Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Perangai Buruk


__ADS_3

"sayang...aku berharap hubungan kita akan selalu baik ya." ucap Rena dengan bergelayut Manja dilengan Bernard. Hidupnya kini seolah menemukan semangat baru, karena Bernard menarik semua keputusannya untuk kembali memperbaiki hubungan cinta mereka.


selama dua tahun setengan menjalani cinta jarak jauh, hubungan mereka selalu putus nyambung. namun Rena yang selalu mengemis cinta kepada Bernard, jika Rena sufah merengek-rengek meminta balikan, dan mentransfer uang atau pulsa, maka Bernard kembali melanjutkan cinta mereka, dan begitu seterusnya.


"baik sayangku, ucap Bernard dengan lembut, semakin membuat Rena melayang. pria itu sudah membuatnya tergila-gila. dimatanya, Bernard ada pria sempurna yang layak Ia perjuangkan dan dipertahankan.


Rena seolah tak ingin melepaskan pelukannya di dilengan mungil Bernard. tak ingin berpisah meski sedetikpun. Rasa cinta yang begitu mendalam, mengalahkan semua akal sehatnya. Rena tak mampu lagi membedakan apakah prilaku Bernard yang sudah semena-mena terhadapnya dapat dibenarkan. ya, itulah kondisi Rena saat ini. bahkan tubuhnya yang kian ceking karena setiap saat memikirkan Bernard juga tak Ia perdulikan.


[ddreeerrrrt...ddreeeet] suara handphone Rena bergetar, tanda pesan Masuk, karena Ia hanya membuat mode getar. Rena membuka pesan masuk, ada sebuah pesan dar Amy.


"kemana saja sih kamu, Ren? kamu bolos kuliah lagi.?" isi pesan Amy yang sepertinya khawatir tentang keadaannya.


"maaf, Mi. aku lagi banyak masalah." besok aku curhat ke kamu. aku janji" ucap Rena meyakinkan Amy. lalu menutup phonselnya. saat ini, Ia ingin menikmati momen kebersamaannya bersama Bernard.


****


Imelda yang telah selesai memasak, mendengar anaknya menangis didalam buaian, Ia mencoba mengayun anaknya dengan naik turun, karena buaian itu ada terdapat per besinya. namun anaknya tak juga berhenti menangis. Imelda menggendong dengan cekatan, meletakkan kepala anaknya dipundaknya dengan membelakanginya.


karena masih terus menangis, Imelda membawanya keluar rumah, untuk menenanhkan anaknya. saat itu, tanpa sengaja, Ia melihat kedalam rumah Bernard. karena pintu yang tidak mereka kunci, Ia dapat dengan jelas melihat, seorang gadis sedang bergelayut manja di lengan Bernard.


"siapa gadis itu? apakah pacar Bernard? sejak kapan?" Imelda berguman dalam hatinya. suara tangis anaknya mulai mereda, lalu Ia masuk kembali kedalam rumah. meletakkan anaknya kedalam buaian. Ia masih penasaran dengan gadis itu.

__ADS_1


Ia merasa sangat kasihan jika gadis itu berpacaran dengan Bernard. karena Imelda pernah beberapa kali memergoki Bernard sedang mabuk-mabukan dilapak tuak bersama beberapa wanita malam. Imelda juga sering mendengar bahwa Bernard suka memakai jasa wanita malam dan berganti-ganti pasangan.


Imelda mengetahuinya, karena pernah beberapa kali menyusul suaminya dilapak tuak, karena sudah larut malam tak pulang kerumah. disanalah Ia melihat Bernard sedang bersama dua orang wanita malam sekaligus.


"sepertinya itu gadis baik-baik, dan bukan warga sini, terlihat dari garis wajahnya. Imelda berguman lirih. Ia merasa bahwa orang tua Bernard tidak mengetahui hal ini. karena keduanya sibuk bekerja, sedangkan Bernard malas-malasan dirumah. entah apa yang diharapkan seorang gadis dari pria seperti Bernard.


sangat disayangkan, jika ada gadis yang mau berpacaran dengan Bernard, hanya membuang-buang waktu saja. namun tidak halnya bagi Rena. bagi Rena Bernard, adalah segalanya, penyemangat hidupnya. tanpanya dunia ini seakan sepi.


