sepeda motor bututnya.


Ia menemui pemilik warung internet. "lae..kau bayarilah jam tanganku ini..?" ucapnya sembari menyodorkan arlojinya.(lae itu sebutan untuk laki-laki secara umum)


si pemillik warnet menggelengkan kepalanya.."tak ada uangku lae..mahal juga ini.." ucap sipemilik warnet (warung internet).


Bernard berfikir sejenak.."berapa lae sanggup bayar rupanya..?" ucap Bernard.


"tiga ratus ribu kalau kau mau..?" jawab sipemilik warnet.


" terserah lae sajalah..aku lagi butuh sekarang.." ucapnya.


arloji seharga tiga juta rupiah dijualnya dengan harga tiga ratus ribu saja.


si pemilik Warnet memberikan uang tiga ratus ribu, dan mengambil arloji milik Bernard.


uang tiga ratus ribu itu akan Ia gunakan untuk menemui si leli yang sudah lamah tak Ia jamah.


dengan bersiul senang Ia pergi mengendarai motor bututnya untuk pergi ke cafe remang-remang langganannya.


sesampainya dicafe tersebut, Ia mencari keberadaan Leli yang sedang memandu lagu bersama seorang pelanggan. Ia mendekatinya, memberi kode agar Leli menemuinya. namun Leli hanya meliriknya tanpa beranjak dari tempat duduknya.


melihat si Leli yang tak memperdulikan panggilannya, Ia menjadi berang. dengan kasar Ia menarik lengan Leli yang sedang memandu lagu bersama pria keren.


tak terima pemandunya ditarik paksa seperti itu, pelanggan berpenampilan keren dan berbadan tinggi itu beranjak bangkit untuk mencegahnya. namun Bernard menantangnya.


"jangan ikut campur kau lae..ini urusakan dengan wanita ****** ini.." Ucap Bernard dengan nada tinggi.

__ADS_1


Leli meradang dikatakan 'wanita ******' oleh Bernard. Ia semakin meronta meminta dilepaskan dari cengkraman mungil tangan Bernard.


si Pria berbadan tinggi itu merasa kesal."jangan kasar kali kau lae sama perempuan.." ucapnya mengingatkan.


Bernard tersenyum sinis.."jangan sok jagoan kau disini. kau itu hanya orang baru..!" ucapnya dengan bangga.


si pemuda berbadan tinggi semakin kesal. dengan cekatan Ia menangkap kerah baju yang dikenakan Bernard. mengangkat tubuh mungilnya, lalu melemparkannya kelantai.


Bernard mengerang kesakitan. Ia sangat marah dan malu menjadi tontonan banyak orang. Ia kembali bangkit dan berjalan terhuyung.. Ia ingin melayangkan satu pukulan kepada pria tinggi, namun dengan sigap si pria tinggi menangkap pergelangan tangan Bernard, memuntirnya, lalu mendorongnya hingga terjerembab kembali.


si pemilik cafe datang melerai perkelahian tersebut.


Dengan menahan rasa malu, akhirnya Bernard kembali pulang dengan membawa rasa kesal dan amarah.


Ia menghidupkan mesin motornya, dengan suara berisik dari knalpotnya Ia melaju dengan kecepatan tinggi.


***


Bernard sampai didepan rumahnya, Ia masih menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. dengan kasar Ia menggedor pintu rumahnya.


Ambar yang baru saja hendak memejamkan matanya menjadi terganggu. Ia terpaksa bangkit untuk membukakan pintu.


Ambar membulatkan matanya,."apanya yang kerjakan diluaran sana..? yang berkelahinya kau..? kapannya hidupmu akan berguna..? gak ada juga jeranya kau ini ya..?!" ucap Ambar penuh amarah.


jika Ia sudah ngomel, maka akan menjadi panjang seperti rel kereta Api..


"sudahlah Inang..ngomel sajapun dari tadi, apa tak capek rupanya.?!" jawabnya ketus.


Ambar yang mendengar jawaban dari Bernard merasa kesal.."dasar kau, keras kepala.!!" ucap Ambar sembari pergi menuju kamarnya dengan hati yang kesal.


