
kehamilan Rena memasuki usia sembilan bulan. Rena mulai merasakan rasa sakit diarea perutnya.
janinnya kini bergerak dengan sangat aktif. terkadang gerakannya membentuk siku tangannya yang terlihat jelas di kulit luar perut Rena.
gerakan-gerakan itu sangat menggemasakan. membuat Rena tersenyum dan juga meringis. mungkin rasanya seperti menjadi calon seorang ibu. setiap hari, rasa ingin buang air kecil hampir setiap menit Ia rasakan.
Hanif membelai lembut perut Rena yang tampak terlihat membesar. ketika calon bayinya melakukan gerakan- gerakan yang sangat aktif, membuatnya takjub.
"aktif banget ya yank, calon bayi kita.." ucap Hanif dengan sumringah. pandangan matanya mengikuti kemana arah gerakan calon bayinya itu bergerak dengan lincahnya.
saat mereka sedang asyik memandangi gerakan-gerakan menggemaskan dari calon bayinya, Rena merasakan perutnya sangat sakit. Ia meringis menahan rasa itu.
"kamu kenapa yank..?" ucap Hanif dengan khawatir.
Rena mengambil nafas dengan cepat, dan menghembuskannya seperti orang yang sedang meniup balon.
"perut Re sakit banget Bby.. "'ucapnya Rena dengan lirih. wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur.
"kalau begitu kita kedokter sekarang.." ucap Hanif dengan sangat khawatir.
Hanif beranjak dari tempat tidurnya. "ayo sayang.." ucap Hanif menjulurkan tangannya untuk membantu Rena berdiri. namun saat akan berdiri, perut itu semakin terasa sangat menyakitkan.
Sepertinya janin itu mengalami kontraksi. melihat Rena yang semakin pucat, Hanif menggendongnya dengan penuh cinta. meskipun tubuh Rena 3 kali lipat beratnya, namun tak menyurutkan rasa cintanya terhadap wanita yang telah membuatnya merasa nyaman.
Hanif berjalan dengan sangat hati-hati, Ia membopong tubuh berat Rena dengan menapaki anak tangga.
Ia berjalan menuju garasi mobil. memanggil sopir untuk membukan pintu. setelah itu, Hanif masuk dengan sangat hati-hati. "kerumah sakit ya pak.." ucap Hanif dengan sopan dan nada perintah.
"baik tuan.." jawab sangbsopir dengan patuh.
"sabar ya sayang...kita kerumah sakit segera". ucap Hanif menenangkan istrinya sembari mengecup lembut kening Rena.
pak sopir yang memperhatikan sikap tuannya mersa sangat takjub. bagaimana Ia tidak merasa kagum pada sosok pria itu, dimana Hanif merupakan pria kaya dan tampan, sedangkan istrinya hanyalah orang sangat sederhana. namun cintanya begitu tulus.
sedangkan diluaran sana, banyak wanita cantik yang tertarik padanya, namun tak mampu membuatnya berpaling.
----------
saat tiba dirumah sakit, Hanif segera keluar dari dalam mobil, dengan masih membopong tunuh Mala.
semua orang memandanginya. sebuah susuatu yang sangat langka. mereka disuguhi pemandangan yang sangat didambakan oleh setiap wanita.
tampak pria berwajah tampan itu membopong istrinya yang ingin melahirkan. seorang perawat dengan sigap mengambil kursi roda, memberikannya kepada Hanif. para emak-emak pastilah merasakan ingin diperlakukan seperti itu oleh suaminya.
Hanif meletakkan tubuh Rena dengan lembut dikursi roda. Ia mendorong sendiri kursi rodanya untuk membawa Rena menuju ruang khusus yang telah dipesannya.
sasampai diruangan tersebut. Hanif meletakkan tubuh Istrinya dengn sangat lembut. dokter datang dan segera memeriksanya.
__ADS_1
Hanif memsesan seorang dokter kandungan perempuan.Ia ingin istrinya ditangani oleh dokter yang perempuan.
"istri bapak sudah buka 4 ya pak." ucap dokter bernama Rini itu.
"lalu betapa lama lagi dok, bayinya akan lahir..?" ucap Hanif dengan perasaan khawatir.
Dokter itu memandang Hanif dengan senyum sahaja. "kita tidak dapat memprediksinya pak, tergantung kondisi si calon bayinya. karena untuk anak pertama ada yang sampai 2 hari bahkan seminggu baru dapat lahir. karena si calon bayi masih mencari jalan lahirnya." dokter itu menjelaskan.
Hanif yang melihat Rena terus meringis kesakitan merasa sangat iba. tanpa memperdulikan para medis Ia mengecup kening Rena. "sabar ya sayang." ucapnya lembut memberikan ketenangan.
perawat memasang jarum infus dipergelangan tangan Rena. lalu memeriksa perut Rena denhan menggunakan sebuah alat untuk melihat detak jantung sibayi.
Rena yang mendapatkan perhatian lebih dari Hanif, mengikiskan rasa sakit diperutnya dan juga hatinya karena peristiwa dihotel kemarin.
Ia kini sadar, jika suaminya benar-benar tukus mencintainya.
