Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Tak Menduga


__ADS_3

Rena berdiri mematung menatap siapa yang kini berada dihadapannya. Begitu juga halnya dengan pria yang kini sedang menggenggam pergelangan tangan Adillah. Ia perlahan melepaskan genggamannya, dan raut wajahnya berubah seketika, menjadi panik.


Rena mencoba meredam keterkejutannya. "Ma..mari masuk.. Kami sudah lama menunggu..." ucap Rena gugup meski sudah berusaha menutupi kepanikannya.


Adillah mempercepat langkahnya, lalu mengecup kedua pipi Rena. "Kak.. Kenalin.. Ini Mama, Adillah.." ucap Gadis itu bersemangat, memperkenalkan Ridwan kepada Rena, Mamanya.


Rudwan tersenyum getir, lalu berjalan menghampiri Rena, dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang calon Ibu mertua.


"Salam, Bu..." ucap Ridwan mencoba ramah, dan tidak mengenal Rena, demi menutupi kepanikannya dihadapan Adillah.


"Salam... Silahkan masuk." Jawab Rena, sembari melepaskan genganggam tangan Ridwan yang menyalimnya. Lalu Ridwan tersenyum datar, dqn beralih menyalim tangan Hanif, pria tampan yang berdiri disisi Rena. Lalu keduanya mencoba beramah tamah.


Hanif melihat gelagat Rena sang istri yang terlihat sedikit berubah. Namun Ia mencoba mengabaikannya.


"Mari masuk, kita mulai makan siangnya, nanti keburu dingin." ucap Hanif ramah.


Lalu adillah dan Ridwan menyusul masuk dan menuju meja makan.


Gemuruh didada Ridwan kian menderu, saat melihat Rena yang masih tampak begitu awet muda meski usianya kini sudah gak muda lagi.


"Bagaimana mungkin, wanita yang pernah membuatku patah hati, kini harus menjadi calon Ibu mertuaku..? Bersusah payah aku mencoba melupakannya, namun mengapa harus dipertemukan dalam situasi yang sangat sulit seperti ini." Ridwan menggerutu dalam hatinya.


Hanif menyodorkan piring dan nasi kepada Ridwan yang kini sedang berperang melawan perasaannya. Tindakan Hanif membuatnya begitu tergagap.


Ridwan mencoba tersenyum menerima perlakuan Hanif padanya. Ia harus bisa menjaga dalam bersikap agar tak menimbulkan kecurigaan.


"Pa, Ma.. Kak Ridwan ingin membicarakan hal serius kepada Papa dan Mama tentang hubungan kami..." ucap Adillah dengan senyum sumringah dan malu-malu.


"Ehem...ehem.." Khanza berdehem, sembari melirik kepada Adillah, hal tersebut membuat gadis itu membolakan matanya pertanda ingin menelan Khanza.


Mendapati intimidasi dari sang kakak, membuat Khanza cengengesan.

__ADS_1


Dilain sisi, Ridwan begitu amat gugup atas pengakuan Adillah yang menyatakan bahwa Ia ingin mengatakan hal serius kepada Rena dan Hanif, bahkan serasa memegang sendok saja Ia tak bertenaga. Ia seperti menghadapi beribu pasukan kopasus yang siap tempur.


Rena... Wanita itu, bagaimana mungkin Ridwan menyatakan hal serius akan meminang Adillah, kepada wanita yang pernah bertahta dihatinya.


"Ingin mengatakan hal serius apa? jika berniat baik apa salahnya untuk mengatakan yang sesungguhnya." Ucap Hanif memecahkan kebisuan.


Ridwan hampir tersedak saat mendengar ucapan Hanif, Ia segera mengambil air minumnya dan meneguknya. Lalu perlahan menyudahi makan siangnya. Ia kenyang sebelum menghabiskan makan siangnya.


Setelah semua selesai makan siang, Rena membereskan sisa makan siang dan membersihkannya, sedangkan Hanif mengajak Ridwan untuk duduk dikursi tamu.


Ridwan mengikutinya dengan perasaan canggung,lalu bergabung duduk bersama Hanif dan Khanza.


Entahlah... Perasaannya menjadi ragu, apakah Ia harus mengatakan hal yang sedari tadi pagi sudah dirangkainya untuk berhadapan dengan kedua orangtua Adillah, berniat ingin meminangnya, namun semua kata-kata yang sudah dirangkainnya seolah-olah hilang diterpa badai keraguan.


