Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Toni


__ADS_3

"bu, sudah lama ya, semenjak kak Rena berangkat ke Medan, gak pernah ngabari kita." ucap Toni suatu pagi. saat akan berangkat ke sekolah.


"iya ya.. coba nanti sepulang sekolah kamu telefon kakakmu. ibu merasakan firasat yang tidak enak." ucap Munah kepada Toni.


"iya bu, nanti Toni usahakan telefon kak Rena."


"ya, sudah, ini jangan lupa bekalmu, sekalian kue-kue ini titipkan ke warung langganan kita." balas Munah dengan lemhut.


"iya, bu. Toni berangkat dulu ya, sudah hampir telat." ucap Toni, seraya mengambil toples-toples berwarna transparan yang akan dititipkannya tiga hari sekali ke warung langganan mereka.


"hati-hati ya nak."ucap Munah, seraya membelai kepala anaknya, diiringi doa restu agar anak bungsunya dapat memahami pelajarannya disekolah.


"iya, bu, Assalammu'alaikum." ucap Toni seraya mencium punggung tangan ibunya.


"waalaikumsalam." jawab Munah, melepaskan anaknya untuk menuntut ilmu, demi masa depan yang lebih baik.


Toni mengenderai sepeda motornya. Ia menyinggahi warung-warung yang menjadi langganan mereka menitipkan kue basah.


satu boks toples lagi untuk dibawanya kesekolah, untuk dititipkan dikantin sekolah. ibu kantin memberikannya ijin agar menitipkan kue buatan ibunya dikantin yang Ia jalankan.


"bu kantin. ini kue titipan ibu saya, ada seratus potong ya bu." ucap Toni dengan sopan.


"iya, Ton. letakkan saja dimeja situ." ucap bu kantin menjelaskan.


"iya bu, saya mau buru-buru masuk kelas, takut terlambat." ucap Toni lagi.


"bentar Ton, ini uang penjualan kue kemarin." ucap ibu penjaga kantin.


"terimakasih bu, sudah ibu potongkan untuk uang titipnya kan?" ucap Toni.


"sudah." jawab bu kantin, singkat. karena Ia juga sedang berbenah makanan yang akan dijualnya.


"saya pamit bu, assalammualaikum." ucap Toni lalu beranjak pergi meninggalkan kantin.


"waalaikumsalam." ucap bu kantin, diiringi menghilangnya tubuh Toni yang setengah berlari.

__ADS_1


dikelas, siswa-siswa sedang bercengkrama, menunggu kedatangan guru mata pelajaran matematika.


masa itu, siswa dilarang membawa handphone ke sekolah. karena akan menganggu aktifitas belajar, dan para siswa mematuhi aturan tersebut. karena jika terbukti melanggar, maka akan ada konsekwensinya.


"Ton.."sapa seorang siswi, yang merupakan teman sekelas Toni.


"iya." ucap Toni yang menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. ternyata Amel yang sedang memanggilnya. siswi paling cantik dikelas ini, bahkan disekolah ini.


"kamu, ntar malam sibuk gak?" ucap Amel dengan lembut, seraya menarik kursi kosong, lalu duduk disebelah Toni.


Toni terdiam sejenak. memandang gadis yang ada disebelahnya.lalu tersenyum.


"aku sibuk, Mel. soalnya aku harus belanja kebutuhan bahan kue untuk ibuku." ucap Toni dengan sangat sopan.


"belanja bahannyakan gak lama?" ucap Amel memelas.


"iya, tapi malamnya aku membantu ibuku membuat adonan kue, agar tidak kerepotan, sehingga sebelum subuh bisa diolah." ucap Toni tanpa malu sedikitpun, menjelaskan aktifitasnya.


"emmmm..jadi gak bisa ya?" ucap Amel kecewa.


"gak apa-apa koq. mungkin lain kali kamu ada waktu kosong." ucap Amel lirih.


sebenarnya ada keinginan Toni untuk berkumpul dengan teman-temannya. namun kondisi yang membuatnya harus menepis semua itu.


"heei....Mel. pergi sama aku aja yuk? aku selalu ada waktu buat kamu cantik.! lagian ngapain sih kamu ngarepin cowok kere seperti dia. "ucap Roman dengan nada merendahkan Toni.


Toni yang disindir hanya diam saja. tak bergeming.


"apaan sih lho? resek banget.!" ucap Amel ketus, lalu beranjak dari kusri dan berlalu menuju kursinya sendiri.


"awas lho..!" ucap Toni sinis, seraya mengepalkan tinjunya yang diarahakan ke wajah Toni. lalu beranjak duduk dibangku belakang Amel.


Toni hanya menghela nafas. malas meladeni sikap Roman yang merasa paling hebat.


***

__ADS_1


kriiiing...kriiing.. suara panggilan masuk kenomor Toni.


"kak, Rena?" ucap Toni, melihat panggilan masuk tersebut, lalu memgangkatnya.


"hallo kak Rena? apa kabar? baru saja Toni mau nelfon, eh..sudah kakak duluan yang nelfon"


"alhamdulillah baik, gimna kabar kamu dan ibu?" jawab Rena dari seberang telefon.


"alhamdulillah juga baik kak. oh, ya kak, aku panggilin ibu ya, soalnya tadi mau ngomong sama kakak." ucap Toni panjang lebar.


"iya, buruan panggilin, kakak sudah kangen." jawab Rena.


"buu...ibuuuu.. ini Kak Rena, nelfon." Toni berteriak agar didengar ibunya.


"iya, ibu datang." jawab Munah dari dapur, lalu menuju ruang tamu.


Toni menyerahkan handphonenya kepada Munah.


"hallo. Ren? apa kabar sayang? " ucap Munah dengan kerinduan yang begitu dalam kepada anak gadisnya.


"alhamdulillah baik bu. kabar ibu gimana?" jawab Rena.


"alhamdulillah juga baik. gimana kuliahmu?" tanya Munah.


"berjalan lancar bu." ucap Rena.


"kamu yang bener kuliahnya ya sayang. jangan kecewakan Paman dan ibumu." ucap munah menasehati anak gadisnya.


"iya, bu. Rena janji." jawab Rena dengan lirih.


"ya sudah. ibu mau melanjutkan membuat adonan kue. assalammuaikim." ucap Munah mengakhiri telefonnya.


"waalaikumsalam. bu." jawab Rena, lalu menutup sambungan telefonnya.


tuuuuuut...tuuut sambungan telefon terputus.

__ADS_1


__ADS_2