****


Bernard duduk bersandar didinding kamarnya. Ia memegangi sudut bibirnya yang terluka. rasa perih dan kesal bercampur jadi satu. kesal karena gagal bercinta dengan si Leli dan pria dicaffe barusan.


saat Ia merutuki pemuda berbadan tinggi itu, tiba-tiba Ia melihat bayangan hitam muncul disudut kamarnya yang berhadapan dengannya.


semakin lama bayangan hitam tinggi itu bertambah besar, muncul dengan rupa yang sangat menakutkan. semakin Bernard menengadahkan wajahnya semakin tinggi makhluk itu.


Bernard membeku. Ia tak mampu menggerakkan otot-ototnya. "a..aapa....itu.." Bernard berguman dalam hatinya. lidahnya terasa keluh sekedar hanya untuk berteriak saja Ia tak mampu.

__ADS_1


makhluk tinggi besar berwarna hitam, dan berbulu tebal sedang menatapnya penuh amarah. mata merah besar itu menatap dengan tajam. lalu menyeringai dengan menampakkan taringnya. Ia mendekati Bernard, lalu memberikan cakaran diwajahnya.


"aaaaggghhhh.."suara Bernard tercekat ditenggorokannya.. luka bekas cakaran makhluk itu terasa perih dan panas.


Makhluk itu mendekatkan wajahnya pada Bernard, Ia menampilkan siluet wajah Rena dihadapan Bernard, dengan kode istilah, agar Bernard tidak lagi mengganggu gadis itu...


Bernard mengumpat makhluk itu dengan makian. Ia sangat marah dan tidak terima.


makhluk bayangan hitam dengan tinggi berbulu itu menghilang..


nafasnya tersengal karena rasa takut. Ia mengusap wajahnya, lalu mengambil selimut untuk tidur.


****


Bernard berjalan dikegelapan malam. jalanan sunyi tanpa sesiapapun yang melintas. Ia melihat dikanan kirinya hanya hutan belantara yang mebentang luas.


ditengah perjalananya sesosok makhluk tinggi besar menghalangi langkahnya. Bernard menengadakan kepalanya. semakin Ia memandang keatas, semakin tubuh makhluk besar dan tinggi itu menjulang kelangit. layaknya seperti raksasa


sosok itu ingin menngagapai tubuh mungil Bernad. menyadari akan bahaya, Bernard mencoba berlari sekencang-kencangnya. jemari telunjuk sebesar batang pohon kayu milik Sosok itu terus mengikuti kemanapun Bernard berlari.


Bernard kehabisan tenaga, Ia mencari perlindungan dengan menyandarkan dirinya dibalik pohon kayu berukuran besar. Ia mengatur nafasnya.


belum hilang rasa lelahnya, pohon tinggi besar yang tak mampu dipeluk oleh empat pria dewasa itu dicabut oleh makhluk yang terus mengikutinya, layaknya seperti mencabut rumput saja.


Bernard ketakutan, Ia sangat menggigil, wajah pucat pasi dan keringat dingin mengucur dari pori-pori tubuhnya.


makhluk berbulu tebal dengan tinggi menjulang menggapai tubuhnya dengan hanya menggunakan jarinya. Ia meletakkan tubuh Bernard ditelapak tangannya. Bernard layaknya seperti seonggok upil yang berada dtelapak tangan orang dewasa.


Makhluk itu menatap penuh amarah. wajahnya yang menyeramkan membuat Bernard menggigil ketakutan.


lalu Ia menekan lengan kiri Bernard. terdengar suara jeritan kesakitan dari Bernard. rasa sakit, panas seperti terbakar api menjalar keseluruh tubuhnya. "ampuuuuun...maafin saya...saya berjanji tidak akan mengaganggu Rena lagi.." ucapnya dengan terisak.


Bernard memohon kepada makhluk itu agar melepaskannya.


makhluk itu melemparkan tubuh Bernard dijalanan. lalu menghilang begitu saja.


"aaarrgghhh.." bernard merintih kesakitan.


Ia terbangun dari tidurnya. ternyata Ia sedang bermimpi buruk. Ia menyeka keringat dingin yang mengalir diwajahnya.

__ADS_1


sesaat Ia merasakan sakit disekitar lengan kirinya. "haaaahh..." Ia terperangah melihat luka bakar dilengan kirinya. rasa sakit dan panas menjalar keseluruh tubuhnya. Ia meringis menahan sakit.


__ADS_2