***


"sepertinya hari mulai sore, anterin aku kesimpang ya sayang... aku tidak mau pulang kemalaman" ucap Rena manja. hatinya kini sedang berbahagia, seperti seseorang yang sedang memenangkan jackpot.


"baiklah, dinda sayangku" ucap Bernard, sembari mencolek dagu Rena yang sedang tersenyum manja. Rena semakin melayang dibuatnya. Ya, dia sangat pandai membuat hati Rena melambung dalam sekejap, dan menjatuhkannya kembali sesuka hatinya.


Bernard bersorak riang dalam hatinya. karena Ia sudah mendapatkan uang dari Rena, dan Ia sudah lama tidak ke warung remang-remang untuk meminum tuak (tuak adalah minuman permentasi dari air nira uang dihasilkan pohon enau/aren, yang dicampur ramuan tertentu, sehingga menghasilkan kadar alkohol).


Bernard juga sudah membayangkan si Leli dan yuni yang akan sedia melayaninya. sebenarnya Ia sangat bosan berpacaran dengan Rena, sudah berjalan 2 tahun setengah, namun tak pernah mau Ia ajak make in love.. hanya sebatas ciuman bibir saja.


hanya saja, Rena bisa menjadi lahan untuk diporotinya.


"ayo sayang, aku anterin kamu ke simpang, berbeda dengan Rena yang berat harus berpisah dengan Bernard, justru sebaliknya Ia lebih bersemangat mengantarkan Rena kesimpang, agar dapat bertemu dengan si Leli dan Yuni langganannya.

__ADS_1


***


"aku balik dulu ya sayang, ntar malam jangan luoa telefon aku, karena aku takkan bisa tidur tanpa mendengar suaramu."ucap Rena sembari tersenyum manja.


"oke, dinda sayangku.." ucap Bernard berdusta.


Rena menaiki badan Bus, lalu menghilang dari pandangan Bernard. setelah bus yang ditumpangi Rena tak lagi terlihat, Bernard segera menancapkan gas motornya yang menghasilkan suara sangat berisik.


Bernard menuju warung remang-remang tempat langganannya. suasana masih sepi. Karena masih sore, biasanya menjelang malam akan sangat ramai.


Ia melihat Leli dan Yuni sudah berdandan dengan make up yang sangat mencolok. bibir dengan lipstik merah terang, pakaian sexy nan menggoda, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Bernard menelan salivanya. matanya liar menatap dua gadis sexy tersebut.


Bernard memarkirkan motornya sembarangan, memasuki warung dan mendekati dua gadis langganannya. kedua gadis itu tersenyum padanya, lalu berjalan beriringan mendekatinya. "sudah lama sekali kau tidak kemari bang. rindu kami samamu lah" ucap Leli dengan logat bataknya.


"ah, yang benar sajalah kau dik, rindu sama aku apa sama anuku?" ucap Bernard sembari mengarahkan jari telunjuknya ke selangkangannya. " tau saja kau ini bang" ucap Yini menimpali. kedua gadis itupun terkekeh bersamaan.


Bernard merangkul kedua gadis itu, yuni duduk disebelah kanan, dan Leli duduk disebelah kirinya. keduanya bergelayut manja. "sudah lama ini si otong tak tersalurkan, sudah tahan kali aku. ayolah sekarang kita ngamar" ucap Bernard sudah gelisah.


"amaak, tak sabar abang ya? ayolah kalau begitu" ucap Leli dengan genit. lalu mulai menggerayangi tubuh Bernard. "janganlah disini, ayo kita cari lapak" ucap Bernard sembari beranjak dari tempat duduknya, menuju bilik kamar yang hanya berdiding triplek, yang khusus disewakan oleh pemilik warung, dengan hitungan per jamnya lima belas ribu.


Bernard menggiring kedua gadis itu kebilik kamar, dan mereka tertawa vulgar. sesampainya dikamar, Bernard menyelipkan uang selembar seratus ribu ke bra yang dikenakan Leli dan juga Yuni. mereka kembali tersenyum genit. lalu melakukan tugasnya untuk menuntaskan hasrat Bernard. dengan menggunakan uang hasil memoroti Rena.

__ADS_1


"sungguh malang nasibmu Rena..." ucap Bernard dalam hatinya, sembari melepaskan dahaga birahinya.


__ADS_2