Ridwan seakan gelisah dengan apa yang akan diucapkan kepada Hanif. Namun, memandang wajah tampan dan kewibawaan Hanif juga bukan ukuran dirinya untuk mengemis cinta kembali kepada Rena, karena sosok Hanif bukanlah sosok sembarangan dimata Ridwan, dan tentu saja Rena tidak akan mudah berpaling dari suaminya.


Dengan membuka hati kepada Adillah adalah jalan terbaik bagi Ridwan untuk melupakan kisah cintanya yang tak bersambut dahulu.


"Maafkan saya Pa, jika terlalu lancang. Namun saya memiliki niat untuk melamar Adillah agar menjadi halal buat saya.." ucap Ridwan dengan hati yang mantab.


Hanif yang sudah menebak apa yang akan diucapkan pemuda itu hanya tersenyum renyah. "Jika niatmu baik, lalu dengan alasan apa saya menolaknya..? Maka bawalah kedua orang tuamu untuk melamarnya secara resmi..." jawab Hanif penuh sahaja.


Sementara itu, wajah Adillah bersemu merah bak kepeiting rebus. Ia tak menduga sama sekali jika Papanya dengan begitu mudah merestui hubungan mereka.


"Makasih Pa..." ucap Adillah sembari mengamit lengan Hanif yang duduk disisinya.


"Dengan menikahkanmu, maka tugas Papa selesai, dan kini tanggung jawabmu akan menjadi tanggungjawab suamimu kelak. Suamimulah yang akan menuntunmu akan menuju surga atau neraka, maka patuhilah Ia kelak." ucap Hanif memberikan nasehatnya.


Ridwan tidak pernah menduga sama sekali jika Hanif memiliki sikap dan kedewasaan yang begitu besar, pantas saja Rena memilihnya dan juga mencintainya.


Saat itu Rena baru selesai berberes didapur, ikut nimbrung kepada mereka. Meski sempat melirik kearah Ridwan, namun Ia segera tersenyum dan melirik pada suaminya, tiada celah untuknya memberi masuk kepada cinta yang lain.

__ADS_1


Rena sudah merasa sempurnah hidup bersama Hanif, lalu untuk apa Ia mencari derita. Maka Ia menepiskan segala prasangka yang ada, meskipun Ridwan adalah pria yang pernah mencuri kecupan manis dibibirnya.


"Sayang.. Anak kita sebentar lagi akan menjadi seorang istri, dan kamu akan menjadi seorang nenek jika kelak Adillah menikah.." ucap Hanif memberitahu.


Rena tersenyum. "Wah... Sungguh kabar yang sangat bahagia. kapan rencana Ridwan akan melamar Adillah...?" tanya Rena dengan semangat.


Deeeeeeegh....


Jantung Adillah serasa berhenti berdetak. Ia begitu amat terkejut. Darimana Mamanya mengetahui nama kekasihnya itu, sedangkan Ia belum srmpat memperkenalkannya tadi.


Namun untuk menanyakannya sepertinya bukan waktu yang tepat.


"Emmm.. Secepatnya M...ma..." jawab Ridwan sedikit kaku dilidahnya, menyebutkan kata Mama untuk Rena, sang calon mama mertua.


"Oh... Syukurlah, jika lebih cepat itu lebih baik, selagi kami selaku orangtuanya masih berada di Medan." ucap Rena dengan nada serius.


Ridwan mencoba tersenyum getir, namun Ia mencoba menerima takdir suratannya, jika kelak anak dari wanita yang dicintainya harus menjadi istrinya, dan wanita itu menjadi ibu mertuanya.


"Ma, Pa.. Adillah balik kekampus lagi ya. Soalnya masih ada jam kelas." ucap Adillah mengakhiri perbincangan.


"Oh, iya Sayang. Hati-hati dijalan ya." jawab Hanif, sembari membelai ujung kepala anak gadisnya.


Adillah menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan untuk kembali kekampus. Begitu juga halnya dengan Ridwan, sekuat hati dan perasaannya mencoba menepis semua rasa yang tertinggal.


******


Ridwan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedari tadi Ia hanya diam terpaku. Adillah memperhatikan perubahan sikap Ridwan yang tampak begitu sangat drastis.


"Kak... Mengapa kamu sedari tadi diam saja? Apakah ada kesalahan atau salah kata dari keluargaku.?" tanya Adillah memecahkan kebisuan.


Ridwan tergagap mendapat pertanyaan dari Adillah. "Tidak ada. Hanya saja..." Ridwan menggantung ucapannya, Ia mencoba mencari jawaban yang tepat untuk calon istrinya. "Hanya saja, kakak tidak menyangka kita akan menuju hal yang serius, itu adalah hal yang mengejutkan." jawab Ridwan, mencoba tersenyum meski sakit.

__ADS_1


__ADS_2