Rena dapat merasakan bagaimana pandangan orang-orang disekitarnya yang memperhatikan sikap Hanif. mungkin saja takjub, bisa juga iri.
apalagi Rena melihat tanpa sengaja, salah satu perawat memperhatikan Hanif dengan pandangan yang tak biasa. sepertinya Ia terpesona dengan ketampanan suaminya.
setelah selesai dengan infus dan sebagainya. para medis meninggalkan ruangan pasien. lalu sang perawat yang sedari tadi memperhatikannya berkata "jika bapak memerkukan sesuatu, bisa panggil kami pak.." ucapnya dengan senyum yang sulit diartikan.
Hanif hanya mengangguk. lalu mereka meninggalkan ruangan Rena.
Hanif menghubungi Aisyah ibunya dan juga Kasim. Ia memberitahu jika Rena akan bersalin.
Aisyah dan Kasim memberitahukan kepada Hanif bahwa mereka akan segera menyusul kerumah sakit.
Hanif menggenggam jemari Rena."masih sakit yank.?" ucapnya lembut. Rena tersenyum tipis.
"sakitnya datang dan pergi bby." ucap Rena dengn lirih.
Hanif membelai lembut perut Rena, berbicara kepada sang bayi." cepat lahirnya sayang, jangan sakiti mamanya.." ucapnya dengan lembut.
Rena merasa begitu hidupnya sangat beruntung, mendapatkan suami yang sangat baik padanya.
-------------
Aisyah dan Kasim telah tiba dirumah sakit. mereka menuju kamar khusus yang dipesan untuk Rena saat akan melahirkan.
Aisyah mengecup kening Rena." yang kuat ya sayang.. anak pertama memang biasanya sedikit lama. karena calon bayi masih mencari jalan lahirnya." ucap Aisyah lembut kepada anak menantunya.
Aisyah membawa makanan dan minuman. Ia mengambil beberapa makanan lalu menghampiri menantu perempuannya. "ini dimakan sayang..karena kamu akan membutuhkan tenaga untuk melahirkan nanti." ucap Aisyah lembut sembari menyuapkan makanan kepada Rena.
Rena menerima suapan dari mertuanya, Ia mencoba mendengarkan nasehat dari ibu mertuanya. "enak Ma.." ucap Rena, menikmati masakan yang diyakini Rena masakan ibu mertuanya.
Aisyah tersenyum mendengar ucapan Rena. "yang banyak makannya ya. jangan lupa berdzikir , agar Allah memudahkan persaliananmu." ucapnya dengan senyum tulus.
__ADS_1
Rena menganggukkan kepalanya. pertanda mengerti.
---------------
perut Rena mengalami kontraksi lagi. kali ini lebih sering dan lebih sakit. Hanif yang sedari tadi menemani Rena, segera menggenggam jemari Rena " ada apa sayang..? " ucapnya dengan perasaan khawatir.
"sakitnya lebih kuat bby. bisa panggilin dokter..?" ucap Rena sembari meringis menahan sakit.
Aisyah mendekati ranjang, membelai rambut menantunya.
Hanif segera beranjak. "iya sayang, hubby panggilin bentar ya. Mah, Hanif nitip Rena bentar ya..?" ucapnya sembari berlalu.
Hanif mencari perawat untuk meminta bantuan. Perawat yang sedari tadi memperhatikan Hanif melihatnya. Ia menghampiri Hanif. "ada apa ya pak..?" ucapnya sembari mengagetkan Hanif.
Hanif menoleh kepada si perawat. "istri saya mengalami kontraksi lagi bu.." ucapnya dengan khawatir.
"baik pak.. akan segera saya panggilkan dokter." ucap perawat itu sembari tersenyum menawan.
Hanif segera memasuki kamar Rena. ingin melihat kondisi Rena.
Dokter Rini telah memasuki ruangan. Ia memeriksa kondisi Rena. Ia memastikan jika bayi itu akan segera lahir.
"siapkan semua peralatan." ucap Dokter kandungan tersebut. seluruh perawat mematuhinya.
Rena seperti ingin mengejan "dok..saya pengen bauang air besar. dan "Aaaaahh" suara Rena mengerang, sembari mengejan.
Hanif mendekati Rena, menggenggam jemari istrinya dan mengecup rambut Rena. memberikan semangat dan dorongan kepada Rena yang sedang berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan bayi mungil untuknya.
dengan ijin Allah, bayi itu lahir dengan semangat. berjenis kelamin laki-laki. suara tangisnya pecah, saat iya menyambut dunianya yang baru.
Hanif menangis haru, lalu mencium kening Rena. "terimakasih sayang, sudah menjadi ibu dari anakku." ucapnya tulus.
melihat Hanif menangis, semua para medis memandangnya. karena sangat jarang sekali ada pria yang menangis saat melihat proses istrinya melahirkan.
------'
bayi mungil itu telah dibersihkan, lalu perawat menyerahkannya kepada Hanif.
Hanif menerimanya dengan sangat bahagia. lalu mengadzankan sang bayi.
setelah selesai, Hanif memberikannya kepada Rena untuk melihat anak yang baru dilahirkannya.
"kita beri apa nama bayi ini sayang..?" ucapnya lembut.
"beri nama Ia Khanza.." ucap Rena lembut.
Hanif tersenyum "boleh juga.. hai Khanza.. anak sholeh papa.." ucap Hanif gemas.
__ADS_1
Kasim dan Aisyah mendekati ranjang Rena. melihat sang cucu yang terlihat sangat menggemaskan.